
Starla membuka matanya yang terasa berat, matanya mengerjap-ngerjap mencoba fokus.
"Uh," erangnya pelan.
Luna yang berada di sampingnya, "Kau sudah bangun, La?"
Starla menoleh perlahan. "Luna... ?"
Luna mengangguk. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya cemas.
"Seperti habis ditabrak kuda," sahut Starla sambil memegangi kepalanya. "Di mana ini?"
"Ruang kesehatan, kau pingsan tadi." kata Luna. "Kak Ao yang membawamu kemari."
Starla langsung bangun dari tidurnya. "Kak Aozora!?" serunya, sebelum kembali lagi tidur karena tubuhnya masih lemas. "Jangan kau bergurau... Luna." katanya; di saat seperti ini justru menggodanya.
"Aku tidak bergurau, dia yang membawamu kemari," kata Luna. "Kau tidak ingat apa-apa sebelum pingsan, La?" tanyanya sambil menuangkan air ke dalam gelas.
Starla bangun dibantu oleh Luna. "Huuh...?" sebelum pingsan? Ia mengambil gelas yang disodorkan Luna dan meminumnya. "Aku..." ia mencoba mengingat apa yang terjadi. "Ah, ya kau benar ada Kak Aozora."
"Kak Ao sesungguhnya ingin menemanimu tetapi tidak bisa karena dia lelaki, tidak memiliki hubungan darah denganmu, jadi aku yang menunggumu." kata Luna.
Starla tersentuh mendengarnya, mengingat ia tadi sampai berteriak saat mengobrol dengan Aozora. "Sudah berapa lama aku pingsan?"
"Berapanya tidak penting. Kau mau aku panggilkan Ibu Susi? Biar dikasih obat atau diperiksa lagi?" tanya Luna.
Starla baru menyadari di ruangan tidak ada siapa-siapa kecuali ia dan Luna. "Bu Susi ke mana memangnya?"
"Ada urusan sebentar katanya," kata Luna.
"Kalau begitu ayo ke kelas." kata Starla.
"Kenapa?" tanya Luna bingung.
"Aku tidak mau ditanya-tanya soal kenapa aku bisa pingsan, Luna," kata Starla. "Aku tidak mau ada yang tahu soal kesehatanku."
"Oh," Luna teringat. "Aku bantu kau berdiri kalau begitu," ia meletakan tangan Starla di bahunya, membantu berdiri serta memakai sepatu.
"Aku baik-baik saja," Starla menjauhkan dirinya. "Ayo kembali."
"Ya," sahut Luna sekenanya. "Meskipun lebih enak di sini."
Mata Starla menyipit. "Kau hanya ingin bolos belajar kan?"
Luna nyengir tak berdosa; ketahuan. "Namanya juga orang usaha,"
"Usaha bolos," sindir Starla.
***
Starla mengembuskan napasnya.
Mungkin tetap tiduran di ruang kesehatan benar adanya.
"Kau mau aku belikan bubur ayam?" tanya Luna.
Starla menguap kecil. "Aku tidak lapar," sahutnya pelan, meskipun penyakitnya sudah hilang, rasa mulai di perutnya masih sedikit terasa.
"Ya, kau benar-benar butuh bubur ayam dan air hangat." kata Luna setelah cukup lama memperhatikan wajah Starla.
"Apa? Apa kau tidak dengar aku bilang apa?" tanya Starla.
"Wajahmu pucat, kau butuh makan karena tadi kau menolak menunggu diperiksa Bu Susi." Luna menasihati. "Aku tidak menerima protes darimu."
Starla ingin berbicara namun, ditelan lagi, tak ada gunanya berdebat dengan Luna; memang benar ia butuh, tubuhnya masih lemas hingga sekarang. "Terserah kaulah..." katanya pasrah, ia menyatukan kursi miliknya dan Luna terus tidur meringkuk di sana.
"Ayo, Ge." kata Luna.
"Sebentar aku ambil uang dulu." kata Gea, masih mencari uang pecahan dua puluh ribu di dalam tasnya.
Luna memutar bola matanya; aneh melihat Gea tidak rapih seperti biasa.
Gaea menemukan uangnya di antara buku miliknya. "Ayo,"
Mereka pun pergi.
Suasana kelas mulai sepi, Starla bisa menutup matanya dan bersiap tidur.
Menyenangkan teman-temannya peduli sekali dengan kesehatannya, ia merasa ia berarti bagi mereka.
"Starla!"
Mata Starla terbuka lebar mendengar teriakan tepat di dekat telinganya, ia bangun dari tidurnya. "Iqbal?" ia tidak percaya yang membangunkannya tadi adalah Iqbal. "Kau ini ada apa lagi, hah?"
__ADS_1
"Ada yang mencarimu di depan, La," sahut Iqbal. "Anak baru." tanpa menunggu jawaban, ia langsung pergi keluar untuk makan.
Starla sendiri membeku di tempatnya.
Anak baru?
Mata Starla tertuju ke pintu kelasnya, ada sosok pemuda yang tengah bersandar di sana dengan tangan di masukan ke dalam saku celananya. "Kak Aozora?"
"Sepertinya gosip mengenaimu dan Kakak kelas itu benar ya. La." kata Ayu yang sejak tadi diam memperhatikan.
"Eh? Gosip apa?" tanya Starla; ia memang mendengar jika ada gosip di antaranya dan Aozora namun, ia belum jauh mendalami gosip apa itu.
"Kalau kalian pacaran," sahut Ayu tanpa beban sama sekali. "Kasihan Guntur."
Starla syok mendengarnya. "Aku tidak pacaran dengan Kak Aozora. Kau jangan percaya gosip, Yu."
"Masa?" Ayu sama sekali tidak percaya. "Dia menggendongmu seperti Tuan Putri menuju ruang kesehatan tanpa peduli orang banyak, pulang bersama juga, maka dari itu aku kira kalian pacaran." jelasnya.
Starla menepuk keningnya; bagaimana bisa menolong seseorang di kategorikan romantis? Ia pingsan bukan sadar. "Ya, tapi kami tidak," walaupun ia ingin berkata iya.
"Eh? Sungguh?" mata Ayu berbinar-binar, kali ini percaya. "Kalau begitu jodohkan aku dengan dia, La. Kirim salam dariku buat Kak Ao~"
Starla berusaha menahan kecemburuannya. "Akan aku usahakan."—atau tidak.
"Sungguh!?" Ayu semangat sekali. "Terima kasih, La."
Starla bangun dari duduknya. "Ya, ya," jawabnya sekenanya; ia sedikit gugup bertemu Aozora mengingat pemuda itu melihat dirinya yang menyedihkan. Ia sungguh malu bahkan saat menyapa tak menatap mata Aozora. "Ada apa, Kak?"
Aozora berhenti bersandar di pintu, "Aku hanya ingin melihat keadaanmu," sahutnya.
"Aku baik-baik saja," kata Starla masih tak mau menatap Aozora. "Terima kasih juga ya sudah menolongku, Kak. Terima kasih sekali." ia berusaha mempersingkat obrolan mereka, segera kembali masuk ke dalam kelasnya tapi ditahan oleh Aozora, ia menggigit bibirnya. "Ada apa lagi, Kak?"
"Aku membawa makanan untukmu." kata Aozora.
"Eh?" akhirnya Starla menatap Aozora, ia terkejut melihat sebuah kotak bekal yang berada di tangan pemuda itu. "Untuk aku?"
Aozora mengangguk. "Kau butuh banyak vitamin karena tadi," ia berusaha sehalus mungkin. "Kita bisa makan bersama jika mau."—ia mengeluarkan sebungkus roti.
Starla menaikan alisnya. "Kakak yakin makan siang Kakak tidak tertukar?"
Aozora mengangguk. "Ya, aku suka makan siang dengan roti," katanya menggaruk belakang lehernya gugup. "Dan susu ultra rasa stroberi..." ia terbatuk setelahnya; rasanya ia ingin menghilang saat berkata: stroberi.
Starla tertawa.
Aozora pembohong yang payah.
"Tidak kelasmu?"
Starla menyeringai kecil. "Kalau Kakak suka digoda temanku, aku tak apa makan di dalam kelas~?"
"Kita makan di gazebo saja," sahut Aozora tanpa basa-basi langsung berjalan ke tempat gazebo berada.
Starla tertawa, syukurlah Aozora tidak suka dikerumuni perempuan macam playboy jika iya, ia yakin akan terkena darah tinggi karena harus melihat Aozora digoda banyak gadis di sini. Ia menghampiri, membuka kotak bekal pemberian Aozora untuknya, "Ini isi menu makan siangmu, Kak?"
"Ya—" Aozora sadar telah dijebak, ia buru-buru menambahkan. "Maksudku... ya itu menumu. Aku membelinya di supermarket."
"Tidak ada supermarket yang menjual makanan kotak selengkap ini, Kak." kata Starla, menggoda.
"Tidak ada!?" Aozora terkejut mendengarnya. "Maksudku... tentu saja," ia mengembuskan napasnya akan kecerobohannya. "Tapi ada di dekah rumahku."
Starla sebenarnya masih bisa menggoda lagi tetapi diurungkannya karena sudah cukup puas melihat tingkah 'bersalah' Aozora, "Aku makan ya~"
Aozora melirik roti di tangannya. "Ya, itadakimasu..."
Starla tidak enak melihat Aozora hanya memakan roti dan susu, "Kak, kita bisa membaginya menjadi dua."
"Tidak," Aozora menjawab singkat, menggigit roti di tangannya.
"Aku tak apa, kurasa ini kebanyakan." kata Starla, nanti juga ia dapat bubur ayam dari Luna dan Gea.
"Makan saja Starla-san." kata Aozora. "Atau kau ingin aku mendiamkanmu?"
Starla syok.
Tidak salah dengarkah ia? Aozora mengancamnya? Aozora?
Ini sungguh-sungguh baru.
Starla sampai menjatuhkan sendoknya.
'Apa membagi makanan yang diberikan oleh mereka itu masuk ke tidak sopan, ya?' Starla bertanya-tanya dalam hatinya.
Tidak ingin membuat marah Aozora, akhirnya Starla makan dalam diam tak berani bertanya sama sekali atau menatap pemuda itu hingga ia tak menyadari senyum samar Aozora.
__ADS_1
"Kau suka menggambar, ya?" tanya Aozora setelah mereka selesai makan.
"Aku tidak," sahut Starla gugup.
"Aku melihat banyak gambar di belakang bukumu." kata Aozora.
"Oh!"
Pasti Aozora yang memunguti barang-barangnya yang berjatuhan sewaktu ia panik mencari obat di dalam tas.
"Ya, aku suka menggambar," Starla mengakuinya.
"Sudah berpikir untuk menjadi Mangaka?" tanya Aozora.
"Ya," sahut Starla pelan. "Tapi tidak ada gunanya, di sini sulit berkarir menjadi Mangaka."
Aozora berpikir, "Di sini tidak banyak perusahaan majalah komik?"
Starla menggelengkan kepalanya kecewa. "Memang ada sih, tetapi aku masih belum yakin dengan kemampuanku."
"Kita tidak tahu sebelum mencoba, kan?" kata Aozora lembut. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Starla-san."
"Aku..." keras pada dirinya sendiri? Mungkin.
"Aku iri padamu." Aozora mengakui.
Mata Starla melebar. "Iri?"
Aozora mengangguk. "Kau sudah memiliki tujuan di masa depan tetapi aku sama sekali belum menemukan tujuanku, aku memang suka mengunjungi negara lain, tapi ya hanya sebatas suka bukan tujuan."
"Banyak temanku yang belum tahu apa yang mereka inginkan," kata Starla menyemangati.
"Orang sepertiku tidak memiliki kebebasan kekal." kata Aozora. "Mungkin aku hanya akan meneruskan Ayahku, menjadi seorang Investor."
"Investor?"
Apa maksudnya juga orang seperti Aozora memiliki kebebasan yang sedikit? Apakah pemuda itu juga memiliki masalah dengan Orang Tuanya?
Aozora mengangguk. "Sejujurnya aku sudah memulainya tetapi aku masih memakai nama Ayahku karena waktu itu umurku masih lima belas tahun."
"Lima belas tahun... sudah bermain saham... ?" dan Aozora masih bingung akan tujuan hidup? Starla tidak mengerti jalan berpikir pemuda itu.
Kenapa setiap kali berbicara serius dengan Aozora, ia merasa seperti bicara dengan Dokter? Apakah efek dari bisnis saham itu?
"Tubuhmu sudah baikan?" Aozora mengganti topik pembicaraan.
Starla mengangguk, mualnya pun sudah hilang, mungkin benar kata Luna jangan memanjakan tubuh.
"Syukurlah, kau harus minum obat juga kan?" tanya Aozora, melirik makanan yang sudah habis dimakan Starla namun nihil tidak ada obat di sana.
Starla menggeleng, "Aku tidak diperiksa, aku baik-baik saja, yang aku alami bukan penyakit biasa."
"Aku tahu," kata Aozora tertunduk sedih.
"Kakak tahu?"
"Ada kemungkinan kau terkena panik atau cemas berlebihan, bisa dilihat dari gejalamu tadi." kata Aozora. "Meskipun tidak bisa menyimpulkan semudah itu."
Tebakan Aozora tidak sepenuhnya salah, tetapi ia menderita PTSD bukan panik atau cemas berlebihan, "Kakak tampaknya tahu soal itu, ya?"
Aozora mengembuskan napasnya pelan, "Karena adik perempuanku memilikinya juga,"
"Aku..." Starla kehilangan kata-katanya, sungguh tidak menyangka ini. "Maafkan aku, Kak." sesalnya sedih.
Pastinya Aozora teringat Adiknya ketika melihat dirinya kambuh tadi pagi.
"Tak apa, dia sudah bahagia,"
"Syukurlah," Starla mengembuskan napasnya lega. Ia tak bisa membayangkan betapa susah Adik Aozora menghadapinya sebab ia merasakannya juga, butuh waktu satu tahun lebih ia bisa kembali menjadi dirinya sendiri, berkat dukungan keluarganya dan temannya di sini membuatnya semangat berjuang melawannya.
Sulit namun, Starla bisa melewatinya.
Untunglah Adik Aozora sudah tak apa-apa, meskipun penyakit mental terkadang bisa kambuh lagi sepertinya tadi.
Setelah termenung lama, Aozora bangkit berdiri. "Aku kembali ke kelas, Starla-san."
"Oh, baiklah," kata Starla.
Aozora melambaikan tangan, melangkah pergi menyebrangi lapangan dengan kedua tangan di masukan ke dalam celananya.
Starla merasakan ada yang aneh dengan Aozora, mungkin topik Adiknya sensitif bagi pemuda itu, kan tak sengaja menyinggung hal tersebut tetapi ia tetap sedikit tidak merasa enak.
Note :
__ADS_1
PTSD sebuah penyakit mental yang penderitanya memiliki traumatis pada suatu kejadian yang tidak ingin diingatnya
Starla ini kena bullying, jadi pas liat Lala, dia jadi keinget dirinya dulu, ya seperti itulah nanti bakal lebih jelas lagi soal ini...