The Mystery Of The Beautiful Girl

The Mystery Of The Beautiful Girl
BAB 20


__ADS_3

MASIH DI RUMAH SAKIT.


00.05


"Ehmm- "


" Aaakhhh... " (Terbangun dari komanya dengan mimpi buruk)


Sekitar jam 12 malam Gibran terbangun dari komanya. Ia merasakan sakit yang luar biasa dikepalanya. Hidung dan Bibirnya yang ditutupi dengan tabung oksigen membuatnya sadar bahwa dia sedang berada di rumah sakit. Tubuhnya berkeringat. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi.


Gibran mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Ia melihat Natasha sepupu dekatnya terbaring pulas diatas sofa. Sedangkan Ibu dan ayahnya tidur di kasur khusus keluarga tepat disampingnya.


Gibran menggeram. Ia merasa bersalah karena telah menyebabkan kekacauan. Andaikan saja sosok itu tidak menyerangnya, Mungkin Gibran akan baik baik saja. Ia pun mencoba bangkit dari tidurnya. Ternyata bukan kepalanya saja yang merasakan sakit, Namun ia juga merasakannya di belakang punggungnya. Rasanya ngilu, begitu menyakitkan.


" A- Aaakhh. "


Natasha terbangun dari tidurnya. Ia tak sengaja mendengar suara teriakan seseorang. Ternyata itu adalah suara Gibran. Dengan cepat Natasha bangkit dan menghampirinya.


" Oh maaf, Gue buat Lo kebangun ya?. " Ucap Gibran sambil menahan sakit di punggung dan kepalanya.


" Lo akhirnya sadar juga. Tapi kenapa tengah malam gini? Jam berapa ini. "


" Ya mana gue tau🙄. "


Natasha pun mengecek jam di pergelangan tangan kirinya. Ia terdiam sejenak.


" Lo udah baikan? Kenapa udah bisa duduk aja?. "


" Iya mendingan kok. " Gibran berbohong.


" Gue kebelet. "


" Yaudah gue bantu. Tapi Lo kuat jalan gak?. "


" Kita liat aja. "


Natasha pun menggiring Gibran masuk kedalam toilet. Ia bersedia untuk menunggu Gibran keluar dari dalam sana. Selama beberapa saat, Gibran pun keluar. Ia pun segera membantu Gibran dan membaringkannya kembali di Kasur medis.


" Lo yakin udah gpp?. " Natasha kembali bertanya.


" Iya gue yakin. tenang aja ga usah khawatir gitu. "


" Ngomong ngomong maafin gue udah ngerepotin kalian. Lo sampe belain jagain gue disini. "


" Yah santai aja. lagian gue gak sendiri. "


" Ngomong ngomong Ran, Sebenarnya apa yang terjadi sama Lo?. "


"Glekk- " Seketika Gibran menelan ludah mendengar pertanyaan dari Natasha. Matanya membulat melotot. Mendadak ia kembali mengingat kejadian malam itu. Ketika dirinya dipenuhi darah, Dan bayangan sosok itu yang tersenyum ketika melihat dirinya jatuh. Namun bukan itu saja yang ia takuti. Tapi-


" Ran- "


" Gibran?. " Natasha mencoba menyadarkan Gibran.

__ADS_1


" Eh oh? Apa tadi?. " Gibran menjawab dengan terbata bata dan wajah pucat.


" Sebenarnya apa yang terjadi sama Lo? Gue khawatir? Tolong kasih tau gue. "


" Gue capek tas. Gue tidur lagi ya. Lu juga istirahat. " Tergesa Gibran menjawab.


Gibran Tidur dengan membelakangi Natasha yang duduk termenung. Natasha mengerutkan dahinya. Ia merasa bingung dengan perubahan sikap Gibran. Ia bisa merasakan, bahwa Gibran menyembunyikan sesuatu.


Sebenarnya salah satu alasan Gibran tidak ingin bersuara bukanlah karena tidak ingin membuat mereka khawatir. Namun karena sosok Mengerikan itu yang berdiri dibelakang Natasha. Raut wajahnya, Sorotan matanya. Seakan mengancam Gibran agar tutup mulut. Jika ia menceritakan kronologi nya ia akan benar benar merenggang nyawa ditangan makhluk itu. Gibran hanya mencoba untuk menyelamatkan nyawanya. Namun ia juga tidak ingin nyawa sahabatnya terancam.


*


*


*


*


*


Tepat pukul 5 Pagi Rafael sudah beranjak dari kasurnya dan segera menuju kamar mandi. Ia mengetuk pintu kamar Luna beberapa kali.


" Ngapain ngetuk ngetuk? Luna udah disini. "


" Hah?. " Rafael segera menoleh kebelakang. Ternyata benar itu adalah adiknya. Sesaat jantungnya terasa mau copot. Karena kehadiran Luna yang mendadak sudah berada di belakang nya.


Mereka pergi tanpa memberi tahu Mama yang masih tertidur pulas di kamar. Mungkin menurutnya. Mama pasti tau kita kemana, Jadi tidak perlu minta ijin lagi.


" Pagi pagi mau kemana den?. " tanyanya.


" Ke rumah sakit pak. Nanti klo ada yang tanya bilang aja Rafael sama Luna jenguk Gibran. "


" Oh oke, Hati hati ya den. "


" Siap pak makasih. Rafael berangkat dulu. " Pak satpam pun mengangguk.


*


*


*


*


*


RUMAH SAKIT.


Pagi itu Gibran melihat beberapa orang berdiri di luar ruangannya. Namun hanya bayangannya saja. Sedangkan Natasha sedang pergi membelikan makanan untuk mereka. Natasha meminta kedua orang tua Gibran untuk pulang dan beristirahat Dan membiarkannya untuk menjaga Gibran.


Seketika orang orang itu masuk ke dalam ruangan. Mereka adalah polisi dan beberapa wartawan. Gibran tersentak. Apa yang mereka inginkan? Beberapa pertanyaan terlontarkan untuk Gibran. Namun ia tak bisa menjawabnya. Ia takut, Jika mereka akan menganggapnya berbohong dan hanya berhalusinasi. Namun disisi lain Gibran juga takut jika nyawanya kembali terancam sebab sosok itu.


Dibalik polisi dan para wartawan itu, Perhatian Gibran teralihkan oleh 2 sosok yang berada di belakangnya. Itu adalah Rafael dan Luna. mereka datang berkunjung.

__ADS_1


Sesaat Gibran merasa senang karena sahabatnya datang mengunjunginya. Di sisi lain, Ia juga ingin menanyakan sesuatu kepada Rafael. Namun yang ia tak mengerti adalah sosok adiknya yang berdiri di samping Rafael.


Luna menatap tajam ke arah Gibran. Namun sebenarnya Luna bukanlah menatap Gibran. Tapi sosok yang melayang di atas Gibran. Di mata Luna sosok itu ingin merasuki tubuh Gibran dan membawanya pergi. Ya, pergi. Pergi dari dunia ini.


" Gibran, gimana kabar Lo? polisi?. " Rafael berbicara pelan. Ia merasa canggung berada di dalam sana bersama dengan polisi dan wartawan yang menyoroti mereka. Gibran pun memberikan isyarat kepada Rafael untuk membantunya mengusir mereka.


" Pak maaf ini ada apa ya?. " Rafael bertanya dengan pak polisi.


" Saya disini ingin meminta kesaksian dari korban. Kami dari pihak polisi belum bisa menentukan apa penyebab dari jatuhnya korban dari lantai atas. Untuk sementara kami berfikir itu tindakan bunuh diri. Tapi siapa tau? saya memerlukan bukti. "


Rafael pun sempat terdiam beberapa saat. Ia memikirkan harus menjawab apa untuk membantu Gibran. Apa lagi para wartawan yang mengganggu ini. Mereka memberikan banyak pertanyaan dan memaksa Rafael untuk menjawab.


" Mohon maaf sebelumnya pak. Korban sekarang kan baru sadar, apa bapak tega meminta kesaksian darinya sekarang? tidak bisakah menunggu dia sembuh total?. "


" Saya mohon maaf sekali, kalian harus keluar sekarang. Dia perlu istirahat yang cukup. "


Rafael mendorong para wartawan keluar dari ruangan. Memang beberapa agak merasa kesal atas perlakuan Rafael. Namun tak ada jalan lain selain mengusir mereka pergi agar tidak semakin rumit. Pihak polisi pun mengerti dan mengatakan akan kembali ketika korban telah sembuh total.


" Fuhhh...Makasih banyak El. " Gibran menghela nafas lega.


" Kapan Lo sadar Ran? Maaf banget kemarin gw Dateng tapi Lo belum sadar. "


" Ya gpp. Gw seneng kok Lo Dateng. "


" Ngomong ngomong Luna?. "anjut Gibran lagi.


" Oh maaf gue belum bilang tujuan gw ngajak Luna kesini buat apa. "


" Memang kenapa?. "


" Hai kak Gibran. Udah lama gak ketemu. " Ucap Luna memberi salam.


" Hai juga lun, Kamu makin gede aja ya. "


" Iya hehe. Btw kak jaga diri ya. Jangan sampai pikiran kakak kosong. "


" Hah?. " Mata Gibran membulat. Ia tak mengerti.


" Aku bisa melihat sosok yang membuat kakak celaka. Aku tau kakak gak berniat bunuh diri, tapi ingin dibunuh. " Ucap Luna lirih.


Sontak perkataan Luna membuat Gibran dan Rafael terkejut. Karena kata katanya yang menginginkan Gibran mati (terbunuh). Seketika buku kuduk mereka berdiri.


" Me...mang siapa itu Luna? Apakah dia?. " Rafael bertanya.


" Dia?. " Gibran masih tak bisa mengerti.


" Iya benar. Ini perbuatan laki laki iblis. Sekarang dia mulai bertindak terlalu jauh selain menyerupai sosok gadis (makhluk yang berteman dengan Luna yang ingin meminta bantuan Rafael). "


" Dia tidak suka ada yang menghalangi jalannya. Ia ingin merenggut kehidupan kak Rafael. Namun ia ingin bermain main dulu dengan teman dekat kakak. "


" Kali ini hanya permulaan. Lain kali, Dia akan menghabisi semuanya. Termasuk kak Natasha juga. "


" Apa?!. " Rafael tersentak. Ia menelan ludah.

__ADS_1


__ADS_2