The Mystery Of The Beautiful Girl

The Mystery Of The Beautiful Girl
BAB 17


__ADS_3

Rafael sampai di rumah seperti biasa sekitar jam setengah 11 malam. Terlihat seseorang membuka pintu rumah dengan perlahan. Itu adiknya Luna. Dengan piyama dan boneka beruang yang sering dibawanya.


Dengan cepat Luna menarik lengan Rafael agar segera masuk ke dalam. Ekspresinya terlihat seperti sedang ketakutan bercampur panik.


" Kak Rafael habis dari mana? Tau gak, Itu dibelakang ada yang ngikutin. " Luna berbisik sembari menunjuk ke belakang.


Rafael terdiam beberapa saat. Ia mencoba memahami ucapan Luna. Rafael teringat akan percakapan mereka kemarin yang belum selesai. Ia pun segera membawa adiknya ke ruang tamu dan menyuruhnya duduk di sofa panjang depan tv.


" Lun, tunggu Abang disini sebentar ya. Abang mau ngomong sesuatu. " Rafael pun beranjak pergi menuju tangga.


*


*


*


Rafael melepas seragamnya dan melemparnya ke atas ranjang begitu saja. Ia mengganti pakaiannya dengan cepat lalu segera turun menemui adiknya.


Saat Rafael membuka pintu, Ia melihat Luna sudah berada tepat dihadapannya. Rafael kebingungan ketika melihat Luna berjalan masuk melewatinya ke dalam kamar. Bahkan pandangannya tidak teralihkan dan selalu melihat ke depan.


" Kamu ngapain keatas? Abang bilang kan tunggu dibawah aja. " Rafael menghampiri adiknya.


Luna tidak merespon. Ia tak bergerak bahkan bicara sedikitpun. Ia terus saja membelakangi Rafael.


" Lun, denger Abang gak?. " Rafael membuang nafas kesal.


"Huuh.. " Rafael menarik tangan kanan Luna dan membawanya keluar kamar. Ia menuntun Luna menuju lantai bawah melewati tangga. Digenggamnya tangan Luna, rasanya dingin. Sangat dingin.


Di tengah anak tangga Rafael berdiri, Ia tersadar dibawah sana juga ada gadis yang mirip seperti adiknya. Gadis itu duduk sambil memainkan boneka di tangannya.


Rafael mengerutkan dahinya. langkahnya terhenti di tengah tengah. Dan ia masih dapat merasakan tangan yang digenggamnya dengan erat. " Klo itu Luna yang dibelakang gue siapa? tenang El, mungkin Lo berhalusinasi lagi. " pikirnya.


Rafael perlahan kembali melangkah turun ke bawah tangga tanpa mengalihkan pandangan dari sosok yang sedang bermain boneka dibawah sana. Seketika sosok itu mendongak ke atas. Ia melihat kearah Rafael. Sontak Rafael pun terkejut. Ia menelan ludah.


Yang berada di bawah sana memanglah adiknya. Lalu siapa yang sekarang sedang ia gandeng?.


Sosok itu berjalan menghampiri Rafael. Ia menatap kedua mata Rafael dengan tajam. Sesaat ketika ia sudah berada di depan anak tangga, Rafael masih saja mematung di atas sana.


Seett... Dengan cepat Rafael menoleh kebelakang. Ya, sosok yang berada dibelakangnya juga masih berwujud seperti adiknya. Ia semakin merasa bingung. "Kenapa ada dua Luna? mana yang asli?. "

__ADS_1


Rafael merasakan keringat dingin. Tubuhnya bergetar hebat. Dan, sekali lagi ia menoleh ke belakang. Kosong. Tak ada siapapun.


" Kak, ngapain sih? katanya mau ngomong. Kok malah bengong?. "


Rafael merasa tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dua Luna. Lalu menghilang. Ia menarik nafas sesekali memegang dadanya yang sesak. " Ya..yaudah tunggu sebentar. "


*


*


*


*


*


Luna mendengarkan Kisah Rafael tanpa menyela sedikitpun. Keheningan menyelimuti mereka berdua. Rafael ingin tau bagaimana reaksi Luna ketika mengetahui kejadian yang ia alami ini. Rafael berfikir, Apakah Luna akan mengejeknya karena mulai percaya hal mistis. Atau ia akan memberikan solusi untuknya.


" Maaf kak, Aku tau maksud kakak memberi tau aku ini. Tapi jujur aja aku gak bisa bantu. " Luna memperlihatkan ekspresi menyesal di depan Rafael.


" Aku udah pernah kasih tau kan? Aku memang bisa melihat apa yang terjadi di masa mendatang. Tapi aku gak bisa menghentikannya. Karena itu sudah menjadi hukum alam. " Imbuhnya.


" Iya kak aku tau. Tapi kenapa? Kakak mau ngusir dia? Dia itu baik. "


" Menurut kamu baik. Tapi menurut aku gak. Ngapain dia di rumah kita? Dan kenapa harus rumah kita gitu yang disamperin. "


" Aku gak tau salah ku apa sama sosok itu. Tapi aku gak kuat klo selalu diganggu. Bahkan temen temen aku juga udah ngerasain. " Lanjutnya sambil membuang nafas kasar.


" Maaf kak, tapi yang ganggu kakak itu bukan dia. Ada sosok lain lagi yang meniru gayanya dan meneror kakak. " Rafael tersentak. Ia menelan ludah.


" Sosok lain? maksud kamu?. "


" Dia roh jahat yang selalu ngikutin kakak. Sosok laki laki. Bisa berubah wujud menjadi apa aja. "


" Luna, kamu tau dari mana semua ini?. "


" Dari gadis itu. Dia bilang sebenarnya dia mau minta bantuan kakak. Tapi kakak aja yang histerisan orangnya. "


" Apa?. "

__ADS_1


Rafael menaikkan sebelah alisnya. Ia termenung. " Bantuan? Gimana maksudnya? Gue gak bisa apa apa selain ngabisin duit ortu. Terus, mau minta bantuan Ama gua?. " pikirnya.


Tlengg... Terdengar seperti kaleng terjatuh dari arah dapur.


*


*


*


Pandangan Rafael dan Luna teralihkan oleh sebuah kaleng. Mereka saling bertatapan. Kaleng itu menggelinding keluar dari dapur. Hening berlalu begitu lama. Rafael tak melanjutkan pertanyaannya.


Luna beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah kaleng itu. Dengan cepat Rafael menarik tangannya. Ia menggeleng.


" Udah biarin aja. Ayo kita tidur, udah malem banget. " Luna mengangguk.


" Luna janji, Klo Luna dapet informasi penting. Luna bakal kasih tau kak Rafael. Luna pingin bantu kakak. "


Rafael tersenyum sambil mengelus kepala adiknya. Ia menggandeng tangan Luna Dan mengantarnya hingga di depan pintu kamar.


" Selamat malam. Gak usah dipikirin cerita Abang tadi. "


" Em.. Iya. " Luna tersenyum lalu menutup pintu kamar dan meninggalkan Rafael. Namun tiba tiba ia kembali membuka pintu kamar.


" Kak tunggu sebentar. " Rafael menoleh.


" Buat cari informasi, Coba aja kakak tanya sama pemilik barnya. Atau enggak sama tetangga sekitar sana. Mereka pasti tau sejarah bar itu. Gak mungkin mereka gak tau kan?. " Setelah itu ia langsung menutup pintu kamar.


*


*


*


" Benar juga, Tapi mustahil. " Rafael memikirkan usul Luna. Ia bingung. Bagaimana caranya bertanya dengan kak Rizky. Walaupun kak Rizky merespon, Apa dia mau cerita?. Apa lagi Rafael hanya seorang anak magang. Seberapa besar nyalinya sampai bertanya sejauh itu.


Rafael pun mengacak ngacak rambutnya. Ia baru teringat semenjak pulang ia hanya mengganti pakaiannya. Ia belum sempat mandi.


Rafael pun beranjak dan mengambil handuknya yang tergantung. Lalu sesaat ia langsung masuk ke dalam kamar mandi Dan menghilang dari bilik pintu.

__ADS_1


__ADS_2