
Setelah bercakap-cakap dengan Rendy, ia kembali melanjutkan memahami fakebook dari ajaran Gea di sampingnya.
Sementara Luna pergi dengan Rendy, katanya ada hal yang harus mereka bicarakan, dilihat dari ekspresi Luna nampaknya mereka tidak sedang dalam hubungan yang baik.
Starla mengira karena kemarin Luna pulang dengan Sandy.
Beruntung atau tidak bisa diperebutkan dua pemuda tampan?
Starla di sini masih menjomblo.
"Sayang sekali Kak Ao tidak punya fakebook." Gea berucap tiba-tiba.
"Kak Ao?"
"Kak Aozora maksudku, tapi aku lebih suka memanggilnya Kak Ao," kata Gea. "Aku sudah mencari nama akun dia tetapi tidak ada, atau dia memakai nama Jepangnya jadi aku tidak tahu? Apa Kak Ao punya nama keren juga?"
"Kenapa kau mau mencari akun Kak Aozora?"
"Duh," Gea merasa itu pertanyaan konyol. "Kau tahu fakebook bisa mengunggah foto dan juga ada data status hubungan apakah kau sedang lajang, menikah, duda, bercerai, berpisah."
"Ada yang seperti itu?" aneh sekali bagi Starla.
"Ya kau tahu supaya akunnya tidak dipakai buat selingkuh," kata Gea. "Sekarang mulai banyak anak muda yang kenalan online dan ketemuan di dunia nyata."
"Eh?" itu malah semakin aneh baginya. "Kenapa kau mau bertemu dengan lelaki yang belum dikenal? Sebaik apa pun mereka, jangan mudah percaya, Ge." ia memberikan nasihat, mengingat Gea yang paling aktif di fakebook dibanding dirinya dan Luna.
"Eh, aku bukan perempuan seperti itu," kata Gea. "Aku sudah punya gebetan~" lanjutnya ceria.
Starla memutar bola matanya. "Benar,"
"Kau terdengar tidak senang, La." kata Gea. "Sampai kapan kau mau tetap tidak setuju dengan hubunganku sama Kak Ferdian?"
"Aku juga tidak tahu, mungkin hanya perasaanku saja," kata Starla polos. "Aku hanya tidak bisa melihat 'kilauan' di mata Kak Ferdian, mungkin karena waktu itu kalian baru jadian," jelasnya.
Starla mungkin terlalu banyak baca novel Sweet Revenge jadinya berpikir bahwa cinta Ferdian juga palsu seperti Eryk di novel itu saat pertama mereka berkenalan di depan kelas sehabis pulang sekolah.
Gea tidak menjawab, ia justru termenung.
Starla buru-buru menambahkan, "Jangan marah ya, Ge? Itu hanya pendapatku saja, yang menjalani hubungan kan kalian. Aku hanyalah orang luar."
"Aku mengerti, La. Hehe..." kata Gea.
Starla merasa tawa Gea terkesan dipaksakan, temannya itu juga tidak menyangkal atau pun membela Ferdian; apa Gea menyadari hal itu juga? Entahlah.
"Kau tahu tidak, aku dengar katanya nanti akan ada lomba menghias kelas loh!" seru Gea semangat. "Ini bisa jadi kesempatanmu, La!"
"Aku?" Starla bingung.
"Kau tahu, menghias kelas seperti menggambar begitu, bukankah itu keahlianmu, La?" tanya Gea balik.
"Tidak mungkin aku ikut partisipasi soal itu!" Starla menolak mentah-mentah. "Skill menggambarku belum tingkat dewa seperti itu, Ge."
"Eh? Kupikir menggambar itu sama saja, La." kata Gea kebingungan.
"Menggambar itu ada banyak loh, Ge. Kalau aku jelaskan satu persatu takkan cukup waktunya, yang pasti aku takkan mau ikut, kurasa ada anak lain yang lebih ahli dariku," kata Starla.
Walaupun sejujurnya menggiurkan juga, hanya saja Starla takut, takut kejadian yang dulu terulang lagi.
Jantungnya berdebar lagi, mulai panik, Starla segera menarik napas panjang, mengeluarkannya, beberapa kali ia lakukan sampai degub jantungnya kembali normal.
Gea menyadari perubahan Starla, segera mengusap punggung temannya itu lembut. "Maaf ya, La. Karena aku, kau kambuh lagi." sesalnya, niat awalnya ia hanya ingin Starla lebih positif mengenai bakat terpendamnya.
Starla menyingkirkan tangan Gea di punggungnya. "Tak apa, Ge. Terkadang aku memang masih suka kambuh,"
"Ugh! Kalau saja dia sekolah di sini, akan aku memberi pelajaran karena sudah membuatmu sampai seperti ini!" kata Gea kesal bukan main. "Aku tidak percaya ada teman yang seperti itu!"
Starla tertunduk, sekilas sosok pemuda muncul di kepalanya, membuatnya mengambil napas panjang lagi. "Tak apa, akulah yang salah memilih."
"Aku yakin Kak Ao takkan begitu padamu," kata Gea, ia mencoba mencairkan suasana dengan mengungkit pujaan hati Starla.
"Huh? Kenapa jadi Kak Aozora?" tanya Starla.
Gea memutar bola matanya seakan mengatakan: kau serius ya? "Starla Annora, kau itu begitu suka dengan Kak Ao. Yang aku maksud suka itu, begitu suka."
"Aku..." Starla tidak membalas, kejadian dengan Ibunya membuatnya belum sempat berpikir jernih mengenai hatinya namun, sekarang masih kah ia bandel? "Kau benar," katanya menyerah, pipinya merona merah akan ucapannya sendiri.
Gea bertepuk tangan penuh rasa bangga. "Kau sudah ditahap penerimaan, aku tak berpikir akan secepat ini," pikirnya. "Oh... Kakak Ao luar biasa bisa mencairkan es di hatimu, La,"
__ADS_1
"Sekarang kau mulai seperti Luna," sindir Starla halus.
"Aku dengar juga kalian pulang bersama loh, fansmu sampai patah hati." kata Gea.
"Fans!?" Starla ternganga mendengarnya; baru kali ini ia mendengar jika dirinya mempunyai fans. "Aku tidak punya fans, Ge. Kau pasti salah, mereka mungkin hanya orang yang suka gosip." bila benar kenapa juga ia masih jomblo? Tidak ada yang satu pun lelaki yang berani mengajaknya.
"Kau punya loh La, cobalah untuk tidak selalu memandang rendah dirimu," kata Gea. "Bahkan ada yang suka padamu di kelas kita,"
Starla benar-benar tidak menyangka ini. "Siapa!?"
"Guntur," sahut Gea kalem. "Dia begitu polos, masa cerita ke Ayu yang tukang gosip soalmu ya jelaslah menyebar di kelas, hanya kau yang tidak tahu."
Starla mencoba mengingat pemuda bernama Guntur dan apakah ia pernah mengobrol atau satu grup bareng mengerjakan tugas dulu, ia akhirnya ingat dulu pernah mengobrol. "Aku hanya sekali bicara dengan dia, saat istirahat, menunggumu dan Luna jajan ke kantin minggu kemarin sepertinya, dia menggambar karakter Gundala begitu detail dan mirip, aku terpesona melihatnya, memujinya kalau dia punya bakat hebat menjadi seorang komikus. Hanya itu, Ge."
"Mungkin itu awalnya, hatinya berbunga-bunga dengan pujianmu, La." kata Gea. "Dari situ mulai timbul rasa suka,"
"Ya kali," kata Starla sekenanya. "Sekarang aku jadi merasa bersalah, aku secara tidak langsung menyakiti perasaan Guntur karena bersama Kak Aozora kemarin..."
"Apa? Kau tidak bisa berpikir seperti itu," kata Gea. "Kau tidak bisa menahan dirimu dengan siapa kau jatuh cinta. Tentu aku juga merasa kasihan pada Guntur, tetapi mau bagaimana lagi, seperti itulah realita." jelasnya kalem.
"Tentu saja..." kata Starla, ia juga akan menerima jika Aozora menyukai orang lain.
***
Hari ini terasa begitu lama sekali bagi Starla, pikirannya dipenuhi Aozora yang sekarang sedang absen. Ia tidak dapat berhenti berpikir apakah pemuda itu absen karena kemarin?
Starla tahu Aozora kepedasan, ia tidak buta, setenang apa pun pemuda itu berusaha untuk menutupinya, wajahnya yang menahan rasa sakit sudah membuktikan dugaannya.
Hanya yang dipikirannya seberapa buruk perut Aozora?
Starla tahu Aozora ijin, ia tidak bisa menilai secepat itu, tetapi jika benar, ia benar-benar merasa bersalah.
'Mungkin aku harus menunggu besok, apa dia sudah masuk atau belum.'
***
Keesokan harinya Starla bangun lebih pagi dari biasanya, semangat mungkin bisa bertemu Aozora di bus, ia segera bersiap-siap berangkat ke sekolah.
Selesai sarapan setelah dua hari sarapan di sekolah, Starla buru-buru keluar ke tempat halte bus, ia menunggu dengan wajah yang tertunduk memandangi tangannya. Ia sudah menghubungi Luna, dan tidak ada Aozora di bus yang temannya itu tumpangi, jadi ia akan naik di bus yang lain untuk memastikan apa pemuda itu ada atau tidak.
Dengan menggenggam harapan yang tersisa, Starla berjalan ke tempat mereka duduk, sambil sesekali menoleh siapa tahu Aozora duduk di tempat lain namun, sampai di tempat mereka duduk, pemuda itu tidak ada.
Starla duduk di tempat Aozora biasanya duduk, mengembuskan napasnya kecewa.
'Aku takkan menyerah, akan mencoba besok.'
Setelahnya Starla memandang kosong luar jendela.
***
Keesokan harinya, Starla bangun lebih cepat juga seperti kemarin, ia bersiap-siap, juga sudah mengirim pesan pada Luna lagi soal keberadaan Aozora, kebetulan Gea juga naik bus juga, Gea merasa kasihan karena sejak kemarin ia sama sekali tidak semangat jadi rela naik bus sekolah.
Memang kemarin ia tidak terlalu semangat, makan pun jadi lebih lama dibanding biasanya, sudah dua hari Aozora absen, ia mulai berpikir bahwa pemuda itu sakit semakin besar.
Starla mencoba mendekati Lala tetapi gadis itu tetap memberi jawaban yang sama yaitu Aozora ijin ada urusan. Memberikan tatapan tak suka padanya sebelum kembali ke kelas.
"Huh?"
Ada keanehan, ketika ia bus sudah sampai di pemberhentiannya, Luna dan Gea turun dari bus mereka masing-masing.
"Kenapa kalian turun?" tanya Starla kebingungan.
Luna dan Gea menatap satu sama lain. "Kau tahu kenapa,"
Starla tersentak, sebelum kemudian tertunduk dalam.
Aozora absen lagi.
***
Lima menit sebelum bel istirahat berbunyi, Starla meminta ijin ke toilet namun, sesungguhnya ia berjalan ke tempat kelas 3 IPS 4 berada, ia akan mendapatkan informasi mengenai Aozora dari Lala meskipun harus memakai cara yang sedikit kotor.
Ia takkan tenang selama belum tahu kebenaran.
Sesaat setelah Starla sampai di depan kelas 3 IPS 4, bel istirahat berbunyi.
Starla menunggu di gazebo dekat kelas 3 IPS 4 matanya tetap tertuju pada pintu kelas Lala, menunggu, ia tertunduk ketika melihat Linda keluar bersama beberapa temannya. Bukan karena takut pada kakak kelasnya itu ia cuma tidak ingin menghadapi Linda.
__ADS_1
Starla yakin Linda akan menginterogasinya perihal pulang bersama dengan Aozora.
"Ah," matanya akhirnya menangkap sosok yang dicarinya sejak tadi, ia segera keluar dari gazebo dan berjalan mendekati Lala yang nampaknya sedang menuju kantin. "Kak Lala," panggilnya.
Lala berhenti dan menoleh, mengerutkan alisnya mengetahui itu Starla. "Kau lagi," ia berkata tanpa basa-basi, pedas. "Ada apa?"
"Aku hanya ingin bertanya—"
"Aku sudah bilang padamu Aozora ijin, kan?" Lala memotong. "Jadi biarkan aku sendirian, Annora." lanjutnya, "Ada perut yang mau aku isi."
Starla menyipitkan matanya, ia sudah bersikap sopan jika Lala menginginkan to do point, akan ia lakukan. "Aku tahu Kakak berbohong," sindirnya halus. "Mana mungkin ada yang absen sampai tiga hari apalagi Kak Aozora anak baru,"
"Kau terlalu jauh berpikir, Annora." Lala sama sekali tidak bergeming. "Kembalilah ke kelasmu,"
"Tidak, sebelum aku tahu alasan sebenarnya," kata Starla. "Atau Kakak mau nilai Kakak turun?" sejujurnya ia sama sekali tidak mau memanfaatkan namanya namun, situasi ini memaksanya untuk melakukannya.
"Kau bermain kotor padaku?" balas Lala kesal nilai pelajarannya dibawa-bawa. "Berlebihan sekali untuk seseorang yang katanya memiliki senyuman yang polos."
"Huh?" Starla tidak mengerti.
"Lupakan apa yang tadi aku katakan," kata Lala. "Dengar, aku tidak mengerti kenapa kau begitu keras kepala, Ao baik-baik saja—"
"Nilaimu sedang terbang Kak," Starla memotong dengan santai; ia tidak butuh ucapan pembohong seperti itu.
Lala menepuk keningnya. "Ao akan memarahi aku jika aku berbicara jujur padamu."
Starla tersentak, jadi memang benar selama ini Lala berbohong padanya. Ia menunggu Lala untuk berbicara.
"Ao sebenarnya dilarikan ke rumah sakit selasa malam." kata Lala sedih.
"Selasa malam!?" Starla benar-benar syok mendengarnya; hari di mana mereka makan bakso bersama, "Tidak," degub jantungnya berdebar kencang akan pikirannya yang sudah ke mana-mana.
"Dia dirawat selama dua hari di rumah sakit karena mengalami sakit perut yang hebat," Lala melanjutkan. "Aku menjenguk dia sendiri, dan Ao bilang padaku untuk berbohong pada teman-teman sekelas termasuk kau jika kau mencari tahu tentang Ao."
Aozora sudah berpikir jauh mengenai kemungkinan yang terjadi. Hebat.
Dan jika Aozora sampai melarang Lala berkata jujur berarti memang itu ada hubungan dengannya.
"Terus bagaimana kondisi Kak Aozora?" tanya Starla murung, benar-benar merasa bersalah.
"Seperti yang aku bilang, dia sudah baik-baik saja, dia memberitahuku kalau dia sudah di rumah," kata Lala kalem.
"Oh,"
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian, tapi apa kau berusaha meracuni Ao?" tanya Lala menyipitkan matanya curiga.
"Apa? Mana mungkin aku melakukan itu!" seru Starla tidak terima; mana mungkin ia meracuni pemuda yang disukainya.
"Syukurlah, dia rugi besar jika sampai memusuhimu juga." kata Lala.
Starla tidak mengerti maksudnya; memusuhi? Aozora memusuhi siapa?
"Kau sudah puas?" tanya Lala. "Kalau begitu aku mau ke kantin, kau membuang waktuku, Annora."
Starla mengangguk, setelahnya Lala pergi ke kantin sendirian.
Starla sendiri tertunduk dalam.
Aozora masuk rumah sakit selama dua hari...
Dan itu karenanya... ?
"Eh? Starla? Kenapa kau di sini?"
Starla menengadahkan kepalanya. "Kak Rendy... ?"
"Kau baik-baik saja? Kau terlihat... sedih." kata Rendy cemas. "Ada yang bisa aku bantu?"
Starla awalnya mau menolak namun, detik kemudian sebuah ide muncul di kepalanya.
Sebuah ide yang cukup gila.
"Sesungguhnya ada Kak!" sahut Starla semangat.
"Oh? Apa itu?" tanya Rendy penasaran.
"Kakak tahu rumah Kak Aozora berada?"
__ADS_1