
Gibran meletakkan tasnya diatas meja belajar. Dengan cepat ia mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.
Gibran merasa tubuhnya sangat lengket sehabis membantu Rafael dan Natasha di Bar. Ia menghidupkan air menggunakan shower. Di lemparnya seragam ke dalam keranjang kotor.
Gibran mengkeramas rambutnya sambil memejamkan mata mencoba rileks. Ia ingin menjernihkan pikirannya sembari melupakan apa yang terjadi sebelumnya.
Perlahan ia mulai merasa nyaman. Sampai pada akhirnya sesuatu yang dingin dan tajam menyentuh kedua pundaknya. Sontak Gibran membuka matanya dan tergesa menoleh kebelakang. "Hah...Cuma perasaan gue. " pikirnya.
Dengan cepat Gibran mengkeramas rambutnya yang dipenuhi oleh busa shampo. Angin yang begitu sejuk masuk ke dalam pori pori kulitnya. Seperti, Ada sesuatu yang baru saja melintas dibelakangnya.
Gibran mengambil handuk dan mengalungkannya di pinggang. Ia memperhatikan sekeliling kamar mandi untuk memastikan apakah ada orang lain di dalam sana selain dirinya. Seketika kejadian yang baru saja ia alami kembali terlintas disekitar kepalanya. " Gue yakin, kejadian tadi bukan halusinasi. Tapi apa mungkin dia ngikutin gue sampe sini?." Gibran menarik nafas panjang dan segera keluar dari kamar mandi.
*
*
*
*
*
Gibran duduk di tepi ranjang sambil termenung. Ia menggigit kuku kuku panjangnya. Ia tak bisa melupakan kejadian itu, sebelum dirinya dapat memastikan itu nyata. Namun, Dalam sekejap Gibran merasakan seseorang menyentuh kakinya. Dari kolong tempat tidur.
" Apa tuh?. " Dengan sigap Gibran menarik kedua kakinya ke atas ranjang. Bulu kuduknya berdiri. Kakinya terasa dingin, sedingin es di kutub Utara. Jantungnya berdetak sangat cepat.
Gibran menoleh ke bawah lantai. Ia mencoba mengumpulkan nyali untuk mencari tau kebawah kolong tempat tidur. Tubuhnya seakan terpanggil untuk melihat kebawah sana. Namun tidak dengan matanya yang terus tertutup.
Srett...srett...
Suara goresan terdengar dari bawah sana. Seperti kuku panjang yang digoreskan dengan sengaja di papan kayu. Dan terdengar juga suara suara berdecit, seakan ada yang merayap rayap.
__ADS_1
Decitan itu semakin nyaring. Ditambah dengan nyanyian yang muncul seketika. Rasanya pikiran Gibran mulai tak terkendali. Ia menutupi tubuhnya dengan selembar selimut. Hening.
Gibran menunggu. Tak terdengar suara nyanyian lagi. Ia memastikan dengan menghitung mundur dari sepuluh. Di hitungan ke delapan, Perlahan ia membuka selimutnya. Terlihat keringat bercucuran dari tubuhnya. Semua masih terlihat aman. Lampu kamar masih terang benderang. Tak ada yang berbeda.
Sampai dihitungan ketiga, Gibran mulai memberanikan diri untuk melihat kebawah kolong tempat tidur. Dengan perlahan ia menghitung. "Tiga...Dua... Satt!! "
" Aaaahhkk... ". Dengan melebihi kecepatan angin Gibran melirik ke kolong tempat tidur. Ia membuka sebelah matanya. "Syukur...gue salah. " Ia menghela nafas dalam. Tak ada apapun, Semua benar benar biasa saja.
*
*
*
*
*
BRAKK...
Kursi yang berada di belakangnya patah. Ia memegangi punggungnya yang terbentur antara meja dan kursi. " Akhh..." . Rasanya sakit, Seperti tergores.
Gibran pun mendongakkan kepalanya. Matanya tertuju kepada seseorang yang baru saja mendorongnya. Pandangannya kabur, ia tak bisa melihat dengan jelas siapa itu.
Lampu kamar tiba tiba saja mati. Bau menyengat tercium. Hawa seketika terasa begitu panas. Sangat lembab. mengakibatkan seakan oksigen tak ada di ruangan itu.
Pintu kamar mandi terbuka dan tertutup sendiri. Keranjang yang dipenuhi dengan baju kotor Gibran terangkat ke udara. Semua berserakan. Begitu juga dengan benda benda di kamarnya.
Gibran beranjak. Ia melihat ke sekeliling dengan tatapan tak percaya. Kamarnya begitu berantakan. Gelas yang terletak diatas mejanya pun pecah. Kepalanya terasa sangat pusing.
Ia berjalan perlahan. Menuju lemari dengan cermin panjang. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati seorang gadis berdiri di belakangnya. Gibran mengerutkan dahinya. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
__ADS_1
Perlahan ia membalikkan tubuhnya kebelakang. Dengan jarak cukup dekat, Gibran dapat melihat dengan jelas wajah sosok gadis itu. Kakinya begitu lemas sehingga tidak dapat bergerak kabur. Matanya melotot melihat ke arah sosok itu.
Bau amis mulai tercium begitu menyengat dihidungnya. Sosok itu melayang tinggi di udara. Sosok itu bergerak dengan sangat cepat ke arah Gibran dengan tangan yang diacungkan ke depan. Wajah Gibran pucat pasi. Rasanya ia ingin berteriak. Namun tertahan di tengah tengah tenggorokan.
Gibran merasakan tubuhnya semakin lemas. Dilihatnya cairan berwarna merah bercucuran dan jatuh ke bawah kakinya. Tubuhnya seakan melayang di udara. Gibran mengerjap.
Dadanya terasa sangat sesak. Dengan jarak sedekat ini, Gibran dapat melihat dengan jelas sosok pucat didepannya. Sangat cantik, Tapi juga mengerikan. Darah yang merembes dari kepala sebelah kanan gadis itu seakan menghancurkan khayalan indah Gibran. Rautnya berubah menjadi sangat mengerikan. Matanya merah nyala.
Sebelum Gibran menyadari apa yang terjadi, Ia sudah merasa lehernya begitu sakit. nafasnya tersengal. Tangan dan kuku panjang itu tanpa disadari sudah mencengkram erat batang leher Gibran. Kakinya menendang nendang di udara. Matanya begitu perih. seolah terbakar.
Tak ada oksigen yang masuk. Rasanya semakin menyesakkan. Lolongan anjing seketika terdengar dari kejauhan. Suara kaca jendela yang pecah terdengar tepat di telinganya. Suara itu seakan baru saja menggores gores habis tubuh Gibran.
Gibran melihat sekeliling. Pohon pohon, Halaman rumahnya. Dan rumah rumah tetangga. Dapat dilihatnya dengan jelas.Tubuh Gibran terjungkal. Dilihatnya kebawah. Kolam renang.
BRUKK...
*
*
*
*
*
Gibran terhempas ke lantai yang sangat dingin. Ia terbatuk. Dadanya kembang kempis. Ia menghirup udara sebanyak banyaknya. Oksigen habis seakan ia akan tiada. Sosok itu berdiri di depannya. Gibran meringis.
Sosok itu menyeringai. Terukir di bibirnya smirk yang begitu mengerikan. Gibran menepuk nepuk lantai yang dingin itu sambil terbatuk. " Ini untuk Bintang. " Gibran mendengar suara itu menggema sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Gibran terpejam. Cairan merah merembes dari atas kepala. Ditambah seketika Rintik rintik air hujan pun turun. Tepat di tengah malam Kegelapan menyelimuti matanya.
__ADS_1
" GIBRANNN!!. " terdengar suara seseorang berteriak dari atap lantai paling atas.