The Mystery Of The Beautiful Girl

The Mystery Of The Beautiful Girl
BAB 5


__ADS_3

 


Luna sudah tertidur pulas di samping Rafael. Sedangkan Rafael Masih terjaga hingga Waktu menunjukkan pukul 12 malam tepat.


 


Ia memandangi adik kesayangannya itu. Lalu mengelus kepala adiknya sembari mengenang masa lalu.


Ia teringat selain bisa melihat makhluk astral adiknya juga tau apa yang akan terjadi di masa mendatang.


" Hari itu mereka baru saja pindah rumah. Salah satu tetangga Mengunjungi mereka Dan mengundang mereka makan malam di rumahnya. Karena hari pertama Pindahan, Ayah setuju untuk ikut mengunjungi tetangga mereka dan menunda pekerjaannya. Namun tetap saja, Rafael tidak terlalu suka dengan ayahnya.


Nama kepala keluarga tetangga mereka adalah pak Yahid.


Waktu pertama masuk ke dalam rumah pak yahid, Luna sudah merasakan ada yang aneh. "Kak kayaknya nanti bakal ada yang meninggal deh di rumah ini. " Sontak Rafael menatap Luna tajam.


" Huss! kamu ngomong apa sih. " Sembari meninggalkan Luna di luar pintu masuk ke rumah pak Yahid.


pak Yahid memiliki Putra laki laki seumuran Luna. orangnya ceria. Berbeda dengan Luna yang bersikap agak dingin dan pendiam. Yah.. mungkin karena ia berbeda.


Seminggu kemudian Ada kabar dari keluarga pak Yahid. Waktu itu tepat pukul 1 siang Katanya ada kecelakaan Beruntun di jalan merpati. Dan Salah satu korbannya adalah Pak Yahid. Pihak polisi menelpon Istrinya pak Yahid.


Mendengar kabar kematian suaminya, Sontak membuat Istrinya pak yahid pingsan.


Rafael berdekik ngeri mendengar Berita itu. Ia menatap Adiknya si luna.


"Apa?. " ucap Luna heran karena dipandang seperti itu oleh abangnya.


"omongan kamu kemarin?apa ini maksudnya?. " Rafael mengangkat kedua alisnya.


"maafkan aku kak, aku hanya bisa melihatnya Tapi gak bisa berbuat apa apa. Karena, ini kan takdir ". Suara Luna mengecil dan kepalanya menunduk tidak berani menatap Mata Rafael.


Rafael langsung memeluk adik kesayangannya itu. " ini bukan salah kamu, gak usah sedih. " Ucap Rafael sambil mengelus kepala adiknya.


Tiba tiba pesan masuk melalui Ponsel Rafael. Ia mulai tersadar dari khayalan nya itu.


"NATASHA: Lu udah tidur El ? . "


Rafael tersenyum melihat pesan dari Natasha. Itu membuatnya teringat akan kenangannya lagi. Yaitu saat pertama kali ketemu sama Dia.


Awal mulanya sebenarnya dari Gibran. Waktu itu mereka masih murid baru Kelas 10 Di SMA Tunas Bangsa. Sekolah ini deket sama rumah Rafael sebelum ia pindah. Makanya dia sering jalan kaki pulang ke rumah.


Rafael adalah anak Yang pendiam dan tidak banyak bicara. Dia hanya fokus untuk belajar dan menjalankan hobinya sebagai pemain basket.Tapi tetap aja, para anak cewek disekolahnya Naksir dengannya dan menjadi fansnya.


Hari itu waktu Kamis sore Pulang sekolah. Rafael seperti biasa jalan kaki Ke rumah. Tapi kali ini dia gak sengaja melihat 2 pelajar yang memakai seragam sama seperti dirinya di hadang oleh preman gang.


Mereka dipaksa turun dari motor. Salah satu pelajar itu ditarik oleh salah satu preman dan menghajarnya . Sontak temannya yang di bonceng refleks ikut membantu pelajar itu yang di hajar habis habisan. Ternyata dia perempuan. Dia membantu pelajar laki laki itu untuk menghajar Preman berandalan yang memalak mereka. Tapi tiba tiba, Rafael melihat 2 preman lain datang dan menangkap gadis itu lalu mengikatnya.


Rafael yang merasa geram sudah tidak tahan melihat mereka berdua di sedang. Apa lagi kali ini, ia melawan ketiga preman itu sendirian.


 

__ADS_1


Rafael melemparkan bola basket tepat terkena kepala bagian belakang salah satu sang preman.


 


"brengs*k!. " Parah preman itu pun menoleh ke arah belakang.


"Gua yang lempar! kalian ngapain hah. " Rafael Muncul dari tempat persembunyian.


Tanpa pikir panjang ia menghabisi 3 preman berandalan itu dengan tangan kosong. Ia menghabisi mereka sendiri. Sungguh menakjubkan ketika mengingatnya.


Ketiga preman itu pun kabur dan tak pernah kelihatan lagi sejak hari itu.


Dengan sigap Rafael berlari ke arah gadis pelajar itu dan membuka ikatan tali tangannya. Gadis itu pun pergi menemui teman laki lakinya.


"Gib.. lu gak apa apa kan?. "


"Gak gak, gue gak apa apa. Mendingan lu terimakasih dulu sana anak itu!. " Natasha mengangguk.


"Makasih udah bantuin kita!. " Natasha menghampiri Rafael yang sedari berdiri memperhatikan mereka.


"Lu temen sekelas kita kan? kenalin gua Natasha, dan ini sepupu gua Gibran!. " Natasha mengulurkan tangannya kepada Rafael.


"Rafael. " Ucap Rafael singkat.


"Btw tuh sepupu lo mending cepet dibawa pulang, lukanya parah!. "Rafael pun segera pergi.


" gue pikir mereka pacaran ternyata salah. " Gumam Rafael di dalam hati


Namun Setiap tahun kenaikan kelas, Anggota perkelas akan di gabungkan dan kembali di acak. Dan kebetulan Mereka pun masuk ke kelas yang sama saat kenaikan kelas 12. Sejak saat itu mereka pun menjadi semakin dekat.


Rafael mulai ada rasa dengan Natasha. Sehingga sampai sekarang Natasha memiliki tempat khusus di dalam hatinya. Ia merasa Natasha itu berbeda dari cewe lain yang hanya mementingkan penampilan. Sedangkan Natasha itu orangnya gak peduli penampilan dan tidak pilih kasih dalam berteman. Itu lah yang ada di pikiran Rafael.


Rafael kembali melihat jam Weker nya. Jam itu masih sama menunjukkan 12 tepat. Rafael mengangkat sebelah alisnya. "kayaknya tadi jam segitu juga. jam nya mati ya?. "


Rafael menatap adiknya sebelum akhirnya bangkit dari kasur untuk mengganti baterai jam weker nya. Ia pun berjalan menuju lemari. Baru setengah melangkahkan kaki, Tiba tiba saja angin berhembus di tengkuk Rafael.


Ia mulai merasakan hawa dingin yang menusuk pori pori kulit. Dia tergesa menoleh ke belakang. Jendela terbuka.


Rafael Mengernyit kan dahi. "Kok bisa kebuka? perasaan tadi sudah di kunci ! " Ucap Rafael di dalam hati.


Ia pun menutup jendela lalu menguncinya. Di tatap nya di bawah sana Ada seorang gadis yang berdiri di bawah pohon mangga di halamannya. Gadis itu ber aura hitam.


Seakan sadar sedang di perhatikan. Gadis itu mendongak melihat ke atas. Rafael tersungkur, Ia terkejut.


Walaupun tidak terlalu jelas melihat wajahnya, Namun tetap itu membuat jantung Rafael berdegub kencang.


Ia mencoba mengatur nafas dan kembali melihat ke bawah jendela. Tak ada siapa siapa. Semua hening dan sepi. Rafael mencoba menenangkan diri.


Ia pun kembali pergi ke arah lemari untuk mencari Baterai jam weker nya. beberapa saat kemudian setelah Ia mendapatkan baterai jam nya, ia pun menutup pintu lemari.


Rafael terbelalak. Ia ingin berteriak namun Tertahan. Gadis yang baru saja ia lihat kini tepat berada disampingnya.

__ADS_1


Gadis itu awalnya berwajah mengerikan. Namun perlahan berubah menjadi wajah manusia biasa sebagai gadis yang sangat cantik nan anggun. Entah kenapa disaat Rafael melihat wajah gadis itu, ia merasakan ada yang berbeda. Rafael merasa ia ada hubungan darah yang sangat besar dengan gadis itu. Seperti, hubungan keluarga.


"Se... Sebenarnya apa mau kamu? mengapa kamu terus menggangguku?. "


Rafael memberanikan diri untuk berbicara kepada Gadis itu. Gadis itu hanya terdiam mendengar ucapan rafael.


Tak berapa lama suara tawa terdengar melengking di kamar Rafael. Gadis itu tetap berada di hadapannya.


seketika lampu berkedip sendiri. Benda benda melayang ke atas lalu dihempaskan begitu saja di lantai. Semua benda berserakan dimana mana. Bahkan tawa itu semakin lama semakin keras. Rafael benar benar takut.


Ia berlari keatas kasurnya dan menutupi tubuhnya menggunakan selimut. Ia bingung mengapa adiknya tidak mendengar keributan yang terjadi. Dalam sekejap mata semua terdengar hening, tak ada suara benda benda yang jatuh lagi. Rafael pun memberanikan diri untuk menoleh ke arah adiknya.


akhirnya ia menoleh ke sisi kiri nya. Adiknya tidak ada. Jelas jelas ia masih ingat bahwa Luna meminta tidur bersamanya malam ini.


Dilihatnya kembali seisi kamarnya. Lampu tak lagi berkedip. Barang barang yang dilempar kan tadi pun berada di tempatnya semula. tidak ada yang pecah. semua bersih seperti tidak terjadi apa apa.


Rafael menghela nafas lega. Dan kini ia khawatir dengan adiknya yang tidak tau kemana.


Rafael beranjak pergi dari kamarnya. Ditutupnya pintu perlahan karena kondisi sekarang tengah malam.


Ia berjalan menuju kamar adiknya. Namun sebelum masuk ia melihat Luna berada Di tangga menuju ke lantai bawah.


karena cahaya yang redup, Rafael tidak bisa melihat dengan jelas. Dipanggilnya adiknya itu namun tak ada jawaban.


Rafael pun mengikuti Luna menuruni tangga. ia masih berusaha memanggil adiknya itu. Namun lagi lagi Luna tidak merespon.


Hingga akhirnya Luna berhenti di ruang kerja ayahnya. Rafael bingung apa yang dilakukan adiknya tengah malam begini di ruang kerja ayahnya. perlahan Rafael mengintip lewat celah pintu yang terbuka. Ia melihat adiknya sedang menggenggam suatu buku harian. Buku itu milik ayah.


Rafael mengerutkan dahinya. Ia semakin bingung dengan tingkah adiknya itu.


Tanpa disadari, tiba tiba Luna sudah berada Di hadapannya. Matanya berwarna putih, wajahnya pucat, Bibirnya berwarna hitam pekat.


Bahkan sekilas dirasakannya Bahwa tubuh adiknya itu sangat dingin Seperti mayat. Rafael membeku. Ia Tidak bisa bergeming. Tubuhnya benar benar lemas karena terkejut. Sampai akhir nya ia pun terbangun.


_05.00 PAGI


Rafael terbangun, Tubuhnya Di penuhi dengan


keringat dingin. Nafasnya tersengal sengal seperti habis dikejar seseorang. Dilihatnya kembali di sampingnya. Adiknya masih tertidur dengan sangat pulas. Ia memegang keningnya dengan telapak tangannya. "apa apaan ini?! kapan aku tertidur? Gak masuk akal. " Rafael bergeming di dalam hati. Ia pun beranjak pergi ke kamar mandi.


Tak berapa lama setelah Rafael pergi. Terlihat becak darah yang berjatuhan Di bekas telapak kaki Rafael dari langit langit.


Rafael masih mengantuk. dimatanya terlihat Kantung kelopak mata seperti panda. Ia kehilangan akal karena memikirkan mimpi yang tak lazim itu.


Jelas jelas ia tidak bisa tidur. Dan apa yang terjadi kepada adiknya? Rafael Tidak bisa Memikirkan jawaban yang tepat.


Diperhatikannya kakaknya sejak tadi pagi setelah sarapan. Luna berfikir sepertinya kakaknya itu sedang banyak pikiran.


Luna mengetahui apa yang dialami kakaknya kemarin. Namun ia lebih memilih membungkam mulutnya rapat rapat.


Jangan lupa di like, komen, and vote ya readers. Jika ada typo tolong maafkan🙏. Semoga sukak!!

__ADS_1


HAPPY READING 💦


__ADS_2