
Starla membeku di tempatnya jika ia selama ini mengira Gea atau Luna yang akan berani melakukan hal seperti ini tak pernah terpikir olehnya bahwa Aozora yang melakukannya.
Ayu tersenyum lebar seakan sedang melihat berlian. "Begitu? Aku masukan kau di tim itu Starla!" serunya, ia buru-buru menulis nama Starla di papan agar keputusan bisa mutlak.
Aozora menurunkan tangan mereka di saat itulah Starla pulih dari kagetnya, wajahnya kini memerah karena marah.
"Apa yang Kakak lakukan!?" tanya Starla emosi.
"Melakukan apa yang harusnya sudah kau lakukan, Starla-san," kata Aozora.
"Apa!?" Starla sama sekali tidak percaya. "Bagaimana bisa? Aku tidak menginginkan ini!" apakah wajahnya jika sejak tadi terlihat ia ingin berpartisipasi? Matanya menyipit tidak suka. "Ayu, aku mau mundur!"
"Eh? Tapi kan aku sudah menulisnya, teman-teman yang lain juga setuju." kata Ayu dengan polosnya.
Starla murka sekarang, selagi ia berdebat dengan Aozora, Ayu malah tetap menjalankan vote tanpa persetujuan darinya mau atau tidaknya. "Cukuplah!" serunya penuh emosi lalu berlari keluar kelas tanpa peduli teriakan teman-temannya, berlari hingga kakinya menyerah, bersandar pada dinding, tertunduk dalam.
Bagaimana bisa Aozora melakukan hal seperti ini padanya? Tidak jelaskah tadi sewaktu istirahat bahwa mengirim komiknya ke Penerbit saja tidak berani? Bagaimana bisa Aozora berpikir menggambar dinding dengan penilaian teman-temannya, baik baginya?
Aozora berani sekali mengganggu kenyamanannya seperti ini.
"Starla-san."
Starla memutar bola matanya, tanpa perlu berpaling, ia sudah tahu siapa itu. Ia justru melipat tangannya dan berjalan lagi lewatin lapangan namun sebelum dapat melakukan itu, Aozora menarik tangannya agar ia dapat berhenti menatap mata abu-abu pemuda itu. "Apa?" tanyanya ketus.
"Kau terlalu berlebihan." kata Aozora kalem.
Starla tertawa getir; berlebihan? Karena Aozora, ia harus lebih banyak di sekolah, waktunya menggambar komik miliknya menjadi lebih sedikit, tak lupa juga siapa yang akan menemaninya ketika melukis nanti. Ya ia berlebihan. "Kakak tidak mengerti dampaknya di diriku."
Aozora berpikir sesaat. "Kau belum mencobanya bagaimana bisa bilang berdampak bagimu?"
Tentu saja Aozora tidak mengerti, seseorang yang hidupnya belum pernah merasakan di bully tentu tak mengerti. "Kak, aku itu takut orang-orang menilai gambarku jelek, mereka bakalan mengejek aku."
'Mengatakan aku perempuan aneh.' Starla menambahkan dalam hatinya.
"Starla-san, yang aku lihat gambarmu bagus, memang akan sedikit berbeda ketika kau melukis di dinding, tetapi aku yakin kau takkan mengerjakan ini sendirian, batas waktunya kan hanya tiga hari," kata Aozora. "Jangan meremehkan kemampuanmu, aku yakin padamu."
"Kakak tidak mengerti..." keluh Starla, yang ia takutkan adalah setelahnya, bagaimana kalau teman-temannya tak puas? Dan kelas mereka juara? Yang mendapat keluhan pertama tentu dirinya. "Aku tidak bisa! Aku takut!"
Ekspersi Aozora berubah kini marah; orang yang suka mengeluh, sangat tidak disukainya. "Cobalah sehari bila kau merasa terbebani, aku akan dengan senang hati menggantikan posisimu." katanya dingin, "Ini salahku juga yang cemas mengenai bakatmu." setelahnya berjalan dengan tangan di masukan ke dalam sakunya.
Starla membeku di tempatnya.
Mungkin tadi ia sudah kelewatan? Membiarkan ras kecemasannya menguasai dirinya? Tapi bagaimana tidak? Ia mendapat bully-an pertama juga dari menggambar.
Aozora sampai membela bakatnya seperti ini, patut kah ia mencobanya? Ia bisa absen tidak ikut klub besok biar tidak bertemu Ayu sih...
Starla mengembuskan napasnya.
Pertengkaran pertamanya dengan Aozora lebih buruk dari yang di kiranya.
***
Keesokan harinya, Starla berangkat naik bus tetapi tidak ada Aozora di sana, sepertinya pemuda itu marah jadi menghindarinya naik bus yang biasa mereka berdua tumpangi.
Starla dengan berat hati duduk di tempat pertama kali mereka mengobrol, kenangan mereka berdua seketika singgah di kepalanya.
Setelah berpikir semalaman penuh, Starla memutuskan mencobanya; sesuai dugaan Ayu mengirim pesan padanya semalam berisi ajakan mengadakan rapat lagi mengenai tema kelasnya sehabis selesai klub setelah kemarin selesai pembentukan anggota.
__ADS_1
Starla memutar bola matanya.
Starla tak yakin teman sekelasnya akan masuk mengingat hari sabtu hanya kegiatan klub yang bukan pelajaran wajib bagi murid, hanya sebagai nilai tambahan buat rapot. Ia yakin akan lebih sepi, tahu kan murid nakal kebanyakan sukanya bermain atau libur dari pada ikut klub.
Starla sendiri tidak terlalu keberatan justru lebih suka sepi karena takkan ada teriakan protes lagi, semuanya fokus bekerja sama.
"Hm," Starla berhenti di depan aula, tempat ini dijadikan klub pencak silat karena sekolah belum cukup untuk membuat gedung khusus klub bahkan lapangan voli bersebelahan klub panjat tebing dan bola basket, hari seninnya dipakai buat upacara.
Klubnya masih bagus memiliki lapangan di sekolah, klub bulu tangkis malah tak dapat, malah menyewa gedung di luar sekolah.
Entah kapan sekolah mulai membangun olahraga dalam ruangan seperti sekolah bergengsi lain, mengingat sekolahnya merupakan sekolah terfavorit di kotanya.
Starla memberanikan diri mengintip ke dalam, suasana di dalam mengejutkan ramai sekali, kebanyakan perempuan, sesuai dugaannya banyak yang masuk karena mendengar Aozora masuk ke pencak silat.
Di sana, ia melihat pemuda itu berdiri di antara para perempuan, begitu mencolok, tengah menerima seragam klub dari salah satu gurunya.
Ketika Aozora berbalik untuk kembali ke barisan, mata mereka bertemu, Starla dengan kikuk melambaikan tangan serta senyuman, tetapi Aozora hanya memandang sebelum tertunduk dan kembali berbaris.
Starla tentu syok sebelum kemudian tertunduk.
Resmi, Aozora kesal dengannya...
Starla berjalan ke lapangan dengan lesu.
***
Starla menghabiskan waktunya bermain bola voli dengan penuh semangat yang membara hingga adik kelasnya protes padanya untuk bermain lebih lembut karena mereka masih baru.
Dengan dinginnya ia berkata. "Bola voli memang keras kalau kalian cengeng seperti ini lebih baik keluar saja! Mengerti?"
Suasana hening seketika mendengar ucapannya bahkan teman seangkatannya serta kakak kelasnya juga terdiam.
'Seharusnya aku yang marah! Bagaimana bisa dia bermain menjadi korban begini!? Akulah korban aslinya!' Starla berheran-heran dalam hatinya.
Starla bahkan berusaha memperbaiki hubungan mereka tetapi malah dicuekin begitu bagaimana hatinya tidak panas.
Korban ingin berbaikan, pelaku malah enggan berdamai. Ada yang seperti itu?
Starla merasakan bahunya ditepuk, ia menoleh untuk melihat siapa yang berani mengganggu permainannya. "Kak Rendy?"
Rendy tersenyum. "Bisa kita berbicara sebentar, Starla?"
Starla mengangguk, mengikuti Denis menuju gazebo, duduk di samping pemuda itu.
Hening sementara...
Starla hanya dapat tertunduk diam, tanpa perlu dijelaskan, ia tahu salahnya apa.
"Bagaimana perasaanmu?" Rendy akhirnya membuka suaranya, kalem.
Starla sempat berpikir Rendy akan memarahinya karena hari ini ia tak profesional. "Sejujurnya? Aku baik,"
"Perasaanmu, Starla." Rendy menekankan sekali lagi dengan nada yang lembut kali ini.
"Aku..." Starla tertunduk, merasa malu akan dirinya sendiri. "Campur aduk, Kak." akhirnya ia mengakuinya malu. "Aku bertugas sebagai pelukis dinding di kelasku buat lomba tanpa kemauanku."βtermasuk dicuekin Aozora.
"Kau memiliki banyak bakat ya, Starla. Sesuatu yang aku banggakan pada temanku jika aku menjadi Kakakmu." puji Rendy.
__ADS_1
"Kakak serius!?" tanya Starla syok.
Rendy justru kebingungan melihat Starla yang tidak tersanjung dipuji begitu. "Tentu serius, kau hebat bermain voli, nilaimu juga bagus di kelas dari keluhan Luna selama ini, sekarang kau ahli menggambar, siapa pun akan bangga memiliki adik sepertimu, Starla."
Sekarang Starla benar-benar tersentuh sekali mendengarnya, ia selalu berusaha yang terbaik agar bisa diterima teman-temannya, mendengar pujiannya langsung menjadi suatu kepuasan tersendiri baginya. Kemudian ia termenung.
Mungkin teman-temannya juga menilai begitu padanya... hanya ketakutan berlebihan yang membuatnya tidak dapat melihatnya...
"Terima kasih, aku sudah baikan, Kak." kata Starla dengan senyum lebar di bibirnya.
Memang masalahnya dengan Aozora belum selesai, tetapi hatinya sedikit lega bisa curhat dengan Rendy hingga mendapat pujian cukup untuknya.
Rendy mengangguk. "Dan aku juga sedikit mengingatkan untuk tidak membiarkan masalahmu menguasai pikiranmu. Kasihan adik kelasmu jadi ketakutan diajari olehmu."
"Hehehe..." Starla tertawa kikuk, sepertinya ia berutang permintaan maaf ke adik kelasnya.
***
Sesuai pesan Ayu, setelah selesai kegiatan klub langsung ke kelas, jadi setelah ganti baju, memakai parfum, Starla keluar dari ruang ganti baju, mengecek ponselnya yang tadi bergetar ketika ia memakai baju.
Starla menerima pesan dari Luna bahwa dia sudah di kelas dan kondisinya mulai ramai, kebanyakan perempuan, tak mengejutkan, ia juga dikirimi siapa saja rekan kerjanya, tak menyangka ada nama Guntur di sana.
Bisakah ia bersikap biasa saja setelah mengetahui perasaan Guntur padanya?
Starla mengembuskan napasnya, kemudian melanjutkan langkahnya, ia terkejut mendapati Aozora bersandar tidak jauh di luar ruang ganti lelaki seperti menunggu seseorang. Ia memutar bola matanya pasti teman dari klub pencak silat, tak mungkin dirinya, pemuda itu sedang jengkel padanya.
Dengan penuh percaya diri, wajah lurus ke depan, Starla melangkah, hingga dekat di tempat Aozora berada, masih tak menyadari dirinya, lalu ia mulai melewati pemuda itu.
"Tunggu, Starla-san." kata Aozora.
Starla otomatis berhenti sesuai perintah; ia sedang kesal pada Aozora kenapa juga mau menurut? Hatinya ini benar-benar. Karena sudah terlanjur, ia berkata. "Apa?"
Aozora menghampiri. "Aku takkan menunggu, kau bisa pulang, aku yang akan mengerjakan tugasmu."
Starla terkejut mendengarnya. "Kenapa?"
"Aku pikir aku terlalu keras padamu kemarin," kata Aozora. "Sampai tidak berpikir panjang mengenai traumamu jadi biar aku saja yang mengerjakannya."
Starla tersentuh mendengarnya. "Aku mau kok, Kak."
"Sungguh!?" tanya Aozora syok bukan main. "Kau tahu, kau tidak perlu memaksakan diri sendiri, Starla-san."
"Aku baik-baik saja, Kak," kata Starla disertai senyum manisnya.
Aozora mengelus pucuk kepala Starla. "Aku bangga padamu mau melawan ketakutanmu, Starla-san." katanya, kemudian ia melepas sentuhannya. "Aku rasa sekarang antara aku versus kau, huh?"
"Apa?" Starla yang berbunga-bunga disentuh serta bisa berbaikan lagi, syok, "Maksudnya?"
Aozora melipat tangan di depan dadanya, sebuah seringai kecil terukir di bibirnya. "Aku juga bertugas menggambar untuk kelasku..."
Starla membeku.
Di saat pertamanya akan menunjukan bakatnya, ia harus berhadapan dengan pemuda yang disukainya... Aozora...
Note :
Tolong tinggalkan like, komentar buat dukungan kalian ke saya dan novel ini π₯°
__ADS_1
πππ