
PAGI ~ SEKOLAH.
Rafael sedang Menelungkupkan kepalanya di atas meja sebelum akhirnya sepasang tangan datang menyentuh pundaknya. Dengan cepat ia mendongak. Matanya merah, Rambut yang berantakan, Dan wajahnya yang terlihat masam semasam jeruk nipis.
Melihat siapa yang menyentuhnya, Rafael kembali Menelungkupkan kepalanya. Ia merasa pusing.
Akhir akhir ini Rafael hanya tidur selama 3 atau 4 jam permalam. Itu semua terjadi akibat terror terror aneh yang selalu menghantuinya. Dan semakin lama semakin terasa nyata. Namun, sampai sekarang Rafael masih menganggap ini semua hanya mimpi buruk atau imajinasi saja.
"Gak habis pikir gue, lu gak bosen bosennya apa? dimana mana maunya tidur mulu!. "
"Makanya tu mata jangan keseringan gadang El, tu mata juga perlu istirahat. "
Gibran meletakkan bokongnya di kursi sebelah Rafael duduk.
"Mana tuh muka kelihatan asem banget lagi. "
Rafael menggeram pelan. Sakit di kepalanya masih terasa. Bahkan lebih parah dari sebelumnya. Sementara, Kelas yang tadi cukup lengang kini menjelma menjadi pasar dadakan yang menjual ikan.
Rafael tak bisa lagi melanjutkan tidurnya. Padahal, belum sampai 5 menit dirinya memejamkan mata.
"El, tadi di luar gue ketemu sama Farrel. Dia nyariin elu. Katanya kapan balik futsal. "
Terdengar suara Natasha menggebrak meja membuat Rafael terkejut. Ia pun memijit pelipisnya.
Rafael baru saja teringat. Semenjak ia bekerja, kegiatan ekskul futsal tak pernah sekalipun ia hadiri. bahkan tak hanya futsal, Namun juga klub bola basket.
Sebenarnya Gibran juga mengikuti ekskul yang diikuti Rafael. Karena wajah nya yang terlihat tampan, iapun juga ikut cukup populer di kalangan sekolah.
"Elu sakit El? kok pucat gitu?. " tanya tasha.
__ADS_1
"palingan kurang tidur tas, liat aja matanya ampe kea panda gitu. " Sahut Gibran
"gue gak nanya sama lo anjr. "
Sebenarnya Rafael sangat ingin menceritakan apa yang dialaminya selama seminggu penuh ini. Tepatnya semenjak mereka bekerja di Bar itu. Juga, tentang penampakan yang pernah ia lihat di dalam toilet.
Namun ia mengurungkan niatnya. Rafael berfikir "Kalo gue cerita, malah bikin mereka tambah khawatir dong! Lagipula mereka bisa berbuat apa? Toh masalahnya gak bakal selesai walaupun gue cerita. "
"Lagipula ini cuma khayalan! Cuma mimpi. setan itu gak ada! gak ada yang namanya roh gentanyangan. " Gumam Rafael di dalam hati.
Saat Rafael berputar memikirkan semua hal itu, tiba tiba ia teringat dengan sesuatu. "Kenapa gue gak cari tahu di Internet aja? Yaampun otak gue kemana sampe sebodoh ini. "
Rafael pun segera merogoh Tasnya di dalam laci. ia mengambil ponselnya yang tersimpan disana. Rafael segera mem browsing tentang Bar tempatnya bekerja dan sekolah tempatnya belajar.
Sedangkan tentang informasi sekolahnya, tak ada yang mengetahui. Seakan memang tak pernah ada sesuatu yang terjadi di sekolah ini.
Kepala Rafael semakin terasa berat. Ia merasakan sesuatu yang janggal, sangatt janggal. Matanya seakan menyuruhnya untuk tertutup. Rafael pun merenggangkan otot otot tangan dan lehernya.
Krekk...
Suara itu terdengar pelan di telinga Rafael. iapun meluruskan badannya. Semakin Berjalannyaa waktu, Rafael mulai merasakan ada yang tak beres.
Pundaknya terasa berat. Seolah ada suatu benda atau tubuh yang menaiki pundaknya dengan beban puluhan kilo.
Rafael menatap jam di pergelangan tangannya. setengah delapan. Jarum jam ditangannya terlihat Samar samar, seakan memiliki kembar empat. Keriuhan dan kegaduhan seperti pasar tadi pun seketika mendadak berubah.
Bel Berbunyi, Menggema seakan berada di sebuah lorong yang panjang. Rafael melihat sekeliling ruang kelasnya. Teman temannya duduk tegap lurus tanpa gerakan sedikit pun. Mereka semua menghadap ke arah whiteboard di depan.
Tidak ada yang berceloteh dan bercanda. Sunyi senyap. Rafael mengindikkan bahu. "Kayaknya ada yang aneh?. "
__ADS_1
Rafael mencium sesuatu yang berbau amis. Ia merasa sedikit sesak nafas. Bau busuk itupun seakan sengaja bergumpal di depan hidungnya. Ia hampir tersedak dan muntah. Namun, itu urung dilakukannya ketika mendengar suara irama langkah sepatu yang menggema dari koridor sekolah.
Itu Bu Dian. Ia masih mengingat pelajaran pertama hari ini adalah fisika kimia. Namun, satu yang ia tak mengerti. Kenapa teman temannya bisa duduk manis dan tenang seperti itu, Seolah mereka sedang terhipnotis.
El menoleh kesamping dan ke belakang tempat duduknya. "Loh... Gibran kemana? Terus Natasha juga kemana? kok mereka gak ada sih?. " Rafael meraba raba tempat duduk di sampingnya.
5 menit sebelumnya jelas jelas ia masih ingat ketika gibran menyentuh pundaknya dan mengganggu tidurnya. Lalu Natasha yang datang dengan mengabarkan bahwa Farrel sedang mencari dirinya. Itu membuktikan bahwa mereka tadinya masih berada di dekatnya. "Apa mereka ke kantin? kok gak ngajak gue?. "
Bu Dian pun duduk manis di kursinya. Tak seperti biasanya, Guru dengan umur 28 tahun itu mengggerai rambut panjangnya. Biasanya, Ia selalu menyanggul rambutnya ke belakang dengan gulungan yang agak tinggi. bahkan sang guru pun tidak menyapa selamat pagi.
Bu Dian menulis sesuatu di whiteboard. Rafael mengernyit kan dahi. Ia tak bisa melihat dengan jelas. Kepalanya berdenyut kencang. Rasanya ingin pecah saja ketika mendengar suara gesekkan kuku yang Membuat ngilu.
Rasa yang menyayat, Membuat giginya sangat ngilu. Rafael mencari asal bunyi itu. Ternyata sumbernya berasal dari Bu Dian.
Rafael hanya bisa menelan ludah ketika melihat gurunya menulis menggunakan kuku jari. Suasana hening membuat goresan itu semakin nyaring dan menggema. Seolah menusuk nusuk masuk gendang telinga.
Mendadak Rafael mendengar suara air yang menetes. Seolah diluar sana sedang hujan deras dan membuat atap kelas menjadi bocor. Suara itu terdengar sangat dekat. Ia pun menoleh.
Rafael terperayak. Lantai kelas yang awalnya terlihat bersih dan wangi kini berubah menjadi kotor dan mengerikan.
Air yang merembes dari atap, Dinding yang berlumut, Kertas kertas yang berserakan, Beserta papan tulis yang penuh dengan coretan dan telapak tangan kotor berwarna hitam.
Bangku bangku berubah menjadi usang dan lapuk. Dan teman temannya termasuk Bu Dian tadipun menghilang entah kemana. Ia menatap sekeliling. Rafael memutar tubuhnya . Kelas ini kosong.
Rafael mengerjap. Ia mengucek kedua matanya. Benar saja tak ada siapapun di kelas ini selain dirinya. Rafael bangkit dari duduknya. Ia memeriksa kembali kondisi kelasnya dengan seksama.
Rafael melangkah ke depan sebanyak satu langkah. Rasanya aneh. Saat ia melangkahkan kakinya, ia merasakan ada sesuatu yang lengket. Rafael pun sadar bahwa darah lah yang memenuhi lantai dengan bau amis yang menyesakkan.
HAPPY READING 😊
JANGAN LUPA DI LIKE, RATE, AND VOTE😘
KOMEN DI BAWAH YA👇
__ADS_1