The Mystery Of The Beautiful Girl

The Mystery Of The Beautiful Girl
BAB 2


__ADS_3

Seseorang menepuk pundak Rafael. Membuat Rafael terkejut dan terbangun dari tidurnya. Ia menoleh, Ternyata Gibran. Dengan Nyawa yang masih dikumpulkan Rafael membuka matanya.


" Yang bener aja lu El? pagi pagi udah molor!. "


Gibran yang baru datang beranjak duduk dan meletakkan tasnya di laci samping meja Rafael.


Rafael melihat anak anak lain yang berdatangan membuat suasana kelas menjadi ricuh. Gibran kembali menegur Rafael.


" woi, lu denger gua gak?. " Teriak gibran.


" Iya iya gua denger botak!. " sahut Rafael geram.


" Enak aja lu rambut gua udah tumbuh kali!. "


Gibran menjitak kepala Rafael. Rafael tertawa kecil sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.


" Ngomong ngomong, Rafael lu yakin mau kerja part time di Klub keluarga Yuri? ".


Rafael menatap Gibran dan mengangkat sebelah alisnya.


" Iya. emang kenapa? Lumayankan mumpung ditawarin. "


Gibran menghela nafas panjang. Ia bingung bagaimana menjelaskan apa yang ia baru ketahui kemarin.


Gibran takut jika Rafael mengira cerita itu hanya karangannya. Karena Gibran memang sering membuat cerita yang mengada ngada. Tapi kali ini dia serius. Gibran menatap tajam wajah Rafael.


" Gua baru tau kemarin. kalo klub milik keluarga Yuri pernah ada tragedi. "


Sontak Rafael yang awalnya malas mendengar percakapan Gibran refleks membenarkan tempat duduknya dan fokus mendengar kisah Gibran kembali.


" Tragedi apa? Lu gak lagi ngarang kan?. " Ucap Rafael yang nampak tak percaya dengan ucapan Gibran.


" Pembunuhan. " Jawab Gibran cepat dan agak lirih.


Rafael mengedikkan bahu. Ia mengeluarkan ekspresi yang masih tak percaya atas ucapan sahabatnya itu.

__ADS_1


" Gw gak lagi pecanda. Lu harus percaya ama cerita gw!. "


"Oke. " Jawab Rafael singkat.


"Jadi gini, Dulu...., " Gibran memulai ceritanya sambil membenarkan posisi duduk.


" Gua gak tau detailnya. Yang gua tau sih kejadiannya tepat di bulan November tahun 1995. " Rafael menyimak.


" Ada pembunuhan Di Klub itu. Korbannya Seorang siswi Sma. Namanya gw gak tau. Dia tuh anak keluarga konglomerat. Orangnya bener bener cantik dan cerdas banget. Dia sering dapat penghargaan di sekolahnya. Gak sedikit juga anak laki-laki yang naksir sama dia.


" Nah, Karena kecantikannya itu, Banyak siswi lain atau temen temen perempuannya yang Iri atas apa yang ia miliki. Bahkan sengaja deketin Gadis itu hanya karena mau morotin hartanya. Wajar, Dia ini orangnya ramah banget dan bener bener lugu. Dia gak pernah berfikir untuk memburuk burukkan orang lain. Semua Tuh sama di matanya. Karena sifatnya itu, semakin banyak Anak perempuan lain yang membencinya. Mereka menganggap gadis itu suka cari perhatian. Tapi mereka gak berani ngapa ngapain karena Dia anak orang kaya. "


" Terus hubungannya sama Bar milik keluarga Yuri apaan?. " Rafael menyela cerita dari Gibran sambil melipatkan tangan di depan dada.


" Ya makanya dengerin dulu!. " Ucap Gibran menatap Rafael sinis.


" Pas banget di bulan November itu, Dia ulang tahun ke 18. " Gibran melanjutkan cerita nya.


" Temen temen munafiknya ini punya rencana buat ngerayain ulang tahunnya Di klub milik keluarga Yurita. "


" Ya tau. " Rafael menyahut pendek. Dia mengetahui itu seminggu yang lalu ketika Yuri menceritakannya.


" Akhirnya mereka melaksanakan pesta di klub keluarga Yuri. Awalnya sih semua baik baik aja. Tapi malam itu, katanya Dia hilang! PapaNya Yuri mencoba mencari gadis itu kesana kemari tapi gak ketemu! Sampe dia ingat satu ruangan.... "


" kenapa??. " Rafael penasaran.


" Papa Yuri terkejut saat melihat gadis yang sudah terkapar tak berdaya di ruangan itu. Tubuhnya berlumuran darah yang mengucur dan beberapa tusukan dibagian perut. Gaun hitam di atas lutut yang ia kenakan Setengah robek. Di lehernya juga ada bekas Jeratan. Wajah pucat pasi dan tubuhnya mulai membeku kedinginan. waktu itu katanya Dia berusaha ngomong sesuatu sama Papa Yuri. Tapi gak sempet dan akhirnya meninggal di tempat. Udah banyak pengunjung Klub itu yang mengaku sering ketemu sosoknya. Katanya sih dia muncul dengan paras cantik untuk menggoda Para pria yang berkunjung kesana. Namun akhir akhirnya Ia bakal membunuh para pria mata keranjang itu. Terus ada juga rumornya Kalo para pegawai yang bekerja disana kerasukan dan lebih milih ngundurin diri. "


*


*


*


Entah sejak kapan Rafael merasakan hawa dingin di sekitarnya pagi itu. Ia mencoba membayangkan kejadian yang diceritakan oleh Gibran di pikirannya.

__ADS_1


Bulu kuduk Rafael berdiri tegak setelah merasakan angin masuk melewati jendela yang terbuka.


" Terus lu tetep mau kerja part time disana El?. " Pertanyaan Gibran menghalau pikiran Rafael yang mulai kacau. Rafael menatap Gibran sebelum mengangguk ragu menjawab pertanyaannya.


" Yang bener aja lu. keras kepala banget si, gua udah ngingetin loh. " Ucap Gibran Sinis menatap Rafael.


Rafael tak mengubris ucapan Gibran. Ia mengalihkan pandangan Keluar jendela. Ditatapnya dari atas Natasha berjalan melewati koridor sekolah menuju kelas.


Matanya tak berkedip sedikitpun memandang Natasha. Ia sangat mengagumi sosok Natasha di dalam hatinya. Rafael menghela nafas lebih panjang sekarang.


" Ya mau gimana lagi Ran? cuman disitu pekerjaan yang Menerima anak sma yang masih magang. " Rafael membalas perkataan Gibran tadi tanpa menoleh ke arahnya.


" Yaudah lah terserah lu aja! Yang penting gua udah ngasih tau. " Ucap Gibran sambil merenggangkan tubuhnya.


" Gw pikir Lu gak bakal khawatir. " Rafael menepuk pundak Gibran sambil tersenyum simpul.


Tak lama Bel sekolah berbunyi. Yang menandakan waktunya pelajaran kelas dimulai.


Natasha masuk ke dalam kelas bersamaan dengan Yurita. Mereka saling bertatapan tajam di depan pintu sebelum Guru masuk menegur mereka agar segera duduk di tempat masing masing.


Namun Rafael justru gagal fokus melihat Ibu guru fisika mereka yang masuk dengan membawa bayangan hitam melekat di punggungnya.


Perlahan bayangan itu membentuk sesosok mengerikan dengan mata yang merah menyala.


Seakan sadar sedang di perhatikan, Sosok itu menatap Rafael tajam lalu mendekat Tepat di depan tempat duduknya. Rafael menelan ludah. Sosok itu..., Sosok itu berwajah busuk dipenuhi belatung di pori pori nya.


Disaat bersamaan Rafael merasakan bau yang tak sedap seperti bau amis darah kotor yang melekat dari tubuh sosok itu. Rafael menoleh ke arah Gibran. Ia berharap Gibran melihat apa yang ia lihat sekarang. Namun tidak, Gibran tidak bisa melihatnya. Gibran hanya fokus mendengarkan penjelasan Guru mereka di depan. Perlahan bau itu memudar, Di ikuti dengan sosok itu yang menghilang dari hadapan Rafael.


Rafael menatap serius Ibu gurunya yang sedang menjelaskan di depan kelas. Dia ingin memastikan bahwa aura yang ia rasakan itu nyata.


Namun tetap saja, Sosok itu sudah lenyap tanpa jejak. Sekali lagi Rafael menelan ludah. Bulu kuduk nya berdiri mengingat apa yang ia lihat


Jangan lupa di like, komen, and vote ya readers. Jika ada typo tolong maafkan🙏. Semoga sukak!!


HAPPY READING 💦

__ADS_1


__ADS_2