The Mystery Of The Beautiful Girl

The Mystery Of The Beautiful Girl
BAB 7


__ADS_3

Hari ini rasanya sangat panas. Matahari mengeluarkan Cahayanya yang benar benar dasyat. Rafael merasa matanya sangat perih akibat terik yang menyengat ini. Berkali kali ia menguap.


Bell pulang sekolah berbunyi. Para siswa Berhamburan keluar kelas. Sedangkan Rafael dan Natasha bersama menuju ke parkiran.


"Gw boleh bareng kalian gak?. " Yuri sudah menunggu Rafael sejak tadi di depan parkiran. Ia beralasan ingin bertemu dengan kakak laki lakinya untuk ikut satu mobil bersama Rafael. Natasha hanya acuh tak acuh melihat kelakuan Yuri. Rafael pun juga begitu. Tapi ia tetap menerima Permintaan yuri untuk barengan.


Tepat pukul 2 siang mereka menginjakkan kaki Di halaman Bar keluarga Yuri. Bar ini terletak tepat di Yogyakarta. Mereka bertiga pun menyebrang ke sebrang jalan melewati jembatan gantung Dengan berjalan kaki.


Rafael terdiam sejenak melihat Gedung Tempat hiburan itu. Tapi, Tanpa Ragu Natasha terus berjalan di depan menuju pintu disusul dengan Yuri di belakangnya.


Jujur saja Bar itu terlihat sangat Mewah. Karena hampir semua fasilitas di perbarui dan beberapa diganti dengan yang baru. Cat dinding di luar berwarna Biru langit. Hiasan yang bergelantungan tepat di atas gedungnya. Dan Pohon pohon yang sengaja di tanam.


Dapat di bilang Bar ini memiliki suasana Yang menakjubkan. Walaupun ini adalah tempat hiburan tapi dekorasi dan temanya benar benar klasik. namun tetap saja terlihat mewah. Entah kenapa Itu tidak membuat Rafael menyukainya. Justru semakin ragu untuk melangkah masuk ke sana.


Natasha dan Yuri pun menghilang dari hadapan Rafael. Seakan mereka telah ditelan Bumi dan menghilang begitu saja. Rafael masih memperhatikan Luar gedung. Ia mendongakkan kepalanya. Di tengok nya ke jendela lantai dua. Terlihat seseorang yang memperhatikannya dengan tatapan tajam.


Rafael mencoba memantapkan penglihatannya. Wajah dan tubuhnya benar benar tidak terlihat jelas. Semuanya nampak gelap. Namun sekilas Rafael melihat bayangan itu mirip seorang perempuan, bukan laki laki.


Ia mencoba berfikir positif, mungkin saja itu Rizky kakaknya Yuri. Rafael menggelengkan kepala. Di lihatnya sekali lagi ke jendela itu. Kosong. Senyap. Tak ada siapa pun.


"Rafael. "


Terdengar suara Natasha dari dalam.


"Nagapain masih berdiri disitu? cepetan masuk! . "


Rafael mengangguk. Lagi pula Hari benar benar terik.

__ADS_1


Tanpa ragu Rafael melangkahkan kakinya kedalam Bar Klasik itu. Dilihatnya Tasha membuka jendela Bar dan disambut hangat oleh pak satpam kemarin.


"Yang kemarin mau kerja part time ya? ."


"Iya Pak, Hari ini mulai kerjanya. "


Jawab Natasha ramah kepada pak satpam.


"Oh iya kata pak rizky tadi. Kalian masuk aja ke ruangan karyawan. Disana saya udah siapin baju yang kalian pakai. Setelah itu tunggu saja di ruangan tuan rizky. Soalnya dia baru saja pergi mencari makan sebentar. "


Sebelum Natasha dan Rafael sempat menjawab Perintah dari Pak Satpam. Ia sudah berlalu pergi menuju keluar Pintu. Rafael menatapnya heran. Perasaan Rafael berfikir sepertinya Pak satpam melihat sesuatu di belakang mereka berdua tadi. Sehingga tanpa sebab raut wajahnya berubah dan berbalik pergi begitu saja.


Natasha mengedikkan bahu. Ada yang menyentuh pundaknya. Ditolehnya kebelakang ternyata Yuri. Natasha tersentak kaget melihat Yuri yang muncul tiba tiba. Rafael pun nampak heran melihat Yuri.


"Lu ngapain ganti baju pegawai juga?. " Natasha mengangkat sebelah alisnya.


"gw juga mau kerja memang kenapa?. " Yuri menatap Natasha ketus.


"Ganti berdua gitu?. " Rafael bertanya dengan tatapan lugu. Sehingga membuat dua cewek itu menatapnya sinis sekaligus kaget.


"Maksud lu apaan?. " Natasha Mendorong Rafael hingga tersungkur terkena ujung meja. Natasha langsung tertawa melihat kejadian langka itu. Yuri dengan sigap Langsung menolong Rafael dan membantunya duduk di kursi. Natasha hanya melihat sambil merendam Tawanya dan rasa kesalnya melihat Yuri yang sok cari perhatian. Natasha berlalu meninggalkan mereka berdua dan menuju Toilet Wanita untuk berganti ke baju pegawai.


Rafael meninggalkan Yuri sendirian. Dilihatnya Rafael sambil memegang pinggangnya yang terkena meja. Yuri tertawa kecil. Dia kesal melihat kebersamaan Natasha dan Rafael tapi ia juga tidak bisa menahan Tawa melihat Rafael yang bertingkah lucu dimatanya. Yuri berinisiatif membuatkan Minuman untuk mereka berdua sebelum bekerja. Karena hari ini pertama mereka bekerja Dan siang ini suhunya terasa sangat panas.


Selesai mengganti pakaian Natasha menatap dirinya di depan kaca wastafel. Ia menguncir rambut panjangnya menjadi Ekor kuda. Ditatapnya dalam dalam wajahnya di depan kaca itu. di dalam hati ia berbicara


"Hanya demi Rafael Aku berani memutuskan untuk ikut bekerja disini. Semoga saja tidak ada kejadian yang akan mengganggu pikiranku. "

__ADS_1


Di putarnya gagang wastafel dan membasuh kedua mukanya menggunakan sabun wajah yang ia bawa. Entah kenapa ia merasakan Wajahnya terasa panas memakai sabun itu. Tergesa Natasha pun membasuh kedua wajahnya. Dilihatnya di Kaca wastafel, Wajahnya Berwarna merah dan sangat gatal. Melepuh seperti balon balon kecil. lalu kulitnya berubah seperti habis di bakar. Sontak natasha tak dapat berkutik lagi. Matanya terbelalak menyentuh wajahnya yang buruk rupa itu. Ia merasakan sakit yang luar biasa dari wajahnya.


Lalu Perlahan wajahnya yang melepuh itu mengeluarkan Belatung Kecil yang sangat banyak. Merayap diantara wajah lalu masuk kembali ke dalam tubuhnya. Natasha gemetar. Ia benar benar kehilangan kesadaran. Ia berteriak histeris Dari dalam Toilet.


Rafael yang mendengar teriakan Natasha sontak langsung berlari ke arah toilet itu. Di ikuti dengan yuri di belakang Nya, Rafael mengetuk ngetuk pintu toilet berkali kali. Namun tak kunjung dibuka oleh Natasha. Justru jeritan Natasha semakin kuat terdengar Dari dalam toilet. Yuri yang khawatir Terjadi sesuatu kepada Natasha mencoba mencari cara. Namun kepanikan melanda membuat yuri tidak bisa berfikir jernih.


Rafael mencari cara lain dengan Mendobrak pintu dengan sangat kuat. Dengan satu kali Dorongan Pintu itu pun terbuka. Terlihat disana Natasha tersungkur sambil memegang kepalanya dengan sangat erat. Yuri segera masuk ke kedalam toilet lalu mengguncang guncangkan tubuh Natasha. Ia mencoba menyadarkan Natasha. Rafael segera menghidupkan air keran Dan di siramnya sedikit percikan ke wajah Natasha.


"hah.. hah... hah. " Rasanya Natasha baru kembali ke dunia nyata. Ia melihat sekeliling. Nafasnya terasa sangat sesak. Ia benar benar syok. Yuri bertanya tanya sebenarnya apa yang terjadi dengan Natasha. Iapun membantu Natasha keluar dari toilet dan membawanya duduk sambil menenangkannya.


Memang terkadang ada saatnya mereka berdua terlihat sangat akrab dan ada juga saatnya ketika mereka kembali bertengkar.


Yuri mengambil segelas minuman yang ia buat untuk Natasha. Natasha tak bisa berhenti bergetar. Tubuhnya benar benar lemas. Baru kali ini Yuri merasa Khawatir kepada seseorang dan begitu perhatian.


Rafael masih berdiri di depan toilet tempat Natasha tersungkur tak berdaya. Ia berjalan masuk ke dalam toilet itu. Dilihatnya dengan sangat teliti seisi Ruangan toilet itu. Namun tak ada yang mencurigakan. Semua terlihat baik baik saja. Tapi bagi Rafael, Ini adalah suatu tantangan untuknya. karena dia merasa ada yang janggal dengan Bar ini walaupun sudah ditutupi dengan Dekorasi dan


fasilitas yang lengkap.


akhirnya Rafael termakan Ucapan Gibran. Dan ia akan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Setidaknya itu yang dipikirkan Rafael saat itu.


Tak lama Rafael beranjak keluar dari Toilet itu. Bau amis tercium di mana mana. Darah tiba tiba muncul mengalir dari satu dinding ke dinding lain. Kaca wastafel tiba tiba retak dengan sendirinya. Di kaca itu nampak tulisan berwarna merah yang dibuat menggunakan Darah.


"MATI. " Itulah kata yang terukir di Kaca yang retak berkeping keping.


Sudah baca sampe sejauh ini tapi belum klik fav sama Vote? 😆


Sekarang klik lah Favorit sebelum terlambat ya😘 Vote nya jugakk!

__ADS_1


Terus like nya jangan sampe ketinggalan😋


HAPPY READING🌹


__ADS_2