
PAGI HARI DI SEKOLAH.
Rafael masuk ke dalam kelas dengan perasaan tak enak. Hari itu dia agak terlambat, namun guru yang mengajar mereka belum hadir. Ia menengok ke sebelah kiri. " Apa Gibran terlambat juga?. " Pikirnya.
Rafael pun menoleh ke meja yang ada di belakangnya. Natasha juga tak nampak disana. Anak anak berbisik sambil menatap wajah Rafael. Namun, ketika ia menoleh. Mereka semua membuang muka.
Tak lama bel berdering. Rafael duduk dengan posisi rapi. Ternyata yang masuk bukanlah Ibu guru yang seharusnya mengajar kami, Tapi Bapak kepala sekolah. Dengan kacamata tebal dan perut yang bulat.
" Baiklah anak anak, saya mohon maaf atas hari ini kita tak bisa belajar seperti biasanya. " Ucap pak kepala sekolah.
" Salah satu teman kita Bernama Gibran Alfandi. Kemarin malam baru saja mengalami kecelakaan. Bapak ibu guru serta staf tata usaha di sekolah akan pergi menjenguknya. "
" Dan untuk kalian, jangan ada yang pulang terlebih dahulu. Tetap di kelas. sampai bel istirahat berbunyi, baru kalian boleh keluar. " Lanjutnya.
Anak anak yang lain pun meng iyakan ucapan dari pak kepala sekolah. Sedangkan Rafael hanya terdiam. Ia kaget setengah mati. Ia berfikir "Bukankah kemarin malam Gibran pulang bareng gue. Kecelakaan? Apa jangan jangan. " Rafael tersentak dan segera pergi menyusul pak kepala sekolah.
Yurita menoleh ke arah meja Rafael. Ia mengerutkan dahi. " El kenapa? kok aneh gitu." Yurita merasa Rafael sedang memikirkan sesuatu yang dia harus tau. Dengan sigap ketika ia melihat Rafael berlari keluar kelas, iapun mengikutinya.
*
*
*
*
*
Yurita menarik tangan Rafael dan menahannya. Rafael pun sontak terkejut dan menoleh kebelakang.
" El lu mau kemana?. " Tanya Yuri.
" Akhh... Ayolah Yur, ini bukan waktu yang tepat. " Rafael menepis kedua tangan yuri. Dan segera pergi meninggalkannya.
Tentu saja Yuri tak tinggal diam. Ia terus mengikuti Rafael hingga ke depan parkiran sekolah. Terlihat disana para guru dan staf bersiap siap memasuki masing masing mobil. Dan ada juga yang memakai motornya sendiri.
" PAK..TUNGGU SEBENTAR. " Rafael berteriak sembari melambaikan tangannya keatas. Sontak semua guru menatap tajam dirinya. Rafael berlari menuju pak kepala sekolah diikuti dengan Yuri dibelakangnya.
" Kenapa kalian keluar? Ingin bapak kasih point?. " Ucap pak kepala sekolah tegas.
" Maaf pak. Saya cuma minta tolong sama bapak. Izinkan saya ikut ke rumah sakit. " Ucap Rafael memelas.
Semua mata tertuju kepada Rafael dan kepala sekolah. Pak kepala sekolah terdiam sejenak. Ia melihat sekeliling.
" Untuk kalian silahkan berangkat duluan. Jangan tunggu saya. " Ucapnya kepada para staf dan guru lain.
__ADS_1
Mereka pun pergi meninggalkan kepala sekolah bertiga dengan Rafael dan Yuri. Kepala sekolah kembali menatap kedua mata sipit Rafael.
" Apa tujuan kamu ingin ikut?. "
" Saya hanya khawatir pak. Gibran sahabat saya. Tolong biarkan saya ikut. "
" Huhhh... " Pak kepala sekolah menghela nafas panjang.
*
*
*
*
*
RUMAH SAKIT.
" Mohon maaf ruangan atas nama Gibran Alfandi sebelah mana ya?. "
" ......... "
" Oh baiklah, Terimakasih sus. "
Entah kenapa ketika Rafael dan kepala sekolah melangkahkan kaki masuk ke dalam lift. Rasanya ada yang berbeda. Hawa yang mencekam. Dingin. Membuat merinding.
" Bapak sedang mencari apa?. " Tanya Rafael.
" Ponsel saya. Apa jangan jangan saya lupa membawanya?. Kamu naik duluan, bapak akan periksa di mobil. "
" Baik pak. "
Tertinggalah Rafael sendiri di dalam lift. Hanya sendiri. Ia merasa takut Kalau tiba tiba ia nyasar di dunia lain. Rafael berkeringat dingin. Ia mencoba tenang dengan menggerakkan kakinya naik turun. " Uhh...kenapa rasanya menuju lantai tiga sangat lama? aku sudah merasa tak enak. " Batinnya.
Lift berhenti di lantai dua. Seorang suster masuk kedalam dengan membawa sebuah meja dorong. Jika dilihat, sepertinya ia ingin menuju lantai bawah.
Wajah suster itu sangat pucat. Tak bicara apapun. terlihat canggung. Rafael menggigit bibir bawahnya. sesekali ia melirik suster itu untuk memastikan. Apakah dia manusia atau bukan. " Oh astaga. " Dengan cepat Rafael kembali melihat kedepan. Ia gugup. Suster itu melirik dirinya.
" Jenguk siapa?. " Tanya suster itu dingin.
" Temen. " terus melihat kedepan.
" Oh. Hati hatinya. "
__ADS_1
" Hati hati? Ma..maksudnya?. " Menoleh Ke arah suster.
" Ohh astaga. Ini menakutkan. Kemana suster itu pergi? Aku benar benar gugup. " Suster itu menghilang dari pandangan Rafael. Ia tak ada di dalam lift. Hanya ada Rafael seorang. Suster itu menghilang bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Dengan cepat Rafael keluar dan tergesa pergi.
Ketika Rafael berlari meninggalkan lift itu. Terlihat suster itu kembali terlihat. Hilang, dan muncul kembali. Pintu lift perlahan tertutup bersama dengan suster misterius itu di dalamnya.
*
*
*
*
*
RUANGAN GIBRAN.
Orang tua Gibran serta para guru Berada diluar ruangan. Terlihat mereka seperti membicarakan sesuatu. Juga terlihat beberapa polisi dan wartawan yang ingin meminta informasi. Mereka memaksa Orang tua Gibran untuk angkat bicara. Dan perkiraan menurut pihak polisi, Gibran sedang mencoba tindakan bunuh diri dengan melompat dari lantai atas.
Rafael masuk kedalam ruangan dan duduk disamping Gibran yang terbaring. Ia merasa ada yang janggal dari pengakuan pihak polisi didepan wartawan. Percobaan bunuh diri. Itulah yang dipikirkan oleh Rafael.
Saat ia bertanya dengan orang tua Gibran. Kaca jendela Gibran pecah ketika ia jatuh. andaikan saja Gibran mencoba bunuh diri, Untuk apa dia memecah jendelanya? Ia bisa melakukannya tanpa jendela yang pecah kan?. Rafael hanyut dalam pikirannya.
Tak lama seorang perempuan masuk ke dalam ruangan. Itu ternyata Natasha. Ia pergi keluar untuk membelikan makanan untuk orang tua Gibran. Ia tak tau jika Rafael juga berada di rumah sakit.
" Kapan Lo kesini? Gue pikir cuma para guru aja. " Tanya Natasha.
" Gue di izinin ikut. "
" Kenapa Lo gak kasih tau gue?. " lanjut Rafael.
" Maaf gue terlalu panik sampe lupa buat nelpon elu. Btw maaf nih gue cuma punya satu makanan. "
" Ya gpp Lo makan aja. Gibran udah sadar belum? Apa kata dokter?. "
" Gibran masih koma. pendarahan di kepalanya terlalu banyak. Kemungkinan sih ada organ yang mati. Tapi cuma sementara juga sembuh kok. Setahu gue kata dokter sih gitu. "
" Syukur deh klo Gibran baik baik aja. Panik banget gue dia masuk rumah sakit. Nanti malam gue balik lagi kesini. Bilang sama kak Rizky Gue izin gak kerja. "
" Yaudah nanti gue kabarin. Lagian gue juga gak bisa kerja. kasian orang tua Gibran. Gue gak percaya dia mau bunuh diri. "
" Gue justru gak percaya sama sekali. Kayaknya ada hubungan lain. "
" Maksudnya?. "
__ADS_1
Rafael dan Natasha pun saling tatap. Mereka terlihat sangat serius. Masing masing dari mereka memang merasakan Hal yang janggal. Rafael tak menyangka, Jika sosok yang menerornya akan bertindak sampai sejauh ini. Apa lagi sosok itu melukai salah satu temannya.
Rafael tak bisa tinggal diam. Ia pun akhirnya jujur dan menceritakan semua kejadian kejadian tak masuk akal kepada Natasha. Begitu juga dengan Natasha. Ia akhirnya menceritakan apa yang ia sembunyikan dari Rafael. Mereka pun sepakat akan bekerja sama untuk mencari tau.