
Sudah Pukul tiga subuh (malam) Rafael dan Natasha berjalan gontai di lorong rumah sakit. Wajah Natasha terlihat kuyu. Kurang tidur. Capek dan dilanda rasa khawatir seandainya Kondisi Gibran kembali memburuk.
Rafael telah mengantar Luna pulang tadi malam dan meminta ijin dengan ibunya untuk menjaga Gibran malam ini. Ia tak tega melihat Natasha yang terus menjaga Gibran, Terutama ia tak ingin Natasha jatuh sakit.
" Subuh gini ada ojek online gak ya?. " Tanya Natasha yang memecah keheningan.
" Gak usah, gw kan bawa mobil. gw Anter, biar cepet. " Jawab Rafael cepat. Ia menatap wajah sayu Natasha.
" Kayaknya hari ini lo izin gak sekolah aja tas. Biar gw yang bantuin Tante Bella jagain Gibran. " Lanjut Rafael.
" Tapi hari ini kita kan ada ulangan Biologi. " sahut Natasha.
" Sumpah gw lupa. "
" Kita pulang aja dulu. " Jawab Natasha malas akibat kantuk yang melanda.
" Oke "
Ruang tengah masih gelap ketika Rafael masuk ke dalam rumah. Tetapi dari arah dapur sudah terdengar suara ibu memasak beserta bau wangi yang semerbak. Oh ya, Rafael baru ingat. Bahwa sore ini ayahnya akan pulang dari luar negeri. Itu membuatnya semakin malas berada di rumah.
Semalam Natasha menelpon Rafael memberitahukan Bahwa Gibran tadi malam baru sadar dan telah melewati masa kritisnya. Ibu Rafael tau bahwa Rafael sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu. Karena itulah Ibunya membiarkan Rafael untuk menjaga Gibran malam ini.
Tanpa suara, Rafael berjalan ke arah kulkas dan menuangkan air dingin ke gelas di tangannya. Ia meneguk air itu hingga habis tak tersisa. Pikirnya mandi pakai air hangat akan nikmat.
" Kak. "
Hosshh... Rafael dengan cepat mendongakkan kepalanya. Tangannya berpegangan di tepian tangga. Ia terperayak sambil menatap tajam Luna yang berdiri beberapa anak tangga diatasnya.
" Hish... Bisa gak sekali kali muncul tanpa ngagetin gw. " Ucap Rafael kesal.
" Maaf. Lagian kak Rafael kebiasaan ngelamun. "
Rafael menarik nafas dan melanjutkan menaiki anak tangga.
" Gibran lumayan baikkan. Katanya Hari ini udah boleh pulang. Tapi tunggu pemeriksaan sekali lagi. " Rafael tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.
" Kak. "
" Kenapa?. " Rafael menghentikan langkahnya lagi.
" Emm... itu, "
Rafael menunggu. Sepertinya ada yang ingin dikatakan Luna kepadanya. Namun tak kunjung di ucapkan oleh Luna. Ia hanya terlihat seperti berkomat Kamit di mulutnya tanpa mengeluarkan satu katapun.
__ADS_1
Luna hanya memandang Rafael tanpa mengucapkan apapun. Rafael terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengabaikan Luna dan kembali melangkah meninggalkannya.
" Mungkin Sekarang kak Gibran udah gak apa apa. Tapi khusus malam ini. Kak Rafael gk boleh membiarkan kak Gibran sendiri. "
" Sosok laki laki itu, Masih mengincar kak Gibran. Jika berhasil, Dia akan melanjutkan aksinya ke teman kakak yang lain. " Lanjut Luna lirih.
Rafael menoleh dan menatap Luna dari atas hingga ujung kaki. Sungguh memang tak ada raut bergurau dari wajahnya.
" Lo serius lun?. " Tanya Rafael memastikan.
" Luna udah janji bantu kakak. Luna gak bakal boong. "
Rafael adalah tipe orang yang tak pernah tertarik dengan hal yang berbau ghoib, setan, Jin, Iblis atau apapun sebutannya. Namun kali ini. Ia justru terfokuskan dengan sesuatu yang berbau ghoib itu. Ia memikirkan kata yang diucapkan Luna tadi. Luna juga sudah berjanji akan membantunya mengusir arwah penasaran yang menirukan sosok Gadis itu. Rafael mencoba berfikir bertolak belakang agar tidak membuatnya merasakan hawa yang mencekam karena rasa takut yang perlahan menerornya.
" Lo bilang gadis itu baik kan? Sebenarnya siapa namanya?. "
" Em, namanya Bintang kak. "
" Hah? Bintang? Rasanya gw pernah dengar nama itu. " Batin Rafael.
" Kalo menurut perkiraan Luna. kayaknya Laki laki yang menyerupai kak bintang itu memiliki suatu masalah yang belum selesai dengannya. juga dengan kak Rafael. "
" aku? Kenapa aku. " Rafael kembali berbicara di dalam hatinya.
" kalo gitu, kamu udah punya cara buat ngusir arwah itu gak?. " tanya Rafael.
" Untuk saat ini cuma itu yang bisa Luna kasih tau, Selebihnya Luna bakal tanya sama kak bintang langsung. Kakak tenang aja gak usah dipikirin. "
Rafael berjalan dengan kaku ke arah kamarnya. Ia meninggalkan Luna sendiri dan dengan cepat membuka pintu kamar. Banyak hal yang ia pikirkan. Yang tidak bisa dijelaskan dengan kata kata.
Rafael membuka bajunya lalu melemparnya ke dalam keranjang. Ia berjalan ke dalam kamar mandi sambil menenteng handuk berwarna biru di pundaknya. Rafael mengisi air di bathtub dengan air hangat. Rasanya ia ingin menjernihkan pikiran dengan berendam beberapa saat.
Rafael menarik nafas dalam. Ia memejamkan kedua matanya. Ia membiarkan tubuhnya terbenam di air dan hanya memperlihatkan mata yang terpejam dan hidung yang mancung. Tubuhnya benar benar merasa rileks dan santai. Ia membuang semua pikiran dari otaknya.
Namun, Selang beberapa menit terdengar suara bisikan halus melintas dari telinga Rafael. Suara itu terdengar seperti menyuruhnya untuk membenamkan seluruh tubuhnya. Seakan menekan Rafael agar terbenam di dalam air dengan istilah kasar kehilangan oksigen. Rafael mengabaikan suara itu. Ia tak ingin meladeni makhluk itu sekarang.
Tak berapa lama justru suara langkah seseorang yang terdengar sekarang. Rafael menajamkan pendengarannya. Suara itu berasal dari kamarnya, tepat di luar kamar mandi. Dan, seketika suara itu lenyap. Sunyi senyap. Tak ada suara lagi. Rafael agak merasa merinding namun ia mencoba tidak memikirkannya.
*
*
*
__ADS_1
*
*
Rafael sampai disekolah lebih cepat dari biasanya. Kelas masih terlihat sepi, sangat sepi. Namun diantara bangku bangku yang kosong itu terlihat Natasha sudah ada dan duduk manis di kursinya. yah, pagi tadi Rafael ada mengirimkan Pesan Chat ke Natasha.
" Ada yang gw pengen omongin, ini bersangkutan sama Gibran dan arwah yang pernah gw ceritain itu. Gw tunggu Lo disekolah. "
" Oke " Hanya itu balasan dari Natasha. Rafael berjalan perlahan menghampiri Natasha. Ia duduk di kursinya yang berada tepat di depan tempat duduk Natasha. Rafael pun menoleh ke arah Natasha segera setelah meletakkan tasnya di laci meja.
" Langsung intinya aja, ada apa lagi?. " Natasha langsung membuka suara tanpa basa basi.
" Maaf tas, kemarin gw belum cerita semua sama Lo. Dan sekarang gw bakal kasih tau semuanya. "
" Iya. "
" Kayaknya Gibran bener tentang penunggu di bar itu. Waktu pertama kali kita kerja, gw udah liat. Dia ngikutin gw sampe rumah. "
Natasha agak tercengang. Ia menelan ludah. " Maksud Lo gimana?. "
" Luna yang liat. Sosok laki laki yang menyerupai seorang gadis. Gw bingung kenapa gw yang di samperin. Gw gak kan gak kenal. "
" Dan hal yang bagi gw paling ga masuk akal adalah laki laki itu selalu menyebut nama bintang. Dan gw baru tau dari Luna. Pas dia bilang bintang adalah nama sosok gadis yang asli. Yang wajahnya ditiru oleh sosok laki laki itu. "
Natasha menelan ludah berkali kali. Keringat dingin seketika bercucuran dari punggungnya. Rasanya dia pernah mendengar nama bintang. Natasha teringat sesuatu.
" Gu, gue pernah denger nama itu. Waktu Lo sakit dan ga bisa kerja, Gibran kan bantuin gw. Gw digangguin sama sosok perempuan. Maaf gw gak pernah cerita sama Lo. Gw gak mau Lo kepikiran. "
" Waktu itu gw merasa ada di dunia lain. Seakan kota mati. Gw gak lihat siapa siapa, Gibran juga gak ada. Yang ada cuma sosok gadis itu. Dia mau bunuh gue. Dia ngejar gw sampe ke jembatan. Dan entah apa yang ada di pikiran gw saat itu. Sosok itu dorong gue. "
Rafael tersentak. Ia tak menyangka ternyata sosok itu sudah pernah menyerang Natasha. Ia menjadi risau dan khawatir. Namun ketika ia mendengar Natasha bilang Gibran langsung datang menolongnya, pikirannya terasa lega.
" Gw beneran gak nyangka. Gw pikir dia baru nyerang Gibran. Ternyata dia udah pernah mau bunuh Lo tas. "
" Gw jadi kepikiran. Apa jangan jangan Gibran di terror karena udah bantuin gw? Apa karena Gibran menghalangi rencananya buat bunuh gw?. " Natasha menunduk seakan merasa bersalah.
" huss, Lo kenapa mikirnya pendek banget sih? Jangan ngomong kek gitu. Lo gak bakal dibunuh. "
" Pokoknya gw bakal mencari tau kebenarannya mulai sekarang. Gw gak mau ada yang terluka lagi. Terutama Lo. " Lanjut Rafael.
Mendengar ucapan Rafael seketika Natasha merasa canggung. Jantungnya seakan berdegup kencang sekali. Natasha mendongak melihat wajah Rafael dengan tatapan terkejut.
Rafael sadar akan ucapannya. Ia malu dan terlihat salah tingkah. Ia mengalihkan pandangannya karena pipinya yang terlihat sangat merah.
__ADS_1
" Kalo gitu gw bakal bantu Lo cari tau. Ayo kerja sama. " Natasha mengalihkan pembicaraan dengan senyumnya yang begitu manis. Membuat Rafael semakin merasa terpesona.
" Oke. Sehabis pulang sekolah kita tanya lagi sama Luna. Dia bakal bantu kita. "