The Grim Reaper

The Grim Reaper
Chapter 18


__ADS_3

08.00 malam


Beberapa mobil polisi sudah terparkir rapih dihalaman rumah Rizal. Si detektif itu benar-benar membawa pasukan polisi berjumlah enam orang. Andi segera keluar keluar dari rumah setelah mendengar bunyi sirine polisi tadi.


“Eh zal, kagak kebanyakan apa ini?” tanya Andi setelah sebelumnya berjalan mendekati teman yang lebih tuanya itu.


“Kagak. Udah buruan ayo, udah malem ini”


Andi mengangguk kemudian berjalan mengekori Rizal memasuki sebuah mobil sedan. Rizal memang selalu membawa mobil sendiri ketika sedang bertugas jadi Andi akan terbebas dari kecanggungan karena berada dalam satu mobil dengan para polisi.


“Kemana nih?”


“Lo tau halte bis deket perumahan XX gak? Kita kesana dulu”


Rizal membuat gestur ok dengan tangannya kemudian mulai melajukan mobilnya diikuti oleh dua buah mobil polisi dibelakangnya. Malam ini akan panjang.


****


“Berhenti”


Rizal mengehentikan laju mobilnya, diikuti oleh dua mobil polisi di belakangnya.


“Parkirin dulu gih mobilnya. Kita jalan kaki kesana”


Rizal mengintruksikan ke enam anak buahnya untuk memarkirkan mobil mereka di sebuah lapangan yang cukup luas. Mereka belum sampai di haltenya karena di halte bis pinggir jalan tidak mungkin ada tempat parkir bukan?


Mereka berdelapan kemudian turun dan mulai berjalan beriringan dengan Andi sebagai penuntun jalan. Menit-menit berlalu dengan keheningan sebagai teman kewaspadaan mereka. Para polisi itu sebenarnya tidak memakai seragam mereka, menjadikan kedelapan orang itu lebih terlihat seperti arak-arakan tawuran daripada pasukan kepolisian yang sedang menyelidiki sebuah kasus.


“Ini kemana lagi *****??”


Rizal menatap aneh ke arah Andi. Walau dia sudah berulang kali melihat yang lebih muda bicara sendiri, tapi tetap saja itu terasa janggal. Dalam hati, dia meruntuki ucapannya yang menyetujui permintaan Andi. Jangan-jangan dia hanya di prank?


Mereka sudah melewati halte bis tadi dan sekarang, Andi mengarahkan mereka untuk masuk ke sebuah gang kecil yang letaknya cukup tersembunyi. Rizal sedikit terkesiap saat melihat adanya sebuah hutan beberapa meter dari gang kecil yang tadi mereka lewati.


Andi terus mengarahkan para anggota kepolisian itu semakin masuk kedalam hutan. Beberapa dari pasukan kepolisian itu sebenarnya tidak yakin bisa mempercayai arahan dari Andi karena mereka sempat melihat gelagat anehnya yang seperti sedang berbicara sendiri. Yah, mereka hanya tidak tahu jika Andi sedang berbicara dengan hantu kembar penunggu rumah Rizal yang dia gunakan sebagai tour guied untuk penyeledikan hari ini.

__ADS_1


“Oy, masih jauh gak?”


“Gak”


Jawaban singkat Andi membuat Rizal mengangkat sebelah alisnya. Menjawab singkat pertanyaan dari orang lain bukanlah gaya Andi, apalagi mereka sudah akrab. Tapi ya sudahlah, bukan hal yang besar.


Andi sebenarnya merasa ketakutan disini. Terlalu panas dan sesak. Rasanya seperti sedang berjalan diantara ribuan orang. Andi sama sekali tidak berani menoleh kesamping kanan-kirinya, benar-benar hanya fokus pada arahan duo kembar yang sedang melayang di hadapannya itu.


Kepala tergantung, sekawanan pocong di semak-semak, mata merah yang bersembunyi di gelapnya hutan, juga perempuan berdaster dan berambut panjang yang nangkring diatas pohon. Sungguh, Andi ingin cepat-cepat keluar dari area hutan ini.


“kalian sangat lambat.. hihii. Ayo lebih cepat lagi”


Instruksi itu membuat Andi seketika memerintahkan kawanannya itu untuk mempercepat langkahnya hingga mereka akhirnya melihat sebuah rumah tua yang terlihat sangat usang. Tidak habis fikir, mau-maunya ada orang yang membangun rumah ditengah hutan seperti ini. Duo hantu kembar tadi seketika terbang menghilang entah kemana.


Dinding rumah itu terlihat berlumut dengan beberapa tanaman liar yang menjalarinya. Atapnya terlihat sudah berlubang dibeberapa sisi saat disenteri. Tanpa membuang waktu, Rizal segera menyuruh pasukannya untuk bergegas mendekati rumah itu, berjalan perlahan tanpa menimbulkan suara sedikitpun.


Pintu rumah itu terlihat disegel menggunakan rantai dan dikunci dengan gembok. Salah satu anggota polisi tadi maju, mencoba membuka gembok tadi dan berhasil kurang dari lima menit.


Brakk


Sekitar satu jam mereka mencari, tetapi tidak juga mendapat apa yang dicari. Kedelapan orang tersebut akhirnya berkumpul kembali diruangan itu.


“Tidak ada apapun disini pak”


“Kami sudah memeriksa seluruh ruangan yang ada, tapi tidak ada satu pun hal yang mencurigakan”


Laporan anak buahnya itu membuat Rizal menatap tajam kearah Andi disebelahnya. Tatapan matanya seolah-olah seperti berkata “Lo nipu gue?!”


Andi menghela nafas gusar. Dia juga tidak bisa menemukan apapun disini, salah dia juga langsung percaya begitu saja dengan para penunggu rumah Rizal yang tidak jelas itu.


“Semua keluar. Kita cari petunjuk diluar rumah ini”


Semua anak buahnya seketika mengangguk tegas, segera bersiap untuk keluar dari rumah itu.


“Tunggu”

__ADS_1


Suara Andi itu seketika menghentikan langkah ke enam orang lainnya. Sebentar, enam orang?


“Bukannya tadi lo bawa pasukan enam orang ya?”


Semua polisi itu saling berpandangan, menghitung kembali jumlah orang yang ada disana. Benar, pasukan Rizal tinggal lima orang. Baru saja Rizal hendak memerintahkan para polisi yang tersisa untuk mencari anggotanya yang hilang, tapi si biang kepanikan tadi tiba-tiba datang dengan tergopoh-gopoh.


“Pak, ada ruang bawah tanah di rumah ini”


Rizal mengangguk kemudian langsung menyuruh polisi tadi untuk menunjukan jalan kesana. Pintu ruang bawah tanah itu tersembunyi di balik sebuah kolong kasur disalah satu kamar rumah tersebut.


“Apa sudah kamu periksa?”


Sebuah gelengan Rizal dapatkan atas pertanyaannya barusan. “Belum pak, kita sepertinya harus menggeser ranjangnya terlebih dahulu. Sebenarnya tadi saya melihat ada semacam tombol yang kemungkinan besar digunakan sebagali pintu rahasia tadi, tapi itu macet”


Rizal mengangguk, memerintahkan mereka semua untuk mempercepat langkahnya.


Krieettt


Pintu ruangan yang mereka tuju dibuka perlahan. Agak menyesakan karena banyaknya debu yang ada disana. Ukuran kamar itu tidak terlalu besar dan hanya berisi sebuah lemari kecil dan sebuah ranjang ukuran single bed. Rizal memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa lemarinya terlebih dahulu. Karena tidak ada hal yang mencurigakan. Mereka kemudian berpindah memeriksa ranjang tadi.


“Tombol ini sudah macet pak”


Rizal berpindah ke salah satu sisi ranjang tadi, ikut memeriksa tombol yang dimaksud. Tombol itu terletak di sandaran ranjang. Rizal mencoba mengotak-atik tombol itu, tapi nihil. Tombol itu memang sudah rusak, entah rusak karena usia atau memang sengaja dirusak.


Empat orang polisi akhirnya turun tangan mengangkat ranjang tersebut. Dibawah kolong ranjang tersebut, mereka semua dapat melihat dengan jelas pintu masuk menuju ruang bawah tanah.


Rizal memberi kode agar mereka satu per satu memasuki pintu tersebut, dimulai dari dirinya, Andi, kemudian barulah para anak buahnya ikut turun.


Tap tap tap


Langkah kaki mereka terdengar bergema. Cahaya senter yang mereka miliki diarahkan ke berbagai arah, memastikan tidak adanya hal-hal yang berpotensi membuat mereka celaka.


Ruang bawah tanah itu diisi dengan beberapa barang bekas seperti meja dan kursi rusak yang diletakan begitu saja. Mereka terus berjalan menggelilingi ruangan itu hingga menemukan sebuah pintu kayu. Ternyata masih ada ruang lain di dalamnya. Perlahan mereka berjalan mendekati pintu itu.


Kriettt

__ADS_1


Dan beberapa orang disana seketika merasa ingin muntah setelah pintu itu dibuka.


__ADS_2