
10.00 malam
Bunyi sirine ambulan terdengar nyaring membelah keheningan malam. Beberapa petugas medis tampak membawa sebuah kantong jenazah untuk dibawa memasuki ambulans. Tempat kejadian perkara tadi sudah dikelilingi dengan garis polisi, mengisyaratkan bahwa area tersebut tidak bisa dilalui oleh sembarang orang.
Andi tengah terduduk dibangku halte. Wajahnya pucat, dia muntah cukup banyak saat melihat darah dan juga bau amisnya yang sangat menyengat tadi.
“Nih, minum dulu” Rizal menyondorkan sebotol air mineral. Andi mengucapkan terimakasih tanpa suara kemudian meminum isinya hingga tersisa setengah botol.
“Gila pucet amat lo. Biasanya juga liat setan lo biasa aja”
Andi hanya melirik sinis kearah Rizal tanpa berniat menanggapi. Dia masih merasa sedikit mual jika mengingat keadaan mayat tadi.
“Gue tau lo masih kaget. Mending sekarang lo pulang aja deh, mau sendiri atau gue anter? Mumpung lagi baik niih”
Andi masih diam ditempat. Nyawanya serasa belum terkumpul, pikirannya masih terasa abstrak. Disekitar lokasi kejadian terlihat ricuh. Orang-orang datang berbondong, penasaran dengan yang sebenarnya terjadi.
Mata Andi tidak sengaja melihat seseorang yang dia kenal. Dia berdiri kemudian dengan segera berlari menghampirinya. Tapi gerakan tiba-tibanya itu membuat Rizal kaget dan jatuh terjengkang dari kursi halte. Hal itu tentu membuatnya mengumpat pelan, tapi tidak digubris sama sekali oleh si pelaku.
“Hey”
Yang bahunya ditepuk Andi menoleh, memasang ekspresi bingungnya.
“Maaf, tapi lo.. siapa ya?”
Andi mengusap tengkuknya canggung. Dia yakin kalau dirinya tidak salah orang tapi kenapa.... orang ini tidak mengenalinya?
Dan lagi, nada bicaranya memang terasa sangat berbeda.
“umm.. lo Nina kan?”
Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya, masih dengan ekspresi kebingungan miliknya.
“Maaf, tapi gue bukan Nina. Nama gue Desta”
Desta? Andi sepertinya pernah dengar nama itu. Tapi dimana?
“Oh.. berarti gue salah orang, tapi muka lo mirip banget sama kenalan gue. Eh iya, nama gue Andi”
__ADS_1
Andi mengulurkan tangannya, meminta berjabat tangan dengan Desta sebagai bentuk formalitas saat berkenalan. Desta segera menyambar uluran tangan Andi.
“Duluan ya, mau pulang. Udah malem nih”
Andi hanya menganggukan kepalanya dengan sedikit patah-patah. Ikut melambaikan tangan saat Nin—Desta mulai berjalan menjauhinya. Dia hanya diam memandangi kepergian Desta. Padahal tadi dia sudah merasa cukup senang saat akan bertemu kembali dengan Nina, tapi ternyata dia salah orang. Ya sudahlah, mungkin memang muka mereka yang mirip, pikir Andi. Dia mengedikan bahu, kemudian kembali berjalan ketempat Rizal berada, berniat memintanya untuk mengantar dirinya pulang.
“Heh pak pol, ayo. Katanya mau nganter gue pulang”
Rizal mendengus kesal, “Gak jadi, sono pulang sendiri”
Andi yang mendengar hal itu seketika memasang wajah memelasnya. Yah.. nyawanya sudah terkumpul semua, jadi dia sudah kembali ke tabiat aslinya.
“Ayo lah... lo gak kasian apa sama gue? Masih trauma nih gue. Ya? Ya? Ntar gue traktir deh beneran, no tipu-tipu”
Rizal mendengus kemudian melempar kunci mobilnya kearah yang lebin muda.
Hehehe sepertinya sogokan dari Andi berhasil.
“Lo yang nyetir, gue capek”
Andi sedikit terperajat. Dia ingat betul siapa orang berbadan kekar ini. Salah satu dari mereka adalah orang yang sama dengan yang menggedor-gedor pintu rumah Rizal tempo hari. Dia kira mereka adalah preman suruhan rentenir yang diperintah untuk menagih utang yang lebih tua, ternyata mereka juga anak buahnya si detektive muda nan bobrok ini.
“Ada apa?”
“Kami menemukan sebuah surat di tempat kejadian pak. Surat itu sepertinya ditulis oleh pembunuhnya”
Rizal mengangguk paham, “Amankan barang bukti. Kita lanjut selidiki besok. Minta juga pihak rumah sakit untuk segera mengotopsi mayat tadi. Beri waktu seminggu untuk tim otopsi. Lebih cepat akan lebih baik”
Kedua polisi tadi melakukan pose hormat dibarengi kata “siap, pak” secara serentak sebelum akhirnya undur diri untuk mengamankan bukti tadi.
“Zal, tadi itu.. anak buah lo? Gue kira preman”
plakk
Rizal langsung mengeplak kepala Andi, “Sembarangan kalo ngomong”
“ADOH! Iya iya ampunn!!! Salah sendiri badannya mirip preman pasar gitu”
__ADS_1
Rizal memilih mengabaikan yang lebih muda lalu berjalan memasuki bangku penumpang depan.
“Buruan nyet, urusan gue masih banyak”
Andi mengangguk lalu bergegas memasuki mobil. Malas mendengar bacotan dari sahabatnya itu.
*****
Hari yang sama, pukul 09.00
“Hhhh kenapa para polisi itu sangat lamban? Ini menjadi tidak menyenangkan”
Orang berjubah itu melepas jubahnya. Rambut panjangnya seketika menjuntai kebawah. Dia hanya tersenyum miring menatap bayangannya sendiri di cermin.
Tangannya kemudian bergerak mengambil ponsel pintar miliknya disaku.
Jari-jarinya bergerak lincah mencari target selanjutnya. Dia tidak akan pernah mau membunuh orang yang tidak sesuai kriteriannya. Terlalu merepotkan jika membunuh sembarang orang. Sebuah senyum tipis—atau mungkin serigai tercetak apik dibibirnya.
“Lumayan juga, kapan aku haru mendatanginya? Mungkin satu atau dua minggu lagi? Aku harus mempersiapkan kejutan yang bagus”
Tawanya menggelegar memenuhi seluruh ruangan gudang itu.
“Baiklah, sepertinya aku harus istirahat. Dan juga, rasanya cukup menyenangkan juga menggunakan tubuh ini lagi”
Dia kemudian mulai membereskan alat-alat bermainnya, menyimpannya rapih didalam sebuah tempat yang cukup tersembunyi. Jari-jari kembali bergerak diatas layar ponsel miliknya setelah selesai dengan acara berberesnya—menghapus history pencarian yang beberapa menit lalu dia lakukan.
Orang itu kembali memeriksa keamanan barang-barangnya, sebelum akhirnya keluar dari gudang dan menguncinya rapat-rapat.
“Polisi bodoh itu pasti akan senang dengan permainanku” ucapnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan gudang.
Kunci gudang itu sendiri dia kubur didalam tanah dekat pintu masuk gudang, ditutupi dengan bebatuan dan rumput liar agar tidak ada seorangpun yang mengetahui keberadaanya.
Senyum licik dia sunggingkan selama dalam perjalanan meninggalkan gudang tersebut. “Hari yang cukup menyenangkan” gumannya pelan.
Dan orang itu benar-benar pergi, meninggalkan seorang gadis dengan pikiran linglungnya.
__ADS_1