
Ketika sampai di depan rumahnya, Aozora sedikit bingung melihat sebuah mobil hitam terparkir di depan rumahnya, ia melirik plat nomornya dan tidak mengenalinya.
"Tidak mungkin... Ayah kemari?" gumam Aozora cemas.
Kesepakatan mereka masih lama jadi bagaimana bisa Ayahnya menyusul ke Indonesia?
Setelah menimbang-nimbang, Aozora akhirnya melangkah lagi, memasuki pekarangan rumahnya, kemudian ia mengetuk pintu rumahnya. "Bibi Sri?"
Aozora menunggu sesaat, hingga akhirnya pintu terbuka tetapi bukan Bibi Sri yang membukanya melainkan seseorang pria paruh baya berpakaian jas rapih dengan mata yang menatap intens dirinya. "Um, bisa aku tahu siapa Anda?" tanyanya.
"Duduklah, Aozora."
Aozora melirik ke dalam, ada satu lagi pria paruh baya tengah duduk di sofa di samping pria paruh baya itu ada Bibi Sri. "Permisi," katanya melewati pria yang membukakan pintu untuknya, lalu duduk di seberang pria paruh baya yang berbicara tadi. Ia melirik meja yang bersih tidak ada apa-apa, "Bibi, bisa tolong ambilkan uh, Bapak mau apa?" tanyanya.
"Tidak apa, aku hanya sebentar di sini," pria paruh baya itu menjawab kalem. "Rayen, kau bisa menunggu di luar."
Pria paruh baya yang bernama Rayen membungkuk hormat. "Baik Tuan Rudi." katanya sebelum pergi keluar.
Aozora mengerutkan keningnya; nama Rudi sepertinya pernah ia dengar sebelumnya tapi di mana? Ia tidak ingat.
Pria paruh baya bernama Rudi memandang Aozora lagi. "Jadi?" mata cokelatnya melirik Sri yang masih berdiri.
"Oh," Aozora mengerti, "Bibi bisa kembali bekerja."
Bibi Sri hanya membungkuk hormat tanpa menjawab kembali menyelesaikan masaknya yang tadi sempat terhenti.
Hening...
Aozora tiba-tiba merasa gugup dengan pria paruh baya bernama Rudi tersebut padahal mereka tidak saling kenal, tetapi wajah pria paruh baya itu begitu mirip dengan—Starla? Ia mengembuskan napasnya, ini pasti efek dari pelukan pertama mereka, pikirannya jadi tidak bisa fokus. "Bisa aku bantu?" tanyanya sopan. "Bapak ada perlu apa? Mencari Ibuku?"
"Aku ingin berbicara denganmu," kata Rudi masih menatap intens Aozora, melirik setiap gerakan pemuda itu. "Namamu..."
Aneh, bukankah Bapak Rudi sudah tahu? Mungkin ingin ia memperkenalkan dirinya secara resmi? "Namaku Aozora." katanya.
"Aozora," Pak Rudi mengulangi, sebelum tersenyum kecil berkata. "Atau Pangeran Aozora Natt Larsson... ?"
Aozora tentu terkejut bukan main mendengarnya, sudah lama tidak ada yang menyebut dirinya Pangeran. Nampaknya Pak Rudi menelusuri latar belakangnya, itu tak sopan, mereka kan tidak saling kenal ataukah Pak Rudi ini saingan Ayahnya? "Maaf, jika Anda memiliki urusan dengan Ayah saya—"
__ADS_1
"Nama Starla apakah terdengar tidak asing di telingamu?" tanya Pak Rudi.
Starla? Tentu saja Aozora tidak asing, gadis yang memenuhi kepalanya hingga saat ini. "Ada apa dengan Starla-san jikalau Bapak tidak keberatan?"
"Perkenalkan aku Rudi Annora, Pangeran Aozora." kata Pak Rudi sopan.
Aozora sempat berharap bahwa Pak Rudi hanyalah kerabat atau Paman Starla tetapi ia tidak menyangka akan berhadapan dengan Ayah Starla secepat ini, keamanan Starla lebih ketat dari yang dikiranya.
'Tenang, ini bukan menghadapi Bapak mertua.'
Aozora terkejut dengan ucapannya, tertunduk frustasi, menghabiskan waktu dengan Starla benar-benar mengacaukan pikirannya. "Aku bukanlah Pangeran." katanya, ia tertawa getir akan ucapannya.
Pak Rudi berpikir sesaat. "Teknisnya, kau adalah Pangeran, tetapi karena Ibumu menikah dengan Pria biasa, kau terpaksa menjadi rakyat biasa." jelasnya.
"Bisakah Anda tidak berbicara mengenai keluarga saya?" Aozora meminta dengan nada sedih, ia tak mau mengingat takdirnya. "Saya ingin tahu kenapa Anda ke sini, Pak."
Rudi sedikit suka dengan sikap formal Aozora. "Aku perhatikan kau dekat dengan Starla belakangan ini, itulah yang membuatku kemari."
Memperhatikan? Darimana Pak Rudi tahu? Tentu saja ada yang menjadi mata-mata bagi keamanan Starla.
"Aku hanya berteman dengannya tidak lebih," kata Aozora kalem, ia tidak gugup sama sekali karena memang benar adanya untuk apa berbohong?
Aozora merasa itu adalah hal yang aneh yang pernah didengarnya; melarang seorang gadis berteman dengan lelaki? "Saya bukannya tak sopan tapi apakah Bapak sudah menanyakan itu pada Anak Bapak sendiri?"
"Starla takkan menerimanya." Pak Rudi menjawab santai. "Tapi kau bisa."
"Maaf tapi saya tidak bisa, jika bisa, akan ada Aozora lain yang akan dekat dengan Starla-san." kata Aozora kalem. "Lingkungan luar tidak bisa selamanya dikendalikan oleh Bapak."
Ayahnya Starla nampaknya begitu takut Starla akan berubah. Lagipula tidak ada yang akan sakit hati, ia dan Starla kan berteman.
"Aku melihat visa-mu," kata Pak Rudi. "Jadi sebelum Starla jatuh semakin dalam, aku ingin kau menjauhi dia, memang sedikit akan menyakitkan Starla tetapi lebih baik daripada banyak menyakitkan dia."
Aozora tersentak dan sedetik detik kemudian ia teringat tekad pertamanya kemari adalah berusaha menyakiti orang sedikit mungkin, ia lupa karena aura positif Starla memudarkan tekad tersebut bahkan hingga membuatnya mulai berteman baik dengan Rendy. Ia tertunduk dalam.
Rendy, Lala dan yang terpenting Starla...
Melihat Aozora yang sudah tidak berani membalas, Pak Rudi berkata lagi. "Kau hanya tinggal sementara di sini, jadi ketika kau pergi, aku ingin Anakku bukanlah bagian dari air mata kesedihan itu. Dia baru bangkit dari depresinya setelah dua tahun berjuang, aku harap kau mengerti, Pangeran Aozora."
__ADS_1
Aozora mengembuskan napasnya dalam. Mendengar kata depresi, membuatnya otomatis teringat adiknya yang sudah tak ada, depresi yang mengambil hidup adiknya dan jika itu akan terjadi pada Starla, ia takkan memaafkan dirinya sendiri.
Pak Rudi bangkit berdiri. "Aku tak memiliki masalah denganmu, kau lelaki baik-baik tapi apakah baik-baik cukup? Pikirkanlah Aozora, Bapak pergi, terima kasih sudah mau berbaik hati mendengarkan." katanya, lalu pergi ke luar.
Aozora bangkit berdiri, diliriknya kantung plastik yang berisi hadiah dari temannya.
"Apa yang harus aku lakukan?"
***
Starla yang berada di mobil, menggerakan kakinya tidak sabar ingin sampai di sekolah, mengerjakan tugas dengan teman-temannya. Kemarin malam Ayu mengirim pesan berisi jumlah uang yang berhasil dikumpulkan dan bahagia mengetahui mereka bisa membeli beberapa cat meskipun dengan kualitas yang biasa saja tapi ia yakin di tangannya, Guntur dan Andre, mereka akan membuat gambar yang terbaik.
Starla tersenyum lebar keluar setelah mobil berhenti di parkiran, ia segera keluar dari sana. "Terima kasih tumpangannya, Arthur. Hati-hati."
"Nona Starla juga," Arthur menyahut sebelum kemudian memarkir mobilnya keluar.
Starla berjalan ke dalam sambil membawa koran bekas yang ada di rumahnya, sesuai pendapat Aozora, kelasnya menyusun lagi rencana baru dengan membawa barang yang memungkinkan bisa dipakai tugas seperti koran, kuas, dan lainnya. Kebetulan orang tuanya memang langganan koran setiap hari jadi beruntung sekali ketika tahu.
Starla hendak melewati lapangan berhenti untuk melirik kelas Aozora, suasana di sana ramai tetapi tidak ada pemuda itu di sana, jadi ia melanjutkan lagi langkahnya dan saat itu juga matanya beradu pandang dengan mata abu-abu di depannya.
Aozora sendiri terkejut melihat Starla, sebelum memberikan senyum kecil. "Pagi." katanya.
Starla membalas. "Pagi," sapanya balik hangat.
Aozora mengangguk dan melanjutkan lagi melangkah ke kelasnya dengan wajah sedikit menunduk ketika melewati Starla.
Starla sendiri terkesikap Aozora tidak mengobrol dengannya seperti biasa, ia berpikir apakah pemuda itu sedang terburu-buru? Mengingat waktu menggambar tersisa dua hari.
Tetapi wajah Aozora terlihat letih seperti sehabis begadang, ia tadi melihat kantung mata yang samar di bawah mata pemuda itu dan juga nada suara Aozora terdengar dingin dari biasanya.
Starla termenung.
Apakah ada yang salah?
Starla menggelengkan kepalanya, menyingkirkan pikiran negatifnya.
Bukan saatnya cemas akan hal yang tidak perlu, seharusnya ia cemas bagaimana ia berhadapan dengan Guntur, pemuda itu kan menyukainya.
__ADS_1
"Ugh," situasi nanti pasti canggung sekali.