
"El, Kurang tidur?." Gibran berbisik kepada Rafael sambil mendengarkan ocehan Bu Dian yang akan menutup pelajaran Kimia Hari ini.
" Atau gak bisa tidur gara gara diganggu hantu ?. " Gibran kembali menebak nebak.
Refleks Rafael langsung menoleh ke arah Gibran.
Perlu dipandangnya beberapa detik wajah Gibran sebelum ia menyadari bahwa Gibran hanya kebetulan menebak saja.
"ngapain liat wajah gw kek gitu? ada yang salah ya?. " Gibran meraba raba wajahnya.
"Gak papa gw mau cuci muka dulu!. " Rafael melangkah keluar pintu dan bertepatan Bell istirahat pun berbunyi.
" Yaudah gw tunggu di kantin y. " Ucap Gibran sambil melambaikan kedua tangannya.
Rafael membuka pintu toilet secara perlahan. Namun tiba tiba tangannya terpaku ketika mengingat kejadian yang ia alami beberapa minggu yang lalu.
Saat dia benar benar tidak tahan ingin buang air kecil dan memilih memakai toilet yang jarang dipakai oleh anak SMA disekolahnya. Saat itu dia mendengar seseorang masuk ke dalam salah satu toilet namun tidak ada orang lain selain dirinya.
" Dulu, Ada kakak kelas tingkat kita yang bunuh diri di toilet ini. Katanya karena Jelek terus dikatain cupu. Dia di bully di toilet ini sampe akhirnya dia lebih milih mati. "
Rafael teringat cerita dari Natasha yang terpengaruh oleh Gibran beberapa bulan yang lalu. "Aduhh bisa gila gue gara gara Gibran nih! ." Rafael mendorong pintu toilet dan menatap pintu pintu kamar kecil yang terbuka. "Syukur Ada anak lain!. " Rafael menghela nafas lega.
Rafael mendengar suara suara air yang berada di dalam toilet kecil. sekiranya ada 1 pintu yang tertutup rapat.
Rafael segera menuju ke arah wastafel dan mencuci mukanya. Salah satu teman sekelasnya keluar dari toilet dan berdiri tepat disampingnya. Dia tidak bicara sepatah katapun dan hanya mencuci tangannya lalu segera pergi. Wajah temannya itu terlihat pucat pasi. Bibirnya kering, Matanya terlihat sayup. Hawa benar benar terasa dingin berdiri di sampingnya.
Rafael sejenak memandangi wajahnya di depan kaca wastafel. "Ayolah kendalikan dirimu. "
Tiba tiba lampu toilet meredup sebelum akhirnya padam sepenuhnya. Rafael mendengar salah satu toilet terbuka. Ia membeku di depan wastafel dan mendengarkan suara itu baik baik. Perasaan Rafael mulai tidak enak.
"jelas jelas teman sekelasku itu sudah keluar dari toilet tepat dihadapanku. Lalu siapa yang baru saja Membuka pintu yang terkunci ?. " Rafael benar benar tidak habis pikir. Ia merinding.
Lampu toilet pun Hidup lalu mati lagi. Sekilas dilihatnya di depan kaca wastafel Seorang laki laki berdiri di dekat pintu toilet kecil. Rafael menelan ludah. wajahnya benar benar tidak jelas. Lampu kembali berkedip, Kali ini sosok laki laki itu semakin dekat dengan Rafael.
Sampai yang ketiga kalinya lampu toilet kembali berkedip. Sosok itu sudah berada tepat di belakang Rafael. Sekarang wajahnya terlihat jelas. Bibir dan lidahnya panjang berwarna Hitam. bola matanya berwarna merah. Kuku tangannya benar benar panjang dan kotor. Sosok itu mencoba menyentuh pundak Rafael.
Rafael tersentak. Ia terkejut ketika sadar bahwa Sosok itu telah menghilang. Justru Teman nya lah yang telah menyentuh pundak Rafael dan membuatnya tersadar.
"Lu ngapain ngelamun disini El?. " Ucap temannya itu sambil menatap wajah Rafael kebingungan. Ia mencuci tangannya lalu kembali melihat kearah Rafael.
"Gak baik ngelamun di toilet El, gw duluan ya. " Lanjut temannya sebelum akhirnya keluar dari toilet.
"Tunggu dulu!. " Rafael mengikuti Temannya itu keluar dari toilet.
"Bukannya tadi, lu udah keluar sebelum gw ya? " Ucap Rafael ragu.
"Hah? gw baru aja keluar kok, lu salah liat kali. makanya jangan keseringan ngelamun. "
__ADS_1
Rafael hanya menatap teman sekelasnya itu pergi dan mulai menjauh dari hadapan Rafael. "Ahh sudahlah! Kayaknya Gibran udah nungguin! ."
DI KANTIN.
" Lu lama amat El ke toilet doang!. " Natasha sudah berada disana bersama Gibran menunggu kehadiran Rafael. Ia menatap Rafael sinis.
"Maaf tadi ada kendala sedikit di dalam. " Rafael mencoba agar tidak terlihat seperti bohong.
"Kendala apaan? Pup lu susah keluar ya?. " Gibran tertawa meledek Rafael. Dengan sigap Natasha langsung memukul Pundak Gibran dengan sangat keras. "Jangan ngomong sembarangan deh!. "
Natasha menyuruh Rafael duduk dan menyodorkan semangkuk Bubur untuk dirinya. Rafael terlihat lugu sambil menatap Wajah natasha lalu beralih ke mangkuk bubur itu.
"Buat gw?. "
Natasha mengangguk tersenyum.
Sontak Gibran Menggertak meja Dan membuat heboh seisi kantin.
"Sepupu kandung nya disuruh bayar sendiri sedangkan Rafael malah dikasih gratisan!!. "
Natasha dan Rafael memandang Gibran dengan tatapan meledek. Karena Gibran bertingkah seperti anak kecil sehingga membuat mereka tidak bisa menahan Geli untuk tertawa.
Tidak berapa lama, Yuri datang dan duduk di samping Rafael. Natasha menatap wajah yuri kesal. Yuri sadar akan tatapan Natasha Lalu tersenyum miring dan mengalungkan kedua tangannya segera di lengan Rafael.
Gibran Mulai merasakan Akan terjadi perang diantara mereka berdua. Tanpa pikir panjang Gibran beranjak dari tempat duduknya dan berpindah tepat di tengah tengah Rafael dan Yuri.
"Eh ran lu apa apaan sih? Ganggu aja!. " Yuri berusaha menyingkirkan Gibran dari sisinya.
"Emangnya kenapa? kalo lu gak suka ya elu aja yang pindah. " Gibran membalas yuri dingin sambil menatap natasha sembari mengedipkan matanya.
Natasha menyadari Sikap Gibran lalu memberikan Jempol Kepada Nya sambil tertawa kecil.
Natasha pun mengajak Rafael pergi berkeliling Koridor bersama. Rafael hanya mengangguk dan meninggalkan semangkuk buburnya yang masih tersisa. Yuri pun terlihat sangat kesal kepada Gibran.
"Ini semua gara gara elu! Rafael pergi kan. " Yuri bangkit dari tempat duduknya Lalu pergi meninggalkan Gibran.
"Mau kemana? Gw ditinggal gitu? Ikut dong. " Dengan polosnya Gibran membuntuti Yuri kemanapun ia pergi. Gibran tampak bersemangat mendampingi yuri kemanapun ia pergi. Walaupun ia tak dianggap sama sekali oleh yuri. Itu sedikit membuat Hati Gibran Tersakiti.
"Lu bisa gak jangan ngikutin gw?. "
" Ye siapa yang ngikutin elu! gw cuma mau ke kelas ?. " Gibran berjalan melewati Yuri.
"Hmphh..!!, " Yuri menahan kesal kepada Gibran. Rasanya ia ingin sekali memukul wajah Sok lugunya itu.
Sedangkan di sisi lain...
"Kita mau kemana?. " Rafael bertanya kepada Natasha sambil membuntuti kemana arah ia pergi.
__ADS_1
"udah ikutin aja!. " Rafael hanya memandang Punggung natasha sembari Heran.
" Belakang sekolah?. " Rafael seketika merinding.
"Iya, kenapa? disini enak loh sepi gak ada yang ganggu lagi!. " Natasha tersenyum ke arah Rafael sehingga pipinya memerah karena malu.
"Duduk di bawah pohon itu yuk!. "
" Ehmm Lu udah sering kesini ya?. " Rafael bertanya kepada natasha sembari menyenderkan kepalanya.
Tak ada jawaban dari Natasha. Itu membuat Rafael menjadi khawatir dan takut.
"Tasha?. "
Rafael mencoba kembali memastikan Bahwa Ia tidak sedang dikerjai oleh Natasha. Namun lagi lagi tak ada jawaban darinya.
Rafael pun bangkit dan menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari Natasha. Namun ia tak melihat batang hidung natasha sedikitpun. Ia mulai panik.
Ia bingung kemana Natasha. Di telusuri nya kesana kemari Namun tak kunjung di temukan.
Suasana sekolah tiba tiba menjadi suram. Pohon pohon yang terlihat segar tiba tiba Menjadi layu. langit yang tadinya cerah menjadi sangat gelap.
Rafael mencoba memperhatikan sekeliling. Ia sadar bahwa sepertinya ia berada di dunia lain. Ini bukanlah sekolahnya. Ini sangat mengerikan.
Gedung sekolah pun terlihat Tidak terurus dan hampir roboh. Ia berjalan mencoba mencari Natasha. Namun tak kunjung ia temukan.
Lagi lagi Rafael tersentak. Ia tersadar ada yang menyentuh pundaknya. Ternyata itu Natasha.
"Elu ngapain sampe jauh jauh kebelakang sini?. " Natasha terlihat kebingungan bercampur panik melihat Rafael tiba tiba berada jauh sampai ke belakang gudang sekolah.
"Elu darimana aja? "
"gw cuma ninggalin lu bentar buat metik bunga matahari ini! Eh elu malah udah ilang aja! Untung ketemu. " Ucap natasha agak kesal.
"Ehmm balik ke kelas yuk!, "
Rafael menarik tangan Natasha tanpa berkata kata lagi. Natasha benar benar penasaran apa Yang terjadi dengan Rafael sehingga sikapnya menjadi aneh seperti ini. Namun disisi lain, natasha terlihat bahagia karena Rafael menggandeng tanggannya hingga sampai di depan kelas.
"Kalian dari mana saja?. " Pak andre menatap mereka berdua yang terlambat sambil melipatkan kedua tangan di depan dada.
Rafael dan Natasha nampak kebingungan ingin menjawab apa. Sedangkan tatapan pak andre benar benar terlihat seperti ingin memakan mereka berdua.
"Maaf Pak Kami tadi terhalang oleh anak berandalan sebelah! ." Ucap Natasha santai kepada pak andre.
Padahal alasannya tidak terlalu jelas tapi Entah kenapa Pak andre percaya dengan ucapan Natasha. Tapi itu tidak penting karena mereka berdua tidak jadi di hukum sampai pelajaran selesai.
Jangan lupa di like, komen, and vote ya readers. Jika ada typo tolong maafkan🙏. Semoga sukak!!
__ADS_1
HAPPY READING 💦