
Rizal mendengus kesal kearah Andi. Dirinya baru saja terjatuh dari tempat tidur karena tendangan yang dia dapat dari yang lebih muda. Andi yang masih setengah tersadar menoleh sayu ke arah Rizal lalu memasang senyum bodohnya sambil membuat gestur meminta maaf.
“Jam berapa sih?” Andi menguap lebar. Diluar bahkan masih terlihat gelap.
“Masih jam tiga ****. Mimpi apa sih lo? Rusuh amat”
“Jatoh dari gedung”
Rizal bangkit dari lantai tempatnya jatuh. Dia berjalan menuju lemari kemudian mengambil tambahan guling untuk dia letakan di tengah kasur, bermaksud memberi batas pada temannya itu.
“Awas lo kalau sampe ngelewatin guling. Gue usir lo hari ini juga”
Andi memberengut tapi tetap menuruti keinginan si tuan rumah. Daripada dia diusir, lebih baik diam dan mengikuti perintahnya. Mereka berdua kembali tidur saling membelakangi, mencoba kembali terlelap kembali ke alam mimpi masing-masing. Atau itu hanya dilakukan Rizal karena nyatanya Andi tidak berani menutup matanya lagi.
Pikirannya melayang, memikirkan maksud dari mimpi yang datang dalam tidurnya. Apa itu hanya bunga tidur? Atau ada makna tersendiri dari mimpi anehnya itu. Dilihatnya tato berbentuk tanduk setan yang masih terukir di tangan kirinya itu. Dia tentu tidak lupa jika saat ini dari masih bersembunyi dari kejaran ayahnya itu.
Andi mengusap wajahnya kasar. Terlalu banyak hal yang dia pikirkan, dan ini semua terlalu rumit. Dia menghela nafas kasar kemudian bergerak mengambil ponsel miliknya di nakas. Bermain game di ponsel pintarnya itu sepertinya bukan hal yang buruk, terlebih lagi dia memang tidak memiliki niatan untuk terlelap kembali. Dan ruang kamar tersebut selanjutnya hanya diisi dengan suara dari game dan sesekali di selingi dengan umpatan dari mulut Andi.
****
“Kak Desta, nanti pulang jam berapa?” Nina melayang pelan ke arah Desta yang tengah memasukan beberapa buku ke dalam tas nya.
“Kenapa emangnya?” Desta segera menyelesaikan acaranya kemudian berbalik menghadap Nina.
Nina mencebikan bibirnya pelan. Tubuhnya dia bawa melayang menggelilingi Desta yang hanya memandang heran ke arahnya.
“Kak Desta kan masih sakit. Luka dilutut kakak aja baru kering.. kak Desta gak usah sekolah dulu aja ya?? Temenin Nina disini”
__ADS_1
Desta tersenyum tipis, tangannya bergerak mengusap pelan kepala hantu kesayangannya itu.
“Kakak ada ulangan hari ini, jadi gak boleh bolos”
Nina memberengut tak suka, bibir bawahnya maju beberapa centi. Tubuhnya melayang kemudian menembus tembok, entah kemana perginya hantu kecil itu. Dia merajuk. Desta menggeleng pelan, membiarkan hantu itu pergi. Nanti juga dia akan kembali.
Desta melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah jam enam lebih. Desta bergegas turun untuk sarapan, sedikit menyunggingkan senyum saat ingat jika sarapan kali ini dia ditemani sang ibu.
“Pagi bun” sapa Desta begitu sampai diruang makan.
Ibunya itu tersenyum mendapati putri semata wayangnya sudah rapih dalam balutan seragam sekolah.
“Pagi sayang, sini sini kita sarapan bareng. Bunda bikin nasi goreng udang”
Desta tersenyum senang. Dengan segera dia mendudukan dirinya dikursi samping ibunya. Sarapan pagi itu diiringi dengan canda tawa diantara sepasang ibu dan anak tersebut.
****
Desta menoleh ke arah ibunya. Mobil ibunya itu sudah sampai di depan gerbang sekolah Desta.
“Paling jam tiga kalo gak jam setengah empat bun. Tapi kalo nanti bunda gak bisa jemput, aku naik bis aja kaya biasa”
“Loh, siapa bilang bunda gak bisa jemput? Kan bunda cuma nanya biar kamu gak nunggu lama”
Desta hanya bisa cengengesan, menampilkan deretan gigi putihnya. Desta kemudian bersalaman dengan ibunya, mencium tangan beliau sebelum akhirnya berpamitan untuk memasuki sekolah.
“Hati-hati bun” Sang ibu mengangguk sebelum akhirnya menjalakan mobilnya meninggalkan area sekolah.
__ADS_1
Desta mulai berjalan memasuki gerbang sekolah, menyapa dengan ramah satpam yang sedang bertugas sambil tersenyum yang dibalas dengan sapaan ramah juga dari pak satpam.
Keadaan sekolah masih cukup sepi, padahal ini sudah jam tujuh kurang seperempat. Desta memelankan langkahnya saat sudah mulai memasuki lobby sekolah. Telinganya tidak sengaja menangkap perbincangan diantara dua adik kelasnya saat berjalan dibelakang mereka. Sebenarnya, Desta bukan tipe orang yang suka kepo atau tertarik dengan gosip atau oun kabar burung yang belum tentu benar. Tapi ketika mendengar nama kakak kelas yang kemarin menolongnya dibawa-bawa menimbulkan sedikit rasa penasaran dalam diri Desta.
“Masa sih? Tau dari mana lo?”
“Eh beneran tau. Gue dikasih tau sama kak Denandra. Pacar gue kan temen deketnya kak Azril”
Desta semakin memelankan langkahnya. Telinganya dia pasang baik-baik agar semakin jelas mendengarkan gosip yang kedua adik kelasnya itu bahas.
“Eh, kemarin aja masih masuk kok. Masa sekarang ilang? Kalo menurut gue sih, dia cuma lagi umpetan aja. Tau lah kelakuan anak cowok kalo mau bolos. Emang ilang jam berapa katanya?”
“Kalo gak salah sih kemarin. Abis dia nganterin gebetannya, dia gak ada kabar sama sekali”
“ihh kok serem ya?”
“Iya, tapi abis ini lebih serem. Ulangan matematika...”
“Eh iya njirr kok gue lupa. Ya udah ayo cepetan. Gue belum belajar nih”
Kedua adik kelasnya itu mengakhiri sesi bergosip rianya dengan berlari ke arah kelas mereka. Desta menghela nafas pelan. Azril hilang kemarin setelah mengantar gebetannya? Bukankah berarti itu sehabis mengantar dirinya? Karena menurut desas desus yang beredar, Azril memang menyukai Desta yang berarti gebetan yang mereka maksud adalah dirinya bukan? Entahlah. Desta memang diantar kakak kelasnya itu kemarin, tetapi tidak sampai rumahnya.
Desta kemarin hanya diantar sampai perberhentian bis dekat rumahnya dan dia juga tidak ingat kenapa dia meminta Azril menurunkannya disana. Tahu-tahu saja dia sudah berhenti disana dengan Azril sudah pergi meninggalkannya. Desta kemudian memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumahnya.
Jika benar Azril hilang sesudah mengantar dirinya, maka Desta akan merasa sangat bersalah. Desta terus melangkahkan kakinya dalam diam, bahkan saat mulai menaiki tangga pun, perih dilututnya mendadak tidak terasa sedikitpun karena terlalu sibuk memikirkan nasib kakak kelasnya itu.
Kemana kakak kelasnya itu pergi sesudah mengantarnya? Apa dia benar-benar hilang? Atau hanya bersembunyi seperti dugaan adik kelasnya tadi?
__ADS_1
Desta terus memikirkan hal itu sampai memasuki ruang kelasnya. Teman-teman dikelasnya terlihat sedang sibuk dengan buku mereka masing-masing. Belajar untuk ulangan bahasa inggris yang akan diadakan di jam pelajaran pertama nanti. Bahkan Alea yang dikenal pemalas pun kini tengah berkutat dengan buku dan kamus yang berceceran dimeja. Desta menggeleng melihat raut wajah serius teman sebangkunya itu. Dia memilih duduk dibangkunya tanpa bersuara sedikitpun. Takut menganggu konsentrasi temannya itu.
Tangan Desta bergerak mengambil ponsel di tasnya. Kenapa dia tidak sibuk belajar seperti yang lainnya? Jawabanya adalah karena dia terlalu malas. Buat apa belajar sampai kepala serasa mendidih kalau akhirnya akan mengarang jawaban juga saat ulangannya? Itu hanya buang-buang waktu. Lebih baik jika dia membaca cerita dari ponselnya. Lagi pula, itu hanya ulangan harian bahasa inggris. Asalkan paham dengan maksud dari soal yang diberikan, Desta yakin dia bisa menjawab soalan itu dengan mudah. Jadi, sekarang biarkan Dirinya fokus dengan bacaan dihadapannya itu sebelum nantinya akan berpusing ria mengerjakan soal ulangannya.