
Starla yang sejak tadi masih kurang enak, meminta ijin untuk istirahat di ruang kesehatan, di sana ia akhirnya ditanya oleh Bu Sri kenapa kembali ke kelas sebelum diperiksa. Ia terpaksa berbohong karena tak ingin menceritakan tentang PTSD yang dideritanya jadi Bu Sri hanya memberikan vitamin padanya sekaligus memperbolehkan istirahat di sini.
Starla tentu senang Bu Sri sungguh pengertian, tidak memaksanya untuk berbicara apalagi menginterogasinya. Ia tertidur lelap selama satu jam tanpa gangguan lamanya terbangun karena bunyi bel pulang sekolah.
Starla bangun dari tidurnya menyadari Bu Sri tidak berada di meja kerjanya, sebelum tidur, ia masih melihat Bu Sri sedang mengerjakan sesuatu di bukunya, meskipun begitu Bu Sri meninggalkan obat vitamin yang tadi diminum olehnya, jadi ia mengambilnya sebelum keluar dari ruangan kesehatan.
"Kau masih sakit?"
Starla terkejut melihat Aozora berdiri tidak jauh darinya, tampaknya hendak ke kantin.
"Ya, aku ijin sehabis istirahat," sahut Starla.
Aozora mendekati. "Kalau begitu kau harus makan, ayo ke kantin bersamaku."
"Eh?" pipi Starla merona seketika; ke kantin bersama? Siapa yang menolak? Ia dengan cepat mengangguk, dan berjalan di samping Aozora dengan perasaan berbunga-bunga.
'Kami seperti sedang berkencan~' kata Starla dalam hatinya.
Starla memiliki ide, jika sudah begini ia harus memperkenalkan kuliner nusantara pada Aozora mengingat ke sini mau tahu Indonesia dan kebudayaannya lebih jauh. Tetapi ia juga bingung apa yang harus di rekomendasikan, di sini makanannya kebanyakan bisa ditemui di kota lain seperti bakso.
"Oh!" Starla teringat bahwa masih ada 'itu', ia menarik Aozora yang masih memilih-milih ingin membeli apa ke deretan bagian kantin yang paling ujung.
"Kau takkan mengajakku makan bakso lagi kan, Starla-san!?" tanya Aozora panik, lebih baik menahan lapar dari pada harus masuk ke rumah sakit lagi karena kepedasan; Starla sungguh perempuan luar biasa bisa bertahan dengan kepedasan ekstrim seperti itu.
Starla menggelengkan kepalanya. "Aku mau Kak Aozora mencoba mie celor."
"Mie celor?" Aozora bertanya-tanya, ia belum pernah mendengar sebelumnya, Lala juga tak menyinggung hal ini ketika makan di kantin.
"Aku kira mie celor ukurannya sedikit mirip udon." kata Starla. "Tapi jangan berharap banyak Kak, hanya seleraku bilang mirip, mungkin bagi Kakak yang orang Jepang agak berbeda." lanjutnya gugup. "Tetapi aku yakin Kakak suka rasanya, soalnya di sini mie celor terbaik karena orangnya asli Palembang!"
"Baiklah," kata Aozora, ia tertarik ada mie seperti udon, tiba-tiba ia merindukan Jepang, sudah lama ia tidak ke sana, semenjak lulus SMP sama sekali belum berkunjung. Ia duduk di kursi panjang, mempercayakan pesanan sepenuhnya pada Starla.
Starla memesan mie celor dua porsi tak lupa teh hangatnya dua juga, barulah duduk di samping Aozora. "Aku juga sudah lama tidak mencobanya! Aku senang sekali!"
"Kurasa kau dan temanmu sering makan di kedai bakso, ya?" Aozora menebak, mengingat Gea katanya bisa menahan pedas melebihi Starla.
Starla mengangguk, "Kami sering makan bakso atau nasi campur, terkadang juga coba yang lain tetapi karena bagian mie celor itu di pojok jadi jarang kemari karena ramai terus."
Berdesak-desakan adalah hal yang dibenci Gea jadi mereka jarang ke kantin yang paling pojok meski makanannya enak sekali pun tak mau Gea ke sana, kalau mau mereka makan di hari rabu yang jadwal pelajarannya santai sekali atau hari sabtu yang cuma kegiatan klub sekolah.
"Oh,"
"Kakak sudah menentukan masuk klub mana?" tanya Starla.
"Aku masuk klub pencak silat, tidak peduli akan ditutup, aku akan tetap masuk klub itu," kata Aozora.
Starla tersanjung mendengarnya. "Kak, aku yakin anak kelas satu mau masuk, siapa yang tidak mau jika bisa bertemu Kakak kelas setampan Kakak dan juga diajari oleh Kakak. Hahaha..." candanya, teringat ekspresi Aozora ketika bersama Linda.
Aozora tidak berpikir itu sebelumnya, jika ia masuk memang ada kemungkinan murid yang belum masuk klub mana pun, sepertinya akan masuk ke pencak silat, ia tak masalah, ia senang membantu bahkan bisa membatalkan penutupan klub tahun depan. Masalahnya itu para gadis terkadang terlalu dekat dengannya yang membuatnya tidak nyaman, ia baik-baik saja mengajarkan tapi jika sudah berdekatan yang berlebihan lebih baik ia keluar dari klub atau memanggil bantuan Starla lagi.
"Apakah kau tadi bilang aku ini tampan?" Aozora membalas balik menggoda.
Starla terkejut.
Barusan tidak salah dengar? Aozora menggodanya? Menggoda dirinya?
"Ini pesanannya, Neng."
Starla mengembuskan napasnya lega.
Terselamatkan oleh Bu Lina yang mengantar dua mangkuk berisi mie celor.
Starla mengambil sendok dan garpu yang sudah disediakan di atas meja, kemudian ia berdo'a barulah makan.
Aozora melihat dulu hidangan mie celor yang baru saja disajikan, dari penampilan tak ada yang mirip, sesuai dengan ucapan Starla yang bilang ukuran mienya hampir sama dengan udon. "Itadakimasu." katanya, lalu melahap makanannya, ketika memasuki lidahnya, ia langsung merasakan udang yang bercampur kuah santan?
"Bagaimana?" tanya Starla berharap-harap.
"Sejujurnya memang tidak mirip sama sekali dengan udon," kata Aozora sambil mengambil suapan yang lain.
Starla tertunduk, ia sudah mengira Aozora akan mengatakannya, tetapi kenapa ia harus bersedih?
__ADS_1
"Tetapi aku suka rasa rempah-rempah yang ada di makanannya." Aozora melanjutkan, sesuatu yang memang menarik perhatiannya sejak di Bali.
Starla berbinar-binar mendengarnya, bisa membuat orang senang dengan rekomendasi darinya adalah kepuasan tersendiri baginya.
"Aku senang Kakak suka!" kata Starla semangat.
"Aku rasa aku menemukan menu kantin yang cocok di lidahku." kata Aozora, tepatnya menu yang cukup bergizi dan tidak pedas.
"Wah..." Starla gembira, Aozora bahkan menjadikan mie celor sebagai makan siangnya, ia bangga bisa membuat Aozora menyukainya.
"Mungkin aku bisa menyewamu sebagai pemandu kuliner di sini, Starla-san..." Aozora sejenak berpikir.
Starla berbinar-binar, tentu saja ia mau, dapat uang, makan gratis, bisa juga menghabiskan waktu bersama Aozora, triple combo!
"Starla!"
"Eh?"
Starla menoleh, ada Luna yang terengah-engah di sampingnya seperti habis lari jauh.
"Aku cari ke ruang kesehatan tidak ada ternyata di sini bersama..." mata Luna melirik Aozora yang sedang tersenyum kecil padanya. "Kak Aozora!?" mengetahuinya, ia mengedip-ngedipkan mata jahil ke Starla.
Starla memutar bola matanya, yang disambut tawa kecil Luna.
Aozora melambaikan tangannya. "Luna-san mau makan juga?" tanyanya.
"Tidak!" sergah Luna cepat. "Aku ke sini buat memberitahu Starla buat rapat kelas."
Aozora tampak tertarik mendengarnya, "Rapat soal apa?"
"Soal lomba menghias kelas, Kak!" sahut Starla semangat. "Kami sedang mencari siapa anggotanya dari rapat ini."
Aozora teringat, kelasnya tadi juga mengadakan rapat tetapi hanya sebuah pengumuman mengenai tugas mereka, karena ia sakit, ia tidak tahu bahwa ia terpilih bertugas menjadi 'pelukis' dinding, ia harus menerimanya dengan lapang dada mengingat ia anak baru, sialnya usulan itu dimulai dari Lala makanya ia kesal sekarang belum ingin main bersama lagi dengan teman penanya itu.
Starla bangkit dari duduknya, dan membayar makanannya. "Sampai jumpa, Kak."
Sebuah ide muncul di kepalanya. "Tunggu," kata Aozora.
"Ya?"
Mata Starla dan Luna melebar syok. "Ikut?" kata mereka bersamaan.
Aozora mengangguk, "Aku takkan mengganggu, hanya penasaran sedikit, jika diperbolehkan tentunya."
Starla berpikir, apa yang membuat Aozora mau masuk kelasnya? Padahal istirahat tadi pemuda itu langsung menolak makan di kelas karena banyak perempuan, sekarang lengkap semua teman perempuan sekelasnya ada malah ingin ikut, apa yang membuat Aozora berubah pikiran?
Tidak mungkin Aozora tertarik pada salah satu teman sekelasnya kan?
Starla berniat menolak tetapi sudah keburu Luna menjawab.
"Boleh Kak, boleh sekali~" sahut Luna manja.
Starla menyikut Luna yang berada di sampingnya, yang disikut malah nyengir tak berdosa.
Starla yakin dipikiran Luna hanya ingin menggodanya, walau jujur memang sedikit menyenangkan ada Aozora tapi pemuda itu duduk di mana?
Aozora berdiri dan membayar makanannya juga, barulah menghampiri mereka. "Ayo."
***
Semenjak masuk ke dalam kelas, Aozora sudah menjadi pusat perhatian, tentunya dari para perempuan di kelasnya, kebanyakan lelaki terheran-heran kenapa bisa Aozora diperbolehkan yang dibela oleh temannya ketika itu juga.
Starla memutar bola matanya akan tatapan penuh kekaguman teman-temannya pada Aozora, ia sudah tahu ini bukanlah ide yang bagus.
"Aku ambilkan tempat duduk, Kak." kata Luna.
Ketika Starla berbicara bahwa Luna memiliki maksud untuk menggodanya, ia benar-benar bersungguh-sungguh.
Luna mengambil kursi yang biasa dipakai oleh guru untuk mengajar dan menaruhnya di samping tempat duduknya, di samping tempat duduknya sekali lagi.
Starla menepuk keningnya, sungguh-sungguh halus sekali pikiran Luna.
__ADS_1
"Baiklah, aku ingin berdiskusi, kalian tahu ada lomba, jadi aku ingin ada yang mengurus ini, aku mau kita semua mendapat bagian," kata Ayu berdiri di depan kelas sambil memegang spidol, menulis nama-nama bagian di papan tulis.
Ada yang menggerutu akan ucapan Ayu, kebanyakan dari lelaki, sudah ditebak mereka kebanyakan malas ikut, mereka lebih suka menyumbang uang saja, bahkan ada yang tak menyumbang, berkaca dari kejadian menjenguk wali kelasnya sakit dulu.
Peraturan tajam ke bawah berlaku di kelasnya.
"Aku rasa kita akan banyak membutuhkan alat buat mencat dinding, jadi aku dan Iqbal yang akan mengurusnya." kata Ayu.
"Kenapa harus aku?" Iqbal memprotes.
"Kau dan teman-temanmu suka mencoret meja kelas jadi ini hukuman buatmu." kata Ayu. "Aku rasa teman-temanmu juga mau membantu dengan senang hati."
Iqbal mengepalkan tangannya namun, tidak memprotes lagi, untunglah Ayu saudaranya jika tidak...
Starla menilai itu keputusan kekanakan, memilih Iqbal karena hukuman? Tahu sendiri Iqbal nakal yang ada dia malah kabur tidak mau mengerjakan tugasnya, dan siapa yang akan mengerjakan kalau Iqbal kabur? Yang susah yang terpilih melukis dinding pastinya.
"Terus tugas yang vital, melukis dinding, kita memang belum menentukan gambar apa yang harus dibuat tetapi tidak ada salahnya membentuk timnya." kata Ayu kalem. "Jadi di sini siapa yang ahli menggambar?"
Hening...
Tidak ada yang mau mengaku, Starla pun tidak mau sebab melukis dinding merupakan pekerjaan yang paling berat dari yang lain jadi ia diam saja seperti yang lain, tidak ada yang tahu ia menggambar ini.
Starla tertawa jahat memikirkannya.
"Bagaimana dengan Kak Ao saja?" Gea menyarankan dengan semangat.
"Kak Ao!?"
"Aku?" Aozora berkata dengan polosnya.
Ayu berpikir sebentar, "Ah, Kak Ao kan dari Jepang sudah pasti bisa menggambar manga atau semacamnya!" jelasnya semangat.
Starla sendiri tidak setuju, jika Aozora mau pasti teman-temannya takkan menyia-nyiakan kesempatan untuk berdekatan dengan pemuda itu, darahnya mendidih memikirkannya.
"Tentu, aku akan melakukannya," kata Aozora sambil bertopang dagu santai.
"Sungguh!?" seru Starla dan Ayu bersamaan.
Aozora mengangguk, "Tawaranku, setengah badan karakter tiga ratus ribu..."
"Hah?"
Aozora melanjutkan, "Seluruh badan lima ratus ribu... itu belum termasuk latar belakangnya, satu dinding tiga ratus ribu, tingkat kerumitan yang tinggi tambah seratus ribu..."
Kelas seketika menjadi hening...
Di kepala mereka tercantum satu kata tentang Aozora yaitu lelaki yang mata duitan.
"Kakak seperti sedang membuka lapak dagang..." kata Starla setelah sadar dari syoknya.
"Apa? Di dunia ini tidak ada yang gratis, ke toilet pun bayar di sini," sahut Aozora polos. "Oh, itu hanya harga satu karakter loh ya." ia menambahkan.
Yang sukses membuat seisi kelas membatu seketika.
Benar-benar mata duitan...
"Kami tidak bisa membayar sebanyak itu." kata Ayu setelah pulih dari syoknya juga. "Dari pada membayar Kakak lebih baik aku ke Bali."
"Kau pintar, Ayu-san." sahut Aozora tanpa tersinggung sekali pun.
Ayu tersipu mendengarnya. "Lalu... siapa yang mau?" tanyanya gugup.
Kelas kembali hening...
Tidak ada yang mau apalagi setelah mendengar Aozora menjelaskan detail menggambar.
"Aku tahu siapa yang mau bersedia dengan senang hati." kata Aozora dengan senyum di bibirnya.
Ayu dengan semangat empat lima bertanya. "Siapa, Kak Ao!?"
Aozora menyeringai kecil, di sinilah idenya; dengan percaya diri, ia memegang tangan Starla, mengangkatnya ke tinggi-tinggi, dengan lantang berkata. "Starla Annora..."
__ADS_1
Note :
Mulai hari ini update 1 kali sehari karena saya update novel yang lain juga yaitu Sweet Revenge, silakan cek jika mau, terima kasih pengertiannya π