
Begitu bel sekolah berbunyi, Starla dan Luna buru-buru membereskan buku-buku dan pulpen ke dalam tas, segera keluar dari kelas untuk bersembunyi di gazebo dekat kelas 3 IPS 4, menunggu Rendy keluar.
"Starla, kau yakin ini akan berhasil?" tanya Luna.
Starla tidak menjawab.
Sejujurnya ia tidak ingin membebankan Rendy hanya saja sikap Lala yang ketus padanya sewaktu istirahat memaksanya meminta bantuan Rendy, bahkan saat di kantin ia mencoba lagi mengajak ngobrol Lala, sikapnya kakak kelasnya tetap begitu.
Starla berpikir dari mana Aozora bisa berteman akrab dengan Lala.
"Aku tidak setuju dengan ini," kata Luna lagi. "Bagaimana kalau Kak Rendy tergoda sama Kak Lala?"
Starla memutar bola matanya; belum lama ini temannya itu marah besar pada Rendy karena disuruh memilih, sekarang bersikap posesif pada pemuda itu, cinta sungguh hebat bisa membalikan perasaan seseorang. "Kak Rendy hanya meminta alamat saja, atau kau ingin kita ke ruang guru buat melihat data Kak Aozora?"
"Baiklah," siapa yang mau ke ruang guru buat mencari data alamat Aozora, jika ketahuan mereka bisa kena hukuman disuruh berjemur di lapangan sambil hormat pada bendera merah putih. "Lima belas menit! Bila mereka tidak keluar juga, aku bersumpah akan me—"
"Kau terlalu berlebihan," Starla memotong ucapan Luna yang mulai seperti umpatan. "Perasaan, tidak, cinta seseorang tidak bisa berubah begitu saja."
Entah kenapa mendengar Starla mengucapkan kata cinta membuat Luna merona, sejak dekat, ia hanya mengira Rendy suka biasa hanya main-main sekarang setelah pertengkaran mereka, ia menyadari perasaan pemuda itu padanya. "Baiklah, Dokter Starla."
Starla tidak menghiraukan, lanjut melihat kelas Rendy berada, murid-murid mulai keluar dari kelas setelah guru keluar bahkan Linda pun juga sudah bersama temannya. Ia tidak begitu yakin dengan jumlah murid di kelas Rendy, yang paling mengejutkan di sana memiliki siswa yang berwajah di atas rata-rata mungkin itulah sebabnya kelas 3 IPS 4 paling populer dibanding kelas 3 lain dan ditambah Aozora, jadilah kelas impian, Linda dan Lala sungguh beruntung.
Lua akhirnya berdiri. "Sudah cukup, ini sudah lima belas menit, mereka melakukan apa sampai selama itu!?"
"Tunggu sebentar Luna—" Starla berusaha menghentikan namun, terlambat, Luna sudah masuk ke dalam kelas. Ia sendiri tidak ikut ke dalam, takut Lala akan curiga meski ia yakin dengan kedatangan Luna bisa membuatnya gagal. Ia tak duduk di gazebo, memilih duduk di depan kelas, was-was. Ia dapat mendengar sayup-sayup obrolan mereka karena suara Luna yang keras, hingga sesaat kemudian ia akhirnya melihat Lala keluar dengan wajah yang kesal.
Lala berhenti ketika melihatnya. "Kau harusnya lebih berani bertanya bukan memakai temanmu." sindirnya halus.
Starla memutuskan untuk bermain polos di sini. "Apa yang Kakak katakan? Aku tidak ikut dengan apa pun yang Kakak katakan. Kalau memang benar, lebih baik aku bertanya pada Wali Kelasmu daripada mengobrol denganmu Kak."
"Kau sungguh tidak sopan," kata Lala.
Starla menggelengkan kepala. "Bukankah kata-kata itu cocok untuk dirimu sendiri? Aku sudah bersikap baik padamu karena kau lebih tua dariku tapi Kakak sama sekali tidak menunjukan tata krama, kau terlalu cemburu padaku yang dekat dengan Kak Aozora juga."
Lala mengepalkan tangannya, tanpa berkata apa-apa, ia pergi.
Starla mengembuskan napasnya. Ia merasa bersalah telah mengucapkan kata-kata yang cukup menyakitkan seperti itu pada Lala, ia tadinya tidak memiliki niat tetapi Lala kali ini sungguh-sungguh memancing amarahnya.
'Dia mungkin pantas menerimanya.' kata Starla dalam hatinya.
Rendy dan Luna akhirnya keluar juga.
Starla menghampiri. "Bagaimana?" tanyanya penuh harap.
"Aku sudah mendapatkannya," kata Rendy.
"Tepatnya aku yang mendapatkannya," sindir Luna. "Dia sungguh-sungguh mengetes kesabaranku tadi, aku mengerti dia berusaha melindungi privasi Kak Aozora tetapi itu sudah berlebihan."
Starla diam, apa pun itu ia takkan mencari lebih tahu sebab yakin Luna akan mengeluh berjam-jam, jadi ia berkata. "Alamatnya kau tahu?"
Luna menggelengkan kepalanya sementara Rendy mengangguk.
__ADS_1
"Dia tinggal di perumahan, aku sering lewat tetapi tidak pernah ke dalam," kata Rendy. "Perumahan itu cukup padat kata temanku,"
"Jadi tidak ada yang tahu," Starla berpikir, "Ah, kita pakai googla map saja!"
"Googla map—? Apa itu?" tanya Luna.
"Itu sejenis aplikasi map yang menunjukan arah alamat yang akan kita tuju." kata Starla. "Nanti dipakai setelah sampai di perumahan Kak Aozora."
"Oh... aku tahu, itu aplikasi yang sedang hangat-hangatnya juga selain fakebook," kata Rendy. "Orang-orang mulai memakainya jika mereka tersesat dan malu untuk bertanya pada orang-orang."
"Kalau begitu ayo," kata Starla semangat.
"Kau naik apa, Starla?" tanya Rendy. "Aku hari ini membawa motor karena males bertemu seseorang."
Luna terbatuk mendengarnya. "Iya, kau naik apa, La?"
"Oh," Starla ingat sekarang jika mereka hanya bertiga, jelas sekali bahwa Rendy akan membonceng Luna. "Sederhana, aku naik ojek saja," katanya.
"Baiklah," kata Luna.
Setelahnya mereka pergi.
***
"Kita sudah sampai di depan perumahannya,"
Starla langsung mengambil ponselnya, menyalakan layanan lokasi di menunya barulah membuka googla map, memasukan alamat Aozora yang sudah dikirim oleh Luna lewat pesan. "Dilihat dari sini, hanya butuh waktu sepuluh menit." katanya.
Starla mengangguk. "Jalan ya Pak, nanti aku tunjukkan kapan beloknya."
"Ya, Neng,"
Ketika masuk ke dalam, Starla mengagumi betapa bersihnya perumahan itu, meskipun ia sedikit kaget Aozora tinggal di perumahan biasa bukan elit seperti yang ia kira, di sini juga terdapat banyak pepohonan membuat jalanan serta udaranya sejuk.
Starla mengecek ponselnya, "Nanti belok kiri, ya,"
"Ya, Neng."
Starla terkejut motornya terhenti seketika. "Ada apa, Pak?"
"Itu jalannya ditutup, Neng."
Starla melirik melalui bahu Tukang Ojek itu dan memang benar adanya jalanan ditutup pagar, ia turun untuk mempermudah Tukang Ojek itu parkir, baru setelah naik lagi. Ia pun mencari jalan alternatif lain, lewat gang di sebelahnya. "Kita ke gang cendrawasih XVI ya Pak? Lewat sedikit, sebelah gang ini,"
"Oke,"
"Inilah kenapa aku tidak suka pergi tapi tidak tahu jalannya," keluh Luna. "Hanya mengandalkan sebuah aplikasi yang akurat atau tidaknya masih belum jelas."
"Lucu sekali nomor gang perumahannya pakai angka Romawi." kata Rendy. "Lala tidak bilang tadi pada kita."
"Dia terlalu kesal padamu, Kak," sahut Luna.
__ADS_1
"Sudah kubilang susah menghadapi dia," Rendy membela diri.
Luna memutar bola matanya; tidak perlu diperdebatkan karena benar adanya.
Starla terkejut ketika melihat jalan cendrawasih XVI ditutup juga, terpaksa ia harus turun lagi untuk parkir, ia mulai kesal dengan aplikasi tersebut. "Mananya sih yang membantu jalan!?" serunya frustasi. "Kita malah dibuat berputar-putar sama aplikasi googla map ini!"
"Aku sudah bilang lebih baik menunggu besok," kata Luna yang juga turun agar Rendy bisa mudah memarkir motornya.
Starla berpikir sesaat, "Kita coba sekali lagi kalau ditutup juga ya sudah kita pulang, aku tidak enak denganmu dan Kak Rendy,"
Luna berpikir sesaat sebelum sebuah ide muncul di kepalanya. "Kalau begitu ayo!" serunya semangat kembali naik ke motor Rendy.
Starla merasa ada yang aneh namun, memutuskan tidak memperdulikan dan naik ke motor Tukang Ojek tersebut.
Mereka ke gang jalan sebelahnya lagi, cendrawasih XVII dan bagaikan cahaya di ujung terowongan, kali ini jalan tersebut dibuka jadi bisa melanjutkan perjalanannya lagi.
"Karena kita melewati dua gang, jadi belok kiri nanti ya Pak, terus lewatin dua gang baru belok ke kanan," kata Starla. "Nanti tinggal lurus saja," lanjutnya.
Tukang Ojek hanya mengangguk, mengikuti arahan yang dikatakan oleh Starla.
Berjaga-jaga, Starla juga mengecek jalan yang mereka lewati apakah terlewat atau belum, ia mengecek lagi ponselnya saat sampai di jalan lurus tadi; rumah Aozora berada di sisi kanan ujung gang. Mudah. "Ke ujung gang ya nanti berhenti di sana, Pak."
Lagi, Bapak paruh baya itu hanya menurut.
Mereka tiba di ujung, dan berhenti diikuti oleh Rendy di belakang.
Starla melihat sebuah rumah sederhana dengan cat tembok berwarna putih dengan sedikit garis berwarna pink. Rumah yang sedikit feminim untuk seorang lelaki. Atau Aozora ke sini tidak sendirian, bisa dengan kedua orang tuanya.
Itu menguntungkan dan merugikan baginya, ia belum memiliki persiapan bertemu calon mertuanya.
Starla terbatuk memikirkannya.
Tetapi di lain sisi, lebih banyak orang lebih baik.
Luna segera turun sambil membuka helm yang berada di kepalanya. "Ada baiknya kita tanya orang, apakah benar itu rumah dia."
Starla mencari orang yang mau diajak mengobrol, ia menemukan seorang Ibu paruh baya sedang memerhatikan anak-anak bermain sepeda di jalan, terlihat cocok, ia pun menghampiri Ibu tersebut. "Permisi Bu, numpang tanya, apakah pemilik rumah itu seorang lelaki yang berasal dari Jepang?"
Ibu paruh baya itu melirik arah jari yang dituju Starla. "Ibu tidak tahu apakah dia orang Jepang, tapi memang rumah itu baru diisi lagi belum lama ini, lelaki itu masih muda dan bule, Neng," jelasnya. "Oh, dia memakai seragam sekolah yang sama dengan Neng juga."
Semangat Starla naik drastis, ciri-cirinya sungguh sama dengan Aozora. "Terima kasih ya, Bu! Terima kasih sekali infonya!" serunya semangat.
Ibu itu hanya tersenyum sebagai jawaban.
Starla segera kembali ke tempat Luna dan Rendy berada namun, sebelumnya ia mengambil dompet untuk membayar Tukang Ojek yang ditumpanginya. "Ini Pak, simpan saja kembaliannya, maaf sudah merepotkan."
Bapak paruh baya itu mengecek uang yang diberikan Starla, sebuah tip yang cukup banyak. "Ya tak apa, terima kasih juga, Neng." katanya senang, setelahnya baru pergi.
Starla akhirnya menghampiri Luna.
"Jadi? Bagaimana?" tanya Luna.
__ADS_1
"Benar itu rumah Kak Aozora,"