
Starla merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku; hari senin pelajarannya mematikan semua, mulai dari akuntansi, sosiologi, geografi, diakhiri matematika. Rasanya makan siangnya pun tidak bisa membuat tenaganya naik.
Yang membuat jadwal pelajaran seperti menaruh dendam pada kelasnya, meski jadwal pelajaran pada hari rabu terkesan berantakan; sehabis istirahat malah jam olah raga, siapa yang mau olah raga di siang hari? Karena masalah tersebut, mereka harus menggantinya ke jam 6 pagi untuk olah raga.
"Mau bareng?" tanya Luna.
Starla mengangguk.
Luna menggaruk belakang lehernya gugup. "Tapi hanya sampai gerbang, ya? Aku ada janji sama Kak... Rendy." ia memelankan suaranya ketika menyebut nama Rendy.
Seketika seringai lebar muncul di wajah Starla. "Menyenangkan tidak memakan ucapanmu sendiri, Luna?" godanya.
"Oh, diamlah," Luna yang sudah malu tidak bisa membalas dengan tepat.
Starla tertawa kecil, kemudian ia bangkit berdiri dan keluar dari kelasnya diikuti Luna dan juga Gea yang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
Gea berhenti tepat di depan kelas. "Maaf ya, aku ada janji sama Kak Ferdian." sesalnya.
"Oh," Starla mengangguk paham, setelahnya Gea pergi menuju kelas Ferdian sambil bersenandung ria. Ada setitik rasa iri di hatinya melihat Gea yang begitu bahagia akan bertemu dengan Ferdian. Segera ia buang jauh-jauh perasaan tersebut dengan bertanya. "Ayo Luna."
Luna mengangguk kecil namun, ketika mereka mau melangkah, suara berat di belakang menghentikan mereka berdua.
"Luna."
Luna dan Starla otomatis menoleh, di belakang mereka ada seorang pemuda mengenakan jaket klub bola voli.
"Kak Rendy!?" Luna terkejut melihat Rendy di sini padahal mereka berjanji akan bertemu di gerbang sekolah. "Kenapa ke sini?" tanyanya.
"Aku tadi ada rapat voli di lapangan, jadi sekalian saja ke kelasmu," Rendy menjelaskan sambil menggaruk belakang lehernya, gugup.
Starla tertawa akan ucapan Rendy yang tidak masuk akal tersebut; mana mungkin ada rapat klub apalagi bel sekolah satu jam pun belum lewat, kalaupun ada pasti ia disuruh hadir juga. Ditambah sejak kapan rapat di lapangan? Ia pikir Rendy pemuda yang cool ternyata ketika berhadapan dengan seorang perempuan sisi kerennya hilang.
Meski begitu manis juga menyaksikan perasaan Rendy pada Luna di matanya, dan Starla yakin beberapa hari ke depan, ia bisa melihat dirinya ditraktir oleh Luna. Pajak jadian ceritanya.
Starla tidak sabar menantikan hal itu. Siapa yang tidak senang mendapat makanan gratis?
"Oh," dengan lugunya Luna memercayai alasan Rendy, ia melirik Starla, setelah mendapat anggukan dari temannya, ia bergumam. "Maaf ya." dan pergi bersama Rendy keluar sekolah bersama.
Starla melambaikan tangannya dengan riang, setelah mereka pergi, ia pun juga melangkah lagi, langkahnya begitu riang, memikirkan mendapat makanan gratis.
Makanan gratis.
Minggu kemarin ia ditraktir oleh Gea makan di restoran. Ia berpikir karena ini Luna, mungkin ia akan ditraktir bakso langganan mereka. Lantas jika dirinya?
Starla tertunduk memandangi langkah kakinya.
Ia akan mentraktir Luna dan Gea dimana? Kapan? Lelaki yang menyukainya pun tidak ada, bagaimana bisa ia mentraktir mereka.
Starla tersenyum pahit, ia merasa seperti orang terbuang oleh teman-temannya. Ia tahu cepat atau lambat Luna dan Gea memiliki ketertarikan pada lawan jenis dan ia tidak memiliki hak untuk cemburu. Namun, sekuat apa pun otaknya berpikir itu, perasaan iri di hatinya tidak dapat berbohong.
Starla sungguh iri pada teman-temannya yang sudah menemukan cintanya, ia juga ingin merasakannya; dicintai, ditatap penuh kelembutan seperti Rendy ke Luna seakan kita orang yang paling penting bagi mereka, melakukan kegiatan bersama seperti Gea dan Ferdian. Ia ingin merasakan itu semua.
Entah sampai kapan ia harus sendiri seperti ini, yang membuatnya terkadang setuju dipanggil Tuan Putri karena mungkin hanya Pangeran yang akan tertarik padanya bukan lelaki biasa.
Jika begitu ia mungkin baru bisa mendapatkan ciuman pertamanya setelah lulus sekolah.
'Beruntungnya aku ini.' kata Starla dalam hatinya.
Starla berjalan lesu melewati lapangan olah raga, di tengah langkahnya, tidak luput ia terbatuk-batuk. "Bagus, jomblo dan sakit. Begitu menyenangkan hari ini, Starla." keluhnya pelan sekali agar tidak dikira gadis aneh yang suka berbicara pada diri sendiri.
"Katanya anak baru itu tampan sekali."
__ADS_1
Starla berhenti sejenak mendengar kata 'anak baru', ia memang tidak berniat menguping hanya sedikit penasaran tentang anak baru yang dibicarakan oleh Gea. Agar tidak terlihat mencurigakan, ia memainkan ponselnya.
"Dan katanya dia cukup lancar berbahasa Indonesia juga." kata gadis yang lain.
"Sungguh?" kata gadis yang pertama. "Aku jadi ragu dia sungguhan dari Jepang."
"Siapa yang peduli. Dia tampan, kan? Menambah daftar Kakak kelas yang bisa dilirik. Kak Rendy dan Kak Ferdian sudah keluar dari daftar karena terlihat kencan dengan anak kelas sebelah kita."
Setelah mengatakan itu, kedua gadis itu pergi sambil tertawa genit.
Starla memutar bola matanya; kenapa juga ia harus menghabiskan waktu mendengar gosip seperti ini? Mendengar pendapat dari wanita takkan jauh dari tampan, seksi, dan pintar. Ia juga melihat dari sana, ia juga gadis biasa.
Walaupun Starla belum bertemu dengan siswa baru itu, ia sudah merasa bersimpati sebab ia tahu betapa kacaunya siswi di sini setelah melihat siswa yang tampan-tampan.
Starla melanjutkan langkah kakinya, ingin segera pulang ke rumah dan membuat sketsa kasar komik yang dibuatnya diam-diam; semangatnya naik mengingat hobinya itu hingga akhirnya ia sampai di luar gerbang sekolah, di area parkir seperti biasa sudah ada Arthur yang menunggu dengan sabar di luar mobil.
Starla menghampiri. "Kita ke apotek dulu ya, Arthur." katanya.
Arthur membukakan pintu mobil untuk Starla. "Apa? Nona sakit!?" tanyanya panik serta cemas.
"Hanya batuk ringan saja," sahut Starla singkat, lalu masuk ke dalam mobil diikuti Arthur.
"Begitukah? Bagaimana kalau kita ke Dokter saja, Nona." Arthur menyarankan.
Starla memutar bola matanya; ia tersentuh Arthur begitu peduli padanya hanya terkadang kepedulian itu berlebihan seperti sekarang ini. "Aku hanya batuk bukan sakit." katanya. "Kita ke apotek. Titik."
Arthur tidak membantah dan menjalankan mobilnya.
Starla di sisi lain memandang kosong luar jendela.
***
Walaupun kedua orang tuanya menyiapkan Dokter pribadi untuknya, Starla tetap memilih pergi membeli obat di apotek, selain sedikit merepotkan memanggil Dokter, ia juga ingin melihat-melihat sebentar pemandangan kota meski demikian, ia tetap memilih apotek yang dekat dengan sekolahnya.
Starla segera keluar setelah Arthur memarkir mobil di depan apotek. Matanya melirik ke lemari kaca besar yang berisi obat-obatan di dalamnya.
"Bisa saya bantu?" tanya salah satu petugas.
"Um," Starla masih bingung apakah ia harus membeli satu box ataukah beberapa lembar masker, batuknya memang ringan tapi siapa tahu hari esok, kan? Seperti kata Gea: jangan egois, ikuti etika batuk. Sedia payung sebelum hujan. "Aku mau memesan masker satu box, ya."
"Sebentar, ya."
Sambil menunggu, Starla mengeluarkan dompet dari tasnya, sayang tangannya slip karena ia batuk lagi membuat dompetnya jatuh ke tanah. "Ck," ia mendecih kecil, dan membungkuk untuk mengambilnya sambil tangan yang lain menutupi bibirnya dengan tisu, sebelum ia dapat meraihnya, satu tangan sudah mengambil dompet miliknya. "Ah," ia menegakan tubuhnya untuk melihat siapa yang mau mengambil dompetnya.
Seorang lelaki berambut hitam pekat dengan sepasang mata abu-abu mengulurkan dompet pink ke Starla. "Here, Miss."
Starla untuk beberapa saat tidak bergerak, ia terpesona akan sepasang mata abu-abu milik lelaki itu, di luar dugaan begitu indah sekali, ia memang belum pernah melihat langsung orang yang memiliki mata abu-abu sebab di Indonesia cenderung memiliki mata hitam dan cokelat; apa juga tahi lalat di bawah mata kirinya? Mengejutkan itu lihat imut baginya? Ia baru tersadar dari lamunan setelah lelaki itu berdeham dua kali. "Oh, thank you." katanya malu; ia yakin lelaki itu tidak nyaman ditatap olehnya.
Lelaki misterius itu tidak menjawab hanya mengangguk kecil, kembali fokus ke petugas yang sedang sibuk mencari pesanan Starla.
Starla menepuk keningnya, tak habis pikir dengan kejadian barusan; ia tidak menyangka sudah berbuat tidak sopan menatap lelaki asing hanya karena mata. Kendati demikian, ia masih sedikit penasaran, diam-diam ia melirik lelaki penolongnya melalui celah bulu matanya.
Starla tidak begitu yakin apakah lelaki itu seumuran atau lebih tua darinya sebab ia tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena tertutup masker hitamnya, lelaki itu juga mengenakan jaket biru gelap polos yang tidak menandakan logo sekolah atau universitas mana pun, ia dapat melihat kerah putih yang mencuat dibalik jaketnya tetapi yang mengenakan kerah putih bukan hanya anak sekolahan bisa juga pekerja.
Melihat dari tinggi badan juga tidak terlalu membantu, memang tinggi lelaki misterius itu kurang lebih sama seperti Rendy, tetap saja tidak bisa menyimpulkan masalah semudah itu, perkembangan tubuh itu rumit dan ia bukan seorang Dokter.
Starla hanya bisa menyimpulkan bahwa lelaki itu kemungkinan seorang turis, yang mungkin dari Eropa? Mengingat data yang dipelajarinya bahwa pemilik mata abu-abu kebanyakan dari Eropa. Dan juga lelaki di depannya ini bukanlah anak baru yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan.
"Maaf, maskernya sudah habis, De."
Starla terkejut. "Oh begitu, tak apa, terima kasih ya," gumamnya kecewa, berarti ia harus ke apotek lain, mau tak mau harus, ia tidak mungkin hanya mengandalkan tisu. Ia segera memasukan dompetnya lagi ke dalam tasnya sambil mengembuskan napas kecewa.
__ADS_1
"Here."
"Eh?" Starla sedikit terkejut melihat sepasang tangan mengulurkan tiga buah masker kepadanya, dan matanya melebar mengetahui orang yang menawarkannya adalah lelaki yang tadi memungut dompetnya.
"For you." kata lelaki itu lagi.
"Are you sure?" tanya Starla, masih belum mau menerimanya.
"Sure," kata lelaki itu lagi, suaranya kali ini terdengar lebih lembut seperti mencoba meyakinkan bahwa memang tulus diberikan.
Starla menerimanya dengan senang hati. "Thank you so much!" serunya riang; dengan begini ia bisa pulang cepat dan melanjutkan lagi menggambar.
Lelaki itu tertawa kecil.
Starla menjadi malu sudah bereaksi berlebihan hanya karena tiga buah masker, walaupun sedikit menyenangkan bisa mendengar lelaki penolongnya tertawa dan itu karenanya juga.
Lelaki itu berhenti tertawa setelah petugas memberikan selembar uang lima ribu serta recehan lima ratus rupiah, ia menerimanya dan berbalik pergi.
Starla pun pergi dari apotek, ia sedikit melirik ke arah mana lelaki itu pergi, sedikit terkejut lelaki itu naik bus umum sendirian, mungkin salah dugaannya jika lelaki itu turis? Mungkin sudah tinggal lama di sini? Apa pun itu, ia berterima kasih bisa pulang lebih cepat untuk mengerjakan komiknya.
***
Starla menghempaskan tubuhnya ke ranjang kamarnya setelah mandi, sejenak ia menghela napas panjang yang tak lama kemudian disusul batuk-batuk kecil, ia mengerang pelan merasakan tenggorokannya semakin terasa sakit dan kepalanya mulai pening.
'Hari ini terasa berat sekali.'
Starla memiringkan tubuhnya, ia meringkuk seperti bayi dibalik selimut pink tebalnya.
Berangkat sekolah, pulang, menggambar, berangkat sekolah, pulang, menggambar.
Apakah sampai lulus sekolah tetap seperti itu-itu saja aktifitasnya? Ia mulai merasa bosan, ia masih remaja, yang memiliki banyak rasa ingin tahu yang tinggi, tidak seharusnya ia berada di rumah. Tetapi bermain di luar pun dengan siapa? Ia tidak memiliki siapa-siapa, teman-temannya asyik dengan dunia mereka sendiri.
Starla memiliki hobi, bukan berarti ia selalu nyaman dengan hobinya, ia sudah selesai menggambar sketsa kasar komiknya namun, tidak ada kepuasan sama sekali karena sejauh apa pun ia membuatnya, ia takkan pernah mempublikasikan komiknya.
Bagaimana bisa ia mengirim komiknya ke penerbit bila Ayahnya tidak mengijinkan? Memang tidak secara langsung Ayahnya mengatakan menolak mendukungnya, hanya pernah sekali Ayahnya menemukan komiknya, yang berakhir membuat nyalinya hilang.
"Ugh," erang Starla, ia di sini pusing memikirkan masa depan, sedangkan teman-temannya bersenang-senang.
Masa depan dipikirkan nanti, yang pertama ia harus menyusun rencana agar bisa pergi sekolah naik bus bersama teman-temannya.
"Hm," Starla berpikir keras bagaimana caranya membuat Arthur tidak bisa mengantarnya ke sekolah, pelayannya itu bangun pagi-pagi di saat dirinya enak-enak terlelap, jadi haruskah ia memasang alarm lebih pagi? Akan tetapi jam berapa? Selama ini ia tidak memerhatikan jadwal bangun Arthur, ia bukanlah tipe yang senang mengingat jadwal kerja pelayannya. "Ini mustahil," keluhnya. Ia tidak bisa melakukan itu kecuali memaksa Arthur. "Hm," otaknya terlintas sebuah ide. "Aku bisa mencoba mengempeskan ban mobil." gumamnya.
Namun, lagi idenya buntu mengetahui jika ia harus mengetahui kapan Arthur tertidur dan ia harus berhadapan dengan penjaga rumah.
Kenapa juga garasi mobilnya terpisah dari rumahnya?
Starla merasa kedua orang tuanya merencanakan hal tersebut mengingat adik angkatnya, Denis suka diam-diam mengambil motor di rumah mereka yang dulu. Setelah pindah rumah, nampaknya kedua orang tuanya belajar dari kecerdikan Denis dengan memisahkan garasi sampai-sampai membuat pintunya berhadapan dengan pos keamanan rumahnya agar Denis tidak diam-diam lagi keluar malam tanpa ijin.
"Uhuk-uhuk." Starla kembali terbatuk; batuk ini sama sekali tidak membantunya—"Oh!" ide lain muncul, kali ini cukup meyakinkan. Ia segera lari jendela kamarnya dan mendesah kecewa. "Kamarku di lantai tiga." gagal lagi.
Starla merasa ide kali ini meyakinkan hanya di bagian turun dari jendela yang mustahil, kondisinya sedang tidak sehat, dan harus memakai apa ia turun? Kain? Butuh berapa banyak? Pelayan akan curiga padanya. Rambut? "Aku bukan Rapunzel." gumamnya.
Berpikir.
Berpikir.
Berpikir—
"Ah!" setelah sekian lama, ide lain muncul, dan kali ini benar-benar cocok dengan rencananya. Kemungkinan suksesnya juga jauh lebih besar. "Jenius Starla strike again." pujinya pada diri sendiri.
Ia jadi tidak sabar menunggu besok.
__ADS_1
"Tetapi sebelumnya..."