The Lovely One

The Lovely One
Bab 1 : Prolog


__ADS_3

Seorang gadis memandang sendu keluar jendela mobil yang ditumpanginya, memandang iri segerombolan anak sekolah berseragam SMA sama sepertinya tengah naik ke dalam bus sekolah.


Biasanya orang-orang akan iri dengannya yang setiap kali berangkat atau pulang sekolah menggunakan mobil pribadi namun, ia justru sama sekali tidak menikmatinya.


Gadis itu bisa saja naik kendaraan umum namun, orang tuanya tidak mengijinkan dengan alasan demi keselamatan dirinya.


Kedua tangannya yang berada di pangkuan pahanya terkepal sementara napasnya mulai tersengal-sengal mengingat kejadian yang membuatnya trauma itu.


Kedua orang tuanya melarangnya naik bus sekolah semenjak kejadian tersebut, ia yang kala itu masih berumur delapan tahun tentu bahagia tiada tara akan keputusan tersebut sebab ia ditemani oleh Ayahnya yang super sibuk berangkat sekolah namun, sudah tujuh tahun berlalu, kejadian itu tidak lagi terlalu berefek baginya, Ayahnya juga sudah berhenti mengantar ke sekolah ketika ia menginjak kelas tiga SMP jadi seharusnya ia diperbolehkan lagi naik angkutan umum, nyatanya tidak semudah itu.


Entah ia harus bersyukur atau tidak akan sisi perlindungan berlebihan orang tuanya yang tetap tidak mengijinkan dirinya naik angkutan umum.


Ia mengerti bila tidak diijinkan naik angkutan umum namun, setidaknya ia ingin diperbolehkan naik bus sekolah, ia ingin sekali merasakan rasanya berangkat bersama teman-temannya, dan yang terpenting dari itu ia ingin teman-temannya berhenti memanggilnya 'Tuan Putri'.


Memang bagi orang kebanyakan pastilah akan senang dipanggil 'Tuan Putri' apalagi oleh lelaki akan tetapi baginya tidak sama sekali baginya sebutan itu sebagai ejekan karena definisi 'Tuan Putri' baginya seorang perempuan yang hanya bergantung pada orang lain walaupun ada yang tidak begitu juga.


Ia hanya ingin teman-temannya memanggil namanya.


"Nona Starla, kita sudah sampai di sekolah." kata sopir sopan.


Gadis bernama Starla kembali dari lamunannya, mata cokelatnya melirik keluar; memang benar, sudah sampai di sekolah. "Terima kasih, Arthur." katanya lembut kemudian keluar dari mobil, dan melambaikan tangannya barulah masuk ke dalam sekolah.


Starla melangkah melewati lapangan olah raga dengan wajah sedikit tertunduk agar sinar matahari tidak mengenai wajahnya secara langsung, ia memang sudah memakai pelindung tabir surya tapi tetap berjaga-jaga, salahnya juga lupa memakai topi.


"Starla!"


Starla otomatis berhenti melangkah mendengar namanya dipanggil, ia menoleh ke arah suara tersebut; seorang gadis berambut hitam dikuncir ekor kuda tengah berlari ke arahnya. "Luna. Selamat pagi." sapanya hangat begitu gadis bernama Luna sampai di depannya.


Luna menarik napas sejenak memenangkan dirinya. "Selamat pagi juga, La." katanya. "Aku lihat kau masih belum berhasil membujuk orang tuamu." katanya.


Starla menggembungkan pipinya jengkel mengingatnya. "Aku sudah berusaha tapi kau tahu Mama sama Papaku seperti apa,"


"Ouch," Luna bersimpati mendengarnya, ia tahu betapa sulitnya membujuk Ayah Starla. "Kau tahu kan kedua orang tuamu melakukan ini demi dirimu juga, dan lagi kau itu kan anak perempuan satu-satunya."


Starla memutar bola matanya, dan melanjutkan perjalanannya menuju kelas. "Jangan ingatkan aku." katanya ketus.


Luna justru tertawa kecil. "Aku tidak mengerti kenapa kau begitu terobsesi ingin naik bus sekolah, padahal naik mobil lebih enak, bebas tidak usah berdesakan dengan orang-orang." katanya. "Walaupun menyenangkan juga bisa melihat kakak kelas yang tampan-tampan di sana." jelasnya riang lalu teringat kejadian di bus tadi. "Oh, aku dapat lotre! Kau tahu tidak Kak Rendy dari kelas 3 IPS 4? Pasti tahu dong! Dia meminta nomor ponselku! Nomor ponselku!" serunya syok, masih tidak percaya.


Mata Starla membulat, tentu ia mengenal Rendy, pemuda itu cukup terkenal sebagai pemain bola voli yang handal, tidak lupa wajahnya yang tampan menjadi nilai plus teman-temannya serta adik kelasnya untuk masuk ke klub bola voli, jika beruntung mereka bisa diajari oleh Rendy. Ia sendiri juga masuk klub bola voli namun, bukan untuk melihat Rendy, murni karena ia memang sejak kecil suka menonton Neneknya bermain bola voli di stadion.


Rendy bagi Starla hanya 'eye candy', ia justru lebih mengagumi gaya bermain Rendy daripada wajah pemuda itu, smash-smash keras yang sulit dibalas oleh anggota lain begitu membuatnya terpesona.


"Kalau benar begitu, hati-hati dengan dia," kata Starla sambil mengedipkan matanya jahil. "Nanti diam-diam dia bisa men-smash hatimu, Luna." godanya.


Pipi Luna lantas merona setelah mendengarnya. "A-aku rasa tidak semudah itu!" meski membantah, ucapannya tidaklah ketus.


"Sungguh?" Starla sama sekali tidak percaya, apalagi wajah Luna bertentangan dengan apa yang dikatakan. "Aku bisa melihat benih-benih cinta di mata hitammu, Luna." godanya.


Giliran Luna yang jengkel. "Kau lupa ya aku berkencan dengan Kak Sandy?"


Starla duduk di kursi bagiannya, diikuti Luna di sampingnya, ia tidak membalas justru merenung; mendengar Luna begitu digemari oleh para lelaki di sekolah membuatnya iri, ia begitu ingin merasakan disukai oleh lelaki di sini namun, tidak ada satu pun yang tertarik dengan dirinya, ia sendiri tidak mengerti, ia merasa tidak terlalu jelek, ia selalu bersikap ramah bahkan ia memakai sedikit make up agar terlihat lebih menarik, sayang usahanya gagal juga.


Mungkin memang benar adanya jika kekuatan Ayahnya mempengaruhi penilaian para lelaki di sini, nyali mereka ciut duluan ketika mengetahui ia dari keluarga Annora.

__ADS_1


Terkadang Starla ingin menjadi gadis biasa seperti Luna, gadis biasa yang bebas, tidak terkurung dalam sangkar seperti dirinya.


Starla menelan segala perasaan yang berkecamuk di dadanya dengan tersenyum kecil. "Luna, kau hanya berkencan bukan pacaran." katanya. "Jangan menolak dulu, dia orang yang baik di mataku tahu. Kak Rendy mungkin ingin berteman dulu."


Luna berpikir sesaat. "Baiklah," katanya.


Starla mengangguk, dalam hati kecilnya ia sungguh berharap ingin merasakan jatuh cinta itu seperti apa. Dulu ia memang sempat menyukai beberapa lelaki, hanya suka tidak lebih, dan kebanyakan mereka tidak tertarik padanya juga.


Menyedihkan memang mengetahui kenyataan rasa sukanya tidak bisa berkembang menjadi cinta.


Kursi di depannya berbunyi, seorang gadis berambut hitam pendek meletakan tasnya di meja barulah berbalik ke arah Starla dan Luna.


"Pagi, Luna, Starla." sapa gadis itu hangat.


Starla melambaikan tangannya riang. "Pagi juga, Gea," sahutnya.


"Pagi," Luna membalas singkat.


"Kau tahu tidak bakalan ada anak baru," kata Gea semangat empat lima. "Dia lelaki juga."


Starla memutar bola matanya. "Ingat Kak Ferdian, Gea. Ingat." sindirnya.


"Oh!" Gea terkesikap, teringat pemuda yang baru saja resmi menjadi kekasihnya. "Maaf, aku perempuan setia kok." jelasnya singkat. Namun semangatnya muncul lagi. "Tapi saat tahu dia dari Jepang, aku tidak bisa menahan diriku." jelasnya manja. "Aku kan lemah sama lelaki blasteran."


Starla dan Luna memutar bola mata mereka bersamaan.


"Terserah kaulah," kata Starla tidak tertarik sama sekali. "Aku tidak tertarik lagi pula." katanya.


"Kenapa!?" seru Gea tidak percaya Starla menyerah begitu saja.


Gea menggaruk pipinya gugup, ia menyesal sudah menanyakan hal tersebut. "Terkadang memang berat berada di keluarga terpandang ya." katanya sedih.


Hati Starla sedikit terhibur, Gea memiliki kesamaan dengannya, lahir dari keluarga terpandang, yang membedakan mungkin nasib percintaan, Gea sedikit lancar dari dirinya, walaupun ia sedikit menaruh curiga pada Ferdian, menjalin cinta dengan Gea demi uang saja mengingat pemuda itu dari keluarga biasa.


Itu hanya penilaian Starla, mungkin akan berubah ketika Ferdian jalan bareng dengannya, yang jadi pertanyaan apakah ia rela jadi nyamuk di antara teman-temannya yang sudah memiliki kekasih.


Starla merasakan tenggorokannya gatal, ia mendekatkan bibirnya ke lengan dalam seragamnya dan terbatuk-batuk di sana.


"Apa kau sakit!?" tanya Luna cemas.


"Tidak," sahut Starla. "Tenggorokanku hanya sedikit gatal."


Gea segera bertindak cepat, mengambil sesuatu di tasnya, yang ternyata tisu saku. "Ini," katanya.


Starla menerimanya dengan senang hati. "Kau memang penyelamatku," pujinya.


"Duh," Gea mengibaskan rambut hitamnya penuh rasa bangga dipuji begitu. "Seperti kata pepatah, sedia payung sebelum hujan. Aku juga membawa hand sanitizer."


"Terkadang aku bingung kau ini anggota PMR atau bukan." kata Luna heran.


"Hey, itu demi kesehatan orang lain, jangan egois. Kau tahu etika batuk, kan?" kata Gea tidak mau kalah.


"Aku bilang santai kenapa kau marah, Ge?" tanya Luna sedikit tidak terima dibentak begitu.

__ADS_1


"Hentikan," Starla menyela sebelum keadaan semakin panas; hanya karena dirinya batuk, kedua temannya bertengkar? Konyol. "Aku tidak sakit jadi bisa kalian tidak memperdebatkan ini?"


Luna dan Gea tertunduk malu, memikirkan ucapan mereka masing-masing, hingga akhirnya mereka saling bertatapan lagi dan berkata. "Maaf," kata mereka bersamaan.


Starla tersenyum melihat kedua temannya berbaikan lagi, tidak lama ia batuk-batuk lagi, "Ugh," erangnya pelan. Nampaknya sehabis pulang sekolah, ia akan berkunjung ke apotek untuk membeli masker, berjaga-jaga bila batuknya belum sembuh keesokan harinya.


"Woy, ada Bu Melati! Cepat duduk yang rapih!" teriak seorang pemuda dari depan pintu kelas.


"Masih jauh woy Iqbal, Bu Melati baru juga keluar dari ruang guru." sahut pemuda yang berada di samping Iqbal.


"Ya tahu Andre, tapi wangi 'bunga melatinya' sudah tercium kemari, hahaha!" sahut Iqbal lalu tertawa yang diikuti para teman-teman sekelasnya.


Starla di sisi lain tidak tertawa justru memutar bola matanya, baginya lelucon Iqbal garing, memang Ibu Melati mengajar akutansi yang kebanyakan para lelaki benci, akhirnya mereka membuat lelucon ini, awalnya muncul lelucon 'wangi melati', ia juga ikut tertawa karena jujur ia juga kesulitan memahami pelajaran akuntansi namun, sekarang baginya sudah termasuk bully dan ia tidak menyukainya apalagi Ibu Melati adalah guru mereka dan seorang guru honorer.


Jika tidak suka lebih baik diam, itulah prinsip Starla.


"Hahaha... Bau melati... Hahaha..." kata Iqbal disela-sela tawanya.


Starla tidak tahan lagi dan akhirnya bersuara, ketus. "Bisakah kau diam, Iqbal?"


Iqbal berhenti tertawa, terkejut mengetahui yang berkomentar adalah Starla. "Sepertinya aku sudah menyinggung perasaan Putri Annora." sindirnya. "Dia kan 'anak emas' di sekolah jadi maafkan aku ya?"


Starla mengepalkan kedua tangannya menahan emosinya; Putri, Putri, Putri. Muak ia mendengarnya. Dengan menggebu-gebu, ia berkata. "Aku bukan anak emas, kalau aku anak emas pasti nilaiku sempurna, kan? Aku juga tidak suka akuntansi, tetapi aku bukan orang yang suka mengeluh sepertimu, bergurau murahan seperti itu di belakang Bu Melati," sindirnya dengan senyum 'manisnya'. "Kau menganggap aku anak emas? Kalau begitu anak emas ini ingin memberikan nasehat. Lebih baik tutup mulutmu dan mulai memakai otak agar bisa lebih baik belajar akuntansi!"


Seluruh kelas hening mendengar ucapan panjang Starla, ada yang kagum, ada juga yang kesal. Di sisi lain wajah Iqbal sudah merona merah antara marah dan malu dipermalukan di depan teman-temannya.


"Starla Annora," kata Iqbal penuh amarah, ia hendak berjalan menuju tempat duduk Starla berada namun, ditahan oleh Andre dengan kedua tangannya. "Lepaskan aku, Andre, hanya karena dia perempuan bukan berarti aku tidak bisa memberi dia pelajaran!" serunya sambil berusaha melepaskan tangan Andre yang melingkar di tubuhnya.


"Sudahlah Iqbal," Andre tidak menurut justru berusaha menenangkan. "Anggap saja cuma angin lewat. Angin lewat."


Iqbal masih berusaha memberontak hingga Andre meminta bantuan teman yang lain untuk menahannya, ia akhirnya menyerah setelah tiga temannya yang lain membantu Andre, ia mengambil serta mengeluarkan napas secara bergantian untuk menurunkan emosinya yang meledak-ledak di dadanya.


Iqbal memutar bola matanya. "Terserah kaulah," katanya. "Lepas." perintahnya dingin.


Andre masih tidak bergerak, belum yakin dan takut ketika ia menurut Iqbal bakalan lari ke tempat Starla berada, ia tahu kecepatan Iqbal bukanlah main-main.


"Lepaskan aku, Andre." perintah Iqbal lagi kali ini ketus. "Aku mau duduk, Bu Melati sudah dekat."


Andre melirik keluar kelas, memang benar Bu Melati sudah dekat, sudah sampai di depan kelas 2 IPS 2, ia pun melepaskan kuncian tangannya di tubuh Iqbal diikuti temannya yang lain.


Iqbal langsung berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya menuju tempat kursinya berada.


Starla mengambil napas panjang, ia merasa adrenalin berpacu cepat sekali tadi, ia sendiri kaget akan ucapannya, ia biasanya lebih memilih diam membiarkan lelucon Iqbal berlalu, mungkin karena lelucon Iqbal sedikit mengingatkannya dengan dirinya dulu.


Starla terbatuk, lantas mata cokelatnya menerawang kosong papan tulis putih di depannya; bukan saatnya memikirkan masa lalu yang sudah lewat.


***


Note :


Cerita ini mengambil setting 2010 ke bawah jadi kelasnya cuma dibagi IPA dan IPS


And stay save everyone.

__ADS_1


Sering cuci tangan kalau di tempat umum, dan pakai masker jika sakit dan beraktifitas di tempat umum :)


__ADS_2