The Lovely One

The Lovely One
Bab 26 : Baikan


__ADS_3

"Aku..." apa yang harus dikatakannya? Meskipun ucapan Aozora romantis, tapi ekspresi wajahnya tidak terlihat ada rasa malu mengingat ketika dipeluk, pipi Aozora sampai merona.


"Jadi? Jawabanmu?" tanya Aozora, ucapannya terdengar menuntut.


"Itu terdengar aneh," kata Starla.


Aozora akhirnya membebaskan kurungan tangannya. "Bagus," katanya.


Mana ada orang yang puas ditolak? Berarti benar bukan ungkapan cinta; mengetesnya?


"Kenapa kau melakukan ini, Kak?" Starla bertanya.


Aozora melipat tangannya. "Aku hanya sedang ada masalah ke mana aku harus melangkah."


Starla memiringkan kepalanya bingung. "Maksudnya?"


Aozora menutup matanya. "Seseorang mengingatkanku agar tidak jatuh terlalu dalam, tetapi aku sudah sejauh ini, apakah aku harus menyerah atau terus menelusuri kedalaman itu..."


Starla berpikir keras; ucapan Aozora sedikit membingungkan, "Saat Kakak tersesat coba tanya pada hati yang terdalam Kakak, itulah yang aku lakukan ketika kesulitan."


"Tidak semudah itu, Starla-san." kata Aozora. "Kurasa memang aku harus berhati-hati agar tidak salah memilih."


Starla tertawa kikuk; ucapan Aozora yang begini yang tidak dimengertinya. "Daripada itu, kelas Kakak curang sekali memakai tirai agar aku dan yang lain tidak melihat."


"Oh," Aozora teringat. "Tentu saja... kami memikirkan ide itu susah payah, masa harus dijiplak orang lain? Ya sudah kami sepakat membeli tirai agar tidak ada yang mencontek karya kami."


Starla menggembungkan pipinya. "Aku kan mau lihat karya Kakak sebagus apa, jahat."


Aozora menutup mulutnya agar tawanya tidak keras. "Kau bisa lihat besok, sabar Starla-san."


Rasanya besok itu lama sekali.


"Ini buku gambarmu?" Aozora bertanya, menyentuh sketchbook yang diletakan Starla di meja.


Starla menghampiri. "Ya, aku menggambar di situ."


"Boleh aku melihatnya?" tanya Aozora.


Starla sedikit ragu sebab ia memiliki gambar Aozora meskipun hanya sketsa kasar ia takut pemuda itu akan menyadari bahwa gambar itu dia. Namun, ia ingin sekali gambar buatan miliknya dinilai oleh Aozora. "Tentu,"


Kalaupun Aozora menyadari, ia bisa beralasan tidak salahnya menggambar teman sebab ia juga punya sketsa Luna dan Gea.


Aozora membukanya, memperhatikan dengan seksama setiap lembaran di sana. "Kau memang punya bakat, Starla-san."


Starla tersipu malu; pujian... dari Aozora...


Ketika Aozora membalikan kertas lagi, ada sebuah sketsa kasar sebuah wajah yang belum selesai. "Kau bisa menggambar teknik tiga dimensi ya?" tanyanya.


Starla tertunduk malu, sketsa wajah itu adalah wajah Aozora jadi jelas ia memberikan sentuhan lebih detail lagi bahkan tahi lalat di bawah mata kiri pemuda itu digambarnya.

__ADS_1


'Aku harap dia tidak menyadarinya.'


Aozora melirik Starla yang tertunduk dengan mata tertutup seperti orang ketakutan, lalu ia melihat gambar wajah lagi, menyadari ada tahi lalat di sebelah kiri, dan tersenyum kecil, menutup sketchbook milik Starla. "Aku sudah selesai." katanya. "Tadi bilang mau mengirim komik ke penerbit? Aku pikir gambarmu itu pantas dikirim, Starla-san."


Mata Starla berbinar-binar. "Sungguh?"


Aozora mengangguk. "Karena kau perempuan ada baiknya membuat komik romantis, atau bisa membuat komik yang sedang populer." jelasnya serius. "Sayangnya di sini tidak ada majalah khusus komik, seperti shonen atau shojo."


Starla tersenyum pahit. "Ya memang belum ada karena penggemar komik dalam negeri masih kecil..."


Aozora tersenyum kecil. "Situasi akan berbeda jika ini Jepang. Tapi kau tidak boleh menyerah Starla-san, karyamu mungkin saja bisa jadi yang pertama digemari, membuat generasi berikutnya melirik ingin menjadi komikus juga." ia mencoba menghibur.


Starla sendiri tidak yakin dengan idenya. "Aku tidak yakin karyaku bisa sehebat itu."


Aozora menyipitkan matanya. "Kau memiliki mental yang lemah ketika menyangkut masa depanmu, jangan seperti itu nanti kau bisa tertinggal oleh temanmu."


Itu sesuatu yang tidak Starla inginkan.


Aozora melirik sketchbook Starla. "Aku yakin kau punya buku khusus sketsa komikmu, jadi teruskan kerjaan itu dan tunjukan padaku."


Starla terkejut. "Kakak mau menilainya?"


Aozora mengangguk. "Tetapi masih lama, jadi kita lihat hasil menggambar besok."


Starla mendapat ide cemerlang seketika itu juga. "Yang kalah traktir ya~?" rayunya manja.


"O, oh, baiklah," Aozora menyahut, ini pertama kalinya ia mendengar suara Starla dimanjakan seperti itu, terdengar imut di telinganya, ataukah ia memang tidak sadar selama ini?


"Hmph, bermimpilah Starla-san, bermimpilah..."


***


Starla hari ini bisa pulang sekolah di jam biasa karena Andre dan Guntur melarang untuknya ikut mengecat karena tangannya yang masih sakit. Mereka cemas jika akan memperparah sakitnya jika dipaksakan.


Ayu juga sudah mencari pengganti dirinya yaitu Iqbal.


Starla tertawa kecil mengingatnya.


Kasihan Iqbal menjadi korban lagi meskipun menggerutu tadinya, pemuda itu tetap setuju membantu.


"Oh," Starla tanpa sengaja berpapasan dengan Ferdian di jalan, mereka saling memandang satu sama lain, ia jengkel sementara pemuda itu datar. "Mencari siapa?" pancingnya.


"Gea masuk?" Ferdian bertanya.


"Kenapa aku harus memberitahumu?" Starla bertanya balik ketus.


"Kau dan Gea hampir mirip ya? Suka berburuk sangka padaku." Ferdian mengeluh kalem.


Starla takkan berburuk sangka jika Ferdian mau bermain dengannya sejak dulu. "Aku tahu kalian bertengkar kemarin, kurasa Gea tidak masuk juga karenamu, Kak." katanya. "Jadi beri aku alasan kenapa aku sekarang aku tidak memukulmu!?" serunya emosi.

__ADS_1


Ferdian refleks mundur. "Tenangkan dirimu, Starla." katanya menenangkan. "Aku dan Gea bertengkar karena hal kecil, kau tahu minggu depan ada olimpiade tingkat provinsi jadi aku dipilih mewakilkan sekolah kita."


"Olimpiade?" Starla terkejut mendengarnya.


Ferdian mengangguk. "Olimpiade fisika tepatnya, kami akan menginap di Jakarta selama beberapa hari makanya Gea tidak suka ini dan seperti yang kau tahu kemarin kami bertengkar."


"Oh..." Starla mengerti sekarang jadi yang salah di sini adalah Gea bukan Ferdian, tapi kenapa? Ia tidak mengerti bukankah setiap pasangan kekasih harus saling mendukung apalagi ini sebuah prestasi bukan hal yang negatif, dan ia baru tahu Ferdian jenius! Ia tidak menyangkanya, ia mengira pemuda itu hanya tampan saja.


Starla jadi malu sudah salah menilai selama ini.


"Aku mau mengajak di menonton besok, ada film yang dia tunggu-tunggu, tetapi karena kami sedang bertengkar dan sekarang dia tak masuk, bisakah kau mengajak nonton dia?" Ferdian memohon dengan wajah memelas.


"Memang film apa?" tanya Starla.


"Cerita nikahan begitu, lupa aku juga," kata Ferdian. "Bisa ya? Aku akan menunggu kalian di luar bioskop."


Starla sesungguhnya tidak keberatan jadi mengangguk sebelum kemudian panik teringat itu film mengenai pernikahan yang berarti romantis. "Aku ini jomblo! Kalian berdua enak berduaan, aku bagaimana?" tanyanya sedih, meratapi nasibnya.


Starla paling benci jadi obat nyamuk jika temannya bermain, tapi mengajak pacar!


"Bukankah kau berpacaran dengan anak baru itu?" Ferdian bertanya kebingungan. "Kau bisa mengajak dia kalau tidak mau menonton bertiga."


Starla merona merah membayangkannya.


Menonton bersama Aozora? Bersebelahan.


Film romantis mengenai pernikahan juga...


"Hehehe..."


Ferdian mundur takut mendengar Starla tertawa sendiri; apa yang gadis ini pikirkan hingga tertawa begitu? Itulah yang ada di pikirannya. Ia berdeham. "Jadi kau mau kan? Aku tunggu besok sehabis pulang sekolah."


"Tapi Kak Ferdian tunggu dulu..." Starla hendak memprotes namun Ferdian keburu lari duluan seperti orang yang ketakutan.


Bagaimana ini?


Bagaimana caranya mengajak Aozora menonton bareng?


"Ugh,"


***


Note :


Sambil nunggu ini update, silakan mampir ke novel saya yang lain


Sweet Revenge


Menikah Kontrak

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, komentar dan vote ya agar novel ini bisa maju :)


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


__ADS_2