The Lovely One

The Lovely One
Bab 14 : Luna dan Rendy


__ADS_3

Hening beberapa saat.


"Apa?" Rendy akhirnya merespon setelah syok beberapa saat.


"Apa?" Starla membalas dengan polosnya. "Kakak tidak tahu?"


"Tentu saja aku tidak tahu, kau lupa tadi aku berbicara apa tentang dia," sahut Rendy.


Starla tentu ingat dan masih tidak percaya hingga kini. "Tapi Kak, hanya Kakak yang bisa aku andalkan, aku tidak kenal siapa pun di kelas Kakak." dan tidak mungkin ia meminta bantuan pada Lala. "Aku bisa ajak Luna kalau mau," rayunya, ia tahu betapa sukanya Rendy pada Luna.


Anehnya Rendy sama sekali tidak bergeming meski Starla menyinggung nama Luna. "Aku akan pikirkan, Starla." katanya kalem.


"Sampai berapa lama?" tanya Starla memastikan,


"Mungkin besok... atau lusa..." Rendy mengira-ngira.


Kalau begitu Aozora kemungkinan sudah masuk sekolah lagi. "Kak, bisa dipercepat keputusannya sehabis pulang sekolah, ya?" pintanya kecil. "Dengan begitu aku bisa mencari yang lain."—tepatnya pada Lala.


Rendy berpikir sesaat sebelum akhirnya setuju, "Baiklah,"—siapa yang tega melihat wajah memelas Starla? "Tak ada lagi yang ingin kau bicarakan, Starla? Aku ke kantin dulu, ya?"


"Itu... anu..." Starla ragu-ragu mengatakannya, tertunduk malu.


"Apa?" tanya Rendy tidak sabaran, perutnya sudah bernyanyi dan teman-temannya mulai berteriak menggoda mereka berdua.


"Um," wajahnya benar-benar memerah sekarang. "Bisa aku minta nomormu, Kak? Biar aku bisa menghubungimu."


"Oh," Rendy terkejut mendengarnya sebelum tenang kembali. "Tentu saja," bagaimana bisa ia menolak seorang Annora. "Catat ya."


Starla mengambil ponselnya di sakunya, dan mulai mencatat nomor yang disebutkan oleh Rendy. "Sudah aku telepon ya, Kak. Itu nomor aku,"


Rendy memeriksa ponselnya yang bergetar, dan menyimpan nomor baru tersebut. "Sudah, kalau begitu aku pergi dulu, ya?"


Starla mengangguk, karena tujuannya sudah tercapai, ia bisa ke kantin dengan perasaan lega.


Rendy pun pergi dengan teman-temannya yang sedang menunggu tak jauh dari mereka.


'Aku tidak percaya bahwa aku tidak memiliki nomor Kak Rendy yang satu klub denganku.'


Tak ingin ambil pusing, Starla kembali ke kelasnya ketika menyeberangi lapangan, ia melihat kedua temannya lagi menunggu di depan lorong kantin, ia segera berlari kecil menghampiri.


"Kau kenapa dengan Kak Rendy?" tanya Luna sedikit jengkel.


Nampaknya teman-temannya sudah menunggunya cukup lama untuk melihat ia dan Rendy mengobrol berdua.


Starla menyeringai kecil. "Ada yang cemburu?" tanyanya balik, menggoda.


"Aku tidak," sahut Luna.


"Tentu, kita melihatnya," sahut Starla masih menggoda.


Luna seketika jengkel. "Aku duluan," katanya kesal, meninggalkan kedua temannya sambil menghentak-hentakan kakinya.


Starla menepuk keningnya. "Kenapa dia begitu sensitif sih? Lagi merah kah, Ge?" ia bertanya-tanya, ia merasa bila gurauannya tidak berlebihan.

__ADS_1


"Kau tahu dia senang menggoda tapi tidak senang digoda kita," kata Gea.


"Tentu..." gumamnya.


Starla dan Gea segera menyusul Luna di kantin, yang sedang duduk di bagian bubur ayam.


"Bukannya kita tadi mau makan bakso?" tanya Gea heran.


Starla juga merasa aneh kenapa mereka duduk di bagian bubur ayam bukan karena makanannya tidak enak tetapi mereka jarang makan bubur ayam di siang hari kecuali ada di antara mereka yang sedang sakit.


Starla melirik barisan bakso, dan melihat gerombolan Rendy dan teman-temannya di sana. Sekarang ia tahu kenapa Luna duduk di sini namun, tidak mengatakan apa-apa, biar temannya yang mengakui sendiri.


"Aku sedang ingin makan bubur." kata Luna ketus.


Starla mulai merasa terganggu. "Kau tidak bisa seperti ini pada kami. Bertengkar dengan gebetan itu normal tetapi melampiaskan rasa kesal itu pada kami yang salah."


"Aku tidak bertengkar dengan Kak Rendy," sahut Luna tidak terima.


"Ya, dan aku Saras 008," Starla menyindir balik. "Apa aku tadi bilang Kak Rendy, Ge?" tanyanya polos.


"Tidak," Gea membalas dengan polos juga. "Serius, kalau kau tetap begini, kami pergi saja sampai kepalamu sudah dingin, kami bukan bahan pelampiasan, Luna." katanya sambil bangkit berdiri. "Ayo, La."


Starla mengangguk.


"Tunggu!" seru Luna, mereka berdua menatapnya, "Maaf ya, aku berlebihan," sesalnya.


Starla dan Gea memandang satu sama lain dengan senyum di bibir mereka; rencana dadakan mereka berhasil; kemudian duduk kembali.


"Itu hanya, dia membuatku naik darah sejak kemarin," kata Luna. "Dia masa bilang untuk menjauhi Kak Sandy. Dia memintaku memilih secara tidak sengaja."


"Aku rasa dia ingin serius padamu, Luna." kata Starla.


Gea mengangguk.


"Aku kan sudah bilang bahwa aku cewek lajang." kata Luna tanpa dosa.


Starla sedikit emosi mendengarnya, tentu perempuan lajang memiliki kebebasan memilih, ia juga lajang namun, ini sudah masuk dipermainkan. Ia memutuskan untuk sedikit memancing emosi Luna. "Jika begitu Kak Rendy boleh juga dong bersama gadis lain?"


Luna melebarkan matanya.


"Kalian bertanya-tanya aku mengobrol apa dengan Kak Rendy, sebenarnya dia mengajak aku jalan," kata Starla dengan senyum manis di bibirnya, meyakinkan.


Mata Luna dan Gea melebar seketika.


"Sungguh?" Gea sama sekali tidak percaya, ia melihat Starla mengedipkan matanya tiga kali sebagai sinyal rahasia, butuh waktu beberapa saat baginya untuk memahami maksud dari Starla. "Oh... tentu saja, kurasa Kak Rendy itu menunjukan nalurinya, ya?" tanyanya. "Jika fokus pada satu cewek itu sia-sia,"


"Hey, aku bukan cewek cadangan!" kata Starla tidak terima; bukan itu maksudnya tadi.


"Tetapi kenapa harus kau, La? Sahabatku sendiri!?" Luna yang sudah sadar dari syok, berseru tidak terima. "Sulit dipercaya, sulit."


"Kalau tidak percaya, aku bisa menunjukan nomor dia," Starla mengeluarkan ponselnya menunjukan nomor Rendy di kontaknya. "Dia yang meminta nomorku tadi~"


Luna mengecek nomor Rendy di ponsel Starla dan apa yang dikatakan bukan kebohongan belaka, kemarahannya berada di puncaknya sekarang ini.

__ADS_1


"Apa yang aku sesungguhnya ingin aku katakan, apa kau bisa menerima Kak Rendy bersamaku, atau Kak Sandy bersamaku?"


"Kenapa kau mengungkit Kak Sandy?" tanya Luna heran.


"Bayangkan saja, Luna." kata Gea.


Luna mengembuskan napasnya, dua pemuda yang sedang dekat dengannya, jadian dengan Starla, berpelukan, pegangan tangan. "Tidak!"


"Seperti kau sudah tahu jawabannya siapa." kata Starla. "Jadi siapa?"


Luna diam beberapa saat, muncul rona merah di pipinya, dengan gumaman ia menjawab, "Kak Rendy..."


Starla langsung bersorak ria mendengar jawaban Luna, yang membuat seisi kantin menatapnya heran termasuk temannya sendiri. Sadar menjadi bahan tontonan, ia duduk lagi, dengan wajah tertunduk malu. "Sejak pertama aku memang mendukung Kakak Rendy."


"Aku bisa melihatnya tadi, hahaha..." kata Gea diiringi tawa kecil. "Menyenangkan pasangan yang kita dukung menjadi resmi ya?"


Starla mengangguk. "Dan aku bisa ke rumah Kak Aozora denganmu, Luna."


"Apa? Rumah Kak Ao?" tanya Luna heran. "Apa hubungannya denganku?"


Starla menggaruk lengannya gugup. "Sejujurnya, tadi aku meminta Kak Rendy untuk mengantarku sehabis pulang sekolah ke rumah Kak Aozora."


Sekarang Luna merasa dirinya dipermainkan, emosinya memuncak lagi. "Kau melakukan ini demi Kak Ao? Kau sungguh-sungguh, ya!" ia dipaksa mengutarakan perasaannya di kantin yang normalnya banyak orang untuk menjadi korban cinta Starla?


"Bukan itu maksudku," Starla cepat-cepat membela dirinya. "Aku sungguh-sungguh peduli tentang perasaanmu, kau memilih Kakak Rendy menguntungkan aku untuk membuat dia mau ke rumah Kak Aozora."


"Itu tidak memperbaiki reputasimu di mataku, La." kata Luna ketus.


Itu tidak? "Kalau begitu kau bisa ikut untuk memperbaiki hubungan kalian, aku tahu kalian sedang bertengkar karena saat aku menyebut namamu, Kak Rendy sama sekali tidak goyah dengan tawaranku," kata Starla.


Luna termenung mendengarnya, hatinya sedikit terluka mengetahui bahwa namanya pun tidak memiliki efek lagi bagi Rendy, ia tersadar mungkin ia menyakiti pemuda itu lebih dari yang ia pikirkan.


"Sekaligus membuat suasana tidak terlalu gugup ketika di rumah Kak Aozora," Starla menambahkan. "Aku tidak mau sendirian bersama dua lelaki di rumah,"


Setampan apa pun Aozora dan Rendy, rumah adalah tempat berbahaya jika bersama lelaki.


"Kau pikir aku mau?" tanya Luna.


"Kalau kau tidak mau menyelesaikan hubungan kalian, kau bisa ikut sebagai temanku, Luna." kata Starla memelas.


Luna yang masih jengkel berkata. "Jangan menatapku seperti itu."


Starla tidak menurut.


Luna menepuk keningnya, menyerah. "Baiklah,"—ia memang juga harus meluruskan masalahnya dengan Rendy.


Starla bertepuk tangan. "Terima kasih, aku akan membayar makananmu."


"Kau sungguh-sungguh tahu kelemahanku," Luna mengeluh pelan.


Starla tertawa kecil. "Tidak sia-sia menjadi temanmu selama dua tahun~"


Luna memutar bola matanya. "Jadi? Kau tahu di mana rumah Kak Aozora?"

__ADS_1


Starla membeku di tempatnya berdiri.


'Aku lupa!'


__ADS_2