
"Pemanasan sudah selesai, pelajaran hari ini adalah lompat jauh."
Semua murid mengangguk.
"Untung sekali kau, Starla." Luna berbisik.
Starla bingung. "Apanya yang beruntung?" ia akan masuk klub bola voli bukan klub lompat jauh lagi pula tidak ada klub lompat jauh.
Untunglah juga semester satu tidak ada pelajaran bola voli.
Yang sudah-sudah, ketika grup perempuan bermain bola voli tidaklah semenyenangkan grup lelaki, kebanyakan mereka hanya bisa servis bawah tanpa bisa membalas bahkan terkadang servis bawah pun tidak bisa, jadi membosankan.
"Bola voli kan sering melompat, kan?" tanya Luna dengan polosnya.
Starla menepuk keningnya. "Bukan seperti itu cara bekerjanya," katanya. "Sudah, perhatikan saja instruksi Pak Abdul, nanti dimarahi."
"Aku yakin lompatanku takkan jauh." kata Luna.
Starla memutar bola matanya; mengeluh sebelum mencoba, tipikal Luna. Ia mencari tempat strategis agar bisa melihat dan mendengar jelas penjelasan Pak Abdul.
"Jadi kalian bersiap di garis sini," Pak Abdul menunjuk garis berwarna hitam. "Kemudian berlari sampai garis di sana kalian melompat ke bak pasir, nanti akan diukur sama Hendra berapa jauh kalian melompat. Kalian semua bisa mencoba terlebih dahulu tapi sekali."
"Eh? Kenapa cuma sekali, Pak?" para Murid mengeluh.
"Kalian memang mau dilihatin anak-anak sekolah yang berdatangan nanti?" tanya Pak Abdul.
Teman-temannya terdiam, tentu saja mereka tidak mau.
Starla di sisi lain syok, tentu saja ia juga tidak mau, inilah kenapa ia terkadang tidak suka pelajaran olahraga, jika beruntung mereka akan olahraga di stadion, bebas dari tontonan murid, jika tidak ya seperti sekarang, seakan dikejar waktu. Nomor absennya juga berada di bawah, besar kemungkinan jika bagian ia, murid-murid sudah ramai.
Starla tidak ingin Aozora melihatnya olahraga sebab ia yakin akan mengganggu konsentrasinya lagi, nanti nilainya bisa jelek.
Kenapa juga namanya bukan Annora Starla? Kenapa harus Starla Annora?
Memiliki nomor absen bawah memang ada untung dan ruginya.
Starla memerhatikan teman-temannya mulai melakukan percobaan pertama mereka.
Ada beberapa yang berhasil mencapai dua meter kebanyakan lelaki, dan ada juga yang tidak sampai satu meter mungkin karena gugup diperhatikan oleh teman-temannya.
Starla yang sedikit bosan, iseng melihat sekeliling sekolahnya, dan mulai panik ada beberapa murid yang mulai masuk, ia heran padahal baru jam setengah tujuh tetapi ada yang sudah sampai sekolah.
Aozora kan naik bus jadi kemungkinan pemuda itu sampai jam tujuh seperti kemarin.
"Starla Annora."
Starla terkesikap namanya dipanggil, tidak ingin buang-buang waktu, ia segera berdiri di tempat garis start berada, dan segera berlari, entah karena gugup dilihat teman-temannya atau murid lain, ia melewati garis lompatan yang ditentukan tetapi ia mendarat dengan baik di bak pasir.
"Permulaan yang kurang bagus, Starla." kata Pak Abdul.
Starla membersihkan bajunya dari pasir dan kembali ke tempatnya penuh kecewa.
'Aku bisa lebih dari itu.'
"Jangan bersedih, La. Baru percobaan," Gea menyemangati. "Kalau kau gugup anggap saja mereka tidak ada."
"Aku akan coba," walaupun Starla yakin sulit, ia memang tipe yang tidak senang menjadi pusat perhatian orang, ia memiliki demam panggung hingga terkadang apa yang sudah dikuasainya bisa hilang, makanya ia selalu tertunduk jika disuruh presentasi atau di tes seperti ini.
__ADS_1
***
Seperti dugaan Starla, sebelum ia dapat tes, waktu sudah menunjukan pukul tujuh dan suasana sekolah sudah ramai, ada beberapa murid yang sengaja duduk di luar kelas untuk melihatnya.
Starla sendiri panik luar biasa, matanya sesekali melirik kelas 3 IPS 4 tempat Aozora berada, tetapi tidak nampak pemuda itu, hanya ada Rendy dan teman-temannya di sana.
Starla mengembuskan dan mengeluarkan napas berkali-kali mencoba menenangkan dirinya.
Luna dan Gea sudah selesai tes meski begitu mereka dengan setia menunggunya untuk tes agar bisa ganti baju bareng.
"Starla Annora." panggil Pak Abdul.
Dengan mengembuskan napas, Starla berdiri lagi di garis start.
"La, pikirkan saja mereka tidak ada," Gea kembali mengingatkan.
"Dan hanya ada Kak Aozora berada di ujung sana menunggumu." goda Luna.
Starla otomatis membayangkan ucapan teman-temannya, tidak ada siapa-siapa hanya Aozora di ujung sana—dan tak berhasil justru semakin gugup. Ia bersiap, mengambil napas lagi, beru melompat, tidak seperti percobaan pertamanya, kali ini ia tidak melewati garis dan mendarat dengan sempurna.
"Satu setengah meter, Pak." kata Hendra.
Starla sedikit terkejut lompatannya tidak lebih jauh dari lompatan pertamanya mungkin karena yang pertama ia melanggar garis meski begitu ia cukup puas.
"Selamat kau berhasil, La." kata Gea.
"Vitamin Kak Aozora pasti berhasil ya?" goda Luna.
Starla memutar bola matanya, "Ayo ke kelas, ganti baju." katanya, sebelum pergi, ia sempatkan melirik kelas Aozora berada, tetap tidak ada tanda-tanda pemuda itu, mungkin sudah di dalam kelas?
***
Sudah tahu kan seberapa kosong hari rabu?
Situasi kelas santai sekali setiap hari rabu, kebanyakan mereka pada jajan di kantin atau sekedar nongkrong di bawah pohon yang memang disediakan gazebo di setiap sudut sekolah, terdapat Wi-Fi gratis disediakan.
Starla memilih berteduh di gazebo sendirian agar tidak ada yang menempati sementara Luna dan Gea sedang membeli makanan. Ia sedang mengecek akun fakebook, mencoba memahami cara kerja fakebook.
"Starla."
Starla menengadahkan kepalanya melihat siapa yang memanggilnya. "Kak Rendy!?"
Rendy melambaikan tangannya, lalu duduk di seberang gadis itu. "Kau tidak belajar?"
Starla tertawa. "Ya seperti inilah kelasku, Kak. Kacau. Sekarang kan pelajaran olahraga, tadi kami sudah olahraga jadi bebas deh,"
"Oh," Rendy mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kakak sendiri sedang pelajaran apa? Tidak masuk?" tanya Starla.
"Pelajaran agama islam," kata Rendy.
"Oh," Starla ingat bahwa Rendy non-muslim, memang jika pelajaran agama islam, murid yang non-muslim diperbolehkan keluar bila mau.
Jika begitu ada kemungkinan besar Aozora juga keluar, kecil kemungkinan pemuda itu beragama islam jika dari Jepang.
Starla memutuskan untuk memancingnya. "Kakak sendirian saja?"
__ADS_1
Rendy mengangguk. "Kenapa? Kau mengharapkan seseorang? Aku tidak cukup untukmu?" tanyanya menggoda.
Starla terkejut mendengarnya, baru pertama kalinya Rendy bersikap seperti itu padanya, setiap di klub, mereka hanya mengobrol soal voli.
'Dia menggodaku?'
Meskipun Rendy bukanlah tipenya namun digoda pemuda setampan itu tentu saja membuatnya merona merah.
Mungkin efek Rendy dekat dengan Luna. Jadi pemuda itu juga ingin dekat dengannya yang merupakan teman dekat Luna?
"Aku hanya bertanya, Kak." sahut Starla.
Rendy tertawa kecil. "Aozora hari ini tidak masuk." katanya.
Dari mana Rendy tahu?
"Kau dan dia jadi perbincangan hangat hari ini, kalian kan pulang sekolah bersama," Rendy menambahkan. "Tidak lupa juga Luna kemarin memintaku untuk mencari tahu nama Aozora, kalau perlu berteman dekat dengan dia."
Starla menepuk keningnya; tentu saja Luna dibalik semua ini, ia jadi malu sekarang. "Kakak bilang Kak Aozora tidak masuk? Itu kenapa ya?" tanyanya.
"Katanya ijin, entah karena apa," kata Rendy sambil mengangkat bahunya. "Kau bisa tanya ke Lala, dia bendahara di kelas kami, dan dia dekat dengan Aozora."
"Eh? Lala?"
"Mereka langsung akrab di hari pertama bahkan Lala yang mengajak Aozora keliling sekolah saat istirahat, katanya teman pena gitu." kata Rendy.
Teman pena.
Aozora kemarin juga bilang memiliki teman pena di Bali, jadi wajar juga di sini juga punya hanya yang membuatnya mengganjal, teman pena pemuda itu adalah perempuan, satu kelas juga, wajar ia merasa cemas kan?
"Kak Lala itu yang mana ya?" tanyanya.
Rendy mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukan sebuah gambar pada Starla. "Ini dia yang namanya Lala, Starla." ia menunjuk seorang gadis yang berada di barisan depan tetapi paling ujung.
Starla menyipitkan matanya agar bisa melihat dengan jelas. "Oh," responnya singkat.
Gadis bernama Lala itu tidaklah terlalu cantik, berpenampilan biasa saja di matanya, lebih cantik dirinya.
Starla terkesikap akan pemikirannya.
'Jangan seperti itu, La. Jangan menilai orang dari luarnya saja.' kata Starla dalam hati.
"Kakak tahu Kak Aozora ijinnya sampai kapan?" tanya Starla lagi.
Rendy menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, aku mencoba mendekati dia tapi dia itu seperti menutup dirinya, bisa dibilang anak yang sombong."
"Eh? Masa?" Starla sama sekali tidak percaya.
Rendy mengangguk. "Aku selalu mencoba mencari topik obrolan dengannya karena aku teman sebangku dia. Tapi dia selalu saja menjawab obrolan dengan singkat, membuat aku seperti orang kikuk sendirian."
Starla sama sekali tidak percaya, apakah Aozora yang diceritakan Rendy sama dengan Aozora yang selalu ada dipikirannya.
Tidak mungkin Aozora sedingin itu, kan... ?
Note :
Ini beneran terjadi dulu sama saya, santun sekali pelajaran hari rabu, abis duit buat jajan doang seharian 😂
__ADS_1