
Sekolah berjalan seperti biasanya. Tak ada gangguan. Tak ada hal hal yang janggal. Namun, mereka yang pernah mengalami kejadian tak masuk akal tidak akan bisa merasa tenang.
Tepat di pelajaran terakhir pak guru sedang tidak ada. Kelas terasa sangat ricuh. Berisik dimana mana. Hampir mirip seperti pasar ikan.
Natasha hanyut dalam imajinasinya. Sambil menunggu bell pulang sekolah yang terasa begitu lambat. Natasha menarik nafas dalam sambil melihat keluar jendela. Ia memikirkan cerita yang pernah dialami Rafael. Dan tanpa disadari ia juga teringat dengan kejadian mistis yang ia alami sendiri.
" Apa setelah Gibran arwah itu akan menyerangku?. " Natasha merasa takut.
" Tapi kenapa harus kami? Sebenarnya apa masalah mereka?. " Natasha menggaruk kepalanya yang tak gatal
" Rafael. " Terdengar suara seseorang yang menggema bertepatan dengan bell pulang sekolah.
Rafael mendongak. Itu adalah Yurita.
" Rafael, kak Rizky bilang kamu kapan kerja? Udah absen 2 hari loh. " Yuri mengalungkan tangannya di pergelangan tangan Rafael.
" Ehmm, maaf aku akan bekerja besok. Hari ini Gibran akan segera keluar dari rumah sakit. " Rafael bicara sambil melepaskan tangan yuri yang menyentuh pergelangannya.
" Oh, Kalo gitu boleh aku ikut ke rumah sakit? Aku gak pernah liat keadaan Gibran. " Rafael terdiam sesaat. Matanya membulat.
" Maaf yur Lo gak bisa ikut. Kita ada urusan lain. Misi!. " Natasha menyambar tangan Rafael dan membawanya keluar kelas. Rafael hanya terdiam mencoba memahami situasi.
Yurita menggeram pelan. Tepat di depan matanya Natasha menggandeng tangan Rafael dan membawanya pergi. Ia merasa kesal. " Lain kali akan ku balas perbuatanmu!. " Batinnya.
Rafael dan Natasha masuk ke dalam mobil. Rafael mengantar Natasha pulang lebih dulu untuk berganti pakaian. Setelah itu mereka bersama pergi ke rumah Rafael untuk menjemput Luna.
" El, menurut Lo kalo kita berhenti kerja. Arwah itu akan berhenti mengganggu kita?. " Tanya Natasha tiba tiba di perjalanan menuju rumah Rafael.
" Emang bisa? Arwah itu udah tau tempat tinggal kita. Kayaknya jika kita berhenti sekarang akan memperburuk keadaan. Seperti yang Luna pernah bilang ke gw. Kita harus cari tau masalahnya. Biar bisa bebas dan gak di gangguin lagi. "
" Tapi masalahnya apa? Kita mau cari tau dimana? Emang tau cara menyelesaikannya?. " Natasha membuang nafas berat berkali kali. Rasa kesal, takut, khawatir, dan emosi bercampur menjadi satu.
Sedangkan Rafael yang mendengar ucapan Natasha masih terdiam kaku. Ia masih fokus ke jalanan sambil memikirkan ingin menjawab apa. Sebenarnya ia juga tak tau. Ia hanya terus diam tanpa mengucapkan sepatah katapun.
" Gimana kalau kita kasih tau Yurita sama kak Rizky juga? Kita bisa cari petunjuk kan?. " Rafael sontak langsung menghentikan laju mobilnya dan menoleh ke arah Natasha. Ia mengerutkan dahinya terkejut. Sampai sampai ia lupa sedang berada di jalan raya.
Rafael menggeleng perlahan. " Apa kita gak terlalu kepo nanya sama pemiliknya langsung? Bisa bisa kita dikira menyebar gosip gak bener tentang usahanya. "
__ADS_1
Natasha mengangguk pelan sambil tersenyum simpul. "Oke kayaknya kita udah masuk ke daftar terornya laki laki yang menyerupai bintang itu. Gak ada cara lain. Kita bakal mengakhirinya. "
Sunyi senyap. Mereka tanpa sengaja saling bertatapan satu sama lain dan saling membuang muka ketika suara klakson terdengar dari belakang mobil.
" Woi Napa lu berhenti di jalan raya gini? Gak baca tanda nya tuh?. " Teriak seseorang dari mobil yang berada di belakang mereka. Rafael pun kembali mengemudikan mobilnya.
" Mungkin kita tanya pak satpam penjaga barnya aja dulu. Karena lebih mudah dibanding bicara sama kak Rizky. " Natasha pun mengangguk paham.
Rafael, Natasha dan Luna pun sampai di rumah sakit. Padahal saat ini masih siang, matahari terlihat begitu tinggi dengan cahayanya diatas sana. Namun, tak banyak orang orang yang lalu lalang di koridor rumah sakit. Begitu suram. Yah, Rafael hanya mencoba berfikir positif. Mungkin saja Tidak begitu banyak orang sakit, makanya sepi itu lebih baik.
Mereka berjalan berdampingan dan masuk bersama sama ke dalam lift. Suasana canggung dan mencekam menyelimuti mereka. Sebelum akhirnya perhatian mereka tertuju pada sesuatu.
" Kamu? Ikut juga? Apa gak masalah?. " Rafael dan Natasha tak sengaja mendengar Luna berbicara sendiri. Suara Luna tidak begitu nyaring. Tapi karena suasana yang sunyi suaranya dapat terdengar oleh mereka berdua. Sontak Rafael dan Natasha pun menatap heran Luna.
" Maksud kamu? Siapa Lun?. " Tanya Rafael.
Luna menatap wajah Rafael dalam. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan ekspresi sedikit kebingungan. Luna tak tau jika Rafael telah menceritakan semuanya ke Natasha. Karena itulah ia agak ragu untuk menjawab pertanyaan Rafael.
" Luna?. " Rafael memiringkan kepalanya.
" Eh maaf kak. Aku.... "
Tingg... Bertepatan dengan itu pintu lift pun terbuka. Mereka telah sampai di lantai atas tempat Gibran berada. Natasha yang memahami kecanggungan diantara mereka pun segera mengalihkan pembicaraan.
" Ahhh baiklah. Nanti aja bahasnya. Kita udah sampe. Jangan biarin Gibran nunggu sendirian. " Ucap Natasha sambil menarik lengan Rafael dan Luna.
" Permisi, Tante Bella ini Natasha sama Rafael. " Natasha membuka pintu ruangan sambil memberikan salam.
" Oh Natasha? Masuk aja. Itu siapa?. " Tante Bella menunjuk seseorang yang bersembunyi dibelakang Rafael.
/Disisi lain/
" Luna? Ngapain kamu sembunyi dibelakang kakak?. " Rafael merasa risih.
" Gakkk! Luna takut. Di dalem ada tiruan kak bintang. Serem banget. "
" Maksud kamu?. "
__ADS_1
" Iyaa itu!! Dibelakang Tante ituu. " Bertepatan dengan itu Tante Bella pun menunjuk Luna yang sedang bersembunyi dibelakang Rafael.
" Ahh Tante maaf gak pernah ketemu ya?. " Ucap Rafael ramah.
" Ini adik aku Tan, Namanya Luna. Mama lagi keluar, daripada dia sendiri aku ajak aja. "
" Luna sayang?? Kok kayak takut gitu? Ayo sini, duduk Deket Tante. " Tante Bella menepuk nepuk tempat duduk yang berada disampingnya. Ia berbicara dengan suara lembut namun tidak dengan sorotan matanya. Rafael menyikut sedikit Luna untuk menghampiri Tante Bella disana.
Luna berjalan kearah Tante Bella dengan langkah yang gemetar. Bahkan Natasha pun dapat menyadarinya. Dari sudut pandang Luna, ia melihat Tante Bella sedang dirasuki oleh sesuatu. Dan ya, siapa lagi jika bukan tiruan kak bintang (nama arwah gadis yang asli).
Luna melihat arwah itu merasuki Tante Bella sudah cukup lama. Sepertinya ini bukanlah yang pertama kali. Bayangan hitam yang melekat di sekitarnya, matanya yang mengerikan seakan mengancam keselamatannya.
" Luna, kenapa kamu bengong? Yaudah bareng kakak yuk. " Natasha menepuk pundak Luna. Ia mendampingi Luna menghampiri Tante Bella.
Rafael melangkah mendekati ranjang tempat Gibran berbaring. Sepertinya Gibran sedang tidur. Setidaknya Gibran sudah boleh pulang pikir Rafael.
" Kapan Gibran di izinkan pulang Tante?. " Tanya Rafael sambil menatap wajah Tante Bella.
" Dokter akan kemari. Mungkin sebentar lagi boleh pulang. Dann, Nak Rafael... "
" Iya Tante kenapa?. " Rafael membulatkan mata. Ia penasaran.
" Huhh.. sekitar 1 jam yang lalu Tante menerima telpon dari kantor polisi. Mereka mendengar kabar Gibran yang sudah boleh pulang. Dan mereka ingin menanyakan kronologi kejadiannya. " Tante Bella menghela nafas panjang. Natasha menyimak pembicaraan mereka.
" Saya minta kau dan Natasha membantu saya menjawab pertanyaan mereka. Tante merasa khawatir. " Tante Bella terlihat lesu.
Dengan cepat Rafael menjawab kata " Ya. " Dan dilanjutkan dengan Natasha yang mengagguk tersenyum. Mereka merasa prihatin dengan keadaan Tante bella yang tertekan.
Berbeda dengan Luna yang merasa ada yang janggal. Ia hanya diam saja menatap ketiga orang dewasa itu berbincang.
Beberapa polisi datang setelah pemeriksaan Gibran selesai. Gibran memang telah dinyatakan sehat. Natasha dan Rafael melarang para polisi itu untuk masuk kedalam karena perintah dari Tante Bella. Sedangkan Luna berada di samping Gibran yang duduk di atas ranjang dengan wajah yang masih sedikit pucat.
" Kakak bisa jalan? Punggung kakak masih perih gak? Diluar banyak banget polisinya. " Gibran tersenyum sambil melirik wajah imut Luna. Ia mengelus kepala Luna dengan lembut.
" Menurutmu? Kurasa aku sudah sehat. Tenang saja. " Ucap Gibran.
" Huh...para polisi itu? Aku tak bisa mengatakan apa apa. Makhluk itu akan membunuh ku. Aku harus apa?. " Pikir Gibran dalam hati. Ia menatap bayang bayang orang orang yang berdiri bergerombol di depan pintu ruangannya.
__ADS_1
Semakin lama ricuh mulai tak terkendali. Luna penasaran apa yang sedang mereka debatkan di luar sana. Ia pun berjalan mendekati pintu dan keluar. Ricuh bukan berasal dari para polisi ataupun kak Rafael. Namun dari para penghuni rumah sakit ini yang merasa terganggu.
" AAAAAAAAKKKKKKHH.... "