
Langit terlihat sangat gelap. Rafael pun melihat jam tangannya menunjukkan pukul setengah enam sore.
Jarak Bar ke rumah mereka lumayan Jauh dan memerlukan waktu yang lama. Untunglah Rafael membawa Mobil nya. Rafael pun mengantar Natasha terlebih dahulu lalu melanjutkan perjalanan nya menuju rumah Gibran.
Jalanan pun terlihat sangat sepi. Tak ada motor, atau mobil lain yang berlalu lalang.
Biasanya Di waktu waktu seperti ini, memang wajar jalanan terlihat sangat sepi. Karena Semua penghuni kompleks berada di rumahnya masing masing. Katanya sih, pamali keluar malam malam.
Gibran memandangi wajah Rafael yang tengah fokus menyetir. Rafael menyadari Lalu menoleh ke arah Gibran.
"Lu liat apaan?. " Rafael menatap Heran Gibran.
Sejak tadi Gibran tak ada bicara sepatah katapun semenjak keluar dari toilet. Terakhir saat dia menyuruh Rafael Segera pergi dari sana karena katanya tidak aman. Rafael sebenarnya ingin bertanya. Namun, ia ragu ragu karena melihat kondisi Gibran yang pucat pasi.
"Gak bisa dipikir lagi ya? lu yakin bakal kerja part time disana?. " Pertanyaan Gibran Memecah kesunyian diantara mereka berdua. Rafael kembali menoleh.
"Tadi di toilet gw di ganggu setan. ada gadis Yang berdiri tepat di belakang gua Terus air keran tiba tiba berubah warna sendiri. "
"Berubah warna?. " Rafael menelan ludah.
"warna darah di sertai bau Anyir dan busuk. " tubuh Gibran bergetar.
Entah karena kegelapan malam yang menyelimuti Rafael, atau karena cerita Gibran yang membuat Rafael Panas dingin. Bulu kuduk Rafael berdiri tegak. Jantungnya ber degub kencang.
"Setelah Tasha tau lu kerja disana dia pun ikut ngotot buat kerja bareng lu! Gua khawatir, kalo terjadi sesuatu sama kalian berdua."
tanpa diduga Natasha tiba tiba mengacungkan diri untuk ikut bekerja Part time bersama Rafael. Rizky berfikir keras karena, yang ia tau hanya Rafael lah yang ingin melamar kerja. Rizky menatap adiknya itu. Tapi setelah berfikir panjang, Rizky memutuskan untuk menerima Natasha. Karena Ia merasa sepertinya Natasha cocok untuk menawarkan rekomendasi minuman kepada pelanggan mereka. Rizky pun menerima Natasha juga untuk bekerja part time disana.
Yuri Menatap sinis kakaknya. Wajahnya memerah menahan amarah. Dia juga memandangi wajah Natasha dengan Merengut sambil mengepalkan tangan.
Ia ingin protes kepada Rizky Namun, ia tak mungkin berani Bicara kasar di depan semua teman temannya. Jadi ia mengurungkan niatnya dengan menunda Amarahnya.
"Terus gua harus gimana?. " Rafael Tetap fokus menjalankan mobilnya.
"Natasha itu orangnya seenaknya! klo lu nyuruh gw bujuk dia, gua yakin dia tetep gak akan mau!. " sambung Rafael.
Gibran menghela nafas panjang. Ia mencoba menenangkan diri.
BRUK...
Tiba tiba Rafael tersentak. Ia menghentikan Mobilnya tepat di tengah tengah jalan sepi itu.
Gibran sontak menoleh ke arah Rafael Dengan ekspresi terkejut. Terdengar suara keras Seperti terbentur sesuatu.
"Kayaknya gw nabrak sesuatu. " Ucap Rafael bergetar.
__ADS_1
"Gw bakal periksa! lu duduk di mobil aja, jangan kemana mana!. " Lanjut Rafael. Gibran mengangguk.
Dilihatnya Ke depan mobil tidak ada yang lecet. Lalu di lihatnya ke bawah mobil juga tidak ada apa apa.
Rafael mencoba membuka tudung Depan mesin mobil. Ternyata, masalahnya ada disitu.
Tidak berapa lama Rafael berhasil membetulkan Mesin mobilnya. Gibran yang menatap Rafael dari dalam mobil merasa merinding. Ia tidak bisa lagi menahan rasa takutnya.
Rafael pun menutup Tudung mobil.
Gibran Sontak terkejut. Matanya terbelalak ketika melihat seseorang berdiri tepat di belakang Rafael.
Itu Gadis yang sama. Gibran menunjuk ke arah belakang Rafael. Ia mencoba memberikan isyarat kepada Rafael. Rafael yang melihat sorotan mata Gibran tak mengerti sama sekali.
"apa yang dimaksud gibran sebenarnya?" Rafael berfikir keras di dalam hatinya. Sontak sikap Rafael membuat Gibran geram.
"Cepetan naik El! di belakang lu ada setan!!. " Gibran berteriak ke arah Rafael yang seperti orang bodoh menatapnya.
Tanpa pikir panjang Rafael langsung masuk ke dalam mobil Dan menyalakan mesinnya. Jantungnya dag dig dug mendengar perkataan Gibran. Ia tidak tau mengapa tapi Ia benar benar merasa takut sekarang.
"SHITT. "
Rafael menepuk Gagang setir nya. Ia frustasi karena mobilnya tidak mau hidup. Namun ia terus berusaha agar mobilnya bisa jalan kembali.
BRAKK...
Seseorang merangkak dari bawah mobil tepat Di depan Mereka berdua. Dengan rambut panjang terurai menutupi wajah. Dan gaun hitamnya yang berlumuran darah. Itu terlihat sangat jelas Di depan mata rafael dan Gibran.
Gibran tak menggubris lagi. Ia berteriak sekencang kencangnya Dan membuat Rafael kehilangan kendali untuk tetap tenang. Mobilnya menyala. Rafael segera pergi meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.
gadis bergaun hitam tadi tiba tiba menghilang begitu saja dari pandangannya.
"lu gak apa apa kan ran?. " Rafael benar benar khawatir dengan keadaan Gibran.
"gu.. gua baik! tenang aja. " Jawab Gibran lirih.
"lebih baik lu pikir lagi deh!. " Gibran menoleh ke arah Rafael sebelum akhirnya Turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumahnya.
Rafael ingin memanggil Gibran Namun ia mengurungkan Niatnya. Ia hanya memandangi Punggung Gibran yang perlahan menghilang dari pandangannya. Rafael pun menyalakan mesin mobilnya kembali. Ia menghela nafas.
Saat hampir sampai di komplek perumahannya, Suara lolongan anjing mulai terdengar di sepanjang jalan. Rafael masih teringat kejadiannya tadi bersama Gibran. Ia takut Itu akan terjadi lagi karena sekarang dia sendirian.
Waktu menunjuk pukul sembilan malam. Rafael menghidupkan Klaksonnya. Pak satpam yang tengah tertidur di posnya pun sontak terkejut. Ia langsung membukakan pagar pintu Untuk Rafael.
Rafael memarkirkan mobil di halaman rumahnya. Ia beranjak turun dari mobil dan melangkah Menuju Pintu rumah.
__ADS_1
Ia merasakan hawa dingin yang mencekam Di sekujur tubuhnya. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Di pencet nya bel rumah
namun tak ada jawaban.
Rafael melihat kondisi sekitar halamannya. Pak satpam tak lagi terlihat. Namun tepat di samping mobilnya di parkirkan, berdiri seorang gadis cantik Dan seksi dgn gaun hitam Di atas lutut. Rafael mengerutkan alisnya. "Bagaimana caranya masuk ke sini? " Pikir Rafael di dalam hati.
Tiba tiba seseorang menarik tangan Rafael masuk ke dalam rumah. Ternyata adiknya, Luna.
Rafael menghela nafas lega. Luna mengintip dari Gorden jendela di samping Pintu. Ia menatap Rafael dengan kesal.
"Aku sudah bilang kepada kaka! kenapa sekarang justru membawanya pulang?!. " Ucap adiknya kesal sebelum akhirnya meninggalkan Rafael menuju kamarnya di lantai atas.
Rafael menatap adiknya yang semakin menjauh. Ia kebingungan mengapa adiknya marah. Jelas jelas Rafael Datang ke rumah sendirian.
Rafael pun melangkahkan kaki Menyusul adiknya ke atas. Tak bersulang lama di tempat Rafael berdiri tadi. Terjatuh Darah yang melekat dari langit langit. Darah itu mengiringi Langkah Rafael hingga tepat di depan kamarnya.
Rafael membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Ia berbaring sambil menatap layar ponsel. Tak berapa lama Rafael beranjak dari tempat tidurnya dan Pergi ke dalam toilet untuk bersiap siap tidur.
Setelah Rafael keluar dari toilet Ia pun mematikan Cahaya Kamarnya itu. nampak dalam cahaya yang redup ada seseorang yang berbaring Di kasur Rafael. Seorang perempuan. Rafael berfikir mungkin itu adiknya yang merasa takut dan memilih tidur bersama dirinya.
"Klo mau tidur sama kakak bilang bilang dong ."
Rafael membaringkan tubuhnya di samping Gadis itu tanpa menaruh curiga sedikitpun. Ia membalikkan tubuhnya berlawanan dengan sosok yang disangka adiknya itu.
Gadis itu tiba tiba saja memeluk pinggang Rafael dari belakang. Sontak itu membuat Rafael terkejut. Karena biasanya adiknya tidak pernah bersikap seperti ini kepada dirinya.
Rafael sekilas melihat tangan adiknya yang memeluknya. Tangan itu berwarna putih pucat seperti orang yang sudah mati. Bahkan sangat dingin dirasakan Oleh Rafael.
Rafael mencoba berfikir positif. Ia pun memejamkan matanya. Disaat yang bersamaan Lampu di kamar Rafael tiba tiba hidup sendiri.
" Kakak ."
Rafael menoleh ke sumber suara. Dilihatnya adiknya yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan ekspresi Terkejut. "Luna? terus yang tidur bareng gue tadi siapa?. "
Rafael tersengal saat melihat Tidak ada siapapun yang berbaring di sampingnya. jantungnya Ber dag dig dug bukan main.
"tentu saja gadis itu!. " Ucap Luna santai sambil berjalan menaiki kasur kakaknya.
"Luna numpang tidur disini ya!. "
Gadis? Gadis siapa? Rafael masih memikirkan Ucapan Adiknya. "Sudahlah Mungkin cuma ilusi!. " ucap Rafael sebelum akhirnya mencoba memejamkan mata.
Jangan lupa di like, komen, and vote ya readers. Jika ada typo tolong maafkan🙏. Semoga sukak!!
HAPPY READING 💦
__ADS_1