
Starla berhenti melangkah. "Bagaimana kalau aku tidak usah ikut saja Kak Rendy?" tiba-tiba ia merasa tak percaya diri. Takut bila Aozora marah dengannya.
"Apa? Kenapa?" tanya Rendy. "Bukankah ini idemu ingin menjenguk Aozora, kan?"
Sudah jauh-jauh begini bahkan sampai harus dua kali balik karena jalannya ditutup. Untuk apa semua pengorbanan itu?
"Kau mau lari dari tanggung jawab, La?" pancing Luna. "Kau sendiri yang bilang ingin memastikan apakah kau yang meracuni Kak Aozora, kan?"
Seharusnya istirahat tadi Starla tidak memberitahukan mengenai Aozora yang mentraktirnya, ceritanya sekarang jadi senjatanya Luna untuk menyudutkannya.
Ia tidak bisa menolak bercerita karena gosipnya dengan Aozora yang pulang sekolah bersama terdengar di telinga Luna, dibanding Gea, Luna lebih semangat jika mengenai cinta apalagi itu tentang temannya sendiri.
"Kita sudah sampai di depan rumah dia, kau yakin mau mundur?" tanya Rendy.
"Dia tidak akan mundur, Kak Rendy," sahut Luna tegas. "Dan aku pastikan itu." lanjutnya sambil menatap tajam Starla.
Starla menelan ludahnya takut bila Luna yang super ceria menjadi murka, masih segar diingatannya terakhir kali ia dan temannya membuat Luna marah dengan nge-prank menyembunyikan tas kecil Luna yang berisi make up, dan satu kelas dibuat mencekam karena Luna menginterogasi satu per satu teman sekelasnya menggunakan sapu sebagai ancaman tidak bermain-main saat menjawab pertanyaan, semenjak itu ia mencoba untuk tidak berada di sisi jelek Luna. "Baik, Bu,"
Luna tersenyum puas. "Kalau begitu ayo maju Milea, temui Dilan-mu." katanya mendorong punggung Starla dengan semangat empat lima hingga mereka sampai di depan pintu rumah Aozora.
"Kenapa aku yang paling depan?" tanya Starla terheran-heran mengetahui Rendy dan Luna di belakang bukan di sampingnya.
Rendy dan Luna saling berbisik satu sama lain, yang membuat Starla curiga ada yang tidak beres.
"Kalian merencanakan sesuatu, ya!?" tanya Starla jengkel. "Aku pulang nih!" ancamnya.
"Tunggu, La." kata Luna menahan Starla yang hendak melewatinya. "Kau ini bicara apa, hah? Kau pikir kami berdua merencanakan sesuatu yang jahat padamu?" tanyanya marah. "Kau di sini yang paling bertanggung jawab, kan? Jadi kau yang paling depan dong."
"Aku memang paling bertanggung jawab, tapi Kak Rendy yang paling akrab dengan Kak Aozora bukankah paling cocok?" Starla tidak mau kalah, terlalu mencurigakan di sini, ia tidak mau dikerjai.
Luna menepuk keningnya, berdebat dengan Starla seperti berdebat dengan seorang Detektif, sulit memang jika yang dihadapi olehnya orang yang lebih pintar darinya, jadi ia mengeluarkan senjata terakhir. "Starla, kau kan cuma menekan bel, tekan saja ataukah kau mau aku menekan? Menekanmu, hah?" ancamnya balik.
Starla menggembungkan pipinya, curang sekali Luna mengancamnya, ia tahu betul temannya itu sungguh-sungguh. Ia pun menyerah dan menekan bel sebanyak tiga kali.
Ting tong. Ting tong. Ting tong.
Starla menunggu dengan raut cemas di wajahnya.
Cklek.
Pintu terbuka, memperlihatkan Aozora yang hanya mengenakan piyama tidurnya, sebuah kacamata menempel di wajahnya memberi efek wajah agar tidak terlihat terlalu kusut.
__ADS_1
"Starla-san?" matanya sedikit melebar melihat gadis itu kemari. "Ada perlu apa kemari, ya?" tanyanya; sepertinya Lala gagal menghalangi Starla.
"Um, Kak Rendy, aku, dan Luna kemari ingin menjenguk, katanya Kak Aozora sakit," jelas Starla.
"Oh... ? Rendy-san dan Luna-san, ya... ?" Aozora bertopang dagu melirik ke belakang Starla, melihat kedua orang yang dimaksud sedang berjalan pelan-pelan melewati perkarangan rumahnya. "Mereka pergi..."
Starla melebar, dengan cepat ia berbalik, dan syok melihat Rendy sudah menaiki motornya sementara Luna di belakang melambaikan tangan dengan wajah tanpa dosa. "Hey!" kan benar dugaannya jika mereka berdua merencanakan sesuatu.
"Bersenang-senang ya, sayang!" seru Luna. "Semoga cepat sembuh Kak Aozora." tak lupa, ia memberikan do'a.
"Tunggu!" Starla berusaha mengejar tetapi mereka sudah pergi.
"Temanmu sesuatu sekali ya? Haha..." tanya Aozora diiringi tawa kikuk.
"Dia memang, sampai aku lelah menghadapi dia," sahut Starla.
Hening...
Aozora tidak menanggapi gurauannya menjadikan situasi sekarang canggung sekali apalagi mereka berdua.
"Kau mau masuk?" Aozora menawarkan. "Akan aku buatkan teh."
"Kakak tidak keberatan?" Starla bertanya balik, ia dapat melihat ketidaknyamanan Aozora, ia mengerti, mereka kan belum akrab dan jangan lupakan penyebab Aozora sakit kemungkinan juga karenanya.
Sendirian?
Starla tidak tahu apakah itu berita bagus ataukah buruk, berduaan di rumah, lelaki dan perempuan pula.
Seperti tahu apa yang dicemaskan Starla, Aozora menambahkan. "Ada Bibi Novi di sini. Kau tidak usah takut."
"Oh?" wajahnya pasti nampak jelas takut sekali sehingga Aozora harus meyakinkannya, mau bagaimana lagi itulah yang diajarkan orang tuanya.
Setampan apa pun lelaki itu, tetap harus waspada sampai titik darah penghabisan.
Dan inilah kenapa ia marah sekali dengan Luna, selain ia tidak bisa tenang, ia jadi berpikir tidak-tidak pada Aozora padahal ia yakin niat pemuda itu baik namun ajaran orang tuanya sudah mendarah daging.
Starla melangkah ke dalam, satu langkah, satu langkah. "Permisi." katanya pelan.
Aozora mengarahkan Starla menuju ruang tamu yang menyatu dengan ruang televisi.
Starla duduk di sofa berwarna cokelat tua, diikuti Aozora, duduk di seberangnya.
__ADS_1
Di luar dugaan bagian dalam rumah Aozora tidaklah luas, tidak banyak barang-barang milik lelaki kebanyakan bahkan tidak ada foto keluarga, mengingat pemuda itu baru pindah ke sini mungkin itu sebabnya tidak ada barang penting.
"Oh," Aozora teringat. "Bibi Novi." panggilnya.
"Ya," seorang wanita paruh baya keluar dari ruang dapur masih menggunakan apron di tubuhnya.
Starla tersenyum kecil mengetahui Aozora tidak berbohong bila ada orang di sini, dan bisa dilihat dari pakaian jika wanita paruh baya ini bekerja pada Aozora.
"Tolong buatkan teh untuk temanku." pinta Aozora lembut.
Wanita paruh baya itu mengangguk lalu kembali ke dapur untuk menyiapkannya.
Mata Aozora akhirnya fokus pada Starla. "Jadi? Untuk kemari?" tanyanya.
"Oh," Starla teringat lagi, lantas ia meletakan plastik putih di atas meja. "Aku membawa ini sebagai permintaan maaf dariku." sesalnya.
Aozora hanya melirik sebentar plastik berisi buah-buahan itu. "Apa maksudmu?"
"Aku yakin Kak Aozora sakit karena makan bakso kemarin, maaf ya aku tidak tahu kalau Kakak tidak suka pedas." jelas Starla sedih.
"Hm..." Aozora sedikit tidak menyangka Starla akan melakukan hal sejauh ini, jelas tersentuh diperlakukan begini tapi... "Jangan kau terlalu menyalahkan dirimu sendiri, aku sendiri yang memakannya sampai habis jadi salahku juga kan?" katanya.
"Setidaknya Kak Aozora bilang tidak suka pedas." kata Starla. "Kalau bilang kan jadi takkan sakit perut."
"Sudah terjadi, Starla-san. Aku tidak menyesal karena memang enak bakso itu." kata Aozora. "Dan aku sudah baikan, sudah diperbolehkan masuk sekolah lagi besok oleh Dokter juga."
Starla mengembuskan napasnya lega.
Jika masih parah, ia berniat mengecek setiap hari karena merasa tetap bertanggung jawab walaupun Aozora tetap bilang tak apa-apa.
Dari semuanya, besok Starla bisa bertemu lagi dengan Aozora di sekolah, setiap hari juga.
Hanya membayangkan cukup membuatnya tersipu malu.
Dua hari tidak bertemu Aozora di sekolah sedikit menurunkan mood-nya, padahal mereka baru ketemu dua hari juga tetapi perasaan sukanya sudah sejauh ini.
"Oh, ya, Kakak juga harus lebih hati-hati, karena di sini banyak yang mengendarai motor, sering-sering pakai masker ya?" ia memperingati sebab ia yakin udara Jepang berbeda dengan udara di Indonesia sebab kendaraan di sini jauh lebih banyak bahkan merupakan kebutuhan setiap hari untuk bepergian.
"Tentu saja," sahut Aozora lembut. "Kau juga."
Merasa senang dipuji, Starla lebih berani lagi, menambahkan. "Di rumah sakit juga jangan lupa pakai masker, ya?"
__ADS_1
Aozora tertawa. "Siap, Dokter Starla." candanya.
Starla pun ikut tertawa.