
"Maksudmu misi apa?" tanya Starla. "Aku tidak jatuh cinta dengan dia, jadi buat apa kau membuat misi segala?"
"Ya kau benar, dan aku ini Saras 008." sindir Luna. "Dengar, aku tidak akan berdebat soal perasaanmu, jika kau tidak mau tahu tentang dia, aku tidak memaksa, tetapi aku akan tetap mencarinya karena dia 'boyfriend material'," pancingnya.
Starla merasakan darahnya mendidih. "Apakah Kak Rendy dan Kak Sandy belum cukup buatmu?" tanyanya ketus.
"Aku cewek lajang, aku boleh melihat cowok mana saja," sahut Luna santai. "Kemungkinan dia anak baru menurutku, aku belum pernah melihat dia naik bus sebelumnya jadi tinggal mencari tahu dia masuk kelas mana."
Starla di lain sisi tidak yakin pemuda itu yang dibicarakan teman-temannya, wajah pemuda itu cenderung ke Eropa daripada Jepang atau mungkin pemuda itu berdarah campuran. Ia teringat saat pemuda itu memanggil namanya tadi di bus, suaranya terdengar begitu lembut di telinganya ketika mengucapkan namanya. Ia menggelengkan kepalanya, bukan saatnya mengkhayal; fokus, ia teringat pemuda itu memanggil namanya dengan suffix 'san' yang menandakan pemuda itu dari Jepang.
Mungkin memang berdarah campuran.
Double combo.
Starla memasuki kelasnya, keadaan di dalam ramai seperti biasa, ada yang bermain atau mengerjakan tugas sekolah, ada juga yang membicarakan anak baru itu.
"Anak baru itu katanya mulai sekolah hari ini." salah satu teman sekelas Starla berbisik.
"Sungguh? Aku harap dia masuk kelas kita," sahut gadis yang berada di sampingnya.
Starla duduk di bangkunya, rasa gelisah menghampirinya, panggil ia aneh tetapi ia berpikir bisa sekelas dengan pemuda itu bukanlah ide yang bagus, menyenangkan memang bisa melihat wajah pemuda itu setiap hari, di saat pelajaran membosankan namun, ia yakin akan mempengaruhi nilai pelajarannya, makanya ia selalu melarang dirinya memiliki pacar sekelas—
'Apa? Pacar!?'
Starla menepuk keningnya, ia berpikir terlalu jauh.
"Ada apa denganmu?" tanya Luna. "Masih terbayang Dilan-mu?"
Starla memutar bola matanya; acuhkan, dan Luna akan berhenti.
"Starla sedang ditahap penolakan." kata Luna. "Nanti kau akan ditahap penerimaan." lanjutnya. "Dan akhirnya ditahap terakhir yaitu mentraktir aku dan Gea. Traktiran. Pajak jadian."
Luna sungguh-sungguh tidak tahu kapan harus berhenti.
"Bicara Gea, dia belum datang." kata Starla melihat kursi di depannya masih kosong, padahal sudah mau masuk tapi masih belum ada tanda-tanda keberadaan temannya yang satu itu.
"Dia mengirim pesan padaku kalau besok datangnya sedikit siang, katanya semalam habis teleponan sampai larut," sahut Luna.
"Dia jatuh cinta begitu dalam." kata Starla; tentu ia senang mendengar hubungan Gea yang harmonis namun, perasaannya yang masih belum menerima Ferdian sepenuhnya menjadi acuan penilaiannya; ia tentu ingin mendukung namun, entah kenapa begitu sulit, diperparah Ferdian juga tidak pernah mau jalan bersamanya dan Luna.
"Kau akan merasakannya juga, La." Luna mulai menggoda lagi.
Starla memutar bola matanya.
Temannya satu ini juga tidak bisa diam sama sekali.
Kenapa lama sekali bel sekolah?
***
"Kalian kerjakan dua soal ini, kalau sudah selesai, kalian bisa maju, kalau benar akan dapat nilai lebih dari Bapak."
"Ya, Pak."
Setelahnya suasana kelas hening, semuanya mulai sibuk menghitung, kecuali Starla yang sejak tadi tidak fokus, melihat soal apa yang harus dikerjakan olehnya sekali lagi.
Soal pertama : tentukan nilai dari sin 105° + sin 15°
Soal kedua : buktikan bahwa sin4 α – sin2 α \= cos4 α – cos2 α
Starla menulis soal tersebut di bukunya, dan mulai mengerjakannya, karena tidak fokus, ia melihat lagi contoh dari Pak Agus. "Ini buruk, aku tidak mengerti..." gumamnya putus asa.
__ADS_1
"Ya!" Luna yang berada di sampingnya menyahut. "Kepalaku rasanya meledak!" serunya frustasi. "Kenapa ini harus terjadi padaku... ?" kini nadanya sedih. "Aku benci trigonometri."
Starla tidak menjawab, ia justru menyukai matematika, ketika berhasil memecahkan soal yang begitu sulit itu menjadi kepuasan tersendiri baginya apalagi ia yang menjadi orang pertama yang memecahkannya, bagai terbang di langit.
Sekarang? Pikirannya tidak fokus, karena pemuda itu. Ia sudah seperti ini semenjak Pak Agus masuk ke kelasnya, yang berarti buruk baginya, nilainya.
"Aku harus mengerjakan ini." Luna menyemangati dirinya. "Aku tidak mau Pak Agus mengomel dengan bahasa sundanya."
Starla tertawa kecil. "Abni anu tambah pinter. Aranjeun tetep bodo." (Aku yang tambah pintar, kalian tetap bodoh.)
"Sstt! La jangan keras-keras." seru Luna. "Nanti Pak Agus bisa dengar."
"Maaf deh, tapi aku tidak bisa menahan diri, meski itu sindiran buat kita, tapi itu lucu bagiku." kata Starla. "Pak Agus sampai putus asa mengajar kelas kita sampai soal yang dia buat dikerjakan sendiri kemarin."
"Starla, Luna, ada yang mau kalian bagi pada Bapak?" suara Pak Agus menghentikan tawa Starla.
Starla dan Luna membeku di tempat, mereka saling melirik satu sama lain cemas, saling menyikut satu sama lain menyalahkan.
"Maaf, Pak," kata Starla.
"Kerjakan yang benar." kata Pak Agus.
Starla mengembuskan napasnya, dan melihat kembali tulisan di bukunya. "Sin 150°..." baru memulai, pikirannya balik lagi menunjukan wajah pemuda itu. "Sin 15°..." tidak mau lagi terperdaya, ia mencoba fokus bahkan bulir keringat mulai muncul di pelipisnya.
'Senang berbicara denganmu, Starla-san...' suara lembut pemuda itu terbayang lagi, kali ini ia merasa pemuda itu berbisik padanya yang membuat tubuhnya merinding aneh.
Jangan menyerah, itu akan pergi. "Sin4 a..."
'Maaf jika ucapanku membosankan.'
Starla tidak tahan lagi. "Keluarlah dari kepalaku!" serunya frustasi.
Starla menyadari apa yang dikatakannya terlalu keras, ia melirik Pak Agus ragu-ragu dan panik melihat ekspresi Pak Agus tampak marah.
"Starla Annora, sudah dua kali kau mengacau di kelas, berdiri di luar kelas sambil sebelah kakimu di angkat." perintah Pak Agus tegas.
"Tapi Pak, aku tidak sengaja." Starla berusaha membela diri.
"Keluar, Starla." Pak Agus tidak goyah sedikit pun, walaupun Starla memiliki reputasi baik di pelajarannya, ia tetap takkan tebang pilih pada murid yang telah berbuat kekacauan.
"Tapi—"
"Ceuk urang nangtung diluar!" (Berdiri di luar, aku bilang)
Starla panik, jika Pak Agus sudah berbicara bahasa sunda itu berarti Gurunya itu sudah naik pitam, ia segera bangkit dari duduknya, dan berjalan ke luar kelasnya pasrah.
"Yang kuat, La." bisik Luna menyemangati.
Starla tidak menjawab, tidak mau membuat Luna ikut ke dalam masalahnya.
'Hukuman pertamaku di sekolah dan ini karena lelaki.'
Starla mengangkat sebelah kaki kanannya ketika Pak Agus datang untuk mengeceknya; ia masih tidak percaya dirinya kalah dengan perasaannya dibanding logikanya terlebih lagi di jam pelajaran favoritnya.
Kekecewaan ganda.
Starla pernah merasakan jatuh cinta akan tetapi tidak separah ini—ia terkesikap pelan, barusan ia mengakui telah jatuh cinta pada pemuda itu? Ia menepuk keningnya. "Apa sih yang aku pikirkan." ucapan Luna melintas di kepalanya.
'Mungkin logikaku melawan naluriku jadi dia memberontak untuk mendapat pengakuan dariku?'
Mungkin ini yang dimaksud proses penerimaan yang dikatakan Luna.
__ADS_1
"Apa yang aku pikirkan..." gumam Starla. "Sudah selesaikan saja hukuman ini yang entah berapa lama..." lanjutnya sedih mengetahui tidak bisa belajar matematika.
Pluk.
Di saat Starla bersedih ria, sebuah gumpalan kertas kecil mengenai wajahnya, tentu ia syok sesaat, siapa yang tega melemparkan kertas padanya yang sudah malang ini, ia mencari siapa pelakunya—terkejut lagi itu adalah Kak Rendy, melambaikan tangan padanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rendy penasaran.
"Kau?" Starla bertanya balik pelan agar tidak membuat Pak Agus curiga dan menambah hukumannya.
"Sekarang pelajaran olahraga," di luar dugaan Rendy dapat menangkap ucapannya.
Starla menyadari jika Rendy mengenakan pakaian olahraga sekolah yang berarti kelas 3 IPS 4 sedang di mata pelajaran olahraga, ia syok melihat orang-orang di belakang Rendy sedang berbisik-bisik bahkan tertawa kecil memandang dirinya; karena tidak mungkin berteriak takut ketahuan Pak Agus, ia pun mengisyaratkan dengan gerakan bibirnya: aku dihukum.
Rendy untungnya mengerti. "Yang sabar ya!"
Starla menepuk keningnya. "Kenapa dia berteriak begitu? Teman-temannya jadi melihatku," gumamnya, walau begitu ia mengangguk.
Rendy kembali ke lapangan sambil membawa bola voli yang keluar jauh dari lapangan, ia bersiap-siap di area servis, dan melakukan servis melompat, menghasilkan servis keras yang tidak bisa dibalas oleh lawan mainnya.
Starla terkagum melihatnya, detik kemudian tertawa kecil mendengar mereka protes pada Rendy untuk berbuat adil.
Mungkin hukuman mulai berjalan dari kata buruk baginya.
Starla antusias lagi melihat Rendy bersiap-siap melakukan servis lagi, kali ini hanya melakukan servis atas yang juga bisa dikembalikan oleh lawan; perlawanan begitu ketat hingga akhirnya lawan Rendy mencetak skor.
Giliran tim lawan Rendy yang mendapat bola servis.
"Kenapa dia terlihat tidak asing." gumam Starla yang melihat lawan main Rendy mulai melakukan servis, ia sedikit kesulitan karena pohon di depan kelas menghalangi matanya, makanya sejak tadi hanya melihat tim Rendy. Ia bergeser agar dapat pemandangan lebih jelas, dan membeku mengetahui pemuda itu bermain juga. "Huh?"
Matanya tidak salah lihat?
Pemuda itu satu kelas dengan Rendy? Kenapa ia tidak pernah melihat selama ini? Atau memang benar anak baru.
Debaran jantungnya semakin cepat tak kala melihat pemuda itu bersorak gembira bersama teman yang lain ketika mencetak angka lagi.
Tanpa sengaja pandangan mata mereka bertemu, Starla otomatis memberikan senyum yang terbilang kaku yang kemudian dibalas senyum juga, hatinya terasa mencair mendapat senyum manis itu lagi. "Tidak, tidak seharusnya aku tersanjung."
Starla seharusnya merasa malu dipergoki oleh pemuda itu sedang dihukum konyol seperti ini bukan malah senang, tanggapan pemuda itu bisa jelek terhadapnya, kan?
Hukuman pertamanya ini juga dikarenakan pemuda itu juga sudah sepantasnya ia jengkel bukan mudah memaafkan begini.
Walau begitu, Starla mendapati dirinya memandang pemuda itu lagi, ia bahkan ikut merayakan dengan berdansa kecil ketika tim dari pemuda itu mencetak angka lagi.
Hukuman ini terus-terusan membaik. Tepatnya hukuman yang termanis.
"Baiklah, Starla, sudah cukup hukuman hari ini," suara Pak Agus mengembalikan Starla dari khayalan indahnya. "Kembali ke dalam kelas."
"Tapi Pak, bukankah terlalu cepat." kata Starla; ia masih mau melihat pemuda itu.
"Terlalu cepat? Ini sudah lima belas menit," kata Pak Agus.
"Eh? Sungguh?" lima belas menit begitu cepat berlalu.
"Kau terdengar kurang puas aku beri hukuman, Starla." kata Pak Agus. "Kalau begitu akan aku tambah, berdiri di depan kelas sekarang."
"Huh?" bagaimana bisa Pak Agus memberikan hukuman tambahan hanya karena sebuah ucapan, dan lagi di dalam kelas, kalau di luar mau berapa lama pun ia mau dihukum.
"Cepat, Starla." perintah Pak Agus.
"Ya, Pak," Starla menyahut kecil lalu berjalan ke dalam penuh kecewa tidak bisa melihat pemuda itu bermain lagi.
__ADS_1