The Mystery Of The Beautiful Girl

The Mystery Of The Beautiful Girl
BAB 3


__ADS_3

Yuri menatap Gibran dan Natasha dengan wajah masam. "Apaan sih mereka berdua ini? Udah kayak gak bisa aja lepas dari Rafael !. " Yuri menggerutu Di dalam hatinya. padahal Niat Yuri menawarkan pekerjaan kepada Rafael agar dia bisa menarik perhatian nya. Namun semua Rencana itu pupus ketika dua orang itu ikut bersama mereka. Yuri merasa mereka sengaja Ikut karena tahu rencana dirinya untuk bersama Rafael. Terutama Natasha.


"Gua yakin lu pasti cemburu kan liat gua barengan sama Rafael, tasha?. " Ucap Yuri di dalam hati sambil senyam senyum.


Sebenarnya tujuan Natasha memaksa ikut bertemu abangnya Yuri adalah Untuk memastikan bahwa Yuri tidak berusaha dekat dekat dengan Rafael. Ia tidak rela jika melihat sahabatnya itu di dekati sama cewek centil kayak Yuri.


"Lu gak keberatan kan yur kalo Gua sama Gibran ikutan?. " Natasha Menatap Yurita dengan senyum manis khasnya.


"boleh boleh aja!. " Yurita menjawab sembari menghela nafas panjang dan membuang muka. Natasha menyeringai merasa Menang.


"Bagus deh! kalo gitu Kita naik apa kesana?. " Tanyanya lagi.


"Taksi aja! biar gak gerah!. " Ucap Yurita ketus kepada Tasha.


"Gak perlu! Gua bawa mobil kok. " Ucap Rafael Menghela pembicaraan mereka.


"Bagus deh kalo gitu! Ternyata Rafael pengertian ya!. " Yurita semringah Menatap wajah tampan Rafael.


Natasha merasa kesal melihat kelakuan Yuri yang benar benar caper kepada Rafael.


Sekitar 10 menitan mereka sampai di Bar Keluarga Yuri. Mereka berempat serentak berjalan masuk menuju Bar yang masih tutup itu. Tepat Di depan Pintu masuk ada seorang penjaga yang terkejut melihat murid SMA Tunas Bangsa yang masih memakai pakaian sekolah berjalan menuju Bar.


Tadinya dia ingin menegur namun Tertahan setelah ia melihat Nona Yuri berjalan di samping mereka.


"Nona Yuri tumben mampir kesini" Ucap sang penjaga Menyapa Yuri.


"Iya Pak kami mau ketemu sama Kak Rizky" Balas Yuri setengah malas sambil berjalan masuk ke dalam.


"Oh iya non Tuan rizky ada di ruangannya" Balasnya lagi.


"Oh iya pak makasih! ".


Yuri kehilangan mood nya karena Natasha dan Gibran ikut bersama mereka. Padahal Dia benar benar menunggu saat ini agar bisa berduaan bersama Rafael. Namun Harapan itu Ambyarr seketika.


Sebenarnya Yuri merasa agak iri dengan Tasha. Karena dia bisa begitu akrab dengan dua cowok tampan itu. Namun dia cukup senang ketika tau mereka bertiga hanya teman. Jadi secara otomatis, Yuri berfikir bahwa Rafael masih jomblo dan belum memiliki kekasih. Jadi ia masih memiliki peluang untuk menarik perhatian Rafael.

__ADS_1


Sebenernya beberapa minggu yang lalu Yuri bertanya Tentang Rafael bersama Gibran.


Gibran menceritakan semuanya kepada Yuri, termasuk Rencana Rafael yang ingin bekerja part time Untuk menambah uang jajan. Dia bilang walaupun Rafael anak orang kaya namun ia tidak ingin selalu bergantung kepada orang tuanya. Jadi ia memilih untuk mencari pekerjaan Part time.


Jelas sekali, Sejak saat itu Yuri berusaha mati matian mencari pekerjaan untuk menarik perhatian Rafael. Namun ia tak mendapatkannya. Sampai akhirnya ia teringat dengan Bar milik papanya yang diwariskan ke Abangnya itu.


Yuri mencoba bertanya kepada Papanya. "boleh ya pa?. " Yuri menarik perhatian papanya.


Papa Yuri tidak bisa apa apa karena sekarang Bar itu tanggung jawab Kakak Laki-lakinya. "Cobalah katakan itu kepada abangmu Papa gak bisa bantu!. " Ucap papa yuri yang fokus membaca koran sejak tadi. Yuri menghela nafas panjang.


Awalnya Kak Rizky (abngnya yuri) Sangat menentang permintaannya itu. Karena Bar tidak sedang mencari pekerjaan. Apa lagi rizky berfikir mereka masih dibawah umur dan tidak patut berada disini, apa lagi bekerja di Bar. Tapi Yuri terus memaksa dan merengek kepada abngnya. Sampai akhirnya Rizky pun setuju dengan permintaan adik kesayangannya itu.


"Yuri!. " Gibran memanggil nama yuri yang sudah menaiki anak tangga ke tiga menuju lantai atas.Yuri pun menoleh kebelakang.


"Apaan? " Jawab Yuri ketus.


"Toilet sebelah mana? Gua gk tahan nih!. "


"Lurus aja habis itu belok Kesebelah kiri. Di pojok ada tanda toilet cowok. "


" Gak mau di temenin nih?. " Ucap Rafael menggoda Gibran.


"Emang gua cowok apaan!. "


Gibran tergesa gesa pergi ke toilet.


"El ayo naik! " Natasha Menegur Rafael Yang melamun memandangi Gibran. Rafael pun menyusul Natasha dan yuri yang hampir di telan ujung tangga lantai atas.


Gibran pun menghela nafas lega sesudah Selesai Dari toilet. Ia berjalan ke arah wastafel yang di depannya terdapat kaca Yang sepertinya masih baru.


Ketika ia ingin membasuh muka. Gibran mendengar suara perempuan tertawa dari luar toilet. Ia menghentikan gerakan tangannya Dan memfokuskan telinganya. Ditunggu nya beberapa detik namun tak ada lagi suara. Hening. Tidak ada apa apa.


"Ahh mungkin cuma perasaan gw aja!. " Ucap gibran di dalam hati Mencoba berfikir positif. Gibran pun menadahkan telapak tangan kirinya di bawah tempat sabun Dan menekan tombolnya. Tak berapa lama Ia pun memutar keran dan mencuci tangannya. Ia juga menyempatkan untuk mencuci wajahnya. Lalu, suara tawa tiba tiba mengalun lagi! Gibran mulai khawatir Dan merasa takut dengan keadaan nya sekarang.


"Natasha?! itu suara lu kan?. " Tak ada jawaban.

__ADS_1


"Tasha? Yuri? Jangan pecanda gini dong. Rafael?!. " Namun lagi lagi tak ada Jawaban.


Gibran menghela nafas panjang mencoba menenangkan diri. Ia menatap Ke arah Cermin di depannya. Mata Gibran terbelalak melihat seorang gadis Memakai Gaun hitam Yang berlumuran darah berdiri tepat di belakangnya. Ia sontak langsung menoleh ke belakang. Kosong.


Gibran kembali menghela nafas. Bulu kuduk nya merinding ngeri. Gibran yakin dia melihat seorang gadis tepat di belakang nya Tadi.


Suara air keran memecah pemikiran buruk gibran. Ia lupa mematikan Air kerannya Dan segera memegang gagang keran mencoba mematikannya.


ketika Gibran ingin melangkahkan kaki keluar dari toilet. Keran itu kembali hidup. Sontak itu membuat Gibran terkejut. Tanpa pikir panjang Ia kembali mematikan kerannya. Namun sekali lagi keran itu kembali hidup. Hingga yang terakhir kalinya Gibran kesal dan mencoba mematikan kerannya kembali. Namun kali ini berbeda. Gagang keran itu susah untuk dimatikan.


Gibran mencoba segala cara untuk menghentikan air yang terbuang sia sia itu. Tapi Dalam sekejap air wastafel yang terlihat jernih itu berubah menjadi warna merah yang melekat. Itu darah.


Bau anyir mulai terasa beserta dengan Bau busuk yang sangat menyengat. Gibran benar benar kaget bukan kepalang melihat kejadian Yang menimpa dirinya.


Ia tidak peduli lagi dengan air keran yang menyala itu. Dia berhamburan mencoba kabur dari toilet. Di genggamnya Gagang pintu Dan diputarnya dengan tergesa gesa.


"AAAKHH.., " Gibran Terkejut. Ternyata Rafael.


"Lu kenapa ran? Kebelet aja sampe ngos ngosan gitu?!. " Rafael bingung melihat keadaan Gibran yang terlihat sangat ketakutan.


Rafael melihat seisi ruangan toilet dari sisi atas, bawah, maupun kiri dan kanan. Tak ada siapapun selain Gibran disana. "Apa yang terjadi?. " Pikir rafael di dalam hatinya.


"U.. udah! Cepetan kita ke atas gih! Disini Gak aman! . " Gibran menarik tangan Rafael dengan sangat kuat lalu segera menyeretnya ke atas menuju ruangan Kak Rizky.


Rafael masih penasaran apa yang membuat Gibran menjadi bersikap seperti itu.


"Lu gak apa apa kan?. " Rafael khawatir sembari memandang Gibran sejak tadi.


" Kalo gua cerita lu gak bakal percaya! . " Ucap gibran yang masih tersengal mengatur nafasnya.


"Tadinya gua nyusulin elu ran! Soalnya lu lama amat. " Rafael mencoba mengalihkan pembicaraan. Namun Gibran tak menggubris ucapan Rafael dan hanya terus terdiam sepanjang jalan menuju ruangan Manager.


Jangan lupa di like, komen, and vote ya readers. Jika ada typo tolong maafkan🙏. Semoga sukak!!


HAPPY READING 💦

__ADS_1


__ADS_2