
RUMAH RAFAEL. (Masih di hari yang sama)
Rafael bertanya Kepada mama kemana Luna pergi. Mama bilang Luna sedang berada di Rumah temannya dengan alasan kerja kelompok. Tepat pukul 5 sore mama meminta Rafael untuk menjemput Luna.
Rafael dan Luna sampai di rumah sekitar jam Setengah 7 malam. Ia membunyikan klakson beberapa kali sampai akhirnya pagar rumah pun terbuka. Terlihat Pak satpam membungkuk memberi hormat kepadanya. Membuat Rafael teringat dengan sesuatu.
" Luna, kamu masuk duluan aja ya. aku masih ada urusan. "
" Oh yaudah klo gitu Luna masuk duluan. "
Rafael pun memarkirkan mobilnya dihalaman rumah dan segera turun dari mobil. Ia datang menghampiri pak satpam yang sedang duduk di posnya.
" Pak Arif, kesini bentar dong. "
" Saya den? Kenapa?. " ucapnya sedikit khawatir.
" Saya ngelakuin kesalahan ya den? maaf den klo saya salah. Saya gak bakal ulangin lagi. " sambung pak Arif tergesa karena takut dipecat.
" Pak Arif mikir apa sih?. " Sahut Rafael sambil tertawa kecil melihat ekspresi cemas pak Arif.
" Rafael cuma mau tanya. Pak Arif setiap malam Jumat sama Minggu jaga rumah 24 jam non stop kan?. "
" Itu pasti den. memang kenapa?. "
" Bapak...ingat gk waktu aku pulang larut malam. "
" Iya den, saya masih ingt. Maaf banget pagernya udah saya kunci. soalnya saya gak tau den Rafael ada di luar rumah. "
" Yahh..bukan itu sih masalahnya. Pak Arif ada liat Gadis cewe seumuran aku gak di halaman?. "
" Gadis yang mana atuh? Saya gak ada liat. lagian kan semua udah di kunci, larut malam pula. Emang aden liat dimana?. "
__ADS_1
" Samping mobil aku. Awalnya aku pikir itu anak pak Arif. tapi masa iya dia ikut malem malem jaga rumah gini. "
" Suer den saya gak tau apa apa. Saya gak ada liat sama sekali. "
" Oh gitu ya? yaudah deh. " Rafael pun segera pergi dengan wajah sedikit kecewa. Ia masuk ke rumah dengan muka masam. Ia bingung, bagaimana caranya menggali informasi tentang gadis itu.
Ketika Rafael melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, Ia sudah disambut hangat dengan Bau harum yang berasal dari dapur. Seketika perutnya terasa seperti terpanggil kan.
Dengan cepat Rafael pergi menuju meja makan. Dan disana terlihat Luna yang sudah duduk sambil memegang sebuah boneka beruang. Namun, Disampingnya juga terlihat sepasang kaki dewasa. Hanya sepasang kaki. hanya kaki.
Rafael mengucek kedua matanya. Sepasang kaki itu hilang. " ahh..Cuma khayalan. " pikirnya. Tak berapa lama mama pun datang dengan membawa banyak makanan yang menggugah selera. membuat perut mereka bergemuruh kegirangan.
Malamnya, Rafael pun naik ke lantai atas bersiap untuk tidur. Ia melewati pintu kamar Luna yang sedikit terbuka. Dengan lampu yang masih menyala, membuat Rafael penasaran apa yang dilakukan adiknya.
Matanya seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Adiknya sedang bermain, Yah...bermain. Namun tak sendiri. Ia bermain sebuah boneka beruang yang selalu di pegangnya dengan seorang gadis yang lebih dewasa.
BRAKK...
Dengan sigap Rafael menggedor gedor pintu kamar adiknya minta segera dibukakan. Namun ketika dibuka, Yang terlihat hanyalah adiknya yang bertingkah seperti baru terbangun dari tidur.
" El kamu ngapain sih? Malam malam gini berisik banget. kasian adik kamu kebangun. " Ucap mama yang keluar dari kamarnya.
" Ma..maaf ma. "
Mama pun kembali masuk ke dalam kamarnya. Dengan sigap Rafael langsung mendorong adiknya masuk ke dalam kamar. Wajahnya terlihat bercampur aduk antara ingin marah atau khawatir.
" Kak ngapain sih? Ini kan udah malem. "
" Kamu tadi habis ngapain?!. "
" Ya tidur? terus ngapain?. "
__ADS_1
" Jangan boong. Kak Rafael tanya sekali lagi, kamu habis ngapain?. "
" Ka..kak kenapa sih? Kok jadi... "
" JANGAN BOONG. " Rafael pun meninggikan suaranya. Sontak itu membuat Luna terkejut dan diam.
" Ma..maaf kakak kelepasan. " Luna hanya terdiam. Rafael pun menghampirinya dan duduk di sebelah Luna.
" Kakak tau kamu gak tidur kan? kamu main boneka sama siapa?. "
" Sama...Gadis itu. " Ucap Luna sambil menunduk.
" Gadis? maksud kamu..."
" Iya kak gadis itu. " jawab Luna dengan cepat.
" Bukannya kamu bilang dia itu jahat? lalu kenapa kamu temenan sama gadis hantu itu?. "
" Ternyata kita salah kak. sebenarnya dia gak seperti yang kita pikirkan. "
" maksud kamu gimana? bisa jelasin Ama kakak?. "
Luna pun menjelaskan semuanya kepada Rafael. Ternyata selama ini yang mengganggu Rafael dan teman temannya bukanlah sosok gadis itu. melainkan seorang laki laki yang menyamar menjadi dirinya.
" Ta..tapi mau dia apa sam..." omongan Rafael pun terpotong oleh seseorang yang berdiri di depan mereka.
" El kenapa kamu masih dikamar Luna? mama pikir kamu udah tidur?. "
" Ma..maaf ma. "
Rafael pun keluar dari kamar Luna dan segera pergi ke kamarnya. " Huuh.. gimana caranya bilang sama Luna ya?. " Pikirannya dipenuhi dengan banyak teori dan teka teki. Terasa seakan kepalanya akan meledak sekarang.
__ADS_1