The Lovely One

The Lovely One
Bab 3 : Kesepakatan


__ADS_3

Untuk menyempurnakan rencananya, Starla memesan makanan ringan serta minuman soda melalui pemesanan online, tidak lupa memberikan tip lebih kepada petugas yang membawa pesanannya hingga satu kantong plastik besar.


Starla duduk manis di ruang televisi, membolak-balikan saluran televisi yang bisa menarik perhatiannya. Setelah sampai di saluran terakhir, ia menyerah, dan memilih bermain game novel di ponselnya, bernama Sweet Revenge. "Ah, Tuan Rainer." gumamnya. "Kenapa lelaki setia sepertimu hanya ada di novel saja?" keluhnya.


"Kau harus berhenti bermain, dan mencari lelaki kalau begitu."


Suara sindiran tepat di telinga Starla membuatnya kaget bukan main, ia segera membalikan tubuhnya, dan menemukan wajah Denis begitu dekat dengannya, ia langsung berdiri karena kaget lagi. "Kau suka sekali ya mengagetkan orang?" tanyanya.


Denis yang semula bertopang dagu di kepala sofa perlahan berdiri tegak. "Kau yang harus lebih peka pada sekelilingmu jangan hanya bermain game."


Starla memutar bola matanya. "Bicara pada dirimu sendiri." sindirnya.


"Aku baik-baik saja. Lihat? Aku ganteng, punya kekasih, teman nongkrong dan motor keren." Denis membela dengan penuh percaya diri. "Aku itu gaul, 'Kakak'." lanjutnya sambil menekankan kata 'Kakak'.


Starla menyerah berdebat, bila urusan siapa yang lebih baik masalah sosial, ia selalu kalah namun, bila sudah berbicara pelajaran, jangan tanya siapa yang akan menelan pahit. Ia menunjuk plastik yang berada di sofa. "Tuh buatmu."


Denis sedikit terkejut mendengarnya, ia segera mengecek isi plastiknya dan matanya berbinar-binar mengetahui isinya makanan serta minuman favoritnya, sebelum kemudian ia menatap curiga Starla. "Darimu, Kak?" tanyanya.


Starla mengangguk dengan polosnya.


Denis meletakan kantong plastik ke tempat semula. "Kenapa?" tidak biasanya Starla memberikan makanan secara cuma-cuma.


Starla sudah mengira Denis akan bertanya macam-macam, "Aku butuh bantuanmu."


Denis berpikir sesaat, sedikit tertarik dengan permintaan Starla, tidak biasanya Kakaknya itu meminta bantuannya sampai memberikan makanan favoritnya, pastilah sesuatu yang penting. "Tergantung apa dulu peranku."


"Itu," Starla sebenarnya tidak terlalu suka bergantung pada Denis, tetapi butuh dua orang untuk menyelesaikan misinya. "Aku mau kau besok membuat Arthur sibuk biar aku bisa membocorkan ban mobil,"


Mata hitam Denis melebar mendengar penjelasan Kakaknya. "Untuk apa sampai melakukan itu?" tanyanya heran. "Aku tak mau ikut melakukannya kalau alasanmu hanya demi sesuatu yang konyol." dan ia tahu apa akibatnya jika rencana itu gagal, bisa-bisa motornya disita oleh orang tuanya.


Starla menepuk keningnya; tentu saja dengan makanan pun tetap tidak bisa membendung rasa penasaran Denis. "Dengar. Aku cuma mau naik bus besok sekolah bersama teman-temanku, kau tahu Mama dan Papa begitu keras melarangku naik bus atau kendaraan umum."


"Oh," Denis mengerti sekarang. "Jadi kau tidak bisa melakukan sendirian, karena Pelayan di sini begitu patuh sama Papa dan Mama, kau menyuapku yang tidak patuh agar bisa melancarkan aksimu... ?"

__ADS_1


Kenapa ketika mendengar komentar Denis, Starla merasa seperti seorang kriminal kelas atas? Ia kan hanya mengempeskan ban. "Ya terserah kau mau mengartikannya apa, aku hanya butuh kau mengalihkan perhatian Arthur seperti mencoba meminta tolong memperbaiki motormu... ?"


"Hm..." Denis masih mempertimbangkan dengan seksama; rencana Kakaknya baginya terlalu merugikan dirinya, mengingat ia hanya mendapat makanan dan minuman saja. Namun, akhirnya setuju setelah melihat wajah memelas Starla. "Baiklah," katanya sambil menghela napas berat. "Aku ikut misi kecilmu."


Starla menepuk tangannya bahagia. "Terima kasih Denis. Kau memang Adik tersayangku." pujinya sambil mengacak-acak rambut hitam Denis gemas.


"Hey!" Denis menepis pelan tangan Starla yang berada di kepalanya, ia membenarkan gaya rambutnya yang berantakan, "Kita bisa merayakan misi ini tanpa menyentuh rambut indahku." katanya sedikit jengkel.


"Maaf, aku terlalu bersemangat." sesal Starla.


Denis memutar bola matanya. "Serius. Akhirnya Kakak melakukan sesuatu demi diri Kakak juga. Aku bangga."


"Maksudmu?"


"Aku bisa melihat Kakak tidak suka berangkat naik mobil, itu memotong waktu buat main dengan teman-teman. Aku kan juga pernah merasakannya," jelas Denis. "Dan di umur segini masih belum memiliki pacar yang main ke rumah sementara Kak Luna dan Kak Gea sudah, kau pasti begitu tersiksa ya?"


Mata cokelat Starla membulat; dari mana Denis bisa menyimpulkan masalahnya seakurat itu? Ia mengerti soal naik mobil, Denis juga dulu di antar-jemput oleh Arthur namun, karena Denis seorang lelaki dewasa, Ayahnya memberikan keringanan, berbeda dengannya; ia belum paham adalah status cinta teman-temannya. "Kau tahu dari mana soal Luna dan Gea?"


Starla menepuk keningnya; ia lupa bahwa Denis menyukai perempuan yang lebih tua; lebih dewasa dan pengertian katanya. Dan apa juga Denis tertawa bukan membela akan penderitaannya pada teman-teman dia yang menertawakannya? "Kau harus mencari hobi lain, Denis."


"Aku baik-baik saja seperti ini," sahut Denis santai. "Saat dewasa nanti belum tentu kita bisa melakukan hal bersama teman-teman sebab aku yakin mereka akan sibuk mengejar cita-cita masing-masing." jelasnya. "Jadi puas-puaskan bermain sekarang hingga tidak menyesal di kemudian hari."


Starla tersenyum; meskipun terkadang Denis suka berbuat jahil padanya hingga terkadang membuatnya teriak, di antara keluarganya, Denis yang paling mengerti dirinya, mungkin karena mereka hanya berbeda dua tahun saja jadi jauh lebih mengerti situasinya. "Kau benar, Tuan Denis."


Denis terpana sesaat sebelum akhirnya tertawa yang diikuti oleh Starla kemudian.


Setelahnya mereka memutuskan bermain game bersama barulah makan malam sambil berdiskusi rencana besok.


***


Setelah makan malam bersama Denis, Starla balik ke kamar tidurnya melanjutkan lagi membuat sketsa komiknya, kali ini ia memilih menggambar di balkon jendela kamarnya sekaligus memandang langit yang dihiasi bintang-bintang malam ini selain indah mungkin ia bisa mendapat ide menggambar.


Starla mengembuskan napasnya, berpikir apakah ia harus membeli screen tone yang harganya mahal? Ia mengembuskan napas sekaligus menutup sketchbook miliknya.

__ADS_1


Kendatipun ia membeli screen tone, ia takkan mengajukan komiknya ke penerbit.


Starla teringat kalau Gea membuatkannya akun fakebook kemarin, dan ia belum bisa mengeceknya sama sekali. "Ya, dia memang tidak suka melihat temannya kuno sendiri." katanya pada dirinya sendiri.


Starla masih ingat Gea juga membuatkannya akun friendstar namun, belum sempat ia bermain, fakebook muncul dan segera mengambil alih tren anak-anak di sekolahnya tepatnya seluruh remaja di Indonesia, ia sedikit sedih sebab jujur ia lebih suka friendstar karena bisa memakai tema-tema imut di beranda akun berbeda dengan fakebook yang tidak ada pemilihan tema, ia berharap akan ada tema juga di fakebook suatu saat nanti.


"Hm," Starla menyalakan jaringan internet di ponselnya, lalu membuka situs fakebook, memasukan alamat serta sandi yang dikirim Gea lewat pesan, barulah mengklik masuk. "Huh!?" ia sedikit terkejut sudah memiliki pertemanan mencapai ratusan padahal ia kan baru membuka akun ini. Ia yakin Gea memainkan akun miliknya. Tangannya bergerak ke bawah untuk melihat status 'teman-temannya' dan matanya tertuju pada gambar seorang lelaki yang sedang membaca sesuatu di tangannya, di sebelahnya ada Ibu Kepala Sekolah. "Anak baru itu," begitulah tulisan foto tersebut.


Starla tidak dapat melihat jelas wajah anak baru itu karena gambarnya hanya diambil dari samping ditambah wajahnya tertutup masker hitam—


"Tunggu dulu!" Starla merasa tidak asing dengan tubuh pemuda itu, ia mengecek lagi secara seksama. "Ini perasaanku atau dia memang mirip dengan lelaki di apotek tadi?"


Yang membedakan hanya pakaian saja, lelaki di apotek tadi memakai jaket biru gelap sementara pemuda itu mengenakan seragam sekolahnya.


Starla mendekatkan ponsel ke wajahnya, tidak lupa ia memperbesar gambar itu ke satu titik yaitu wajahnya mencari tanda tahi lalat dan jika beruntung bisa mendapat warna mata pemuda itu, dan mengembuskan napas kecewa tidak satu pun didapatnya. "Fotonya diambil di sisi kanan dia sementara tahi lalat itu ada di bawah mata kirinya."


Starla benar-benar tidak beruntung jika berhubungan dengan masalah lelaki.


"Terserah," katanya acuh tak acuh; benar atau tidak takkan mempengaruhi, kan? Anak baru itu akan cuit kalau sudah mendengar nama keluarganya. "Kutukan Tuan Putri takkan membuat cintaku lancar. Ingat?"


Pemuda itu juga belum tentu akan setampan Rendy, Ferdian atau lelaki yang lain.


Yang sudah-sudah si Iqbal yang katanya dulu dirumorkan anak baru yang tampan yang bakal menyaingi Rendy dan Ferdian, ternyata tidak sesuai dengan ekspestasinya.


"Mungkin bukan lelaki yang kabur, tetapi akulah yang menetapkan standar terlalu tinggi." gumam Starla terheran-heran pada dirinya sendiri.


Walaupun Iqbal nakal, patut diacungi jempol bahwa wajahnya tampan namun, entah kenapa ia tidak tertarik sama sekali, matanya yang salah atau—


"Mungkin memang ada sesuatu yang salah dengan diriku." Starla menebak-nebak, tak lama ia menepuk keningnya. "Bagus. Aku berbicara pada diriku sendiri. Tetangga akan mengira yang tidak-tidak." ia tidak mau ada lagi masalah. Ia menguap kecil.


Apa pun itu bisa dipikirkan nanti.


"Aku harap besok berjalan lancar." pinta Starla pelan.

__ADS_1


__ADS_2