The Lovely One

The Lovely One
Bab 10 : Traktiran Pertama


__ADS_3

Bus akhirnya berhenti di titik pemberhentian yang pertama, Starla bangkit dari tempat duduknya, ia melirik Aozora yang juga sedang menatapnya. "Kak, pemberhentian tempatku di sini. Permisi, aku mau lewat." katanya.


"Oh," Aozora menjawab singkat, ikut berdiri agar Starla bisa lewat.


Starla melambaikan tangannya, lalu berjalan menuruni tangga dan keluar dari bus.


'Waktunya menghadapi Arthur.' kata Starla dalam hati.


Starla sejenak melirik bus tepatnya di lantai dua tempat Aozora berada, baru melangkah menuju rumahnya berada; berharap Arthur tidak naik pitam padanya, berharap kedua orang tuanya belum mengetahui kejadian tadi pagi.


'Kurasa kecil kemungkinan Mama dan Papa tidak tahu, yang bekerja di rumah kan bukan cuma Arthur.' kata Starla dalam hati.


Starla menerima akibatnya apa pun juga, toh yang dilakukannya bukan tindakan kriminal, ia cuma naik bus sekolah tidaklah buruk kan?


"Starla-san."


Starla berhenti melangkah; barusan rasanya ia mendengar suara Aozora. "Paling hanyalah ilusi, bus kan sudah berangkat dari tadi." ia melanjutkan lagi langkahnya, tetapi terhenti lagi, bukan karena ilusi suara Aozora tetapi sebuah tepukan di bahunya.


"Tunggu sebentar," kata Aozora.


Memang bukan ilusi, Starla tentu bingung kenapa Aozora turun bahkan sampai mengejarnya, tentu ia senang hanya saja ia masih merasa tidak enak sudah membentak pemuda itu makanya sejak di bus ia tidak mengajak bicara. "Ada yang salah?"


"Aku..." Aozora tidak menyelesaikan kata-katanya, matanya menolak untuk menatap Starla.


"Aku kenapa, Kak?" tanya Starla sekali lagi.


Aozora berdeham beberapa kali. "Aku masih merasa tidak enak karena kejadian di bus—"


"Tunggu." Starla memotong pembicaraan. "Kakak rela turun hanya merasa bersalah?"


Aozora mengangguk. "Tindakanku membuatmu sedih jadi aku—"


"Tidak!" Starla memotong pembicaraan Aozora lagi. "Justru akulah yang merasa bersalah, aku sudah membentak, Kakak."


Aozora yang kini bingung. "Aku sama sekali tidak tersinggung. Aku kan tadi menghargai keputusanmu. Aku tahu kau trauma menjadi korban, jadi aku tidak ingin mengganggumu."


Starla terkejut.


Tampaknya mereka saling salah paham satu sama lain.


Mata mereka saling beradu pandang lagi sesaat sebelum mereka tertunduk malu.


"A-aku rasa salah paham ini sudah selesai." Starla memberanikan diri berkata. "Aku tak apa, Kak. Jadi Kakak bisa pulang, rumahku dekat sini kok."


"Begitu, sepertinya aku tidak jadi mentraktirmu," kata Aozora.


Mata Starla berbinar-binar mendengar kata traktir. "Kak Aozora, mau mentraktir... aku?" tanyanya antusias.


Aozora mengangguk. "Jika benar kau masih marah, niatku ya mentraktirmu," jelasnya.


"Aku tidak marah kok," sahut Starla cepat. "Tetapi aku tidak bisa berkata tidak pada makanan gratis. Apakah tawarannya masih berlaku?" tanyanya penuh harapan.


Aozora berpikir sebentar. "Tentu saja kau bisa memilih tempat makannya, Starla-san."


Starla melompat sangat bahagianya. "Makan gratis~ makan gratis~" ia bersenandung ria.


Aozora tertawa kecil melihat tingkah Starla yang begitu polos. "Kalau begitu ayo."

__ADS_1


Starla mengangguk.


***


Setelah berpikir cukup lama, Starla akhirnya memilih ke bakso langganan dekat rumahnya yaitu bakso Pak Rebo, ia memilihnya karena tidak ingin Aozora pulang terlalu sore karena dirinya.


Aozora menengadahkan kepalanya untuk melihat spanduk di atas toko. "Aku tidak tahu bakso Pak Rebo memiliki cabang di sini." ia bertanya-tanya.


"Ada bakso Pak Rebo di Bali!?" tanya Starla syok.


Aozora mengangguk. "Ada, aku mendapat rekomendasi dari teman penaku, di luar dugaan cocok dengan lidahku. Aku suka bakso."


Starla awalnya berniat memperkenalkan makanan khas di sini namun, waktu yang sedikit membuatnya membatalkannya, ia senang mengetahui jika Aozora menyukai makanan favoritnya. "Aku juga tidak tahu apakah Pak Rebo memiliki cabang di Bali," katanya. "Ayo, aku rekomendasikan menu yang enak, Kak."


Aozora mengangguk, mengikuti Starla dari belakang.


"Pak, pesan bakso mercon dua." kata Starla.


"Baik, Neng," sahut Pak Rebo, ia mengambil dua mangkuk dan mulai menaruh bumbu bakso. "Sudah lama tidak ke sini, Neng Starla, sekalinya datang membawa pacar."


Pipi Starla merona seketika mendengar kata pacar, tidak ingin salah paham, ia buru-buru menyangkal. "Anu, Kak Aozora—"


"Senang bertemu denganmu Pak," Aozora memotong cepat. "Apakah Bapak membuka cabang di Bali?" tanyanya.


Eh?


Kenapa Aozora menghalanginya untuk membenarkan hubungan mereka? Ataukah memang sengaja? Aozora ingin lingkungan rumahnya menjadi salah paham mengenai status mereka?


Pipi Starla merona merah memikirkannya.


"Wah sayang tidak, kalau sudah terkumpul mungkin nanti Bapak pikirkan untuk buka di sana," sahut Pak Rebo. "Ada bakso Pak Rebo juga di Bali?"


"Wah, dapat saingan nih, haha..." canda Pak Rebo. "Pakai sayur? Mie? Bihun?"


Aozora ikut tertawa. "Baksonya saja, Pak."


"Neng Starla pakai seperti biasa?" tanya Pak Rebo.


"Ah, iya. Pak seperti biasa," sahut Starla, "Ayo kita duduk, Kak nanti juga dibawa."


Aozora mengangguk.


Starla menyapu sekeliling, seperti biasa di jam segini pelanggan cukup ramai, ia mencari tempat duduk yang nyaman, dan menemukan dengan cepat di dekat kipas angin dinding, ia segera berjalan ke sana sebelum ada yang menyerobot.


"Mercon itu apa, Starla-san?" tanya Aozora begitu mereka duduk.


"Oh, itu maksudnya tingkat pedasnya, Kak," kata Starla. "Di sini pakai cabai domba yang pedasnya seingatku nomor dua di Indonesia." terangnya semangat empat lima.


"Dua... ?" wajah Aozora seketika berubah pucat. "Aku lupa Indonesia memiliki menu makanan yang unik-unik."


Starla merasa wajah Aozora berubah drastis. "Kakak baik-baik saja? Tidak suka pedas? Bisa ganti menu kok, bakso urat atau telur, mau?"


"Tidak usah," sahut Aozora; sudah terlambat mengganti menu, ia pernah mencoba menu makanan pedas di Bali bersama temannya dan masih bisa diterima di lidahnya, jadi ia rasa ini juga sama, lagi pula takkan mungkin cabai domba sepedas carolina reapper, kan?


"Sungguh?" Starla memastikan sekali lagi, ia masih belum yakin melihat ekspresi wajah Aozora yang... takut? "Sungguh Kak, tak apa ganti menu, Pak Rebo orangnya baik hati," katanya. "Ya Pak? Bapak baik, kan?" serunya.


"Ya, Neng," sahut Pak Rebo sekenanya masih sibuk menuangkan kuah ke dalam mangkuk bergambar logo ayam jago.

__ADS_1


"Tuh Kak, tak apa." kata Starla.


"Aku juga tak apa, Starla-san," Aozora menyahut kalem. "Aku kan bisa tidak menuangkan sambal ke makananku."


"Oh, sejujurnya cabainya ada di da—"


"Ini pesanannya Neng Starla." kata Pak Rebo sambil meletakan dua mangkuk di atas meja.


"Terima kasih, Pak." kata Starla. "Minumnya aku es jeruk ya?"


Pak Rebo mengangguk, lalu matanya tertuju pada Aozora.


Aozora yang sibuk memerhatikan bakso di depannya, berkata. "Sama aku juga, Pak."


"Es jeruk dua, Sul!" seru Pak Rebo, setelahnya ia balik membuat bakso pesanan yang lain.


Mata Starla berbinar-binar melihat bakso favoritnya, ia mengambil sambal, saus, dan kecap, menuangkannya ke dalam mangkuk baso miliknya.


Aozora yang melihatnya meneguk ludahnya. "Kau suka makanan pedas ya?" tanyanya.


Starla mengangguk. "Ya, tapi aku tidak sehebat Gea."


Aozora melirik mangkuk milik Starla yang kuahnya tadi berwarna bening kini berubah warna menjadi merah pekat. "Gea terdengar seperti perempuan hebat ya." pujinya masih melirik mangkuk Starla. Lalu matanya tertuju pada mangkuknya akhirnya, mengambil satu butir bakso kecil. "Itadakimasu!" serunya, dan melahapnya dalam sekali suapan, ia menebak rasa yang dikeluarkan oleh bakso itu. "Enak," dan yang paling penting tidak pedas.


Starla juga mulai melahap baksonya setelah membaca do'a tentunya. "Ah, rasanya masih sama seperti terakhir kali aku membelinya." katanya, dan mengambil lagi suapan lain.


Aozora tersenyum kecil melihat tingkah Starla yang polos, ini pertama kalinya ia melihat perempuan makan selahap itu di depannya. Ia menyukainya, memberikan kepuasan tersendiri padanya; ikut semangat, ia membelah bakso yang paling besar dan terkejut melihat ada banyak cabai di dalam. "Inikah yang dinamakan bakso mercon?" bisiknya, dengan ragu-ragu melahapnya.


Starla berhenti makan sejenak melihat Aozora menutup mulutnya. "Kakak baik-baik saja?" tanyanya cemas.


"Aku... oke, baik," Aozora menyahut masih menutupi bibirnya.


Starla tidak percaya, ia melanjutkan makannya dengan mata yang masih tertuju pada Aozora yang terlihat jelas ragu-ragu memasukan sisa bakso mercon ke dalam mulut. "Kak, kalau—" ia belum sempat selesai berkata, Aozora sudah melahap sisa potongan bakso mercon dalam satu suapan, berhasil membuatnya takjub, juga semangat ingin menghabiskan dengan cepat.


"Uh-huh..." Aozora menjawab sekenanya, telinganya mulai berdenging efek dari cabai domba, ia segera mengambil es jeruk begitu diletakan di atas meja, meneguknya sampai habis. "Oh Jösses**..." umpatnya pelan sekali agar tidak terdengar oleh yang lain atau Starla.


"Terima kasih makanannya, Kak."


"Huh?" Aozora melirik Starla yang memasang senyum lebar, kemudian melirik mangkuk milik gadis itu, meneguk ludahnya melihat isinya bersih hanya menyisakan sedikit kuah. "Iya," ia segera bangkit berdiri, tanpa berkata apa-apa ke tempat kasir untuk membayar.


Starla mengikuti dari belakang, kembali curiga lagi melihat ekspresi Aozora yang sepertinya menahan sakit, "Kak, sungguh baik-baik saja?" tanyanya.


Aozora mengambil napas panjang. "Aku baik-baik saja, sedikit kepedasan saja,"


Starla memutar bola matanya, tidak terlihat seperti orang yang sedikit kepedasan, ia jadi merasa bersalah, seharusnya tetap mengganti menu tadi! Mengikuti naluri bukan ucapan Aozora.


Aozora memberhentikan taksi. "Kau sudah baikan?" tanyanya berusaha setenang mungkin.


Starla mengangguk. "Terima kasih sekali lagi makanannya, Kak," katanya malu.


Bisa makan gratis dan bersama Aozora mengubah mood-nya drastis.


Aozora mengangguk. "Starla-san, aku tahu kau takut, tetapi ada baiknya kau melapor," ia memberikan nasihat. "Supaya tidak ada lagi korban yang lain. Kalau kau takut melapor sendiri, aku akan bersedia menemanimu atau jika tidak nyaman denganku bisa bersama temanmu... Gea."


Starla berpikir sesaat; apa yang dikatakan Aozora ada benarnya, mungkin ia harus melapor ke Guru? Banyak saksi juga di bus. Namun, yang ditakutinya bukanlah tidak adanya dukungan tetapi ia takut dikucilkan karena menjadi korban, tetapi ia juga tidak mau ada korban yang lain. "Ugh," kepalanya pusing. "Aku akan memikirkan itu, Kak."


Aozora mengangguk, dan membuka pintu taksi. "Sampai jumpa besok, Starla-san."

__ADS_1


Starla melambaikan tangannya ceria, memandang taksi yang ditumpangi oleh Aozora perlahan mengecil dan hilang dari matanya. Pipinya merona membayangkan akan seperti apa keesokan harinya, sedetik kemudian ia baru ingat kalau besok pelajaran olahraga yang berarti harus masuk jam tujuh.


"Yah..." desahnya kecewa.


__ADS_2