The Lovely One

The Lovely One
Bab 5 : Bebas


__ADS_3

Starla berhenti berlari untuk sejenak mengambil napasnya. "Misi ini... begitu melelahkan..." gumamnya disela-sela napasnya yang memburu; masih tidak percaya ia dan Denis berhasil mengelabui Arthur semudah itu atau tepatnya memanfaatkan kebaikan Arthur untuk memuluskan rencana mereka.


Starla tentu sedikit merasa bersalah sebab jika kejadian ini sampai terdengar orang tuanya pasti Arthur yang pertama dipanggil bukanlah dirinya; sepertinya ia akan tetap meminta dijemput ketika pulang agar bisa berbicara menjernihkan masalah ini dengan Arthur.


"Tetapi dari semua itu, aku berhasil!" seru Starla ceria, ia bahkan melompat penuh semangat empat lima; sayang sekali Denis tidak di sini.


Di saat itu juga berhenti sebuah mobil di sampingnya.


Starla menoleh, melihat siapa yang berada di dalam. "Denis!?" serunya syok ketika kaca diturunkan memperlihatkan sosok adiknya nyengir tidak berdosa. "Kau ternyata memiliki misi ganda." sindirnya.


Tentu saja makanan dan minuman tidak cukup bagi Denis.


"Membosankan kalau hanya kau yang bersenang-senang, Kak." kata Denis.


Starla memutar bola matanya. "Terserah. Tapi terima kasih sudah membantuku."


"Tidak-tidak," Denis menolak. "Terima kasih, Kakak."


Starla menaikan alisnya bingung, tidak mengerti maksud dari ucapan Denis, ia baru paham saat adiknya menepuk-nepuk setir mobil. "Kau akan mendapat masalah besar Denis." ia memperingatkan.


"Aku tidak cemas, karena ada Kakak yang membelaku nanti." kata Denis santai. "Jadi sudah ya, aku duluan, Kak."


"Tunggu," Starla merasa ada yang tidak beres hanya ia tidak ingat apa itu.


Apa...


"Sudah ya, Kakak!"


Apa...


Starla akhirnya mengingatnya. "Denis tunggu—" sayangnya ia sudah terlambat, Denis sudah keburu pergi. "Katup ban mobilnya copot..." keluhnya. Ia yakin sehabis pulang sekolah, Denis bakal protes habis-habisan padanya.


'Terserah.'


Starla mengambil ponselnya mau mengirim pesan ke Luna apakah busnya sudah lewat di pemberhentian di dekat rumahnya, dan pada saat itu juga ia menyadari bahwa ponselnya sedang di mode senyap yang mengakhiri rasa penasarannya kenapa alarm ponselnya tidak berbunyi.


Starla memang suka mengganti mode ponselnya ke senyap ketika menggambar, ia butuh konsentrasi tinggi ketika menggambar, ponsel adalah musuh utamanya karena bisa mengganggu konsentrasinya, yang awalnya hanya mengecek pesan atau telepon, sering berakhir membuka media sosial berjam-jam jadi ia memutuskan untuk mengganti mode senyap sampai selesai menggambar.


Setelah Starla mengirim pesan pada Luna, ia melanjutkan lagi langkah kakinya menuju titik pemberhentian bus sekolahnya, sedikit dipercepat takut-takut sudah sampai di sana.

__ADS_1


"Hm, hm, hm..." bibir Starla bersenandung ria menikmati kebebasan pertamanya ini, bahkan gedung dan rumah yang dilewatinya terlihat begitu indah dipandang, seakan berkilauan di matanya; sudah berapa lama ia ingin merasakan semangat seperti ini lagi? Perasaan semangatnya yang berkumpul di dadanya seakan ingin meledak. "Oh," terlalu menikmati hingga tidak menyadari ia sudah sampai di titik pemberhentian bus, di sana ada dua gadis yang berseragam sepertinya yang menandakan bila busnya belum sampai kemari.


Starla beruntung kali ini.


"Oh," ponselnya berdering, ia mengecek, yang ternyata dari Luna, berisikan bus sekolah belum sampai dikarenakan terjebak macet meski cuma sebentar, ia memutuskan untuk tidak membalasnya karena busnya akhirnya tiba di tempatnya, ia juga dapat melihat Luna di dalam melambaikan tangan ke arahnya; ia membalas melambaikan tangan juga, barulah masuk setelah dua gadis tadi yang datang terlebih dulu.


"Akhirnya kau berhasil juga." kata Luna.


Starla mengibaskan rambut hitamnya penuh rasa bangga. "Starla Annora dilawan."


Luna tertawa kecil. "Kita mau duduk di lantai berapa?" tanyanya.


Starla melirik keliling bus, dan ia baru menyadari jika kondisi bus tidak seramai yang ia kira melihat tempatnya titik itu pemberhentian terakhir bus sekolahnya. "Apakah kondisinya selalu begini?"


"Tidak," sahut Luna. "Biasanya penuh tapi ada penambahan satu bus lagi kemarin jadi sedikit berkurang." jelasnya. "Bukankah bagus? Kita bisa memilih kursi, selama ini aku selalu berdesakan di sini bahkan kalau sedang sial, aku bisa berdiri sampai sekolah." omelnya, mengingat ada lelaki yang tak mau bertukar dengannya.


Tidak tahukah mereka bahwa orang lanjut usia, orang difabel, wanita hamil diutamakan untuk duduk di kendaraan umum? Luna memang tidak hamil tetapi ia kan perempuan jelas lebih membutuhkan.


Starla tidak berani tertawa maupun berkomentar, ia tidak mau memancing amarah Luna, biarlah ia menjadi tempat mengeluh, ia sedang berada di mood yang baik juga. "Hm," matanya mencari kursi yang kosong dan hanya ada di bagian belakang saja kalaupun ada yang kosong hanya ada untuk satu orang saja. "Bagaimana kalau kita cek lantai atas?"


Luna mengangguk, dan berjalan menuju ke lantai atas diikuti Starla dari belakang.


"Hm..." Luna berpikir. "Kita bisa tetap duduk berdekatan, kau di depan, aku di belakang, atau sebaliknya... ?" sarannya.


Itu bukanlah ide yang buruk hanya saja kursi yang kosong di samping lelaki semua.


"Bagaimana kita ke lantai bawah saja?" tanya Starla. "Di sini cuma ada cowok."


"Apa?" Luna menatap Starla tidak percaya. "Duduk saja, busnya sudah jalan dari tadi." perintahnya.


Starla ingin protes lagi hanya saja diurungkan, memang niat lainnya juga ingin melihat lelaki tampan, meskipun bukan berarti harus duduk dengan mereka. Ia pun berjalan menghampiri ke seorang pemuda yang duduk sendirian di bagian depan, ia tak bisa mengira apakah pemuda itu tertidur atau tidak karena terhalang oleh topi sekolah.


'Dia rajin sekali pakai topi sekolah.' kata Starla dalam hatinya.


"Permisi," kata Starla sopan. "Bolehkah geser sebentar? Aku mau duduk." pintanya halus.


Pemuda itu membenarkan letak topinya agar bisa melihat jelas siapa yang membangunkan tidurnya, mengetahui seorang gadis, ia segera merespon cepat. "Boleh," sahutnya singkat, ia bangkit berdiri agar Starla bisa duduk di pojok.


Starla sendiri sedikit syok; perasaannya saja ataukah pemuda itu memiliki mata abu-abu seperti lelaki yang ditemuinya kemarin? Ia tidak terlalu yakin sebab tadi hanya melihat sekilas saja; ia pun duduk dengan perasaan penasaran apakah matanya benar, sayangnya pemuda itu menurunkan topinya lagi hingga membuatnya kesulitan menganalisa lebih jauh.

__ADS_1


Starla ingin bertanya pada Luna tetapi yang dibicarakan olehnya kan ada di sampingnya, pasti pemuda itu akan mendengar bahkan mungkin bisa tersinggung digosipkan.


'Kenapa lelaki yang membuatku tertarik selalu mengenakan masker?' keluh Starla dalam hati.


Mengingat masker, Starla menyadari bahwa ia tidak mengenakan juga, batuknya memang tidak separah kemarin hanya saja tetap harus berjaga-jaga.


Nasehat Gea sungguh-sungguh tertanam di kepalanya. Di mana juga temannya satu itu? Seingatnya Gea juga naik bus kalau sekolah.


Starla mengambil sisa masker di dalam tasnya, kemudian memakainya, ketika melakukannya seluruh isi tasnya jatuh karena ia belum menutupnya. "Ah,"


Lagi-lagi.


Cerobohnya dirinya.


Tidak ingin membuat pemuda di sampingnya terganggu, Starla segera mulai mengambil barang miliknya yang terjatuh, ia sukses mengoleksi semuanya hanya tinggal satu yaitu lip gloss miliknya, karena ringan jadi menggelinding di depan kaki pemuda itu.


Starla sedikit ragu mengambilnya, haruskah ia menunggu bus berhenti atau tidak, jika menunggu ada kemungkinan lip gloss-nya akan terinjak mengingat jaraknya yang dekat namun, ia juga tidak bisa mengambil tanpa bersentuhan dengan pemuda itu.


"Aku rasa, aku akan mengambilnya habis dia pergi." gumam Starla pasrah dengan keadaan.


Lip gloss itu memang tidaklah mahal hanya saja ia membelinya dengan menggunakan uangnya sendiri, sebagai kebanggan sendiri.


"Butuh bantuan?"


"Eh?" Starla terkesikap pemuda itu mengeluarkan suaranya, dan lagi ia merasa suara pemuda itu juga tidak asing, suaranya hampir sama dengan lelaki kemarin. Sebelum sempat ia merespon, pemuda itu mengambil lip gloss di antara kakinya dan menyerahkan padanya. Ia tidak buru-buru mengambilnya, ia membiarkan diri mengambil kesempatan melihat mata pemuda itu, dan dugaannya itu benar jika memang pemuda itu yang ditemui olehnya kemarin, tahi lalat di mata kiri serta mata abu-abu mengkonfirmasi dugaannya. Dengan senyum simpul, ia mengambil lip gloss di tangan pemuda itu. "Terima kasih."


Pemuda itu mengangguk, kali ini tidak melanjutkan tidurnya justru menatap ke depan, memandang pemandangan di luar.


Pipi Starla memanas, tidak menyangka akan bertemu lagi dengan lelaki kemarin dan juga mereka satu sekolah, ia berpikir-pikir dari kelas mana pemuda itu, ia belum pernah mendengar ada salah satu siswa dari Eropa di sekolahnya.


'Apakah dia itu anak baru yang dibicarakan?'


Bukankah anak baru itu dari Jepang bukan Eropa?


Mungkin pemuda itu adik kelasnya mengingat Starla tidak terlalu mencari tahu soal mereka.


Apa pun itu, pemuda itu berhasil mendapat perhatian darinya.


Misi ini tidak berakhir terlalu buruk juga...

__ADS_1


__ADS_2