
Desta melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah. Masih sepi, karena Desta sengaja datang lebih awal. Lima hari berada di rumah sakit sukses membuatnya mati kebosanan. Apalagi ayah dan ibunya masih sering mengurus pekerjaan disela mereka menjaganya saat di rumah sakit yang mana membuat Desta hanya bisa mengehela nafas, mencoba memaklumi kesibukan kedua orang tuanya itu.
Beberapa bekas luka lebam diwajahnya—akibat pertemuannya dengan Christ tentu tidak langsung hilang, tapi berhasil tersamarkan dengan baik oleh cushion. Berterimakasihlah pada keterampilan make up nya yang baik, sehingga bisa dimanfaatkan dalam keadaan seperti sekarang.
Ngomong-ngomong soal Christ, Desta sebenarnya tidak terlalu paham dengan maksud ucapannya tempo hari. Tapi dia tahu jika itu bukanlah sesuatu yang baik. Apa dia akan merasuki tubuhnya kembali seperti dulu? Desta memang tidak pernah mengingat apapun saat dia sedang dirasuki hantu itu, tapi menurut cerita dari Dean, Christ adalah monster.
Sebuah perasaan gelisah tiba-tiba hinggap dihatinya. Apa dia sanggup bertahan seperti dulu? Apa dia mampu menghilangkan eksistensi hantu itu lagi? Apa dia bisa? Terlalu banyak pertanyaan yang ada dikepalanya. Desta terus mengkhawatirkan hal-hal buruk yang akan muncul bersamaan dengan kembalinya Christ dihidupnya.
Pandangan Desta terlihat kosong, tungkainya terus melangkah hingga tidak sadar jika dia telah sampai ditangga. Bangunan sekolah Desta memiliki dua lantai, dimana lantai satu biasanya diperuntukan untuk kelas sepuluh, ruang ekstrakulikuler, ruang guru, dan juga kantin. Sedangkan dilantai duanya untuk kelas sebelas dan dua belas.
Desta memandang malas kearah tangga. Ingat kejadian sewaktu dipasar malam? Saat Desta yang sedang diambil alih oleh Nina terjerembab karena tertabrak Andi, hingga menyebabkan lututnya luka? Jika kalian lupa, maka aku baru saja mengingatkan kalian. Luka dilututnya itu masih sedikit perih saat dibawa melangkah. Dan sekarang dia harus menaiki tangga? Yang benar saja.
Menghela nafas gusar, Desta terpaksa merelakan lututnya itu untuk sekarang. Perlahan, dia meniti langkahnya menaiki satu per satu anak tangga, menahan perih yang mulai terasa. Sepertinya luka yang belum kering sempurna itu kembali mengelupas. Hngg sangat menjengkelkan.
“Butuh bantuan nona Herawati?”
Suara itu menghentikan langkah Desta seketika, padahal dia baru menaiki tiga anak tangga. Disebelahnya, seorang siswa dengan badge kelas dua belas dilengan kirinya sedang tersenyum. Namanya Azri, orangnya ramah dan ganteng kalau kata teman-temannya.
“E-eh?” Desta sedikit kikuk.
“Mau dibantuin gak? Kamu kayaknya susah jalan, lagian kamu baru aja keluar rumah sakit masa langsung sekolah. Kenapa gak istirahat aja?”
Desta mengangkat sebelah alisnya. “Kakak tau dari mana kalau aku baru keluar rumah sakit?”
__ADS_1
“errr kakak kan osis jadi tahu hehe” Desta mengangguk pelan.
“Jadi mau dibantuin gak?”
“Gak usah kak, duluan aja” tolak Desta halus. Dia masih tahu sopan santu dengan kakak kelasnya ini. Tapi sepertinya penolakan dari desta itu tidak berguna sama sekali karena sekarang, Azril justru menggangkat tubuh kurus Desta. Menggendongnya ala bride style.
Desta yang kaget sontak berpegangan pada bahu lebar kakak kelasnya itu. Mulutnya hendak melayangkan protes tapi urung ketika Azril mencegahnya untuk bersuara.
“Udah, kamu diem aja”
“K-kak turunin”
Azril mengacuhkan permintaan Desta, dan berakibat dengan ledekan dari beberapa orang yang ada dilantai dua dan kebanyakan dari mereka adalah anak kelas duabelas.
Itu hanya contoh dari berbagai ledekan yang dilayangkan kepada mereka, tetapi Azril masih santai seperti tidak terganggu sama sekali. Desta ingin menghilang saja rasanya.
Tidak, Desta bukannya baper atau semacamnya. Desta bukanlah gadis yang akan langsung menaruh harapan ketika ada laki-laki yang berlaku baik kepadanya. Tck, memangnya Desta selemah itu? Ini semua murni karena memang Azril adalah orang yang baik. Jadi, tidak usah khawatir cerita ini akan berubah menjadi kisah romansa remaja yang menggelikan.
Azril menurunkan Desta tepat didepan pintu kelasnya. Sebenarnya Azril ingin mengantarnya sampai didalam kelas, tapi urung ketika Desta melotot kepadanya.
“Makasih kak, maaf ngerepotin”
“Ngak kok. Yaudah masuk gih” Desta mengangguk pelan, membawa langkahnya memasuki ruang kelasnya itu.
__ADS_1
“Cie cie~~ aduhh yang digendong lo yang baper gue. Ya ampuunn lucu banget sih kalian berduan”
Desta memutar bola matanya malas. Baru saja dia berhasil mendudukan diri di kursi, tapi Alea dengan segala bacotannya sudah membuat Desta jengah. Alea sedikit memberengut kesal saat Desta mengabaikannya. Ya.. Alea tahu sih jika teman sebangkunya itu memang pendiam, kalem, dan kadang-kadang jadi es berjalan. Tapi haruskah dia mengabaikannya? Mengabaikan temannya yang paling manis dan imut ini? Eww Alea, sepertinya kamu harus berkaca sebentar.
Desta masih mengabaikan Alea bahkan saat teman sebangkunya itu mulai merengek tidak jelas kepadanya. Membuat sakit mata siapapun yang melihatnya, karena itu sangat-sangat menggelikan dan aku berani bertaruh jika kalian pasti juga akan bergidik ketika melihat kelakuan Alea.
Pikiran Desta kembali berkelana, memikirkan maksud dari perkataan Christ. Seandainya dia bisa melihat masa depan, setidaknya dia tahu hal apa saja yang perlu dia lakukan agar sesuatu yang buruk tidak terjadi.
“Eh Ta, kak Dean kerumah lo gak?”
pertanyaan dari Alea itu membuyarkan lamunan Desta.
“Gak. Dan lagi, sejak kapan lo manggil Dean pake embel-embel kak? Biasanya juga kurang ajar sama dia” Desta menatap curiga kearah Alea, sedangkan yang ditatap hanya bisa cengengesan, menampilkan deretan gigi putihnya.
“Disuruh nyokap. Duh gimana ya, gue sebenernya juga males, tapi ntar gue digaplok lagi. Mata-mata mama gue banyak.” cerocos Alea dengan wajah yang di melas-melaskan. Desta mengangguk pelan, enggan memperpanjang pembicaraannya dengan Alea.
“kira-kira kemana ya? Duh ngerepotin aja si mamang mah”
Desta hanya menggedikan bahu. Toh sudah tiga hari ini Dean tidak menemui atau menghubunginya. Padahal, biasanya Dean akan mengiriminya pesan singkat, menanyakan apa ada hal aneh yang dia rasakan, atau sekedar berbasa basi menanyakan kabar.
Yang Desta tahu, Dean hanyalah seorang dokter muda yang pindah ke sebelah rumahnya tiga tahun lalu. Selama tiga tahun itu juga, Dean selalu ada saat Desta dalam masalah. Terutama ketika tubuhnya diambil alih oleh seseuatu yang lain. Desta tidak menampik jika dia merasa senang dengan kehadiran Dean yang ternyata adalah kakak sepupu dari teman sebangkunya itu.
Dan semenjak kehadiran Dean, dia menjadi lebih bisa menguasai tubuhnya sendiri, mengontrol agar tubuhnya tidak mudah diambil alih, kecuali jika dia mengizinkan mereka untuk mengunakan fisiknya. Dan puncaknya adalah ketika Christ secara tiba-tiba menghilang dari sekitarnya.
__ADS_1
Desta baru menyadari keanehan tersebut. Rasa-rasanya tidak mungkin jika Dean hanyalah seorang dokter biasa. Apa ada hal lain yang dia sembunyikan darinya?