The Lovely One

The Lovely One
Bab 9 : Mengenal Lebih Dekat


__ADS_3

Starla belum pernah merasa se-semangat ini pulang sekolah; maklum karena ada Aozora di sampingnya siapa yang tidak semangat? Walaupun ia sempat merasa tidak nyaman dikarenakan beberapa murid memperhatikan mereka berdua, saling berbisik, selain itu ia senang.


Aozora tidak banyak berbicara membuat harapan Starla sedikit turun jika pemuda itu tidak menaruh rasa tertarik padanya.


Annora mau sampai kapan pun akan terus mempengaruhi hubungannya dengan lelaki.


Mereka berhenti tepat di antara dua bus sekolah.


"Kau mau naik yang mana?" tanya Aozora.


"Eh? Memangnya berbeda?" Starla bertanya balik.


Aozora mengangguk. "Bus yang satunya lagi, kursinya berderet panjang tanpa penghalang seperti kursi kereta MRT Jakarta,"


"Oh," Starla sejujurnya belum pernah naik kereta, menyedihkan bukan? Ia tidak memiliki pilihan, meski begitu ia pernah melihat di berita saat acara peresmian kereta tersebut, ia berharap banyak yang ramai dan menyadari kendaraan pribadi menyebabkan pemanasan global. "Aku mau bus yang kita naiki tadi pagi. Bagaimana denganmu, Kak?"


"Kalau begitu ayo cepat ke sana sebelum busnya penuh." kata Aozora.


Starla mengangguk dan segera masuk ke dalam bus; untunglah Aozora tidak banyak maunya, berada di bus yang pertama bisa sedikit membuatnya nyaman dari tatapan mata murid-murid lain.


"Tunggu sebentar," Aozora berkata, kemudian naik ke atas untuk mengecek apa ada kursi yang kosong atau tidak, lalu balik turun saat mengetahui ada yang kosong. "Ayo duduk di atas."


Starla yang tadinya sempat mengira Aozora ingin duduk secara terpisah, mengangguk, segera naik ke atas, seperti tadi pagi, Aozora mempersilakan ia duduk di bagian dekat jendela.


Starla sedikit kaget tidak dapat menemukan Luna di bus, dan tentu lega mengetahuinya, tahu sendiri godaan Luna seperti apa.


Starla iseng melirik Aozora yang berada di sampingnya, dan terkejut melihat pemuda itu sedang membaca buku sejarah di tangannya; ia merasa dirinya sebagai murid yang rajin tetapi setelah melihat Aozora, ia merasa ia bukanlah apa-apa. "Kakak rajin sekali, ya?" ia memberanikan diri bertanya.


Aozora menoleh. "Oh, aku memang tertarik membaca sejarah Indonesia," sahutnya. "Semenjak di Bali, aku begitu mengagumi Bung Karno. Kau tahu Bung Karno memiliki julukan 'Putra Sang Fajar'? Hebat sekali. Sayang sekali tidak ada materi buat mempelajari pahlawan daerah, hanya nasional saja."


"Bali?"


Jadi ini bukanlah pertama kalinya Aozora ke Indonesia.

__ADS_1


"Aku menetap selama enam bulan di Bali, aku menyukai budaya mereka dan memang benar jika Indonesia negara yang ramah. Semenjak itu aku tertarik berkunjung ke kota lain," jelas Aozora.


Starla takjub, memang ada beberapa turis yang jatuh cinta setelah berkunjung ke Indonesia namun, mendengar langsung dari turisnya membuatnya bangga; dan Aozora di usia segini sudah bisa keluar negeri, sedikit membuatnya iri; normal kan? Ia mati-matian cuma mau naik bus umum sementara Aozora sudah naik pesawat keluar negeri. "Eh? Kalau begitu kenapa Kakak sekolah?" tanyanya.


"Aku juga butuh Starla-san, aku baru delapan belas tahun," sahut Aozora. "Meskipun aku sedikit kaget dengan sistem sekolah di sini..."


"Kakak kaget?"


"Di Jepang tidak ada jurusan IPA atau IPS, mereka juga tidak ada ulangan." kata Aozora. "Aku sempat ditawarkan masuk IPA tetapi aku menolak karena keahlianku lebih ke IPS."


"Oh," untuk pertama kalinya ia mendengar ada orang yang menolak masuk jurusan IPA. "Lalu kenapa Kakak memakai kacamata?" ia menyadari Aozora mengenakannya, terlihat lebih dewasa dan tampan di matanya.


"Aku memiliki mata plus," sahut Aozora. "Aku tidak bisa baca tulisan kecil."


"Oh, tentu saja." Starla tidak tahu bagaimana rasanya karena ia memiliki mata normal, plus- minus memiliki kekurangan, syukurlah ia normal.


Hening...


Starla mengembuskan napasnya; ia tidak percaya obrolan mereka dimulai karena pelajaran sejarah, pelajaran yang tadinya membuatnya kesal tidak bisa istirahat dan bertemu Aozora di kantin, benar-benar.


"Eh? Kenapa?"


"Kata ketua klub, tidak ada murid kelas satu yang masuk di sana," jelas Aozora sedih. "Jadi dengan begitu tidak akan ada penerus, daripada dipaksakan lebih baik klub ditutup."


"Oh," Starla tidak mengetahuinya, ia pun akan sedih juga jika klub yang disukainya tutup karena kurang diminati. "Kan ada klub bahasa Jepang, Kak." ia menyarankan.


"Aku kemari karena tertarik belajar kebudayaan Indonesia, Starla-san." Aozora kembali mengingatkan dengan senyum kecilnya.


"Oh, tentu saja." sahut Starla malu; untuk apa ikut klub bahasa Jepang jika Aozora berasal dari negara tersebut. Memalukan sekali ia.


Dan ia juga tidak percaya seorang turis dapat lebih peduli tentang kebudayaan Indonesia dibanding dirinya, ia merasa malu.


Starla melirik keluar jendela, di saat itulah ia merasakan sesuatu menyentuh punggungnya, ia pun melirik ke belakang untuk melihat dan syok mengetahui itu sebuah jemari tangan, ia segera memajukan sedikit duduknya agar tak mengenai punggungnya lagi, ia menganggap itu hanya kebetulan semata hingga akhirnya beberapa menit kemudian ia merasakan lagi, kali ini menyentuh bawah ketiaknya seperti mengarah ke dadanya. Ia mengetes sekali lagi dengan dengan memajukan duduknya dan benar terjadi lagi walaupun hanya mengenai punggungnya karena mungkin terlalu jauh.

__ADS_1


Emosi serta malu bercampur aduk, Starla memundurkan tubuhnya sedikit, jika tangan itu menyentuhnya lagi, ia akan memberikan pelajaran, dan benar terjadi lagi.


'Melakukan pelecahan di bus?'


Starla yang hendak menangkap tangan itu tetapi Aozora sudah mendahuluinya, ia syok melihat pemuda itu memelintir tangan orang tersebut yang mendapat erangan kesakitan dari pemilik tangan itu.


Aozora berdiri, masih memegangi tangan yang menyentuh Starla, ia berjalan menuju kursi di belakangnya. "Kau benar-benar mengetes kesabaranku," katanya sambil menghentakan tangan itu dengan kesal. "Tindakanmu itu rendah sekali."


"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa-apa," sahut pemuda itu dengan polosnya. "Jangan memfitnah orang sembarangan, hey anak baru."


"Kau," Aozora benar-benar naik pitam.


Starla langsung mendekati ketika melihat situasi semakin panas. "Sudah Kak, tidak apa, jangan membuat keributan." katanya.


"Maafkan aku," kata pemuda itu setelah mengetahui jika incarannya adalah Starla Annora. "Aku tidak tahu kalau itu Starla."


Starla berpikir; jadi jika bukan dirinya, pemuda itu takkan mengakui perbuatannya? Nampaknya juga ini bukanlah pertama kali pemuda itu melakukannya.


Sudah berapa banyak korban? Memang ada beberapa perempuan yang takut melapor karena mendapat pelecehan di tempat umum dan menganggap sebagai aib jika melapor.


Starla termenung memikirkannya; ia termasuk dalam kategori perempuan itu. "Kak, sudah cukup." pintanya lagi sedih.


Aozora masih ingin memberikan beberapa kata nasehat namun, melihat begitu banyak murid lain mulai menatapnya, ia menurut, sebelum kembali ke tempat duduknya, ia berkata ketus. "Kau harusnya malu pada dirimu sendiri ditolong oleh korbanmu."


Starla kembali duduk, mengambil napas serta mengeluarkannya berkali-kali.


"Kau baik-baik saja?" tanya Aozora cemas. "Kita bisa melaporkan ini keβ€”"


"Tidak!" Starla memotong cepat. "Aku tidak suka membesar masalah, dia juga tidak benar-benar menyentuhku, Kak." katanya gugup.


"Starla-san, aku melihatnya sendiri, jangan berbohong." kata Aozora.


"Sudah kubilang tidak usah!" bentak Starla yang sukses membuat orang-orang kembali tertuju padanya, ia pun tertunduk menyesal. "Maaf Kak... aku tidak bermaksud berteriak padamu." sesalnya.

__ADS_1


"Aku mengerti," sahut Aozora setelah pulih dari syoknya. "Aku menghargai keputusanmu, Starla-san."


"Terima kasih," kata Starla lemah, lalu memandang kosong keluar jendela.


__ADS_2