
Rafael sampai di rumah sekitar jam setengah 12 malam. Dia masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki yang berat dan nampak kelelahan. Di tambah suhu dingin di ruangan yang menusuk melewati kulit.
Terdengar suara langkah kaki seseorang datang dan menyalakan lampu di ruang tamu. Oh.. Ternyata itu adalah mama.
Mama mengaku sejak tadi telah menunggu dirinya datang sehingga menunda tidur. Terlihat mama menatap tajam Rafael sembari melipatkan kedua tangannya di depan dada.
"Dari mana aja kamu?!. " Pertanyaan itu terlontar kan dari bibir mama dengan nada sedikit membentak.
"Ngumpul!. " sahut Rafael tergesa.
Mama tidak tau bahwa sebenarnya Rafael sedang bekerja paruh waktu di luar sana. ia tak ingin mama tau karena keluarga mereka adalah keluarga yang cukup terpandang dengan kekayaan yang berlimpah.
Rafael adalah penerus perusahaan keluarga yang sekarang masih dipimpin oleh ayahnya. Namun Rafael tidak terlalu tertarik dengan dunia perkantoran, karena menurutnya itu sangatlah merepotkan. Salah satu alasan ia tak tertarik ialah karena ayahnya sendiri.
Rafael tak ingin menjadi seperti ayahnya yang gila kerja dan selalu tidak punya waktu untuk berkumpul bersama keluarga. bagi ayahnya, Uang adalah nomor satu. Dan keluarga tak bisa dibandingkan dengan uang.
Mama menghela nafas dalam dengan kerutan kecil di dahinya. mama bukanlah orang dengan tipe pemarah. Sebesar apapun kesalahan yang dilakukan anak atau suaminya, ia akan tetap terus berlaku lembut dan memanjakannya.
Mungkin karena itulah ia sering dimanfaatkan oleh orang lain. termasuk oleh suaminya sendiri.
"Huhh... cepatlah bersihkan badanmu lalu turun ke bawah! mama siapin makanan buat kamu dulu. " Mama tersenyum lalu pergi meninggalkan Rafael. dimatanya, senyum itu terlihat dipaksakan.
Rafael tersenyum miring. Ia sedikit merasa bersalah karena telah berperilaku sedikit kurang ajar. Sikap yang terlihat tak peduli, dingin, dan tidak sopan.
itulah sifat Rafael di rumah. Namun di dalam hati kecilnya yang paling dalam, ia sangatlah mengkhawatirkan sosok ibunya. Dan adiknya yang begitu ia sayangi.
__ADS_1
15 MENIT KEMUDIAN...
Rafael sudah berada di meja makan sambil menunggu mama datang membawa sepiring makanan. Perutnya terus bergejolak tidak sabaran ketika mencium aroma yang begitu menyedapkan dari arah dapur. Bau Nasi goreng.
Tak berapa lama mama muncul sambil membawakan sepiring nasi goreng dan meletakkan nya di meja makan. Bukannya tertuju ke arah nasi goreng yang wangi itu, Rafael justru terpaku dengan wajah mama yang kaku dan pucat pasi. Ia khawatir.
Jelas jelas sebelum ia pergi untuk mandi, mama terlihat seperti biasa saja dengan wajah yang cerah dan berkilau.
"Mama.. Gapapa? Kok pucat?. " Mama hanya menatap Rafael dengan tatapan kosong. Ia tersenyum miring.
Rafael mulai merasa tidak enak. Rasanya ada yang janggal, Apa yang terjadi ?. Rasa penasaran Rafael dikalahkan oleh rasa lapar yang menggonggong di dalam perutnya. Ia menengok ke bawah.
"Ha.. ah.. apa ini? kenapa berubah?. " Di piring itu nampak jelas bukanlah sebuah nasi goreng, Melainkan kumpulan belatung yang Menggerogoti jari jari tangan Terpotong. Rafael menelan ludah. Belatung belatung itu menggeliat diatas piring. Dengan cepat Rafael langsung mendorong piring itu hingga terjatuh ke lantai. Piring itu pun pecah berkeping keping.
Perlahan Rafael mendongakkan kepalanya melihat ke arah mama yang duduk di depannya. Seketika tawa memenuhi ruangan. Tawa yang berasal dari mama.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan sembari terus tertawa tanpa henti. Rafael merinding melihat tingkah mama. Ia terus mengamati gerak gerik mama yang terlihat seperti orang kesurupan.
Telinga yang menjadi panjang dan runcing. Kuku yang sangat hitam, kotor dan tajam. Kaki yang setengah terbakar memperlihatkan ulat ulat kecil yang menggerogoti tulangnya. Rafael merasa ingin muntah saat itu juga.
Sosok itu bukanlah mama. Tapi Sesosok laki laki yang menyerupai wajah mama. Laki laki itu mengeluarkan aura hitam yang pekat, Dengan kobaran api yang menyelimuti kaki sampai ujung kepalanya. "Laki laki Iblis!. "
Dari tatapan matanya... Rafael dapat menyimpulkan, bahwa sosok itu sangat ingin membunuh dirinya. Laki laki itu mengarahkan tangan kanannya ke arah Rafael. Sebelum ia menyadari, Ia merasa tubuhnya sudah tidak dapat digerakkan lagi dan kaku. Tubuhnya terangkat. Nafasnya tersengal. Dadanya sesak, rasanya seperti tidak ada lagi oksigen yang tersisa di dalam tubuhnya.
Nampak jelas di depannya, Laki laki itu tak menyentuh Rafael sedikitpun. "Tapi mengapa?? Aku merasa diriku tercekik." Rafael menendang nendang di udara. Ia benar benar sudah tidak tahan.
BRUKK...
Rafael terjatuh ke lantai. matanya tertuju ke seluruh ruangan yang berubah. dinding retak dan cairan cairan merah bercucuran dari sana. Lantai yang bersih menjadi sangat kotor dan dipenuhi jejak lumpur. Bau busuk tercium dimana mana.
__ADS_1
Seketika Rafael merasa tubuhnya terpental jauh ke belakang dengan cepat. Ia menabrak dinding yang berada di belakangnya. Dinding itu retak, seolah ingin roboh. Rafael tersungkur.
Rasanya perih di bagian punggung. Tetesan air merah jatuh di wajahnya. Ia mendongak. Darah.
Matanya terbelalak. Laki laki itu berada tepat Di bawah Rafael. Tubuhnya merangkak di langit langit dengan kepala yang terbalik. Ia memamerkan lidahnya yang menjulur kebawah sampai menyentuh lantai.
Ia menatap wajah Rafael dengan penuh Kepuasan. Laki laki itu meloncat turun.
"AAAKHH..., "
"El.. Rafael? Kenapa kamu teriak ngeliat mama?. "
Suara itu mirip seperti suara mama. Rafael pun tersadar. Ia hanya sedang melamun. Tidak terjadi apa apa. Semua terlihat normal. Hanya ada Ia dan mama di sini.
Benar benar, tak terjadi apapun. Rafael kembali menatap wajah mama, kali ini dengan seksama dan hati hati. Itu Real!! Itu benar asli sosok mamanya.
" Kamu mikir apa sih? Mama panggil gak nyaut nyaut ? Lain kali jangan ngelamun lagi! Pamali El".
"Ternyata gue cuma halusinasi, tapi kok rasanya.. ".
" RAFAEL . " Mama mulai terlihat kesal karena Rafael kembali melamun.
"Maaf ma, kayaknya aku gak lapar!. " Rafael langsung bangkit dari tempat duduknya lalu pergi. Ia berjalan menjauh meninggalkan mama sendirian. Yang padahal sudah setia menunggunya datang sejak tadi.
Mama pun hanya bisa memandang Punggung Rafael yang sekejap mata menghilang dari balik pintu. Mama mengalihkan pandangannya ke arah nasi goreng yang tadi ia buat. Ia menghela nafas. "Dia gak suka nasi goreng ya? Atau karena gak enak? Atau jangan jangan menurutnya ini terlalu murahan? huuhh... " Mama terlihat mengeluarkan setetes air mata. lalu memakan nasi goreng yang tadinya tidak di makan oleh Rafael.
SEKIAN HAPPY READING ALL😊
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, AND SHARE KE TEMAN TEMAN KALIAN YANG LAIN YA🤗
__ADS_1
THANKS BANGET!!