
Gibran melempar tasnya ke atas meja ruang pegawai Bar. Rafael yang sedang mengganti pakaiannya pun tersentak. Ia seketika menoleh ke belakang dan menatap Gibran sinis.
Melihat siapa yang melemparkan tas, El kembali memakai bajunya dan segera duduk menghampiri Gibran. Ia mengambil sebotol air mineral yang terletak di atas meja.
"Lo kenapa? Baru aja kerja kok udah lesuh aja sih?. "
Gibran menatap Wajah Rafael sambil meletakkan kedua tangan di pipi nya.
"Gak lah, Gue cuma ngantuk!. " Sahut Rafael geram.
"Huh.. Gak disekolah gak disini lu gak berubah ya. Mending juga gue, kenapa coba si Yuri bisa suka ama lo, "
"Lagi ngomong apaan?. "
Terdengar suara perempuan yang masuk menghampiri mereka berdua.
"Tau tuh si Gibran! Omongannya ngelantur terus!, "
"Lah kok gue?!. " Gibran mulai agak sedikit kesal.
"El, kak Rizky udah dateng tuh. Ayo mulai aja bersih bersih nya! Dan elu Gibran, Tetep disini jangan ganggu!, "
"Ihh.. buat apa juga gue ganggu? mending hape miring \(Game\) , " Gibran agak sedikit mengolok olok Natasha.
Rafael membuntuti Natasha keluar ruangan. Mereka saling membagi tugas untuk membersihkan seluruh ruangan dan alat alat yang akan dipergunakan.
Terdengar suara derap kaki dari lantai atas menuju tangga. Itu adalah kak Rizky.
"Sebenarnya jarang jarang saya melihat pemuda seperti kalian yang ngotot ingin bekerja. "
Melihat kehadiran kak Rizky, Rafael dan Natasha pun tersenyum ramah ke arah nya.
"Terima kasih kak atas kepercayaannya. " Sahut Rafael.
"Kamu itu Mengingatkan kepada sahabat saya. Tapi sekarang, dia udah gak ada. "
El melihat mata kak Rizky seperti berkaca kaca. Seolah sedang memendam sesuatu yang disesalinya.
"Semoga bukan kenangan buruk kak. " Rizky menggelengkan kepalanya.
"Sekarang saya mengerti, kenapa adik saya bisa suka sama kamu. "
Rafael menelan ludah ketika kak Rizky mengucapkan Hal tersebut. Untung saja saat ini Natasha sedang tidak ada bersamanya. Ia menghela nafas lega.
DISISI LAIN. . . ,
Di dalam ruangan pegawai Gibran masih tengah asik memainkan game di Ponselnya. Ia meletakkan kedua kaki panjangnya di atas meja sambil bersender di kursi yang diduduki nya.
Tanpa ia sadari kursi yang berada di sampingnya perlahan bergerak sendiri. Gibran merasakan hal yang aneh dan segera menolehkan kepalanya.
__ADS_1
Itu membuatnya sedikit Gagal Fokus. Diperhatikan nya kursi itu dengan seksama. "Ntuh kursi gerak karena di tiup angin atau kagak ya? Apa cuma perasaan gue?, "
Gibran tak mau ambil pusing dan kembali memainkan game mobile legends di ponselnya.
Lagi lagi kursi itu bergerak perlahan. Namun kali ini ia berhenti tepat di depan Gibran. Sontak Gibran terkejut dan melihat kursi itu sudah berada di depannya.
"Kok angin bisa sekenceng ini sih?, " Gibran melihat seisi ruangan untuk memastikan. Tapi tetap saja di ruangan itu tak ada angin dari sisi manapun. Karena ruangan itu memakai AC, bukan kipas angin atau angin alami yang berasal dari luar.
Gibran mematikan layar ponselnya dan duduk seperti patung seakan menunggu kursi itu kembali bergerak. Namun, tak ada respon.
"Kayaknya gue kebanyakan makan micin deh, " Benak Gibran seperti ingin mentertawakan dirinya sendiri.
Dengan cepat vas bunga yang berada diatas meja terjatuh. Sontak Gibran terkejut dan refleks mengangkat kedua kakinya. Beruntung vas bunga itu terbuat dari plastik, jadi dia tak akan pecah walau terjatuh.
Gibran menurunkan kepalanya ke bawah kolong meja. Dilihatnya dari kursi yang bergerak tadi, Ada sepasang kaki busuk berlumuran darah tanpa alas kaki.
Kaki itu sangat panjang. Gibran menelan ludah. Ia gemetar. Dengan cepat Gibran mendongakkan kepalanya ke atas meja.
Sunyi, tak ada siapapun disana selain dirinya. Perlahan ia kembali menurunkan kepalanya untuk memastikan sepasang kaki itu. Hilang. Kaki itu tidak ada. Bahkan bercak darah amis yang menetes ke lantai tadi pun hilang.
Ia belum bisa tersenyum lega karena dalam sekejap mata, sosok itu muncul di hadapan Gibran dan memperlihatkan wajahnya dengan sangat jelas.
Sosok mengerikan dengan bersimbah darah, dan ulat ulat kecil Yang mengerubungi sebagian tubuhnya.
Sosok itu Berada tepat di depan Gibran yang terhalat oleh sebuah meja panjang. Ia menatap wajah Gibran dengan sangat tajam.
Ia tersenyum, seolah ingin membunuhnya. Bulu kuduk Gibran berdiri. Ia membatu. Gibran merasa tubuhnya sangat berat untuk kabur. Matanya terus menatap ke arah sosok itu.
Perlahan sosok itu mendekatkan wajahnya. Gibran sudah tak bisa menahan lagi. Ia merasa sangat jijik melihat wajah mengerikan sosok itu. Apa lagi lubang seperti pori pori besar yang ada di bagian pipinya. Lubang yang sangat dalam, berisi belatung kecil yang menggerogoti wajahnya.
PLAKK...
Gibran merasa ada yang menampar pipi sebelah kanannya. Ia sadar, seorang gadis berdiri di hapannya dengan tatapan kesal.
Yurita melipat kedua tangannya di depan dada. Gibran terkejut sambil memegang pipi kanannya yang baru saja terkena tamparan maut.
"Gue.. gue ditampar?, " ekspresi Gibran yang terlihat girang sehabis di tampar, membuat Yuri semakin kesal. Ia tersenyum lugu, menampilkan wajah bodoh dengan tatapan tanpa tujuan.
"Otak lu bener bener kepentok ya ran! Gila deh, ditampar kok malah seneng, "
Gibran tertawa, namun bukannya menjawab pertanyaan Yuri dia justru berbalik tanya.
"Lu kok bisa ada disini?, "
"Kok balik nanya sih? emang salah kalo gue mau kesini? terserah gue dong, "
Bersamaan dengan itu Rafael dan Natasha masuk ke dalam ruangan khusus pegawai. Dan di belakang mereka gak kalah ketinggalan kak Rizky yang ikut masuk ke dalam ruangan.
Seketika Yuri tersenyum dan melupakan ke jengkelannya kepada Gibran setelah ia melihat Rafael berada di depannya.
Dengan sigap ia mendorong Natasha kesamping dan mengalungkan kedua tangannya di lengan Rafael. Gibran yang melihat itupun menghela nafas kasar lalu membuang muka. Berbeda dengan Natasha yang melihat Yuri seolah ingin mencabik cabik wajahnya.
Rizky menggelengkan kepalanya.
"Bukannya kakak kemarin udah bilang kamu ga usah dateng kesini lagi ya? terus ngapain kamu kesini Yuri?. "
Kak Rizky menatap Yuri tajam.
" Ya terserah aku dong kak! mau datang mau engga, lagian aku kesini kan cuma mau bantuin. " Sahut Yurita ketus.
"Ini bukan rumah yang bisa kamu perintah sesuka hati. Kakak yang berkuasa! Sekarang kamu pulang dan jangan ganggu mereka. "
__ADS_1
"Pokoknya aku gak mau pulang! Titik. "
"YURITA!, " Kak Rizky meninggikan suaranya.
Yuri merengut melihat perlakuan kasar dari kakak laki laki nya. Ia sangat kesal.
Melihat perdebatan antara dua saudara tersebut, Gibran pun angkat suara.
"Kak biarin aja Yuri disini. lagipula ada saya, kami janji gak bakal ganggu kok. "
Rafael dan Natasha pun sontak menatap sinis ke arah Gibran. Mereka tak menyangka Gibran bicara seberani itu.
"Kenapa?? Bisa kan kak?, "
Gibran Menatap kedua mata kak Rizky dengan ekspresi sedikit memaksa.
"Huhh.. oke, Yuri kali ini kak Rizky izinin! Tapi tidak lain kali, "
"Yesss... Thanks kak! I love you, " Balas Yuri semringah.
Yurita menarik lengan Rafael dan membawanya duduk disamping nya. Diikuti dengan Natasha yang terlihat menahan amarah di belakang mereka. Gibran hanya ternganga melihat temannya itu diperebutkan oleh kedua gadis cantikk.
"El aku ada bawain bekal nih buat kamu. aku buat sendiri loh. dimakan yah.., "
"Buat gue gak ada?, " Gibran menyahut.
"Idihhh.. emang lo siapa njr! Mimpi, "
"Maaf yur, gue gak lapar. kasih aja tuh buat si Gibran. gue.. masih ada urusan bye!!, "
Rafael menarik Natasha keluar ruangan. Sontak perilaku Rafael membuat Natasha salah fokus. ia membalikkan kepalanya menghadap Yuri.
"Upss.. maaf yah, Rafael narik gue, " Bisik Natasha kepada Yuri.
"Ihhh.. kok malah sama tasha sih?!, " Yuri menggebrak meja dengan sangat keras.
"Aduhh.. kalo El ga mau yaudah sini kasih gue aja!!, " Gibran menarik taperwer yang di pegang oleh Yuri.
"Lohh.. kok lo yang makan sih?! Tau ah!!, "
Yurita meninggalkan Gibran sendiri bersama sang kakak yang menonton drama mereka ber empat.
Gibran mengangkat kedua alisnya dan tersenyum mengejek.
"Kak.. mau makan juga?, " tanya Gibran menawarkan Kak Rizky yang masih saja bersender di dinding.
"Yaudah lah.., "
*
*
*
Disudut ruangan di bagian paling temaram. Tanpa disadari ada sepasang mata yang menatap mereka geram.
Dari tubuhnya menetes air merah. sosok itu terlihat sangat marah. Lukisan yang menggantung di dinding pun tiba tiba terjatuh.
Gibran dan kak Rizky pun terpaku dengan kaca lukisan yang retak dan sebagian berserakan di lantai.
HAPPY READING 🌹
__ADS_1
JANGAN LUPA.. LIKE, VOTE, AND SHARE😘
KOMEN DI BAWAH YA👇