The Mystery Of The Beautiful Girl

The Mystery Of The Beautiful Girl
BAB 16


__ADS_3

Hari ini Rafael nampak lebih segar dan bersemangat karena malam tadi ia tidur dengan tenang tanpa gangguan. Dan, seperti biasa ia turun ke lantai bawah untuk sarapan pagi bersama.


Hari ini adalah hari jumat. Dimana mereka akan pulang lebih cepat dari biasanya. Namun tidak dengan pekerjaan paruh waktu mereka.


KANTIN.


" Gimana kemarin tas?. " Tanya Rafael.


" Gak baik! Tau gak kemarin itu..." Ucapan Gibran terpotong.


" Baikk, kemarin baik banget kok. " Natasha tersenyum ke arah rafael sambil menginjak kaki kanan Gibran.


Rafael mengangkat sebelah alisnya melihat tingkah mereka berdua yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Apa lagi pada saat ia melihat ekspresi Gibran yang menahan kesakitan.


" Tuh muka kenapa? jelek amat. "


Gibran hanya menyeringai sembari melirik ke arah Natasha yang mengancamnya dengan tatapan maut.


Sejak kejadian yang menimpa Natasha, Gibran memilih untuk selalu mampir ke Bar untuk mengawasinya. Ia merasa khawatir kejadian itu akan terulang lagi. Namun dari sudut pandang orang lain, Gibran hampir


mirip dengan anak nakal yang selalu nongkrong padahal lagi ujian.


SEPULANG SEKOLAH.


" Ini udah jam berapa?. " tanya Natasha.


" Hampir jam enam nih. " Gibran melihat jam tangannya.


" Bahaya nih, kalo kak risky ngomel gimana?. " Natasha mendengus sembari menatap keluar jendela.


" Gak bisa macet kayak begini, emng di depan kenapa sih?. " sambungnya.


" Gue juga gak tau, tapi kalo di lihat lihat kayaknya ada kecelakaan. " Sahut Rafael. Natasha pun menghela nafas.


" Lo udh dm kak Rizky kan?. " lanjutnya lagi. Natasha pun mengangguk.


" Udah dibalas? apa katanya?. " Sahut Gibran.


" Ditunggu Ampe jam 6 tepat. Klo blom sampe juga kita dipecat. " Jawab Natasha setengah merengut.


" Yaudah klo gitu cari bang ojol aja. biar cepet, lewat jalan tikus. " usul Gibran dengan segala pencerahan.

__ADS_1


" Lah terus ini mobil gua gimana?. " Rafael mengangkat sebelah alisnya


" Yaudah kale biar gue yang bawa. Yang kerja kan kalian bukan gue. Lagian nie mobil gak bakal gue bawa kabur juga. " Sahut Gibran lagi dengan nada menjengkelkan.


Rafael dan Natasha pun saling bertatapan tanpa berkedip. Mereka tak punya pilihan lain.


" Yaudah thankyou, gue duluan. " Rafael menepuk pundak Gibran.


Rafael dan Natasha pun turun dari mobil. Suara klakson dan asap knalpot pun langsung datang menyambut mereka. Rafael meraih tangan Natasha dan membawanya menyebrangi jalan raya yang cukup luas itu. Melewati celah celah mobil dan motor untuk sampai ke tepi jalan.


Gibran memperhatikan mereka dari dalam mobil. Dilihatnya Rafael yang menggenggam tangan Natasha erat. Ia tersenyum, melihat betapa tulus dan sayangnya Rafael terhadap Natasha.


Tepat pukul 6 sore. Sesaat ketika Natasha dan Rafael menginjakkan kaki di teras Bar, Terlihat kak Rizky yang sudah berdiri di depan mereka sembari melipatkan tangan di depan dada. Bersama dengan Yurita disampingnya dengan tatapan sinis menatap Natasha.


" Telat 5 menit lagi pasti kalian sudah saya pecat. " Sambutnya.


" Maaf kak, tadi ada kecelakaan. makanya macet parah. " Jawab Rafael.


" Sudahlah saya tidak butuh sebuah penjelasan. Lebih baik sekarang kalian bekerja dan harus selesai sebelum jam pulang tiba. Dan, itu terserah bagaimana. caranya. " Kak Rizky menatap mereka berdua garang.


" Baik kak. Saya janji keterlambatan ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya. "


" Dan saya akan membantu mereka dengan alasan kebaikan. bukan imbalan. " Sahut Gibran yang tiba tiba saja berada dibelakang Natasha dan Rafael.


" Sepakat. " Gibran tersenyum miring.


" Kalau gitu aku juga bakal bantu. " Ucap Yurita yang membuat kedua mata kak Rizky terbelalak.


" Kenapa? Abang bilang terserah caranya gimana kan? kalo gitu abaikan aku yang bantu mereka. " Kak Rizky hanya terdiam.


" Sudah yuk. jangan buang waktu!. " Sahut Gibran yang membuat Rafael, Natasha, dan Yurita balik kanan bubar jalan.


Rafael dan Natasha bekerja tanpa mengganti seragamnya. Mereka lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaan dulu karena waktu yang sedikit.


Natasha bertugas mengelap meja dan membersihkan ruangan. Yurita yang bertugas untuk mencuci semua gelas. Sedangkan Gibran dan Rafael yang bertugas membersihkan toilet.


Mendengar kata " Toilet " Entah kenapa membuat bulu kuduk Rafael dan Gibran berdiri. Mengingat kejadian yang kerap terjadi terhadap mereka di toilet, membuat pikiran mereka sedikit cemas dan takut. Namun mereka berusaha untuk tidak memikirkannya dengan bersikap tenang dan pesimis.


" Kita mau bersihin toilet mana dulu nih?. " Tanya Gibran sambil mengekor dibelakang Rafael.


" Yang cowok aja dulu. Emang Lo mau mencar? gue cowok Lo cewek?. "

__ADS_1


" Idih enak aja. enggak ah, gue atuutt. " Jawab Gibran tergesa dengan sedikit gurau. Membuat Rafael merasa geli.


Sesampai di toilet, mereka pun mulai memerankan perannya masing masing. Namun di sela sela itu, Rafael teringat sesuatu.


" Anu Ran, Lo lanjut sendiri dulu yak. Gue lupa harus buang sampah. "


" Lahh kok gitu? Gue aja yang buang. "


" Gak gak, Bentaran doang kok. Yahh? oke bye!. "


Rafael pergi dengan tergesa meninggalkan semua tugasnya. Gibran pun mendengus kesal sambil mengerutkan dahinya. Seakan dirinya sedang dikerjai oleh Rafael. Pintu toilet pun tertutup rapat ketika Rafael pergi.


Gibran merogoh ponselnya dari saku celana beserta headset. Ia memutar lagu lagu barat dan KPop yang lagi tren zaman sekarang. Ia adalah seorang Fanboy girlband K-Pop asal Korea Selatan jika kalian mau tau. Yaitu Fanboynya Blacpink dan Twice.


Gibran memulai dengan membersihkan masing masing kloset berdiri di toilet cowok. Ketika lagu milik Selena Gomez di putarkan, musik mendadak mati di tengah jalan. Gibran menghentikan gerakan tangannya. "Baterai gue abis ya? kok mati. "


Gibran pun melepas sarung karet dari tangannya dan segera merogoh ponselnya. Baterai handphone milik Gibran masih lumayan penuh, yaitu 85%. Tetapi ketika ia mencoba menekan tombol musiknya berkali kali, Lagu itu tak kunjung berputar.


Selang beberapa saat musik pun kembali berputar. Namun bukanlah suara nyanyian yang terdengar. Tapi suara samar dan tidak jelas. Gibran mematung di tempat tanpa bergerak. Ia melepas headset dari telinganya.


Terdengar suara tawa, tangis, dan air wastafel yang tiba tiba saja hidup. Sangat nyaring dan melengking. Gibran menelan ludah. Ia panas dingin. Wajahnya pucat pasi ketika merasakan sesuatu yang sangat dingin menyentuh pundaknya.


Gibran menoleh ke belakang secara perlahan, tubuhnya bergetar.


" AAAAAKKHH.... "


Gibran menjerit sekeras kerasnya. Lagi lagi ia mendapati kejadian aneh diluar logika. Sebuah tangan dengan jari jari manis yang kotor. Dan kuku kuku tangan yang hitam pekat. Jari jari yang terpenggal dan hampir terputus. Hanya tangan. Hanya sepotong tangan yang berlumuran darah.


BRAKKK... Seseorang mendobrak pintu toilet. " Rafael. "


" Ran?! Lu gak apa apa kan? Ada apa?. " Rafael terburu buru menghampiri Gibran yang tersungkur di lantai.


" Kenapa?. " Natasha menyusul diikuti dengan Yurita di belakangnya.


" Gak apa apa, kayaknya karena ada kecoa. Gibran kan phobia sama yang namanya kecoa. " Jawab Rafael menutupi kebenaran.


" UPS... " Yurita menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Ia terlihat sedang mencoba menahan gelak tawa. " Gimana si? Muka aja cakep, takut Ama kecoa. " Pikirnya.


" Em tolong dong ambilin minum buat Gibran. " Pinta Rafael.


" Biar gue ambilin. " Sahut Yuri tergesa.

__ADS_1


Di sudut lorong menuju gudang, sepasang mata menatap mereka dengan tatapan Geram. Sedikit demi sedikit tetesan air amis berjatuhan dari bajunya dan membanjiri lantai yang putih. Sepasang mata itu menatap mereka semua dengan tatapan penuh dendam berwarna merah nyala.


__ADS_2