
Karena Starla perempuan jadi yang mengecat tembok adalah Guntur, Andre dan Iqbal, menambah Iqbal agar lebih cepat atas perintah Ayu tentunya, mereka memulai dari warna dasar yaitu putih.
Starla sendiri bertugas menggambar, tema yang mereka buat adalah graffiti mural yang lebih sulit tetapi hanya sedikit membutuhkan catnya, dan jika masih memiliki banyak sisa, mereka rencananya akan mencat atasnya juga, tapi bergambar kotak hitam putih seperti papan catur.
"Kau sungguh pintar menggambar ya, La."
Starla terkejut mendengar suara Ayu di sampingnya, ia segera menutup bukunya. "Ini buatan Guntur sama Andre, aku hanya menambahkan."
"Bohong. Aku lihat dari tadi, kau serius sekali membuatnya." kata Ayu.
Starla merasa berbunga-bunga mendengarnya. "Sungguh?"
Ayu mengangguk, lalu mengambil buku yang baru digambar Starla ke teman-temannya. "Ya benar kan kataku kalau Starla pintar?"
Starla berusaha mengambil buku sketsanya, namun gagal. "Kau ini!"
"Hebat juga ya, Tuan Putri." Iqbal memuji. "Kau apa sih kelemahannya? Heran semua kok kau bisa." tanyanya terheran-heran.
Starla terkejut mendengarnya; tak salah? Iqbal memujinya? Iqbal? Yang hari senin mau mengajaknya bertengkar? Ia tidak bermimpi kan?
"Kalau tidak pandai mana mungkin Kakak Kelas itu merekomendasikan pada kita, kan?" kata Andre.
"Kau pandai di luar dugaanku kenapa dulu tidak bilang suka menggambar juga, Starla?" kali ini Guntur yang memuji.
Starla jadi malu mendengarnya apalagi Guntur, sejak masuk ke kelas ia memang berusaha menjaga jarak karena tidak ingin memberikan sinyal lain ke pemuda itu mengingat Guntur menyukainya, tak di sangka malah dipuji, ia kira bakal disindir.
"Terima kasih," kata Starla lembut. "Gambarku masih belum sehebat punya kalian,"
"Jangan merendah, La." kata Andre. "Kita kan sama-sama belajar."
Starla tersenyum mendengarnya, ia merasakan benar-benar diterima oleh teman-temannya saat ini, mungkin inilah yang Aozora maksud jangan malu dengan bakat kita.
Mungkin ia akan berterima kasih pada Aozora sehabis selesai mengerjakan ini.
***
Starla menjatuhkan dirinya ke lantai, tanpa peduli betapa banyaknya ceceran cat di sana toh bajunya sudah kotor dari atas hingga bawah. Tubuhnya lelah sekali setelah melukis selama lima jam, bagaimana dengan Andre dan Guntur yang memulai tiga jam lebih awal darinya?
Andre dan Guntur ikut berbaring juga kelelahan.
"Tinggal atasnya, tapi tanganku sudah tidak sanggup rasanya." kata Andre di sela-sela napasnya yang memburu. "Kalau kita tidak menang, aku mau protes... !"
Starla tertawa. "Kalau kau berani, Ndre."
Andre ikut tertawa. "Berani kok," sahutnya. "Dalam mimpiku, hahaha..."
Mereka bertiga tertawa bersama.
"Seru sekali nampaknya kalian ya." kata Ayu. "Aku bawa minum buat kalian." ia meletakan satu botol air mineral dingin masing-masing di sisi Starla, Andre dan Guntur.
Starla melirik air di sampingnya yang begitu menggoda di matanya, tetapi rasa lelah yang berlebihan membuatnya niatnya turun.
Ayu melihat hasil kerja ketiga temannya. "Kerja yang bagus, ini lebih baik dari yang aku kira!" serunya semangat. "Maaf ya aku hanya bisa membelikan air putih, uang kas yang dikumpulkan sudah habis beli cat."
"Tak apa," kata Starla, baginya menggambar bersama temannya lebih penting setidaknya menurut dirinya.
"Ya, tak apa," sahut Guntur setelah selesai menegak habis minumnya. "Kau lama sekali keluar, Yu."
__ADS_1
"Oh!" Ayu teringat. "Sejujurnya aku mengintip pekerjaan kelas lain bersama Gea, di luar dugaan banyak yang memakai ide seperti kita juga," katanya. "Tapi kita lebih hebat karena lebih detail! Aku yakin kita menang!"
Starla langsung bangkit duduk ketika mendengar kata mengintip pekerjaan kelas lain. "Kelas 3 IPS 4, bagaimana pekerjaan mereka?" tanyanya penuh harapan, ia tidak bermaksud curang hanya ingin tahu seberapa jauh proses Aozora.
"Ah, Kak Ao, tentu saja aku ke tempat dia." kata Ayu tersipu malu mengingat Aozora tadi menyapanya dengan hangat. "Sayangnya mereka menutupi jendela mereka dengan tirai, aku juga tidak bisa melirik ke dalam, di larang masuk kalau bukan anak kelas mereka katanya."
"Yah..." Starla tertunduk kecewa; meskipun tak bisa mengetahui tema yang Aozora pakai, setidaknya ia tahu keuangan kelas pemuda itu lebih besar dari yang ia kira mengingat mereka sampai membeli tirai segala.
"Memangnya Kakak Kelas yang bersama kita itu sehebat itu apa?" kata Guntur jengkel. "Kita harus positif pasti bisa menang, La."
Starla terkejut mendengar ucapan Guntur; barusan pemuda itu menghiburnya? "I-ya," katanya gugup; gara-gara Gea memberitahu perasaan Guntur padanya jadinya situasi canggung begini, ia tak bisa berpikir ucapan Guntur bukan ucapan untuk teman melainkan untuk orang yang disukai.
"Hah, apakah cukup mengerjakan sisanya besok ya?" Ayu bertanya-tanya. "Tinggal cat langit-langitnya saja, tapi kalau dibuat besok harus memakai koran yang baru lagi..."
"Tenang saja, ada banyak koran di rumahku." kata Starla.
"Terima kasih, La." kata Ayu lembut.
"Hehe..." Starla senang bisa berguna bagi orang lain.
"Jadi bagaimana? Mau lanjut besok?" tanya Andre. "Ini masih jam lima, maksimal di sekolah kan jam enam, bagaimana? Masih kuat?"
"Aku terserah kalian berdua," kata Starla, ia lelah sekali sesungguhnya, tapi jika Andre dan Guntur masih mau melanjutkan ia pun ikut.
"Aku sudah tidak kuat," Guntur mengeluh sambil berbaring lagi. "Besok saja, kan banyak orang, jadi bisa minta bantuan yang lain." jelasnya. "Kau, Ndre?"
"Sama," kata Andre.
Starla pun bangkit berdiri, ia melirik kursi dan bangku yang ditumpuk-tumpuk di tengah ruangan agar mereka bisa mencat tadi. "Terus bagaimana dengan kursi dan meja kita?"
Starla mundur otomatis, takut dengan emosi Andre yang baru pertama kali dilihatnya.
Memang benar jika lelah bisa membuat orang kesal.
"Papan tulis?" Starla bertanya takut-takut.
"Ayolah Starla. Kita kerja bagai kuda, digaji juga tidak, hanya dapat air minum itu juga air putih, sementara mereka itu enak-enakan di rumah, masih mau protes sama kita? Serius." kata Guntur.
"Baiklah," Starla kan hanya memastikan, tidak usah menyindirnya, meskipun ucapan Guntur mantap sekali sih...
"Sisa catnya aku saja yang menaruh dipojok belakang," kata Ayu. "Kalian sudah kelelahan, pulanglah duluan."
Starla, Guntur dan Andre mengangguk.
Starla melirik tubuhnya yang penuh dengan cat, dan mengembuskan napasnya, ia sudah lelah mesti ganti baju juga.
"Starla..."
Starla berhenti mendengar namanya dipanggil, ia menoleh. "Ya?"βternyata Guntur.
Guntur tertunduk sesaat, menyembunyikan rona merah di pipinya. "Mau pulang bersama?"
Starla terkejut.
"Cie~ cie~ cie~" Ayu yang masih membenahi peralatan cat, mendengar ajakan Guntur pun menggoda. "Kau mulai berani ya, Gun~"
"Aku..." Starla tidak bisa berkata apa-apa; sejak dulu ia selalu ingin seseorang yang menyukainya mengajak pulang bersama, tetapi sekarang ketika itu terjadi, ia jadi takut begini? "Maaf!" serunya sambil berlari keluar tanpa peduli teriakan Guntur maupun Ayu.
__ADS_1
***
Starla berhenti tepat di ruang ganti perempuan, ia segera mengganti bajunya agar bisa cepat pulang dan tidak bertemu Guntur. Ia melirik di cermin apakah masih ada sisa cat di wajahnya ataupun di rambut hitamnya setelah dipastikan tidak ada, ia keluar dari ruang ganti sambil memberikan pesan ke Arthur meminta dijemput, ia juga mengambil lawan arah dari kelasnya, yang membuatnya melewati deretan kelas 3 IPA.
Di situlah Starla melihat ada dua orang di kelas 3 IPA 1, yang ternyata adalah Gea dan Ferdian sedang mengobrol atau tepatnya berdebat kencang hingga ia dapat mendengar dari luar.
"Sudah aku bilang itu kesempatanku, Ge." kata Ferdian.
"Tapi itu kan menginap! Aku tidak setuju!" seru Gea emosi.
Ferdian mencoba memegang tangan Gea untuk menenangkan tetapi ditepis. "Serius. Berhentilah meragukan aku, Ge."
"Aku akan kalau kau tidak ikut lomba!" seru Gea berapi-api.
"Beruntunglah, aku takkan mundur." sahut Ferdian santai.
Gea mengepalkan tangannya, masih ada yang ingin dikatakan tetapi ia tak tahan melihat Ferdian, memilih berlari keluar.
"Gea!" Starla mengejar temannya sambil memanggil tetapi karena lelah, ia tak berhasil menghentikan Gea. "Energiku... huuh... habis..." ia lupa Gea berada di klub bulu tangkis jelas staminanya besar.
"Starla?"
Starla menegakan tubuhnya, dan terkejut mengetahui yang memanggilnya adalah Lala, sungguh tak biasa, di samping Lala ada Aozora yang memandangnya datar. Aneh. "Oh ada apa, Kak?"
"Tidak hanya memanggil saja," kata Lala dengan polosnya.
Starla memutar bola matanya.
'Bagus sekali, Kakak satu ini.'
Lalu matanya tertuju pada Aozora dan teringat bila ia sudah berjanji akan pulang bersama sekarang. "Kak, maaf ya kita tidak bisa pulang bersama karena aku sudah memberitahu Arthur untuk menjemput." sesalnya.
Gara-gara panik diajak pulang bersama Guntur, jadi lupa janjinya dengan Aozora.
Aozora mengalihkan matanya ke samping sambil berkata datar. "Tak apa, hari ini aku pulang bersama Lala,"
"Oh," Starla bisa melihatnya, mereka berdua.
"Hati-hati, Starla-san." kata Aozora. "Ayo, Lala."
Starla menggaruk lengannya yang tidak gatal.
Ini perasaannya atau Aozora lebih dingin dari biasanya? Tidak lupa juga, tidak mengajaknya pulang bersama hingga gerbang sekolah.
Starla mencoba berpikir positif bahwa Aozora juga lelah sepertinya.
"Ugh," ia pun berjalan di belakang Aozora dan Lala, tak berniat mengganggu mereka.
Note :
Please, like, komentar dan vote agar novel ini maju :)
Sambil nunggu ini update, silakan mampir ke novel saya Sweet Revenge jika kalian suka cerita rumit Misteri/Romantis/Dewasa :)
Dan Menikah Kontrak jika kalian suka Romantis/Komedi/Dewasa :)
πππ
__ADS_1