The Lovely One

The Lovely One
Bab 22 : Kendala


__ADS_3

Pikiran Starla berkeliaran, masih terpikir ucapan Aozora tadi. Ia tidak percaya akan berlomba dengan Aozora—ia yakin pemuda itu mahir mengingat Jepang adalah Negara asal Aozora. Kecil kemungkinan Aozora tak bisa menggambar.


Tidak.


Starla takkan menyerah, kalaupun kelas mereka tidak menang, setidaknya ia sudah berusaha.


"Jadi ada usulan buat apa?" tanya Ayu.


"Bagaimana kalau gambar sederhana saja, Yu?" Gea memberikan saran. "Kau tahu seperti kata-kata keren semacamnya gitu..."


"Eh? Tapi bukankah itu terlalu sederhana?" Starla tidak terlalu setuju, ia yakin takkan menang.


"Ya, sederhana dan membosankan." Ayu sependapat dengan Starla.


"Apa yang bisa kita lakukan? Sehebat apa pun kemampuan Starla, Guntur, dan Andre kalau tidak ada uang percuma." Gea mengeluarkan pendapatnya. "Kalian lihat saja sekarang, tak semua masuk kan? Mereka tidak peduli."


Kelas hening...


Starla menerima kenyataan pahit bahwa yang dikatakan Gea benar, memiliki kemampuan hebat tetapi tidak ada uang untuk membeli peralatan, percuma saja.


Starla harus menerima Aozora menang...


"Kita bisa menagih mereka hari senin, Ge." Ayu mencoba berkata optimis.


"Kau sudah mengatakan itu saat kita menjenguk Pak Abdul." kata Gea kalem. "Uangmu kembali tidak?"


Ayu terdiam.


"Pendapatku selesai di sini." kata Gea.


Starla menatap Gea yang bersandar santai di kursi, ia dapat melihat ada yang tidak beres pada Gea sebab tidak biasanya Gea memberi pendapat tajam, lebih suka diam.


'Apakah dia bertengkar dengan Kak Ferdian?' Starla bertanya-tanya dalam hatinya.


Apa pun itu yang dikatakan Gea, realita memang tak selamanya indah.


Starla termenung.


Haruskah ia menyerah? Padahal Aozora sudah mempercayainya tetapi dengan uang seadanya jelas tidak cukup.


Starla mengangkat tangannya. "Kalian bisa pakai uangku dulu."


Semua ternganga.


"Kau yakin La? Benar kata Gea, ini kontes biasa, kau bisa rugi loh, kurasa kelas yang lain juga mengalami kendala yang sama." kata Ayu.


Benar juga, kontes ini tidak jelas hadiahnya apa jadi tentu kelas lain akan berpikir untuk memilih menghemat sebanyaknya.


Mungkin kontes ini tidak begitu berarti juga baginya.


"Baiklah," Starla akhirnya menyerah.


"Kalau begitu tinggal kita tentukan gambar apa yang akan kita buat, nama atau wajah, apa pemandangan... ?" Ayu bertanya-tanya.


Starla mengembuskan napasnya, memandang kosong luar jendela. Ia sudah tidak tertarik ikut rapat toh ada Gea dan Luna yang akan menjelaskan ulang padanya.


'Bagaimana dengan kelas Kak Aozora ya?'


Apakah kelas Aozora memilih menghemat juga?


***


Rapat sudah selesai sejam yang lalu, Starla memilih berteduh di gazebo.

__ADS_1


Sesuai kesepakatan rapat, gambar yang mereka buat hanyalah tulisan di bagian belakang, dinding sampingnya cuma dicat polos, benar-benar membuatnya tidak semangat sama sekali.


"Kau baik-baik saja?" tanya Gea yang berdiri di depannya.


Starla melirik sebentar temannya sebelum tertunduk lagi. "Jujur? Tentu aku kecewa," sejam yang lalu kesempatannya hilang di depan matanya tanpa bisa ia perjuangkan.


"La, ini bukan akhir dari segalanya." Luna yang duduk di samping Starla pun mencoba menghibur. "Aku dan Gea mengakui kalau kau mahir menggambar, kau bisa menunjukan itu lain waktu."


Tentu saja Starla tahu hanya saja... "Aku hanya semangat bisa berkompetisi dengan Kak Aozora."


"Kak Ao!?" seru Luna dan Gea bersamaan.


Starla mengangguk. "Kak Aozora ikut juga, aku yakin dia lebih mahir dariku jadi aku ingin berkompetisi adil dengan dia," jelasnya. "Tapi kurasa tidak bisa lagi..." lanjutnya lesu.


"Huh..."


"Sulit sih ya," kata Luna, berkompetisi dengan orang yang lebih hebat dari kita pasti menyenangkan; melihat Starla begitu murung akan hal ini, ia langsung merogoh sesuatu di dalam saku bajunya dan menyerahkannya ke Starla. "Ini,"


Starla melirik sesuatu yang berada di tangannya; sebuah uang pecahan lima puluh ribu. Matanya melebar. "Kau tidak usah, Luna!" serunya sambil mengembalikan uang tadi ke Luna tetapi temannya itu menolak dengan berdiri di samping Gea.


Starla merasa tidak enak, ia tahu kondisi perekonomian Luna yang sulit, memberinya uang sebesar itu baginya merupakan tindak kejahatan sebab jelas-jelas ia lebih mampu.


"Aku bisa meminta bantuan Mama atau Papa." kata Starla.


"Sungguh? Kau mau melakukannya?" Luna balik menantang.


"Aku..." Starla kehilangan kata-katanya, jujur ia tidak suka meminta bantuan orang tuanya jika masalah uang, lebih suka mengumpulkan sendiri dari uang jajan sekolah.


"Aku juga sudah memberikan uang seratus ribu ke Ayu..." kata Gea mengakuinya. "Aku berpikir realistis tetapi setidaknya aku ingin melihatmu berjuang."


Starla terkejut mendengarnya, dan terharu. "Aku..." ia tak bisa berkata-kata. Ia tidak menyangka temannya memikirkan dirinya sejauh ini.


"Tidak usah cemas, La. Aku hanya memberi sedikit tetapi aku harap semua dinding bisa ramai meskipun dengan jumlah cat seadanya itu." kata Gea lembut.


Starla tersipu mendengarnya. "Aku, Guntur dan Andre akan berusaha agar bisa kebagian setiap dindingnya. Terima kasih, Ge."


"Aku ingin melihat tangan magic kalian bertiga," kata Luna semangat. "Tentu saja paling penting kau, La."


"Kalahkan Kak Ao!" kata Gea dengan tangan terkepal di udara.


"Dan menangkan hati Kak Ao~" Luna menambahkan, mengepalkan tangan ke atas juga.


"Kalian ini..." masih sempat-sempatnya menggodanya, meski akhirnya ia tertawa juga, lalu ikut mengepalkan tangannya ke udara. "Tentu saja!"


Setelahnya mereka tertawa lepas bersama.


***


Starla sudah merasa baikan, Ayu bilang padanya mulai mengecat besok karena katanya mau mengambil uang dari teman yang lain yang tidak datang sekolah tadi.


Hari sabtu jadwal bus tidak ada karena hari bebas, jadi Starla menunggu Arthur di depan gerbang sekolah sambil memainkan ponsel di tangannya.


Luna dan Gea seperti biasa pulang bersama gebetannya, namun untuk pertama kalinya ia sama sekali tidak bersedih atau pun iri, sebab ia teringat kebaikan kedua temannya itu dan juga ia memiliki Aozora juga.


Pipinya merona memikirkannya, lalu bermain ponsel lagi.


"Starla-san? Kau belum pulang?"


'Suara ini...'


Starla menoleh dan mendapati Aozora di sampingnya, sudah mengenakan pakaian bebas; baru dipikirkan sudah ada, ia tersipu lagi, sedetik kemudian ia menyadari Aozora membawa satu kantong plastik hitam. "Apa itu, Kak?" tanyanya penasaran.


"Oh ini?" Aozora mengangkat kantong plastik di tangannya, wajahnya tiba-tiba merona. "Ada beberapa adik kelas memberikan hadiah untukku, katanya sebagai sambutan sudah mau masuk klub pencak silat. Aku tidak bisa menolaknya tentu saja, mereka susah-susah membuat ini," jelasnya malu.

__ADS_1


"Oh," sahut Starla singkat; ia berani bertaruh jika itu bukanlah cuma kado untuk sambutan saja, belum seminggu Aozora sudah mencuri banyak perhatian gadis di sekolah termasuk dirinya, ia terbatuk; bagaimana tidak? Aozora begitu lembut ke perempuan didukung oleh wajahnya yang tampan, gaya pakaian yang kasual tak berlebihan juga menjadi nilai plus bagi sebagian orang.


Aozora hari ini mengenakan sweater abu-abu senada dengan mata pemuda itu dibalut jaket jeans biru tua dan celana jeans berwarna sama dengan jaket; tampilan yang kasual tipe Starla sekali.


Starla terbatuk. "Kakak sendiri kenapa belum pulang?"


"Kelas kami mulai mengecat, tetapi karena aku ada urusan penting terpaksa pulang."


"Oh," pantas Starla mencium aroma cat di tubuh Aozora, ternyata mereka sudah mulai. Ia kagum kelas Aozora sungguh sigap dengan kontes ini sungguh berbeda sekali dengan kelasnya yang 'santun' sekali. "Lancar sekali di kelas Kakak tampaknya..."


"Kelasmu belum mulai?" Aozora bertanya-tanya. "Kelasku malah lambat, yang lain malah sudah mulai menggambar loh."


"Sungguh!?" Starla terlalu murung tadi untuk melihat keadaan kelas lain; mungkinkah kelas lain sungguh-sungguh sama kontes ini? Apakah masih ada harapan untuknya? Ia tak tahu, yang pasti ia akan lebih berusaha lagi, mulai dari besok tentunya. Santun...


Aozora mengangguk. "Sepertinya kelasmu paling tertinggal ya?"


Starla menepuk keningnya. "Begitulah Kak, kelasku itu paling nakal di antara kelas lain, maklum." candanya meskipun fakta. "Tadi saja seharian kami ribut masalah uang yang tidak cukup."


"Uang?"


Starla mengangguk. "Uang kami masih belum pasti jadi belum bisa memastikan akan jadi apa kelas kami," jelasnya malu. "Tetapi kami sudah punya rancangan soal itu, kami akan mengambil cara hemat jika uangnya memang sedikit, kalau banyak mungkin akan ada lagi tambahan..." lanjutnya penuh percaya diri.


"Hm..." Aozora berpikir sesaat. "Uang memang paling penting di sini, tetapi kalian bisa kan memakai alat mengecat di rumah kalian? Aku dan temanku juga memakai barang bekas."


Starla terkejut; kenapa tidak terpikir sebelumnya olehnya. "Terima kasih sarannya, Kak!" katanya semangat, lalu mengirim pesan pada Ayu untuk memberitahu ide brilian ini.


"Oh, dan..." Aozora mengambil sesuatu di kantung celananya kemudian menyerahkanya pada Starla. "Ini..."


"Ah..." Starla melihat uang pecahan seratus ribu di tangannya. "Maksud Kakak ini—" apakah yang dipikirkannya benar? Aozora menyumbang untuk kelasnya? Manis sih tetapi... mendapat uang dari orang di luar kelasnya sedikit menyedihkan.


Aozora mengangguk. "Ambilah, anggap saja sebagai hadiah agar kontes ini jauh lebih menarik." katanya dengan senyum lembut di bibirnya. "Sekarang, pemenangnya tidak tertebak."


"Sungguh?" Starla memastikan sekali lagi, ia sungguh-sungguh senang Aozora melihatnya sebagai saingan yang pantas.


Aozora mengangguk sekali lagi. "Kita berjuang sama-sama—oh!" ia tidak dapat menyelesaikan ucapannya, Starla sudah memeluknya terlebih dahulu.


"Terima kasih, Kak." bisik Starla.


Aozora terdiam sesaat, sebelum kemudian membalas pelukan dengan satu tangannya yang bebas. "Hm," gumamnya.


Hening...


Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara, Starla terhanyut akan kebahagiaan serta aroma parfum Aozora.


Aozora sendiri mulai tidak tahan diperhatikan oleh murid lain serta jantungnya yang berdebar kencang, terbatuk pelan. "Bisa kau lepaskan aku, Starla-san?" bisiknya.


Starla menyadari ia telah memeluk Aozora karena bahagianya, ia segera melepas dan melangkah mundur, tertunduk malu, tetapi disempatkan melirik Aozora melalui celah bulu matanya—melihat jelas rona merah di kedua pipi pemuda itu, ia jadi sedikit senang bukan hanya dirinya saja yang malu. "Maaf," katanya pelan.


Aozora masih tidak mau menatap Starla berkata. "Tak apa, membagi kebahagian bukan sesuatu yang jahat."


Starla tertawa kikuk, mulai lagi Aozora berbicara formal padanya, seakan membuat pertahanan padanya, ia memainkan kakinya malu-malu, memikirkan adanya kemungkinan Aozora memiliki sedikit perasaan terhadap dirinya setelah melihat reaksi akan pelukan tadi.


Hening lagi...


"Kau mau naik bus umum denganku?" Aozora akhirnya membuka percakapan, suaranya masih terdengar gugup.


Starla berbinar-binar mendengarnya; pulang bersama Aozora! Naik bus umum juga, tetapi kebahagiaannya hilang ketika ingat ia sudah menelepon Arthur untuk menjemputnya. "Ah, aku tidak bisa, Kak. Aku minta dijemput tadi," katanya sedih sekali.


"Begitu," kata Aozora pelan.


"Tetapi kita bisa pulang bersama besok!" kata Starla mencoba menghibur diri atau keberuntungan cintanya. "Atau sabtu depan?"


Aozora tertawa. "Baiklah," sahutnya. "Kalau begitu aku duluan, Starla-san."

__ADS_1


Starla melambaikan tangannya, setelahnya Aozora memberhentikan bus dan naik ke dalam. Ia masih memperhatikan bus yang ditumpangi Aozora hingga benar-benar hilang dari pandangan matanya, lalu tersipu lagi.


Hari ini tidak seburuk dari yang ia kira...


__ADS_2