The Mystery Of The Beautiful Girl

The Mystery Of The Beautiful Girl
BAB 14


__ADS_3

Bu amanda berjalan keluar UKS sambil membawa setumpuk buku tebal. Namun itu bukanlah Buku pelajaran. Bersamaan dengan itu, Teman teman Rafael pun masuk ke dalam.


Ini adalah pertama kalinya Rafael terbaring di ruang UKS. Selama ini ia tak pernah sekalipun bolos belajar. Melihat teman temannya datang menjenguknya, Rafael pun berfikir betapa pedulinya mereka dengan dirinya.


Rafael teringat oleh mimpi terburuknya. Bahkan ia masih mengingat betapa dinginnya tangan Natasha ketika tak sengaja ia sentuh. "Apa Gibran bener tentang arwah penasaran itu? Apa ibu warung itu bicara jujur? Kalau memang itu benar, kenapa justru aku yang dihantui dan diikuti setiap saat? Aku tidak tau apa apa, bahkan aku tidak tau apa salahku sehingga mereka terus menggangguku. " Rafael merasa sangat cemas.


Rafael mengambil ponsel di dalam tasnya, lalu ia mengetik kata "Cara mengusir setan atau hantu." Beberapa tautan muncul, Rafael pun mengklik tautan yang paling atas.


Rafael menghela nafas kasar, ia merasa sedikit kecewa. Situs itu tak menolong Rafael sama sekali. Di Kliknya juga tautan tautan yang lain, namun hasilnya pun nihil.


" El lagi liat apa?. " Natasha merebut ponsel Rafael dari tangannya. Sett... Dengan cepat Rafael merebutnya kembali dari tangan Natasha. "Bu.. Bukan apa apa kok!. " Ia menyimpan ponselnya di saku seragam.


Natasha merasa bingung melihat tingkah Rafael. Ia curiga apa yang disembunyikan oleh Rafael. "Tas kalo El lagi sakit, terus lu kerja ama siapa?. " Tanya Gibran berbisik di telinga Natasha.


"Gpp gue bisa kok kerjain sendiri, gak usah khawatir. "


"Kalo gitu biar gue bantu lo tas. " Sahut Yuri yang menguping pembicaraan Gibran dan Natasha.


"Hah, bantuin apa?. " Rafael pun mendengar percakapan mereka.


Natasha pun melirik ke arah Yuri dengan tatapan sinis. Karena ia tak ingin membuat Rafael merasa khawatir akan keadaannya. "Seandainya Rafael memaksa bekerja bagaimana?. " Itulah yang ada dibenak Natasha saat itu.


Dengan terpaksa Natasha pun menceritakan semuanya. Dan benar saja, itu sukses membuat Rafael merasa khawatir.


"Tenang aja El, gue mohon lo jangan mikir terlalu jauh ya. Gu.. Gue bakal bilang sama kak Rizky klo lo lagi sakit. "


"Bukan itu yang gue pikirin, gue mikirin elu tas, gue takut lo kenapa napa. "


"Ya.. Yaudah deh kalian jangan debat terus. Kalo gitu biar gue aja yang jaga Natasha. Lo istirahat aja di rumah. " Gibran pun angkat bicara.


"Eh gue juga ikut bantu kali, tenang aja El. " Yuri mengedipkan sebelah matanya ke arah Rafael dengan sedikit genit.


/RUMAH RAFAEL/


Rafael pun pulang ke rumah nya. Ia membaringkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Mama pun datang lalu mengetuk pintu kamar Rafael.


"Kamu kok pulang lebih cepat nak? Ada apa?. "


"Lagi ada rapat ma, jadi pulangnya cepat. " Rafael bingung ingin menjawab apa. Karena ia tak ingin mama khawatir dengan dirinya. Dan akhirnya pun ia terpaksa berbohong.


"Yaudah.. Mama pergi dulu. Ini udah jam adek kamu pulang. " Ucap mama berpamitan dengan Rafael. Rafael pun mengangguk.


Beberapa menit berlalu, Rafael hanyut dalam pikirannya. Ia mencoba memikirkan bagaimana cara untuk terlepas dari hal yang berbau ghoib itu. "Kenapa gue bisa lupa si?. " Bergegas Rafael pergi dari kamarnya.


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Ternyata sudah hampir 2 jam Rafael berada di ruang perpustakan pribadi di rumahnya. Selama itu, ia tak mendapatkan petunjuk apapun. Memang ada buku yang berkaitan dengan setan atau hal ghoib. Namun, tak ada satu halpun yang dapat dikoreksi.

__ADS_1


Rafael mengepalkan kedua tangannya. Ia memukulkan tangannya ke dinding dengan begitu keras. "Gue harus apa lagi? Kalau aja gue punya penglihatan, gue pasti bakal ajak kompromi tu setan. Gue bakal tau mau dia apa, "


"SHITT, "


Tiba tiba Rafael teringat sesuatu. "Luna."


Ada perasaan senang yang muncul secara spontan di benak Rafael ketika ia mengingat nama Luna, adiknya.


Luna kerap bercerita tentang hal hal yang tak masuk akal. Seperti hantu, penampakan, arwah, penglihatan tentang masa depan, dan bahkan ia tahu kapan orang akan pergi atau istilahnya meninggal dunia.


Biasanya cerita kisah itu hanya dianggap Rafael omong kosong. Namun sekarang, ia percaya. Bahwa adiknya tidak berbohong dan sangat istimewa. Rafael merasa ia benar benar memerlukan bantuan adiknya.


/DI SISI LAIN/


Sudah kesekian kalinya Natasha melirik jam di ponselnya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 21.45 WIB. Namun ia merasa itu begitu lambat untuk sampai ke jam 10 tepat.


Natasha pun kembali menolehkan kepalanya ke arah jam ponsel. Natasha tercekat. Matanya membulat. Mendadak angka petunjuk jam di ponselnya berubah menjadi warna putih. Lalu perlahan berwarna merah. Angka itu mencair dan memenuhi seluruh bagian layar ponsel.


Natasha mengangkat ponsel sepanjang 7 inci itu. Air merah menetes mengenai jemarinya. Lengket, dan basah. Natasha mengendus nya, ia Terperayak. Amis, darah.


Wajah Natasha pucat pasi. Tangannya gemetar. Ia segera menoleh ke arah Gibran yang sedari menunggunya di depan kasir. Natasha nyaris terpekik ketika menyadari Gibran tidak ada. Ia pun menghampiri tempat kasir.


Bar yang tadinya di penuhi oleh orang orang terasa sangat lengang. Tidak ada siapapun selain dirinya disana. Tempat duduk yang kusam, dinding yang penuh retakan, coretan dimana mana, dan benda benda yang terlihat usang berkarat. Seolah seperti bangunan yang telah ditinggalkan berpuluh puluh tahun lamanya.


Lutut Natasha kehilangan tenaga, ia sangat gemetar. Ia melirik ke arah jendela. Tak ada satupun manusia yang terlihat. Jalanan benar benar sepi saat itu. Kendaraan terparkir sembarangan di sepanjang jalan. Seolah dibiarkan terbengkalai begitu saja.


10 menit yang lalu, kak Rizky datang menemui Natasha karena ingin memberi tahu bahwa sebentar lagi waktunya pulang. Ia bilang biarlah OB tetap yang melanjutkan pekerjaan Natasha. Dari situ, Natasha ingat ia sedang menyapu ruangan. Lalu yurita yang sedang mencuci gelas di belakang. Ia juga ingat bahwa tadi ia menyuruh Gibran untuk menjaga tempat kasir.


Natasha menggigit bibir bawahnya, ia mencoba mengusir kecemasan yang tiba tiba saja bersarang. Seett... "Gibran?. " Tidak ada sahutan.


Natasha berjalan ke arah pintu keluar yang terbuka lebar. Berniat untuk mencari Gibran dan yurita yang raib di telan bumi. Namun...


Brakk!! Natasha melompat ke belakang.


Pintu keluar seketika tertutup rapat. Terlambat sedikit saja, mungkin wajah Natasha akan terhantam dengan sangat kuat. Wajahnya semakin lama semakin pucat. Natasha mengatur nafasnya.


Srett. . .


Natasha segera menoleh kebelakang, kearah asal suara. Ia bersandar pada pintu begitu menyadari ada sosok asing di depannya. Sosok itu berambut panjang sepinggang sehingga menutupi setengah bagian wajahnya.


Gaun yang dipakainya berwarna hitam pendek diatas lutut. Gaun itu terlihat begitu kusut dan setengah sobek. Natasha mundur perlahan, sosok itu berlumuran darah dan pisau yang tajam berkilat di tangan kanannya membuat lutut Natasha lemas. Sosok itu terus bergerak ke arah Natasha.


"Si.. Siapa?! Mau apa lo, pergi!!, " Natasha berbicara dengan terbata bata. Sosok itu tak menjawab dan terus bergerak mendekati Natasha. Ia rasanya ingin menangis karena takut.


"Crasss!!.. "

__ADS_1


Natasha membulatkan matanya dan segera berputar ke samping dengan cepat. Sosok itu menyebetkan pisaunya. Nyaris saja benda itu akan merobek dadanya jika ia tidak menghindar.


Natasha menendang meja dan kursi yang ada dihadapannya ke arah sosok itu. Sosok itu terhalang dan membuat kesempatan Natasha untuk kabur. Namun dengan cepat sosok itu melangkahinya dengan mudah.


Natasha menelan ludah. Ia terpojok kan. Sosok itu semakin dekat. Pisau berkilat itu terangkat di udara. Crasss... Natasha membungkukkan tubuhnya dan segera berlari ke arah pintu keluar. "Aakhh..., " Ia merasakan sakit di bagian punggung.


Natasha berusaha keras membuka pintu keluar yang tertutup rapat. Ia mendobrak pintu itu dengan sangat kuat. Membuat sebagian tubuhnya yang terbentur menjadi biru lebam. Natasha menoleh ke belakang, sosok itu menggeram.


Aaaaaarrgggh...!!


Sosok itu berlari secepat kilat ke arah Natasha. Pisau yang ia pegang tadi pun terlempar ke sembarang tempat. Seolah bertingkah seperti ingin mencekik leher Natasha dengan sangat kuat. Natasha semakin panik. Dengan was was ia berharap pintu itu terbuka. Dan... Pintu terbuka.


Natasha tergesa berlari meninggalkan gedung tua itu. Ia terus berlari dengan sangat cepat tanpa memperhatikan sekitar. "Jembatan. " Natasha berlari menuju jembatan Penghubung jalan raya dan Bar.


Dilihatnya kembali ke belakang. Sosok itu melayang di udara dengan tatapan penuh kebencian. Tubuh Natasha terpental ke belakang. Ia sekarang berada di tengah tengah jembatan itu. "Aakhh.. " Dadanya terasa sangat sesak. Sosok itu mencekik pergelangan lehernya.


Sosok itu mengangkat tubuh Natasha ke udara. Tepat dibawain arus sungai yang deras. Natasha melawan dengan menggenggam kedua tangan sosok itu begitu erat. Ia menggoyang goyangkan kakinya.


Plepp...!


seorang laki laki meraih tangan Natasha dari atas jembatan. Rasanya tak asing. Natasha mendongakkan kepalanya. Laki laki itu menarik Natasha kembali ke atas jembatan. Natasha pun berisi tatap dengan Gibran yang setengah berdiri dihadapannya. Gibran memeluk tubuh Natasha erat.


"Lo gila ya?! Kalo kenapa napa gimana?, " Natasha hanya terdiam.


"Gue bakal ngadu sama bokap lo kalo sampe lo ngulangin hal ini lagi, " Gibran melepaskan pelukannya. Raut wajahnya bercampur dengan perasaan panik dan marah.


Natasha meringis. Menahan sakit di punggungnya. "Sakit. " Natasha melirik ke belakang punggungnya. Bajunya robek, dan darah menetes dari sana.


"Tas bahu lo?. " Dengan cepat Gibran melepas rompi seragamnya dan menutupi punggung Natasha dengan rompi itu.


"Ki.. Kita kenapa bisa ada disini sih?. " Tanya Natasha sambil memegang kepalanya.


"Gue lihat lo berdiri di pinggir jembatan. Padahal gue nyuruh elu tunggu di mobil kan? Gue panggil lo gak nyahut, tau taunya udah loncat aja. "


"Otak lo lagi kesambet atau gimana? Tiba tiba aja loncat? Mau bunuh diri lo?. " Ucap Gibran yang semakin kesal dan meninggikan suaranya.


"Sorry, gue gak tau tadi lagi mikir apaan. Gue gak ingat apa apa. "


Gibran menghela nafas kasar. "Udahlah, ayo cepetan kita pulang, punggung lo gak mungkin sembuh sendiri. " Gibran menggendong Natasha masuk ke dalam mobil dan segera menyalakan nya.


Di jalan Natasha mengernyit menahan rasa sakit di punggungnya. "Sakit bngt ya? Apa perlu kita kerumah sakit?. " Gibran nampak cemas. Natasha menggeleng. "Gak perlu, lukanya gak parah kok. " Ia tersenyum.


"Seandainya Gibran gak datang nolong gue, gue gak tau bakal gimana. "


Gibran pun mengangguk mengerti. Ia tak bicara sepatah kata lagi. Hening menyelimuti sunyinya malam. Gibran termenung. "Andai aja gue gak nemenin Natasha, pasti keadaannya lebih buruk dari ini. "

__ADS_1


UDAH SELESAI BACA BAB INI? JANGAN LUPA DI LIKE, VOTE AND KLIK FAV DI BAWAH👇 JANGAN LUPA DUKUNG AKU TERUS. THANKS🖤


__ADS_2