The Mystery Of The Beautiful Girl

The Mystery Of The Beautiful Girl
BAB 10


__ADS_3

Pagi itu entah kenapa rasanya begitu segar dan menyejukkan hati. Rafael melangkah keluar kamarnya menuju lantai bawah. Pagi itu ia memilih turun lebih awal untuk meminta maaf kepada mama atas kejadian kemarin.


Bau roti panggang merebak ketika Rafael pergi memasuki dapur. Ditatap nya seseorang yang sedang memanggang roti. Itu ayah,


terlihat celemek yang masih melekat ditubuhnya beserta sisa sisa tepung hingga ke rambut pirang nya.


Rafael adalah anak blasteran dari Jerman keturunan ayahnya. Ayah pindah ke Indonesia sejak umur 8 tahun. Hingga sampai ayah Rafael besar pun ia tetap tinggal di Indonesia dan menikah dengan salah satu warganya.


Rafael tak berpindah dari tempat ia berdiri. Ia terus menatap tajam ke arah ayahnya.


Setiap melihat Rafael entah kenapa ayah selalu seperti menyembunyikan sesuatu di dalam hatinya.


Rafael tak membalas senyuman setengah tulus yang diberikan ayahnya. Bahkan tak menghiraukan nya sama sekali. Seketika mood nya hilang pada saat melihat orang yang sangat dibencinya kini berada tepat dihadapannya.


Sangat jarang ayah berada di rumah seperti sekarang. Bahkan tak tanggung tanggung, Untuk pertama kalinya Rafael melihat ayahnya memasak untuk sarapan pagi. Biasanya disaat saat seperti ini, atau hampir setiap hari ayah selalu tidak ada. Baik itu pada saat pagi, Siang, atau malam.


Terdengar langkah kaki dari anak tangga dengan terburu buru. Itu Luna, dengan tas ransel kecil di belakangnya.


"Ayahh!!. "


Luna memeluk ayah dengan sangat erat tepat di depan Rafael. Ia begitu terlihat gembira. Ya bagaimana tidak? Ayahnya jarang berada di rumah. Tentu saja anaknya merindukan nya, kecuali Rafael. Ia agak merasa sedikit jengkel melihat Luna yang terlalu berlebihan kepada ayah nya.


"Heh... apa yang kamu banggakan dari pria br*ngsek itu?!. "


Rafael pun bangkit dari tempat duduk nya lalu pergi menuju lantai atas. Ia khawatir mengapa mama tidak turun dari tadi. Bahkan bukan mama yang memasakkan sarapan untuk mereka, justru ayah yang dibencinya.


Ayah yang melihat kelakuan Rafael pun hanya terdiam tanpa membalasnya. Dari raut wajah ayah, terlihat bahwa dia sungguh merasa bersalah. Sepertinya ayah tau apa yang sedang di khawatirkan Rafael.


"Ayah.. biarin aja kak Rafael, Kita berdua aja yang makan roti panggang nya. "


Luna mencoba mengalihkan perhatian ayah agar tidak terlalu memikirkan banyak masalah. Ayah merasa bersemangat ketika melihat anak perempuan nya begitu ingin merasakan masakan nya.


 


Rafael memutar knok pintu kamar Dengan tergesa. ia masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu. Mama sampai kaget karena seseorang membuka pintu kamarnya begitu saja. Untung saja mama tidak jantungan atau berteriak.


 


"Ma kok gak turun buat sarapan? mama sakit ya?. "


Tanpa basa basi Rafael duduk di tepi kasur lalu menyentuh dahi mama yang sedang berbaring. Ia merasakan tubuh mama agak sedikit demam. wajah mama pun terlihat agak pucat.


"Mama senang kamu khawatir, tapi tenang aja! Mama gapapa kok. "

__ADS_1


" Gapapa gimana maksud mama?! . "


Rafael agak meninggikan suaranya. ia benar benar khawatir dengan keadaan mama sekarang.


Diambil nya satu buah pil obat demam dari bawah laci. Begitu banyak obat. Sangat banyak. Membuat Rafael tak habis pikir.


"Mama.. akhir akhir ini susah tidur ya?. "


Mama terdiam, Ia nampak berfikir untuk menjawab.


"Aaah... sudahlah lupain aja! sekarang mama minum obat demam ini dulu. "


Mama mengangguk lalu segera meminum obat yang diberikan Rafael. Ia tersenyum tipis. "Mama berharap kamu terus peduli kayak gini. "


"El kamu udah sarapan?. " tanya mama.


"Rafael gak lapar! Nanti aja makan di sekolah. " sahut Rafael tergesa. Mama menghela nafas dan tidak berbicara apa apa lagi. Ia berbaring lalu memejamkan matanya.


14.58


Sepulang sekolah.. Rafael, Gibran, Dan Natasha pergi bersama menuju Bar. Kali ini Gibran benar benar maksa buat ikutan pergi ke tempat kerja mereka.


"Hari ini kayaknya Yuri gak ikut ya?. " Tanya Gibran kepada Rafael yang sedang duduk sambil meminum segelas teh di tangannya.


"Syukur dong dia gak ada!. " Sambung Natasha sedikit ketus.


Gibran berharap yuri ikut, karena kemarin tanpa sengaja Gibran melihat mereka berangkat bersama. Tapi ternyata tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.


"Kalian pekerja baru di Bar itu ya dek?. " Tanya ibu pemilik warung nasi uduk.


Gibran menggelengkan kepalanya sambil tersenyum memperlihatkan senyum kotaknya. Lalu Gibran menyodorkan selembar uang 100 ribu untuk membayar tiga nasi uduk dan teh manis yang di pesannya.


"Bukan aku bu yang kerja disana, tapi mereka!, " Gibran menunjuk El dan Tasha.


"Kalian gak takut kah?. " Ibu itu memberikan uang kembaliannya kepada Gibran.


Seakan tertarik Rafael menyahut di sela sela percakapan Gibran dan pemilik warung itu.


" Memang takut kenapa bu? Ada sesuatu ya di bar itu?! . " Rafael mencoba memancing informasi, dan mungkin saja ada petunjuk untuknya.


Terus terang Rafael mulai merasa terganggu dengan terror dari makhluk aneh yang selalu menghampiri nya sejak bekerja di bar itu. Ia sangat ingin membagikan apa yang dialaminya kepada Gibran dan Natasha, Namun ia tidak ingin dianggap cemen dan pengecut di depan mereka.


"Kan bar itu ada setannya!. " Sahut ibu warung.

__ADS_1


"Ha? seriusan bu?. " Jawab Rafael pura pura terkejut. Gibran dan Natasha yang sedari menyimak tiba tiba membulatkan matanya ke arah ibu pemilik warung. seolah tak percaya dengan apa yang telah ibu itu katakan. "Iya." ibu itu mulai memelankan suaranya lalu melihat ke arah kanan dan kiri.


"OB yang pernah kerja disitu gak pernah betah, dan selalu ngundurin diri. Walaupun tempat itu terlihat sangat mewah, tapi pekerjanya selalu berkurang dan semakin sedikit. "


"Mereka diganggu setan?. " Natasha pun turut ikut campur dengan cerita masa lampau Bar itu.


Ibu itu mengangguk.


"Gak cuma digangguin, tapi juga hampir dibunuh. Hantunya serem. Ob yang berhenti beberapa minggu lalu yang cerita sama saya.


Katanya karena didorong oleh sosok laki laki yang tubuhnya setengah terbakar. Tapi kalau kata pak satpam yang jaga disana, Dia jatuh karena kepleset. Katanya juga ya, Selalu ada penampakan cewek di dekat gudang. Pake gaun hitam di atas lutut. Ditambah rambutnya yang tergerai panjang. "


Mereka bertiga pun mau tak mau harus menelan ludah mendengar cerita sang ibu. Apalagi Rafael, Dia benar benar tidak bisa menyembunyikan rasa takut nya.


"Kok bisa banyak setannya sih bu?. " tanya Gibran antusias.


"Kan dulu pernah terjadi pembunuhan disitu. Cuma saya kurang tau yang dibunuh itu cewek apa cowok. Saya denger denger sih cewek, tapi orang orang sering liat penampakannya malah cowok setengah terbakar gitu badannya. Katanya sih korban yang dibunuh itu punya adik, namanya Leo klo gak salah. "


"Jadi yang dibunuh itu sebenarnya siapa? Gadis itu apa si Leo? ". Pikiran mereka mendadak buntu.


"Saran saya kalian berhenti aja! Daripada celaka. " Mereka pun lalu berpamitan kepada ibu pemilik Warung.


Sepanjang jalan menuju bar, mereka hayut dalam Pikirannya masing masing. Apa lagi yang mereka pikirkan selain cerita tadi yang masih menggeluyuti di benak mereka.


"Gue ga Ngada ngada kan El? Cerita itu memang asli adanya. Kalo menurut lo gimana tas?. " Tanya Gibran memecah keheningan.


"Gimana apanya? Gue sih antara percaya percaya enggak, Soalnya bisa jadi kan itu hoax. Tau aja ibu ibu sering gosip. " Sahut Natasha tanpa ragu.


Rafael tak menggubris kedua temannya yang sedang asik berbincang tersebut. Ia terus larut dalam pikirannya yang semakin dalam.


 


"Menurut kalian, Yuri tau gak sama kasus pembunuhan itu? . " Gibran dan Natasha pun saling tatap. Mereka sempat hening beberapa detik.


 


"Kayaknya gak mungkin dia gak tau. " Jawab Natasha.


"Biar pasti nanti gue tanya deh sama orangnya!. " Sambung Gibran.


HAPPY READING GUYS😘


JANGAN LUPA LIKE NYA👇

__ADS_1


KOMEN AND SHARE YA😉 GOMAWO 😊🌹


__ADS_2