
" AAAAAAAAKKKKH. "
Terdengar suara teriakan perempuan dari dalam ruangan. Rafael, Natasha, Luna serta para polisi tersentak. Mereka teralihkan oleh sebuah teriakan. Dengan cepat Rafael mendorong pintu itu dan masuk dengan tergesa ke dalam sana. Terlihat Tante Bella tergeletak di lantai. Ia pingsan.
" Astaga Tante?! Ada apa ini?. " Natasha menghampiri Tante Bella yang pingsan dan menggoyang goyangkan tubuhnya. Natasha terlihat kacau.
Rasanya keadaan menjadi semakin ricuh ketika mereka menyadari Gibran tak ada di kasurnya. Luna terdiam menatap semua orang yang sibuk entah karena apa. Ia terfokuskan dengan satu pandangan di depannya. Jendela.
Perlahan Luna berjalan mendekati jendela. Tubuhnya bergetar hebat. Ia merasakan aura yang sangat mencekam di dekat sana. Jantungnya berdebar sangat kencang. Ternyata kericuhan juga tak hanya terjadi di ruangan Gibran. Namun juga di lantai bawah. Di bawah jendela ruangan Gibran. Tepatnya di pinggir jalan.
Tinn...tinn...tinn...
Bunyi bunyi klakson mobil terdengar dimana mana. Sebagian polisi yang ada di ruangan Gibran segera turun kebawah untuk melihat apa yang terjadi. Rafael menghampiri Luna yang berdiri di tepi jendela.
Wajah mereka pucat pasi. Rasa takut menghampiri keduanya. Betapa terkejutnya mereka. Dibawah sana seseorang tergeletak dengan kepalanya yang pecah. Membuat isinya keluar dengan darah yang tak sedikit. " A-akhh gak mungkin!! Itu, itu Gibran?!. "
Tanpa basa basi Rafael langsung berlari ke luar pintu. Ia tergesa sehingga tak punya waktu untuk menunggu pintu lift terbuka. Rafael akhirnya memilih untuk melewati tangga darurat. Ia berlari sekencang kencangnya agar bisa melihat dengan jelas siapa yang baru saja ia lihat dari atas.
Natasha kebingungan ketika melihat Rafael terlihat pucat dan sangat panik. Ia melepaskan kedua tangannya dari kepala Tante Bella yang masih terbaring pingsan. Dengan segera Natasha pun menyusul Rafael turun ke lantai bawah.
" Luna! Kakak titip Tante Bella sama kamu!. " Ucap Natasha sambil berlari meninggalkan ruangan.
Luna terdiam membeku. Ia tak bisa berkata apa apa. Ia merasa semua yang ia lakukan percuma. Sebab, walaupun ia sudah tahu ini akan terjadi dan mencoba untuk mengubahnya. Ia tak akan bisa. Karena inilah alurnya. Ini lah jalannya. Takdir memang tak bisa kita ubah dengan tangan kosong begitu saja. Kecuali jika memang alam semesta menginginkannya.
Perlahan semua para polisi yang berada di ruangan keluar untuk memeriksa ke lantai bawah. Mata, sikap, dan tingkah mereka menunjukkan ekspresi bingung, tidak percaya. Mereka kewalahan. Bahkan dari mereka ada yang mengeluarkan tatapan putus asa.
Tertinggalah Luna dan Tante Bella sendiri. Luna duduk disamping Tante Bella yang tergeletak tak sadarkan diri.
" Arghhh!! Kenapa ini terjadi? Tiruan kak bintang bener bener jahat!! Jahatt!!. " Luna menggeram sambil sesekali memukul lantai dengan kedua tangannya. Wajahnya memerah. Setetes air mata jatuh dari pipi beningnya.
" Heii.... " Terdengar suara perempuan lirih dibelakang Luna.
Luna segera menoleh, matanya membulat. Luna menghapus air matanya dari pipinya. Luna mendongak dan bangkit dari duduknya.
" Ini beneran kakak kan?. " Ucapnya sambil menghapus air mata.
__ADS_1
" Apa yang terjadi?. "
" Ahhh kakakkk!! Sungguh aku kesal!! Dia jahat kak! Aku gak suka. " Luna berteriak sembari melanjutkan tangisnya sesugukan.
" Arwah tiruan kakak itu! Di, dia udah bunuh kak Gibran. Aku gak rela. Mengapa dia mengganggu kak Rafael? Aku tak ingin kakakku terluka kak bintang!. "
" Maaf. Aku tak bisa membantu. Kau tahu aku tak bisa melihatnya. Aku tak tahu keberadaan arwah tiruan yang kau maksud itu. "
" Jangan menangis. Agar ini cepat selesai. Perintahkan kakakmu untuk menyelesaikan masalah kasus ini segera Agar tak ada korban yang lain. "
" Aku akan memberimu petunjuk. Seterusnya biarkan kau yang mencari tau. Aku harus segera pergi Luna. Jangan sampai lengah. "
Luna menatap kak bintang yang perlahan menghilang dari pandangannya. Ya, itu adalah kak bintang. Gadis korban pembunuhan di Bar. Dia gadis yang baik. Dia tak menyakiti orang lain. Tapi tiruan itu yang melakukannya. Setelah belasan tahun, akhirnya arwah kak bintang kembali muncul.
Ia bercerita kepada Luna. Bukan kemauannya untuk kembali ke dunia manusia. Bintang seakan terpanggil oleh sesuatu. Sesuatu yang terikat dengan dirinya. Ikatan darah. Bahkan bintang tidak tahu jika ada arwah lain yang meniru wajahnya dan menakuti orang lain. Jelas jelas, itu bukanlah bintang. Mereka semua terhubung. Terhubung dengan suatu ikatan.
*
*
*
*
*
" Arghhhh....gak!! Gak mungkin!!!. "
Rafael menggenggam kepalanya erat. Ia terlihat benar benar frustasi. Ia tersungkur. Seseorang yang tergeletak didepannya Itu, itu benar benar Gibran.
" AAAAAARRRGGGGH.... GIBRAN!! . " Rafael berteriak histeris. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Ia tak pecus menjaga sahabatnya dengan baik. Apa benar Gibran melompat dari jendela? Tapi apa motifnya? Dia sudah sembuh! Mengapa dia melompat?! Rafael benar benar tak bisa berfikir apa apa lagi. Ia sungguh terpukul.
Bersamaan dengan itu Gibran pun segera dibawa oleh para medis. Tubuhnya dibungkus dengan sebuah kain berwarna kuning. Seluruh wajahnya tertutup. Beserta isi kepalanya yang diangkat secara perlahan dan dimasukkan kembali ke dalam kepalanya. Semua orang yang menonton ada yang sampai pingsan. Bahkan muntah muntah melihat semuanya.
Dibagian pundak sebelah kanan Rafael terasa tangan yang hangat menyentuhnya. Ia mendongak.
__ADS_1
" Ini kenapa? Lo kenapa lari lari tadi? Lo gak papa kan El?!. "
Rafael menghirup nafas dalam. Ia menunduk dengan wajah yang begitu merah.
" Da, darah itu. " (Menunjuk bercak darah di aspal jalan)
" Gibran. " Rafael menunduk tak berani menatap wajah Natasha. Ia tak kuat menceritakan apa yang baru saja ia lihat.
" Ma, maksud Lo gimana El? Gu, gue gak ngerti!. " Natasha menjawab terbata bata mencoba memahami semuanya
" Darah apa maksud Lo? Ini cuma becanda kan? Lo gak ngomong serius kan El?. " Rafael tetap menunduk tanpa menatap kedua mata Natasha yang berbinar binar.
" RAFAEL!!. " Natasha mengguncang kedua pundak Rafael. Matanya begitu merah menahan amarah.
" Gu, gue gak bohong. Gib- Gibran!. "
Plakk...
Satu tamparan meluncur di pipi kanan Rafael.
" Becanda Lo gak lucu El!! Ngomong yang serius! Tatap mata gue! Kenapa Lo nunduk?!. " Suara Natasha bergetar hebat. Setetes air mata keluar dan membasahi pipinya.
Rafael kembali terduduk. Ia tak dapat berkata kata. Akhirnya ia tak bisa membendung air mata lebih banyak lagi. Air mata itu keluar dengan deras. Membasahi seluruh pipinya. Yang berarti ia tak berbohong.
Natasha yang mulai mengerti pun begitu terkejut. Ia tak menyangka. Ia sungguh tak percaya. Bagaimana ini bisa terjadi. Bagaimana dengan Tante Bella?.
Hujan seketika turun mengguyur keduanya. Bercak darah yang begitu banyak diaspal pun larut di dalam genangan air dan mengalir kebawah selokan.
Natasha berbalik dan ingin segera pergi menuju ruang evakuasi di rumah sakit. Ia ingin memastikan. Wajahnya pucat. Air mata bercampur dengan guyuran hujan di pipinya. Rafael menahan lengan Natasha. Rafael menarik lengannya.
" LEPASIN GUE! GUE MAU LIHAT KEADAAN GIBRAN! GUE TAU LO BOHONG. BIARIN GUE PERGI!!. " Teriak Natasha ingin menepis tangan Rafael yang menggenggamnya erat.
Tak berapa lama Rafael menarik Natasha ke arahnya dan segera memeluknya. Ia membiarkan Natasha memukuli tubuhnya. Natasha menangis sejadi jadinya. Tubuhnya menggigil. Rafael memeluknya sangat erat.
" Lo gak bakal kuat Tasha! Lo ga bakal kuat. " Rafael berbisik mengelus kepala tasha sambil menangis sesugukan.
__ADS_1
" Lo jahat Rafael!! Lo jahattt. "
Natasha sudah tak berdaya. Ia mengamuk di pelukan hangat Rafael. Ia mencakar dan memukuli tubuh Rafael sampai dia lelah dan merasa baikan.