The Lovely One

The Lovely One
Bab 4 : Misi


__ADS_3

Tok. Tok. Tok.


Starla terbangun dari tidurnya mendengar ketukan pintu di kamarnya, ia menggerutu pelan, membenarkan posisi tidurnya agar lebih nyaman, dan menutup matanya lagi. Ia yakin siapa pun itu akan segera pergi.


Tok. Tok. Tok.


Segera pergi—


Tok. Tok. Tok.


Segera per—


"Kakak?"


Starla akhirnya menyerah, ia bangun dari tidurnya, sambil menggembungkan pipinya, ia menghentak-hentakan langkah kakinya menuju pintu kamarnya.


Cklek.


Wajah Denis yang sok polos menyambutnya. "Pagi, Kak."


Starla memutar bola matanya; Denis berusaha bermain polos-polosan dengannya? Sayangnya ia tidak berniat. "Apa maumu?"


"Wow," Denis merasa takjub dengan ucapan 'manis' Starla. "Aku kemari cuma ingin membangunkan, heran juga kenapa Kakak belum bangun."


"Apa?" Starla sudah menyetel alarm lebih cepat dari biasanya kemarin, alarmnya belum berbunyi yang berarti Denis membangunkan lebih pagi, atau alarm berbunyi tetapi ia tidak mendengarnya? "Memangnya sekarang jam berapa?" tanyanya panik.


"Setengah tujuh," sahut Denis dengan polosnya.


"Apa!?" Starla berseru panik, tanpa berpikir panjang ia segera menutup pintu kamarnya, dan berlari cepat ke kamar mandi untuk bersiap-siap berangkat sekolah.


Sambil menggosokkan sabun ke seluruh tubuhnya, Starla bertanya-tanya dalam hatinya kenapa alarm ponselnya tidak berbunyi, ia yakin baterai ponselnya tak habis, yakin juga sudah menyetel jam setengah enam pagi jadi bagaimana bisa tidak berbunyi? Apakah ponselnya rusak?


Starla menyalakan keran shower untuk membersihkan sabun di tubuhnya lalu segera mencuci muka, menyikat gigi dari atas, bawah, depan, belakang secara teratur, kemudian berkumur, dan melilitkan handuk di tubuhnya.


Starla membuka lemari pakaian mencari seragam putih abu-abu miliknya, dan segera memakainya setelah ketemu, begitu selesai, ia duduk di kursi tempat biasa ia berdandan, karena dikejar waktu, ia hanya memakai bedak dan lip gloss tak lupa memakai pelindung tabir surya di tubuhnya yang terbuka serta wajahnya.


Untunglah semalam ia sudah membereskan keperluan pelajaran sekarang, jadi ia hanya tinggal memakai tas tak lupa ponselnya dan berjalan keluar menuruni anak-anak tangga dengan cekatan.


"Pagi." Denis yang tengah memainkan ponselnya menyapa sekali lagi.


"Pagi juga Denis." Starla membalas hangat, melirik penasaran apa yang sedang ditulis oleh Denis di ponsel.


Denis membalikan tubuhnya menghindari Starla untuk melihat layar ponselnya; kebiasaan suka mengintip privasinya, walau lebih tua, ia takkan membiarkan Starla melihat privasinya.

__ADS_1


Starla memutar bola matanya. "Pelit." protesnya.


Denis tidak memperdulikan ucapan Kakaknya, masih sibuk mengetik, setelah selesai ia mengirim pesan tersebut dan kembali menghadap Starla lagi. "Jadi tidak melakukan pekerjaan kotor ini?"


Starla menepuk keningnya; lagi, Denis membuatnya merasa seperti seorang kriminal, sudah dibilang untuk tidak berkomentar yang tidak-tidak. "Motormu sudah diperiksa belum?"


"Aku sudah mengakali motorku, tenang saja, Kak," sahut Denis. "Kakak tunggu sinyal yang akan aku berikan saja."


"Apa?" itu bukan yang mereka sepakati semalam, Starla ingin memprotes tetapi Denis sudah berlari keluar, ia mengikuti hanya sampai di dekat pintu, melihat apa Arthur ada di luar, dan benar saja Arthur di sana sedang membersihkan mobil.


Denis segera berlari menuju garasi di mana motornya berada, berpura-pura menyalakan motornya yang berkali-kali gagal, setelah di rasa cukup meyakinkan, ia segara turun dari motornya. "Arthur!" panggilnya.


"Ya?" Arthur menjawab dengan berteriak juga.


"Sebentar ke sini, ada yang tidak beres dengan motorku!" seru Denis lagi.


Arthur segera menghampiri dan memeriksa motor milik Denis.


Starla yang sejak tadi melihat, berpikir-pikir apa yang sudah terjadi, ia menunggu sinyal dari Denis dengan was-was, berpacu dengan waktu pemberhentian bus sekolahnya. "Kalau dia memberi sinyal apakah aku harus mulai mengempeskan ban?" tanyanya. Jika benar adanya, takkan ada waktu kalau menunggu sinyal, ia akan melakukan sekarang. Ia pun berjalan menuju mobilnya berada, langsung berjongkok di sampingnya, tangannya dengan cekatan memutar katup ban yang kencang menjadi longgar.


Di luar dugaan udara yang keluar tidaklah sebesar yang ia kira, membuatnya semakin cemas bila akan gagal; mungkin ini sebabnya Denis memintanya untuk bangun lebih pagi karena memang membutuhkan waktu yang lama.


Terlintas dipikiran Starla untuk merobek sedikit ban mobil dengan pisau atau pecahan kaca namun diurungkan karena ia harus mencari di dalam atau tong sampah yang kotor, tidak mungkin dilakukannya, banyak kuman.


Alis tebal Denis menyatu, jengkel, ia kembali memberi perhatian pada motornya, mencari celah lagi, dan saat Arthur mengecek dalam motornya, ia memberikan sinyal lagi, kali ini dengan jempolnya serta gerakan bibirnya dan matanya ke arah gerbang.


Starla menangkap dengan cepat kali ini, gerakan bibir Denis berartikan: cepat keluar. Ia pun keluar dari persembunyian, berjalan mengendap-endap agar Arthur tidak dengar bunyi sepatunya.


Di sisi lain Denis menepuk keningnya tidak percaya akan tindakan Starla; jika Kakaknya terus berjalan seperti itu, ia akan terlambat ke sekolah juga; lupakan idenya! "Maksudku lari, Kak!" serunya.


Starla terkejut bukan main; tidak salah dengar dirinya? Denis berteriak memintanya lari?


Arthur pun ikut terkejut juga, berhenti mengecek, tetapi belum dapat mengerti keadaan, tubuhnya dikunci oleh kedua tangan Denis. "Tuan Denis!?"


"Maaf ya, tapi ini demi masa puber Kakak," sesal Denis. "Aku hanya menahan sebentar saja, Arthur."


"Apa!?" Arthur terkejut bukan main, dan di depan matanya sendiri ia menyaksikan Starla berlari kencang menuju gerbang rumah. "Tidak! Nona Starla tidak diperbolehkan berangkat sekolah sendirian. Aku harus melindungi Nona Starla." katanya panik berusaha memberontak.


Denis tidak bergeming. "Aku tersentuh akan kesetiaanmu dengan keluarga kami, Arthur. Aku paham sekali. Namun, cepat atau lambat Kak Starla akan memberontak. Dia hanyalah gadis biasa yang sedang di masa berkembang sepertiku." jelasnya. "Bukankah kau harusnya berada di pihak aku dan Kakak karena paling melihat kami tumbuh?"


Arthur berhenti memberontak, berpikir apa yang dikatakan Denis padanya. "Tentu aku mengerti perasaan Tuan dan Nona," katanya mengakui. "Hanya saja ini pekerjaanku, jika kedua Orang Tuamu tahu mengenai ini..." ia tidak berani melanjutkan ucapannya, panik membayangkan dirinya akan menjadi apa jika terdengar oleh majikannya.


"Aku dan Kakak akan membelamu tentu saja, Arthur." kata Denis.

__ADS_1


"Tuan Denis tidak tahu bagaimana amarah Ayah Tuan," kata Arthur.


Denis melepaskan kuncian tangannya di tubuh Arthur setelah yakin Starla sudah tidak terlihat di matanya, sebelum benar-benar lepas, ia dengan sigap mengambil kunci mobil di saku Arthur dengan lihai, bibirnya sedikit menyeringai ketika berhasil diambil sebelum memasang ekspresi tenangnya lagi. "Percayalah, aku sudah melihat kemarahan Papa." katanya kalem. "Aku akui, memang menyeramkan tetapi kan ada Kak Starla, kau pasti tahu betapa Kak Starla begitu disayang oleh Papa dan Mama."


"Ya memang..." Arthur mengakui hanya saja ia tetap was-was.


"Semua akan baik-baik saja, Arthur." kata Denis, tegas. "Sekarang aku permisi, aku mau ke sekolah dulu."


Arthur mengembuskan napasnya dalam, menyerah, sama sekali tidak tertarik berdebat lagi, ia berkata pelan. "Hati-hati Tuan Denis."


Denis mengangguk, sebelum Arthur pulih sepenuhnya, ia segera berlari secepat kilat menuju mobil yang terparkir.


Arthur akhirnya menyadari jika motor Denis masih belum selesai diperbaiki, jadi dengan apa pemuda itu akan berangkat sekolah? Ia berbalik dan panik bukan main melihat Denis sudah duduk di kursi kemudi. "Apa!? Tuan! Anda dilarang naik mobil!" serunya.


Denis tidak menurut justru tancap gas, yang sayangnya dihalangi oleh Arthur di depan gerbang rumah. "Ayolah Arthur, kalau kau bisa membiarkan Kak Starla, aku juga dong! Jangan pilih kasih! Nasi sudah menjadi bubur, biarkan aku juga bersenang-senang."


"Tidak," sahut Arthur. "Aku bisa percaya dengan Nona Starla tapi jika itu Tuan Denis, aku tidak bisa." omelnya.


Denis memutar bola matanya. "Kau yang meminta ini, Arthur."


"Apa?" Arthur syok, ia mundur tiga langkah ketika mobil maju hendak mengenainya, ia benar-benar jengkel sekarang. "Tuan Denis cepat turun!" perintahnya emosi.


Denis tetap tidak menurut. "Aku hitung sampai tiga, jika kau belum menyingkir, itu salahmu, Arthur."


Arthur meneguk ludahnya; Denis hanya main-main kan? Ia mengerti sikap anak muda hanya saja mana mungkin Denis akan bertindak sejauh itu apalagi ia juga lebih tua. "Tuan Denis, kau tidak—"


"Satu..."


Denis bersungguh-sungguh! "Tuan kau tetap tidak boleh! Kau kan penerus, tahan tingkah Anda!" Arthur berusaha membujuk.


Denis justru memakai kacamata hitamnya, dan mengoper persneling mobilnya. "Dua..." lanjutnya santai.


"Tu—"


"Tiga!"


Arthur segera menyingkir dan detik berikutnya mobil yang dikendarai Denis berjalan.


"Bye-bye,"


Arthur pun hanya bisa memandang mobil kesayangannya perlahan pergi menjauh dari penglihatannya, hingga setelah benar-benar tidak terlihat lagi di matanya, ia bergumam. "Aku butuh istirahat."


Nasi sudah menjadi bubur, jadi biarkan saja.

__ADS_1


Arthur yang pasrah, kembali ke dalam rumah, membuat secangkir teh chamomile untuk dirinya sendiri.


__ADS_2