The Lovely One

The Lovely One
Bab 11 : Dua Sisi Kasih Sayang


__ADS_3

Sebelum masuk ke rumah, Starla mengecek garasi apakah ada mobil kedua orang tuanya, bersorak mengetahui hanya ada motor Denis di sini. Ia keluar dari garasi, mengecek depan pintu rumah apakah ada mobil juga, bertepuk tangan mengetahui di sana tidak ada apa-apa.


Starla melenggang menuju rumahnya berada sambil bersenandung kecil.


Tidak ada Denis dan kedua orang tuanya, ia bisa dengan tenang berbicara dengan Arthur.


"Assalamu'alaikum... eh?" Starla memberikan salam namun langkahnya terhenti di depan pintu tak kala melihat seorang wanita paruh baya berdiri di dalam dengan tangan terlipat di dadanya, di sampingnya ada Arthur yang memandangnya dengan tatapan iba. "Mama!?" serunya syok.


Bagaimana bisa? Padahal mobil orang tuanya tidak ada di rumah.


Mata cokelat Ibunya menyipit. "Wa'alaikumussalam," sahutnya tenang. "Bagaimana sekolah hari ini, Starla?"


"Eh?" Starla sedikit terkejut, ia sempat mengira Ibunya akan marah ternyata tidak? Mungkin ia terlalu jauh berpikir. "Di sekolah menyenangkan, Ma," ia memberanikan diri mendekat, lalu mencium tangan Ibunya.


"Mama juga berpikir seperti itu," sahut Ibu Starla, kemudian dengan senyum manisnya berkata. "Hari ini kan Starla naik bus, siapa yang tidak senang?"


Tertangkap basah.


"Nyonya Rosa, maaf jika saya lancang, tapi bukankah lebih baik dengarkan alasan Nona Starla terlebih dahulu?" Arthur mencoba menjadi penengah di antara mereka.


"Aku tidak mengerti apa yang Mama bicarakan," Starla mencoba bersikap polos.


Ibunya menepuk keningnya. "Mama cuma pergi selama tiga hari, dan kau dan Denis merencanakan ini, Mama kecewa padamu, Starla."


"Aku kan hanya naik bus Ma, bukan melakukan kejahatan," kata Starla. "Aku bahkan mendapat teman baru, dia baik padaku loh, Ma." ia mencoba membujuk dengan bercerita positif karena tindakannya.


"Mama tahu, hanya saja keamananmu paling terpenting." kata Ibunya tenang.


"Tapi itu bukan terpenting untuk aku, Ma." Starla mengeluarkan perasaan yang sudah lama dipendam olehnya. "Aku hanya ingin naik bus, bermain bersama teman-temanku, bahkan mendapat teman baru... apakah itu salah di mata, Mama?" tanyanya sendu.


Ibunya mengembuskan napasnya, "Tentu Mama mengerti, Mama juga pernah muda sepertimu. Normal jika Starla mulai ingin bermain-main atau tertarik pada lelaki tapi akan lebih baik jika kau ajak mereka naik mobil juga."


Mata Starla menyipit tidak suka. "Maksudku bukan itu Ma," katanya.


"Yo, ramai-ramai apa ini?" suara santai Denis menghentikan perbincangan mereka. "Ehh... Mama," katanya gugup. "Mama pulang pakai apa? Aku tidak melihat mobil Mama di luar."


"Apakah tidak pernah mendengar taksi?"


"Ah," Denis menjadi malu. "Ya, kalau begitu aku mau ke kamar, mau mengerjakan PR." ia berusaha kabur.


"Denis, kembali ke sini," kata Ibunya. "Kau pasti ada sesuatu yang ingin dikatakan pada Mamamu ini, hm?"


"Eh, tidak Ma," sahut Denis polos. "Motorku rusak jadi terpaksa membawa mobil. Mama tahu aku sudah hampir telat, terpaksa gitu, Ma." ia berusaha membela diri, meskipun tak sepenuhnya benar.


"Sudah ke sini," perintah Ibunya.


Denis menurut akhirnya tak ingin menambah keruh suasana.

__ADS_1


"Kau tahu kenapa kau di sini?" tanya Ibunya.


"Aku langsung saja ke intinya, Ma." kata Denis. "Aku dan Kak Starla tidak melakukan hal yang di luar batas kewajaran."


Starla terkejut Denis juga membelanya padahal tadi ia sempat berpikir Denis akan menyelamatkan diri sendiri dengan alasan motor mogoknya tadi.


"Dengan membahayakan Kakakmu?" tanya Ibunya.


"Aku tahu mana yang baik dan buruk. Kak Starla cuma gadis biasa, dia juga punya hak yang sama sepertiku." kata Denis. "Yang dia minta hanya naik bus, Mama lihatlah Kak Starla sudah dewasa, berumur tujuh belas tahun, ya ampun. Berilah Kak Starla sedikit bernapas."


"Denis..." Starla terpesona mendengarnya, ia tidak tahu kalau Denis berpikir begitu dalam tentang dirinya.


"Denis, kau tidak tahu soal ini," kata Ibunya. "Aku dan Papamu memutuskan sesuatu yang baik bagi Kakakmu."


"Sungguh?" kata Denis sedikit meremehkan. "Apakah Kak Starla terlihat baik di matamu sekarang, Ma?"


Starla langsung memasang ekspresi wajah sesedih mungkin memberitahu perasaannya pada Ibunya.


Ibunya berpikir sesaat, hatinya terbagi dua saat ini, antara logika dan hati nurani sebagai seorang Ibu, ia bukanlah orang yang setega itu pada anak-anaknya akan tetapi, situasi memaksanya membuatnya membuat batasan pada anaknya.


Yang Ibunya inginkan hanya ia tidak ingin menyaksikan lagi Starla depresi lagi, atau Denis terjerumus pergaulan yang tidak-tidak.


"Sudah, Denis. Sudah cukup." Starla berkata sambil menepuk keningnya, ia menyerah, ia lelah meyakinkan Ibunya, saat ini ia hanya ingin di kamar, beristirahat. "Mama, ya aku salah, maafkanlah Denis," sesalnya. "Dan juga maafkan aku yang hanya ingin jadi manusia biasa bukanlah Starla Annora." setelah mengatakannya, ia berlari ke atas sambil menahan tangisnya.


Ibunya yang sudah lama tidak melihat Starla menangis, tergugah hatinya; mungkin ia dan suaminya terlalu keras?


Rosa tersentak mendengarnya, lalu tertunduk dalam.


***


Starla mematikan alarm ponselnya, tubuhnya terasa berat sekali pagi ini, matanya juga agak bengkak akibat menangis semalam.


Starla bangun dari tidurnya, merenggangkan ototnya, barulah berjalan ke kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhnya dan giginya setelah selesai ia memakai mencari pakaian olahraganya, karena semalam ia tidak sempat mempersiapkan buku pelajaran, jadinya ia melakukannya sekarang; geografi, Indonesia, PPKN. "Hm," ia mengambil pakaian seragam gantinya, serta bedak dan lip gloss, agar tak terlihat pucat sehabis olahraga.


Starla memastikan semua keperluan tidak ada yang tertinggal. "Baju, buku, make-up, sudah semua..." ia pun keluar dari kamar, tetapi berhenti, ragu turun ke bawah ada Ibunya yang mungkin akan menasihatinya lagi.


Starla tidak yakin apakah kali ini ia akan kuat menahan air matanya mendapat nasihat Ibunya, ia tahu Ibunya melakukan yang baik untuknya, tidak ada orang tua yang akan menjerumuskan anaknya sendiri.


Starla mengambil napasnya, barulah menuruni tangga, pandangan matanya tetap tertuju ke anak tangga yang dilangkahinya, barulah setelah sampai di bawah, matanya lurus ke depan, sesuai dugaan, ada Ibunya di sana sedang duduk di sofa sambil meminum teh, sudah memakai pakaian kerja, maklum saja, Ibunya memiliki kebiasaan takkan tidur lagi sehabis sholat subuh berbeda dengannya.


Ibunya meletakan cangkir teh hijaunya. "Duduklah Starla."


Starla menurut tanpa menjawab, duduk di seberang Ibunya.


'Ingatlah Starla, Ibu melahirkanmu hingga bertaruh nyawa demimu, jangan marah atau membentak meski kau kecewa sama Mama.' kata Starla dalam hatinya.


"Bagaimana tidurmu?" tanya Ibunya kalem.

__ADS_1


Starla mengambil napas dalam. "Baik Ma," ia terlelap sehabis menangis.


Ibunya tersenyum kecil. "Starla terlihat lesu sekali padahal Mama sama Papa mau memberikan kabar baik buat Starla loh."


"Eh?" Starla yang tadinya hanya tertunduk, menatap Ibunya sekarang. "Kabar baik?"


Ibunya mengangguk. "Semalam, Mama dan Papa berdiskusi soal tindakanmu dan Denis, kami berpikir, berargumen, bertukar pikiran semalaman lewat telepon..."


Degub jantung Starla berdetak lebih cepat dari sebelumnya, dalam hatinya berharap bukan tentang memperketat perlindungannya dan Denis, ia takkan tahan dengan itu, ia yakin Denis juga, tetapi Ibunya bilang kabar baik, haruskah ia senang? Ia menunggu dengan was-was.


"Akhirnya dengan sedikit tekanan dari Mama, Papa setuju untuk mengijinkanmu naik bus sekolah," Ibunya melanjutkan disertai senyum lembut kali ini. "Perlindungan Mama dan Papa berikan mulai berefek pada dirimu, jadi kami memutuskan untuk menurutimu,"


Starla ternganga mendengarnya.


Tidak salah dengar telinganya? Ia diperbolehkan naik bus? Naik bus?


Starla Annora naik bus sekolah?


Starla bangkit berdiri dan segera menghambur ke Ibunya, memeluk dengan erat. "Terima kasih," katanya pelan. "Terima kasih, Mama dan Papa mau mengerti aku..."


Ibunya membalas pelukan Starla. "Maafkan Mama dan Papa jika terlalu keras padamu, Starla. Mama dan Papa hanya tidak ingin kejadian dulu terulang kembali, melihatmu terpuruk selama satu tahun menghancurkan hati Mama dan Papa." katanya sambil membelai lembut rambut hitam Starla.


Starla menggelengkan kepalanya; ia sungguh-sungguh terharu mendengarnya. "Akulah yang harus minta maaf, seharusnya aku ijin sama Mama dan Papa dulu bukan bertindak seenaknya."


Rosa melepaskan pelukan mereka. "Mama rasa sudah waktunya berangkat, hari ini masuk jam tujuh, kan?" tanyanya.


Starla mengangguk.


"Bus belum ada jam segini, jadi Mama dan Papa memberikan pengecualian di hari rabu kau tetap diantar oleh Arthur, tetapi bisa naik bus pulangnya." kata Ibunya.


Starla tersenyum lebar. "Itu lebih dari cukup, Ma. Aku setuju!" serunya semangat. "Terima kasih sekali lagi, Ma." lalu ia teringat sesuatu. "Tolong jangan terlalu keras pada Denis, Ma."


"Tentu saja, sejujurnya Denis yang membuka perasaan Mama. Dia menunjukan rasa kasih sayang yang berbeda dari Mama padamu." kata Ibunya.


Starla terkejut.


'Sungguh?' Starla bertanya-tanya dalam hatinya.


"Belajar yang benar, Starla." kata Ibunya menasihati.


Starla mengangguk, dan mencium tangan Ibunya baru keluar rumah, ia melihat Arthur sudah berdiri di samping mobil, membuka pintu mobil untuknya.


"Silakan Nona Starla," kata Arthur.


Starla tersenyum lebar.


Untuk pertama kalinya, Starla begitu semangat naik mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2