
Starla baru saja duduk di halte bus seperti biasa, kejadian kemarin kembali melintas di kepalanya, membuatnya tersenyum sendiri.
Ia sudah seperti ini sejak kemarin, hatinya tidak bisa tenang terus memikirkan kemarin sampai gambar karakter yang dibuat di sketsa notebook miliknya hampir mirip Aozora.
Starla menyadari jika dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di halte, ia tertunduk malu.
'Duh, kau memperbesarkan sekali cuma diantar naik sepeda.' keluh Starla.
Namun, pikirannya kembali mengingat bagaimana selama perjalanan bisa memeluk Aozora—menghirup parfum pemuda itu, ia tidak menyangka aroma lemon bercampur mawar? Akan bisa seenak itu di hidungnya. Ia tersipu malu sebelum kemudian menghela napas.
'Kuatkan dirimu.'
Starla membuka bukunya, mengecek apakah ada yang duduk di sampingnya, hanya ada dua murid perempuan tetapi mereka duduk berjauhan, ia mulai menggambar di halaman paling belakang, membuat sketsa bunga mawar untuk mengalihkan perhatiannya, ia menggambar yang lain setelah mengecek bus belum juga sampai, kali ini karakter.
"Hm..." ia bergumam pelan mencari ide yang akhirnya menggabungkan dua sketsa tadi, menjadi karakter itu memegang bunga yang dibuatnya.
Bersamaan dengan selesainya sketsa kasar itu, bus sekolah datang.
Starla memasukan kembali bukunya ke dalam tas, baru masuk ke dalam bus, Luna berdiri sambil melambaikan tangan padanya. Ia segera menghampiri dan duduk di samping temannya.
"Bagaimana kemarin? Sukses?" tanya Luna.
Rona merah muncul lagi di pipi Starla.
Luna menyadarinya, dan menyeringai kecil. "Aku rasa sukses besar, ya?"
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," sahut Starla polos mungkin; ia takkan memberitahu kejadian kemarin, ia hanya akan simpan itu sendiri hanya dirinya dan Aozora yang tahu.
Memiliki rahasia bersama di luar dugaan menyenangkan, atau tepatnya apa yang dilakukan bersama dengan orang yang kita sukai menyenangkan.
"Mungkin seharusnya kau duduk bersama lagi dengan Kak Aozora," kata Luna.
Mata Starla melebar. "Kak Aozora di sini?"
Luna mengangguk. "Dia duduk dengan Kak Rendy, aneh kan? Itu Kak Aozora yang minta duduk di samping Kak Rendy." ia menunjuk kursi di samping belakang mereka.
Starla melirik ke belakang, memang benar, ada Aozora sedang mengobrol dengan orang yang berada di samping pemuda itu, yang mungkin Rendy; jantungnya berdebar cepat ketika mata abu-abu Aozora menangkapnya sedang memandang, pemuda itu mengukir senyum serta melambaikan tangan padanya. Ia juga membalas dengan kikuk, dan segera kembali memandang Luna di sampingnya.
Starla juga merasa aneh setelah menyaksikan sendiri Aozora mencoba mengakrabkan diri pada Rendy; ia terkesikap, ataukah karena pertanyaannya kemarin? Aozora menjadi memberanikan diri berteman dengan Rendy?
'Manisnya jika benar.' kata Starla dalam hati.
Namun, Starla takkan besar kepala, "Kau sudah selesai bertengkarnya?" tanyanya.
Luna terbatuk mendengarnya, "Ya, kami sudah baikan,"
"Hm..." kenapa Starla merasa ada cerita lain yang tidak ingin Luna ucapkan? "Ya baguslah, aku dan Gea tidak menjadi korbanmu lagi."
Luna memutar bola matanya. "Aku kan sudah meminta maaf padamu, kenapa kau masih mengungkitnya?"
"Hanya mengingatkan," sahut Starla polos.
"Oh, iya, nanti kelas kita rapat setelah pulang sekolah." kata Luna.
"Rapat apa?" tanya Starla; tidak biasanya.
"Kau tahu, akan ada lomba menghias kelas antar kelas, katanya ada tiga kategori agar bisa menang," Luna menjelaskan. "Aku tak begitu tertarik, paling aku hanya akan ikut patungan buat keperluan bahan-bahan."
"Oh,"
Nampaknya ucapan Gea kemarin bukanlah gosip belaka. Starla bertanya-tanya siapa yang akan menjadi bagian melukis kelas? Ia tak begitu yakin Guntur akan mau mengingat pemuda itu termasuk pemalu.
Mungkin gerombolan Iqbal dan kawan-kawannya mengingat mereka pernah mencoret dinding belakang sekolah, meski ia akui begitu bagus, mencoret tembok itu salah, pelanggaran.
Starla tertawa kecil.
__ADS_1
Karenanya Iqbal dan kawan-kawannya harus berjemur di lapangan sambil hormat pada bendera merah putih selama satu jam, tentu tak lupa harus menghapus coretan mereka.
"Kurasa aku juga akan menyumbang saja." kata Starla.
Luna tak percaya apa yang didengarnya. "Bukankah lebih baik kau ikut bagian tim kreatif kelas kita? Kau pintar menggambar, La."
Starla mengembuskan napasnya. "Entahlah, Luna. Aku masih belum percaya diri dengan kemampuanku, kau tahu, dinilai orang-orang, aku takut yang dulu akan terulang lagi."
"Aku takkan membiarkan itu, La." kata Luna. "Tidak seperti dulu, sekarang mulai banyak komikus perempuan bermunculan, jadi aku rasa teman-teman kita takkan menilai jelek soal bakatmu."
Starla terdiam, sebagai penyuka komik, tentu saja ia mengikuti berita mengenai komikus, memang benar ada komikus perempuan di Indonesia yang mulai bermunculan, tetap itu sulit membuatnya berani. "Aku pikirkan nanti saja, Luna."
Luna mengangguk. "Nanti di rapat aku akan mengajukan jika kau mau."
Starla mengangguk.
***
"Kau tidak mau menyapa Kak Ao?" tanya Luna begitu mereka turun dari bus.
Starla melirik Aozora yang jalan bareng Rendy tak jauh darinya. "Tidak, mereka terlihat bahagia. Biarkan saja."
"Kenapa ketika kau mengucapkan Kak Ao dan Kak Rendy begitu bahagia, aku mual?" Luna bertanya-tanya panik.
Starla memutar bola matanya. "Kau mulai posesif ya? Aku penasaran bagaimana respon Kak Rendy mengetahui kau seperti ini?"
Luna merona merah, sebelum berganti amarah. "Aku pergi duluan," katanya jengkel, terus jalan meninggalkan Starla.
Starla tertawa, dan mengejar Luna. "Kau suka begini padaku, tapi saat aku menggoda balik, kau marah. Adil dong."
Luna memutar bola matanya, "Kak Rendy!"
Rendy otomatis langsung berhenti, Aozora yang berada di sampingnya pun juga ikut berhenti.
Luna berlari menghampiri. "Bareng ke dalam, ya?" tanyanya.
Starla menepuk keningnya, temannya yang satu itu benar-benar—
"Kau bagaimana?"
Starla tersadar jika hanya tinggal ia dan Aozora. "Aku?" tanya penunjuk dirinya polos.
"Kau mau bareng denganku?" Aozora menawarkan.
Starla berusaha menahan kebahagiaannya dengan mengangguk kecil.
Walaupun hanya sebentar karena kelas Aozora satu deretan dengan ruang guru, Starla tetap bersyukur bisa bersama lagi.
"Kau ini yang salah!" suara teriakan seorang perempuan menghentikan langkah mereka berdua.
Aozora dan Starla saling menatap satu sama lain bingung.
"Kakak mendengarnya juga?" tanya Starla.
Aozora mengangguk, "Ayo cepat ke dalam,"
Starla mengangguk, dan berlari ke dalam, tidak perlu mencari cukup lama, suara itu kembali terdengar.
"Kau yang menghalangi jalan!" seru Linda emosi.
Starla terkejut akan teriakan Linda, ia sedikit ke depan penasaran dengan siapa Linda berdebat, matanya melebar mengetahui itu Lala, dan parahnya Lala diimpit kedua teman Linda.
"Aku tidak salah di sini, jalanan besar, kenapa kau memintaku menyingkir?" tanya Lala heran, berbeda dengan Linda, ia lebih tenang.
Starla membuang muka ketika melihat Lala didorong oleh Linda dengan kasar.
__ADS_1
"Kau ini perempuan aneh, wajahmu menggangguku." kata Linda ketus.
Aneh.
Jantung Starla mulai berdebar kencang, keringat mulai keluar dari pori-pori tubuhnya, sebuah ingatan terlintas cepat di kepalanya.
'Perempuan aneh.'
'Aku harus pergi,' kata Starla dalam hatinya.
Namun, tubuhnya tidak bisa bergerak, yang memaksanya menonton pertengkaran Lala dan Linda yang mulai bermain fisik, saling dorong-dorongan.
Lala yang kalah jumlah, terjatuh di lantai.
Starla yang melihatnya dengan penuh ketakutan, di matanya kini sosok Lala yang tidak berdaya di lantai berubah menjadi sosok dirinya.
"Sudah cukup, kalian berdua." Aozora menangkap tangan Linda yang hendak menyentuh Lala lagi. "Kau berlebihan, Linda-san." katanya dingin.
"Aku..." Linda terkejut melihat Aozora. "Dia yang mulai duluan!" ia menyalahkan Lala.
Lala menyipitkan matanya tak suka, "Aku? Aku tidak melakukan apa-apa, Ao kalau kau tidak percaya, tanyakan pada teman kita."
Aozora melepaskan tangan Linda. "Sudah cukup. Aku ingin kalian saling minta maaf, atau mau aku laporkan ke ruang BK?"
Mata Linda dan Lala melebar mendengarnya kemudian tertunduk, saling memandang dari bulu mata mereka.
"Maafkan aku," kata Lala dan Linda bersamaan.
Aozora mengembuskan napasnya, "Tugasku selesai di sini." katanya dingin namun, sebelum dapat bergerak, tangan Linda sudah melingkar di lengannya, matanya menyipit. "Apa?"
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat pagi padamu, Ao~" sahut Linda.
"Selamat pagi juga," Aozora membalas sambil melepaskan tangan Linda dari lengannya, tanpa mengatakan apa-apa lagi, menghampiri Lala. "Kau baik-baik saja?" tanyanya cemas.
Lala mengembuskan napas berat, "Ya, untunglah kau melerai kami, Ao,"—ia tak tahu jadinya jika Aozora tidak muncul. Ia sungguh benci melakukan kegiatan yang menguras tenaganya semacam Linda.
"Hey, harus ada yang jadi Pahlawan di sini, kan?" tanya Aozora polos.
Lala tertawa kecil. "Harapanmu saja itu sih." katanya, lalu tertawa lagi.
Aozora juga tertawa, hingga matanya tidak sengaja menangkap Starla yang berdiri di belakang Lala memandang dengan tatapan penuh ketakutan? Ia menghampiri, hendak bertanya tetapi sebelum sempat melangkah, Starla sudah berlari menjauh.
"Starla-san."
***
Starla berlari, berlari, hanya itu yang ada dipikirannya, tidak peduli sudah menabrak beberapa murid lain.
Ia akhirnya berhenti setelah seluruh tenaganya habis, berjongkok mulai mencari sesuatu di dalam tasnya panik hingga isi barang-barangnya berjatuhan. "Tidak ada, tidak ada obat antidepresan-ku..."
Starla akhirnya teringat bahwa ia sudah berhenti mengkonsumsinya entah berapa lamanya. Ia merasa baikan setelah pindah sekolah jadi memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi obat tersebut.
"Baiklah, tenang." Starla mengambil napas serta mengeluarkannya perlahan-lahan. Ia bisa melakukannya, hanya butuh beberapa saat. Tetapi ia tak bisa karena suara-suara di kepalanya: perempuan aneh. "Ugh," tubuhnya mulai mual serta pusing.
'Tenang Starla, kau sudah melewati ini sebelumnya.' kata Starla menyemangati di dalam hatinya.
"Starla-san."
Starla menoleh, "Kak Aozora?" ia semakin panik ketika melihat Aozora di sini. "Kak, pergilah." katanya berusaha menahan rasa mual. Ia tidak mau Aozora melihat dirinya yang sedang menyedihkan seperti ini.
Aozora justru mendekati lagi namun, Starla mundur. "Wajahmu pucat sekali, kita ke ruang kesehatan sekarang, Starla-san."
"Tidak!" seru Starla di sela-sela napasnya yang cepat. "Aku tidak mau!"
Aozora memperhatikan Starla, "Ini..." ia pernah melihat situasi ini sebelumnya. "Starla-san ayo periksakan dirimu, kau perempuan kuat, kau bisa melewati ini." katanya berusaha menenangkan.
__ADS_1
Starla menggelengkan kepalanya tetapi sebelum ia dapat mengetahui apa yang terjadi, matanya berubah gelap dan ia kehilangan keseimbangannya.
"Starla-san!"