The Lovely One

The Lovely One
Bab 17 : Bersamamu


__ADS_3

Starla ditawarkan untuk makan tetapi ia menolak karena tidak ingin merepotkan jadinya Aozora menawarkan untuk keliling rumahnya.


"Eh? Kakak memang sudah sehat?" tanya Starla. "Aku tidak apa-apa di ruang tamu juga."


"Aku sudah baikan," sahut Aozora. "Seharusnya Bibi Novi yang mengajakmu berkeliling, ya?"


"Bukan itu maksudku," kata Starla. "Aku ke sini untuk menjenguk Kakak bukan untuk bermain apalagi menyelidiki rumah Kakak."


"Baiklah, aku takkan menawarkan lagi, Starla-san," Aozora mengerti, sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas seakan puas dengan jawaban Starla. "Aku boleh bertanya?"


Starla yang sedang mengaduk teh yang baru disajikan oleh Bibi Novi, menjawab seadanya, "Hm?"


"Dari mana kau tahu rumahku?"


Pertanyaan Aozora hampir saja membuat teh yang sedang diaduk oleh Starla jatuh; tentu pemuda itu penasaran. "Aku meminta ke Kak Lala, katanya dia teman penamu, Kak,"


Aozora bersandar di sofa santai. "Lala memang teman penaku bersama Rizki yang berada di Bali, kami punya satu grup chat. Lala juga yang merekomendasikanku di sini setelah aku meminta pendapat kota mana yang bagus untuk dikunjungi."


Starla menyeringai kecil; kesempatan emas untuk bertanya akun media sosialnya! "Kak Aozora punya fakebook?" tanyanya antusias mengambil ponsel di sakunya bersiap-siap mencatat nama akun fakebook Aozora.


Aozora menaikan sebelah alisnya. "Fakebook?" ia mengulangi. "Aku tidak punya akun itu, sejujurnya aku tidak terlalu suka bermain internet."


Starla tertunduk kecewa namun, beberapa saat kemudian ia merasakan sesuatu yang hangat di tangannya, ia melihat apa itu dan jantungnya berdebar kencang itu tangannya Aozora.


Ketika Starla menatap Aozora, pemuda itu menyunggingkan senyum kecil yang sukses membuat hati gadis itu terpana sesaat.


Aozora mengambil ponsel Starla, dan menuliskan sesuatu di sana, barulah mengembalikannya lagi ke gadis itu.


Starla mengecek ponselnya, penasaran apa yang ditulis oleh Aozora, hatinya terasa melayang begitu melihat itu adalah nomor telepon.


"Itu nomor ponselku." kata Aozora kalem. "Kau bisa meneleponku kalau mau."


"Um," Starla yang masih tidak percaya, menjawab sekenanya, ia segera menyimpan nomor tersebut di kontaknya. "Aku sudah kirim Kakak pesan." katanya. "Simpan juga nomorku, ya?" pintanya malu-malu.


'Kami bertukar nomor~bertukar nomor~' Starla bersenandung ria di dalam hatinya.


Perasaannya ketika bertukar nomor dengan Rendy dan Aozora sungguh berbeda, tentu ia merona ketika mendapat nomor Rendy hanya saat dengan Aozora membuat hatinya begitu berbunga-bunga.


'Aku sudah terlalu lama tidak merasakan perasaan terikat pada seseorang hingga lupa bagaimana rasanya.' kata Starla dalam hati.


"Aku sudah." kata Aozora setelah menyimpan nomor Starla. "Telepon aku jika ada perlu, aku tidak keberatan membantumu, kau sudah aku anggap sebagai adik."

__ADS_1


Hati Starla yang tadinya melayang-layang di udara langsung jatuh seketika ke bumi saat Aozora mengatakan 'Adik' tepatnya melihat dirinya sebagai Adik bukan perempuan.


'Aku di friendzone?' tanya Starla dalam hatinya.


Starla menggelengkan kepalanya, tak apa Aozora menganggapnya sebagai Adik toh mereka baru saling mengenal seharusnya dirinya beruntung diakui daripada Rendy yang satu bangku diacuhkan Aozora. "Ah... aku juga mau bertanya, Kak."


"Ya?"


"Kak Rendy bilang Kakak cuek sekali sama dia." kata Starla, ia dapat melihat mata abu-abu Aozora melebar syok, merasa tak enak, ia segera menambahkan. "Jika Kakak tidak keberatan tentunya."


Aozora tidak menjawab, ia termenung sebentar, menimbang-nimbang apakah harus menjawab jujur atau berbohong.


Starla memiringkan sedikit kepalanya. "Kak?" panggilnya pelan.


Aozora mengalihkan pandangan matanya ke luar jendela rumahnya, kosong. "Karena aku berusaha sebisa mungkin tidak menyakiti banyak orang,"


"Apa?" Starla tidak dapat mendengarnya dengan jelas, suara Aozora terlalu kecil. "Bisakah Kakak ulangi?"


Aozora tersenyum. "Karena aku bukan lelaki yang pintar bergaul,"


Eh? "Oh..." Starla yakin ucapan Aozora tadi berbeda namun, memutuskan untuk tidak memperdebatkannya, mungkin memang ia yang salah dengar.


Drrt! Drrt! Drrt!


"Nona Starla dimana!? Kenapa jam segini belum pulang? Aku menunggu di halte bus tetapi Nona tidak ada," kata Arthur cemas.


Starla akhirnya ingat bahwa ia belum memberitahu Ibunya maupun Arthur jika ia mau menjenguk Aozora. "Maaf, aku lupa, aku sedang menjenguk temanku yang sakit,"


Arthur mengembuskan napasnya lega. "Kalau begitu ijinkan aku menjemput, hari kan sudah mau malam,"


Starla menjauhkan ponselnya dari telinganya untuk mengecek jam di ponselnya, jarum jam menunjukan pukul lima, "Ya sudah, aku kirim alamatnya lewat ponsel Denis, dia ada, kan?"


"Tuan Denis ada, dia sedang memperbaiki motornya, Nona," sahut Arthur.


Starla memutar bola matanya; rasanya Denis tidak pernah selesai-selesai memperbaiki motor, "Baiklah, nanti aku kasih tahu lagi ya, Arthur."


"Ya,"


Starla mematikan ponselnya, lalu berdiri, "Maaf, ya Kak, aku harus pulang, sudah sore."—selain pulang, ia juga mau lanjutin menggambarnya. "Aku harap Kakak cepat sembuh."


Aozora juga ikut berdiri, "Akan aku antar."

__ADS_1


"Eh?"


"Jalan ke depan cukup jauh," kata Aozora kemudian pipinya sedikit merona. "Aku tidak seperti Rendy, yang aku punya hanya sepeda, kita bisa naik sepeda kalau mau, tapi jika kau malu, kita bisa jalan bersama."


Starla seketika semangatnya naik lagi; naik sepeda atau jalan? Bersepeda mereka bisa berdekatan namun sebentar, bila jalan kaki, mereka berjauhan tetapi bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama.


Ada kelebihan serta kekurangannya masing-masing.


Starla bingung harus memilih yang mana. "Aku mau lihat sepedanya seperti apa dulu boleh, Kak?" ia ingin memastikan jenis sepeda yang biasa Aozora pakai jika sepeda gunung, akan sulit baginya untuk naik di belakang, dan tak mungkin ia duduk di depan, ia bukan anak kecil.


Aozora mengangguk. "Kau tunggu di luar, aku akan mengeluarkan sepedanya di samping."


Starla mengangguk, kemudian keluar dari rumah Aozora, ia bahkan menunggu di jalan depan rumah agar lebih cepat. Menunggu dengan penuh harapan sepeda biasa. Ia agak terkejut ketika akhirnya Aozora keluar sambil membawa sepeda berwarna hitam lengkap dengan kursi boncengan di belakangnya.


"Kakak sering naik sepeda dengan siapa?" tanya Starla.


"Oh," Aozora menyadari Starla menatap kursi belakang sepeda. "Aku sering bersepeda bersama Ibuku, Starla-san bahkan berbelanja ke pasar, aku sering mengantar Ibuku."


Di detik itulah, tujuan Starla untuk pulang semakin kuat. Ia menduga takkan mungkin Aozora tinggal sendirian, ternyata dengan Ibunya, ia belum siap bertemu Ibu pemuda itu, "Kalau begitu aku mau naik sepeda."


Aozora mengangguk. "Ayo naik."


Starla menyadari bahwa ia memakai rok panjang abu-abunya, haruskah ia miring? "Kondisi Kakak sungguh-sungguh sudah baikan? Aku berat, aku tidak ingin perut Kakak kembali sakit karena memboncengku."


"Aku baik-baik saja," sahut Aozora. "Ayo naik, pegangan padaku dengan erat."


'Pegangan dengan erat...'


Otomatis pipinya merona merah membayangkannya, dengan malu-malu ia duduk miring, berpegangan pada pinggang Aozora, bahkan dengan sentuhan kecil seperti ini degub jantungnya sudah berdebar tidak karuan, "Aku sudah siap." katanya malu.


Aozora membenarkan pegangan Starla yang berada di pinggangnya menjadi melingkari pinggangnya, "Keseimbangan sepeda tidak stabil seperti motor apalagi di jalan aspal yang tidak beraturan jadi berpegangan seperti itu bisa membuatmu jatuh, aku tidak ingin kau pulang dengan tubuh yang terluka."


Starla terpana mendengarnya, ia menggigit bibir bawahnya; menyerangnya dengan cara seperti itu, hatinya tidak siap sama sekali; lantas ia memberanikan diri menyandarkan kepalanya ke punggung Aozora, "Um, begini benar... ?" tanyanya malu-malu.


Untuk sesaat Starla tidak mendapat jawaban, ia tidak bisa melihat ekspresi Aozora, yang dapat dilihat hanya kepala pemuda itu yang tertunduk seperti melihat tangannya yang melingkar erat di pinggang pemuda itu.


"Ya,"


Starla mengembuskan napas lega mendengarnya, dan egois kah ia menilai jawaban Aozora tadi yang terlembut yang pernah ia dengar dari bibir pemuda itu?


Bagaimana pun juga, Starla bahagia sekali sekarang ini, ia tidak menyangka bersepeda bisa se-seru ini.

__ADS_1


Semua kesedihannya selama dua hari tidak dapat bertemu dengan Aozora, terbayarkan dengan ini.


"Semangat!" seru Starla dengan polosnya.


__ADS_2