
Keesokan harinya, Starla tegang sekali masuk sekolah, takut-takut teman-temannya tidak suka dengan hasil karyanya bersama Andre dan Guntur, Ayu memang memujinya tetapi standar orang berbeda-beda apalagi gambar yang mereka pilih berbeda dari hasil rapat di hari sabtu.
Starla pun tidak lewat lapangan yang biasa ia lewati buat memotong waktu, lebih memilih melewati kelas 3 dan 1 memang kelasnya itu berada di tengah diapit kelas 3 dan 1, sekalian ia juga ingin melihat karya kelas lain.
Starla pertama kali melewati kelas 3 IPA, ia jadi teringat pertengkaran Gea dan Ferdian kemarin, ia sudah mengirim pesan ke Gea, hanya dibalas tak apa sisanya tak membalas lagi. Ia berencana menanyakan nanti.
Starla bersumpah jika Ferdian menyakiti hati Gea, ia yakin akan memberi pemuda itu pelajaran yang takkan dilupakan oleh Ferdian.
"Oh..." Starla terpesona melihat betapa bagus gambar di dinding kelas IPA, kebanyakan gambar pemandangan sehari-hari, ada juga yang memakai kata sindiran akan masa kini yang kian memprihatinkan. Kini ia sampai di deretan kelas 3 IPS, degub jantungnya mulai berdebar cepat, ia melirik kelas 3 IPS 1 dan terpesona lagi melihat gambar bunga disertai dedaunan untuk meramaikan, lalu ke IPS 2, sama memakai tema bunga juga, kemudian ke IPS 3 bunga lagi!? Ia menaikan alisnya. "Aku rasa setiap jurusan pada mengintip ide deh..." gumamnya. Hingga akhirnya ia tiba di kelas Aozora berada. "Yah ayolah," gumamnya kecewa saat tahu kelas itu ditutup tirai.
Ayu memang bilang kemarin masalah itu hanya saja ia tak menyangka bahkan pagi pun sudah ditutup, ia berharap belum.
Starla juga jadi tidak bisa melihat ke dalam karena pintu kelasnya ditutup, ia jadi tak bisa melihat Aozora apakah sudah sampai atau belum soalnya tadi mereka tidak satu bus.
Starla mengembuskan napasnya lesu, dan melangkahkan kakinya tanpa tertarik lagi melihat karya kelas lain.
'Pagi-pagi untungku jelek, semoga siang sedikit baikan.' kata Starla dalam hatinya.
Starla akhirnya sampai di kelas 2 IPS 3, kelasnya ada di sebelahnya, ia berhenti di situ untuk mempersiapkan dirinya, tetapi sebuah tepukan di bahunya mengagetkannya.
"Yo, kerja bagus, Tuan Putri." kata Iqbal.
"Iqbal!?"
"Siapa lagi?" tanya Iqbal. "Yah, kita memang tidak akrab, tapi berkat kerja keras kalian di himpitan uang yang pas-pasan, kelas kita ini terselamatkan."
"Oh," satu pujian, satu tambahan positif; Starla lupa jika Iqbal kemarin langsung pulang setelah mengecat dasar dinding.
"Hm, jangan bilang kau takut?" kata Iqbal setelah cukup memperhatikan tingkah laku Starla.
Starla tidak menjawab; apakah wajahnya begitu mudah ditebak?
"Ayolah La, kami tidak sejahat itu. Kau, Andre dan Guntur sudah berjuang masa kami mau protes?" kata Iqbal bermaksud menghibur.
"Sungguh?" Starla masih tidak yakin.
Iqbal mengangguk. "Kau bisa bersamaku ke dalam kalau mau."
Starla tersanjung Iqbal mau menemaninya sekaligus aneh juga kenapa pemuda itu mau membelanya. "Kau kenapa mau membantu?"
Iqbal terkejut sebentar sebelum santai lagi. "Aku menolong sebagai teman," lantas ia pun melirik Starla dari atas lalu ke bawah. "Hm, kau memang cantik, tapi aku tidak tertarik padamu." katanya santai.
Starla menyipitkan matanya jengkel; siapa juga yang mau dengan orang nakal seperti Iqbal? Ditanya apa menjawab apa. "Baiklah kita bersama."
Iqbal mengangguk, dan berjalan diikuti oleh Starla di sampingnya.
Selama di jalan, Starla memainkan jarinya gugup.
"Yo, kawan! Selamat pagi!" Iqbal menyapa begitu masuk ke kelas. "Bintang kita sudah datang."
__ADS_1
Bintang?
Starla mengintip ke dalam sedikit, bangku dan meja sudah tersusun rapih seperti semula, papan tulis juga sudah bergantung di dinding; ia gugup melihat temannya sudah ada di dalam semua kecuali Gea. Ia pun memberanikan diri mengambil satu langkah kecil ke dalam, tak ada omongan, ia melanjutkan, dua langkah, tak ada juga, ia semakin berani hendak melangkah lagi, tetapi tubuhnya dipeluk erat sekali oleh Luna.
"Aku bangga padamu, La." kata Luna sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku?" Starla berkata dengan polosnya.
Luna melepaskan pelukannya, memukul bahu Starla main-main. "Tentu saja! Kalian bekerja seharian, hasilnya juga bagus sekali!" serunya semangat.
Sebelum Starla dapat menjawab sudah ke duluan temannya yang lain.
"Kerja yang bagus, La."
"Yang kalian bertiga memang hebat."
"Baguslah buat ukuran anak SMA..."
Starla awalnya tak percaya dengan pujian dari teman-temannya, tersipu malu sambil memainkan sepatunya. "Terima kasih, aku tidak bisa melakukan ini tanpa Guntur dan Andre!" serunya semangat.
Semuanya mengangguk.
"Aku yakin kelas kita menang!"
"Ya!"
Semangat Starla naik mendengarnya, bahkan ketika duduk di bangkunya, ia masih tersenyum-senyum mengingat pujian serta betapa positif temannya mengenai hasilnya bersama Guntur dan Andre. "Oh," ia teringat sesuatu.
Starla bisa berpikir positif setelah mendapat pujian dari temannya, sesuatu yang sudah lama tidak ia dengar hingga ketika merasakan lagi dipuji karya hasil jerih payah kita, rasanya se-menyenangkan ini membuat kita jadi ingin membuat karya yang lain...
Starla tertunduk memandang kedua tangannya, di matanya sekarang kedua tangannya bukanlah ketakutan melainkan sebuah harapan...
Setelah tiga tahun berlalu, Starla kembali bangga akan kesukaannya menggambar...
***
Sesuai istirahat, Starla bermaksud mencari Aozora ingin berterima kasih, tetapi ia tak dapat menemukan pemuda itu bahkan Lala juga tak ada. Sudah dicari kemana pun, ia sedikit curiga apakah mereka makan berdua di tempat rahasia yang tidak diketahuinya?
Aozora dan Lala kan berteman baik, begitu baik hingga kemarin ia diacuhkan...
Putus asa.
Starla menyerah mencari Aozora, kebetulan ia membawa sketchbook miliknya dari rumah karena semalaman ia tidak bisa menggambar karena tangannya sakit.
Starla mencari tempat strategis, tidak mungkin ia menggambar di kelas terlalu berisik meskipun mendapat pujian, tetap akan sulit berkonsentrasi. Gazebo juga tidak mungkin, tempat itu umum, banyak orang lewat. Jadi pilihan terakhir perpustakaan.
Starla mengambil keperluan, ia segera bergegas ke ruang perpustakaan yang untungnya dekat dari kelasnya, sesuai dugaan kondisi di sana sepi hanya ada petugas saja.
Starla memilih tempat duduk di paling belakang tentu saja, namun sebelum itu, ia mencari buku pelajaran yang cukup besar agar bisa menutupi setidaknya orang yang nanti mungkin membaca atau lewat di sampingnya tidak bisa melihat gambarnya.
__ADS_1
Starla mencari yang buku yang pas, sejarah, geografi, kesenian, kemudian tertawa pahit.
Menyedihkan sekali.
Perpustakaan yang banyak ilmu seperti ini tidak ada yang berkunjung.
"Termasuk aku," gumamnya, matanya tertuju pada buku sejarah para pahlawan, buku yang membuat Aozora tertarik, ia membukanya. "Ah," ia lupa buku sejarah kebanyakan tulisan dan itu membosankan, novel juga tulisan tapi kan bukan mengenai sejarah melainkan kisah cinta. "Aku belum baca lagi Sweet Revenge..." keluhnya, matanya tanpa sadar melirik ke sampingnya dan terkejut ada Aozora di sana. "Kak Ao—" sebelum sempat diselesaikannya, mulutnya ditutup oleh Aozora.
Huh?
"Jangan berisik." bisik Aozora memperingatkan.
Starla mengangguk, hampir saja tadi berteriak untunglah Aozora menghentikan dirinya.
Aozora menurunkan tangannya dari mulut Starla akhirnya.
Starla sendiri memanfaatkan untuk melihat wajah Aozora yang masih dekat dengannya, kantung mata pemuda itu semakin terlihat bahkan mulai terlihat lingkaran hitam, meski tidak terlalu mempengaruhi ketampanan Aozora.
'Apa yang aku pikirkan?'
Aozora bersiap pergi.
"Oh," Starla teringat. "Kakak terima kasih ya sudah merekomendasikan aku ke temanku." katanya pelan agar tidak ditegur petugas.
"Ya," Aozora menjawab singkat.
Starla merasakan ada yang aneh, ia tahu Aozora lelah, tetapi kenapa ucapan pemuda itu semakin dingin padanya? Apa salahnya? "Aku juga memutuskan mencoba mengirim komik aku ke penerbit."
"Bagus," Aozora menjawab singkat lagi, wajahnya sama sekali tidak menunjukan antusias sama sekali.
Starla yang melihat Aozora mau pergi segera menangkap tangan pemuda itu. "Ada hal yang lain lagi yang ingin aku bicarakan." bisiknya malu.
Aozora mengembuskan napasnya. "Apa?" meskipun terdengar dingin, ia tak melepaskan tangan Starla dari tangannya.
Starla tersenyum kecil, melepaskan tangannya untuk meletakan buku sejarah yang di tangan Aozora. "Ini, Kakak kan suka baca sejarah pahlawan, aku tadi kebetulan menemukannya." katanya malu-malu.
Aozora melirik buku di tangannya lalu wajah Starla yang berbinar-binar seakan bangga akan ucapannya. Ia tertunduk. "Kenapa kau begitu sulit disingkirkan? Hatiku jadi kesulitan melepaskanmu..."
"Huh?" Starla memiringkan kepalanya, ia merasa Aozora berkata sesuatu, tapi tidak dapat mendengarnya. "Kakak mengatakan sesuatu?"
Aozora menggelengkan kepalanya, sebelum kemudian ia melangkah mendekati Starla.
Starla yang merasa Aozora terus mendekat pun ikut melangkah, namun mundur hingga akhirnya punggungnya bersentuhan dengan dinding. "Huh—?"
Apa yang terjadi? Tak mungkin Aozora akan melakukan yang tidak-tidak di perpustakaan?
Starla ingin berpikir positif tetapi rak buku yang mengelilingi mereka serta ini rak paling pojok membuat Petugas tak dapat melihat mereka.
'Apa yang harus aku lakukan?'
__ADS_1
Aozora yang melihat kepanikan terlihat di wajah Starla, menyeringai kecil. "Starla-san..." bisiknya pelan sambil meletakan tangannya di sisi kepala gadis itu. "Jika aku bilang aku mencintaimu, bagaimana?"
Mata cokelat Starla melebar.