
Rafael, Dan Natasha pergi menuju ruangan Rizky di lantai atas.
Ketika melihat mereka muncul dari balik daun pintu. Rizky melirik ke arah jam yang ditempel di tembok ruangannya.
"Kalian datang lebih lebih cepat dari perjanjian ternyata. "
Sesuai kesepakatan. Rafael dan natasha bekerja mulai dari jam 4 sore sampai malam yang tak menentu kapan pulangnya. Dan sekarang jarum panjang menunjukkan pukul 14.45.
"Saya salut dengan kegigihan kalian, tapi saya tidak akan membayar kalian lebih karena telah datang terlalu cepat. "
"Tidak masalah ka karena ini kemauan kami. " Sahut natasha.
Rizky tersenyum. "Baiklah jika kalian mengerti, Itu lebih baik. "
Rizky pun mengijinkan mereka untuk keluar ruangan. Karena tidak ada lagi yang ingin disampaikan dirinya. Mereka mengangguk lalu bersegera keluar dari ruangan rizky.
Tak bersulang lama setelah Rafael Dan Natasha pergi. Tertinggal lah Rizky sendiri di ruangan itu. Rizky menatap punggung El dan tasha yang perlahan menghilang dari balik pintu. Seulas senyum merekah di bibir Rizky. Lalu ia menghela nafas panjang.
Di atas meja Rizky. Nampak sosok perempuan yang duduk Dengan Kaki menjuntai. Rambut panjangnya menutupi setengah wajahnya yang pucat. Dia mengenakan Gaun Di atas lutut berwarna Hitam. Dari ujung kakinya Darah menetes membasahi keramik berwarna putih itu.
Gaun yang sobek dibagian perut, dan dari sobekan itu darah terus mengalir deras. Tak lupa juga dibagian leher dan lengannya terlihat bekas jeratan Dan tusukan yang tak sedikit.
Rizky berbalik badan. Gelas yang berisikan kopi di mejanya tiba tiba saja terjatuh dan pecah.
Rizky terperayak. Tidak ada angin tidak ada apa tiba-tiba saja gelas itu jatuh dan pecah berkeping-keping. Namun ia tahu jelas siapa yang melakukan itu.
Yah... Dapat dipastikan Rizky bisa melihat sosok yang tak kasat mata.Termasuk gadis bergaun hitam itu.
Di lantai bawah Natasha masih tidak bicara apapun. Menurut Rafael ia tak seperti biasanya. Rafael sebenarnya sangat ingin bertanya. Tapi dia ragu melakukannya karena disana tidak hanya ada mereka berdua. Tapi juga Yurita.
Mereka memulai dengan membersihkan Bar. Mulai dari meja ke meja, Gelas, Menyapu lantai dan juga mengepel nya. Mereka melakukan dengan bersama sama dan saling berbagi tugas.
__ADS_1
15 menit menjelang Bar dibuka. Perut Rafael tiba tiba saja terasa melilit ingin segera bersendawa. Ia meminta izin kepada yuri dan tasha agar menyambut tamu tamu lebih dulu tanpa menunggunya.
Sekilas Rafael mulai bertanya tanya lagi. "Apa yang terjadi dengan Natasha di toilet beberapa waktu lalu?. " Pertanyaan pertanyaan itu muncul dengan sendirinya di pikiran Rafael. Ia tak ingin ambil pusing dan memikirkan yang tidak tidak.
Setelah ia selesai mencuci tangannya di wastafel. Ia bersegera mendorong pintu toilet dan keluar.
Di balik lorong lorong toilet yang sempit itu. Terdengar suara langkah kaki dari sisi lain lorong. Rafael menelan ludah. Batinnya tidak ingin melangkah ke arah bunyi suara itu. Tapi tidak dengan kakinya yang terus berjalan ke sumber suara.
Rafael menghela nafas dalam dan mencoba menghilangkan pikiran pikiran negatif di otaknya. Kakinya terus berjalan secara otomatis menuju suatu ruangan yang mengeluarkan suara langkah kaki tadi.
Semakin Rafael berjalan mendekati ruangan itu. Lampu lorong semakin terasa meredup.
Bau seperti wangi bunga tercium dari ruangan itu. Tapi seperti bau amis juga.
Rafael telah berada tepat di depan pintu ruangan itu. Ia terpaku selama sesaat di depan ruangan. Seketika benaknya teringat akan cerita Gibran. Ia menelan ludah sekali lagi. Dengan agak bimbang dan gemetar Rafael menggenggam kenok pintu.
"Ayolah rafael.., cuma orang bodoh yang percaya omongan Gibran. Gak ada apa apa di ruangan ini." Ucap Rafael mencoba menyakinkan dirinya.
Baru saja ia menggenggam kenok pintu itu, seseorang menyentuh pundaknya dari belakang. Dengan tergesa Rafael menoleh kebelakang.
"Elu ngapain disini? Itu kan bukan toilet, itu gudang. "
Yuri menatap wajah rafael kebingungan. Ia tak mengerti mengapa Rafael tiba tiba saja berada disini. Jarang pegawai tetap disini yang ingin pergi ke gudang. Lagi pula gudang ini letaknya tepat di belakang lorong dan jauh. Yuri tak habis pikir.
"Gak kok, Gw gak sengaja aja dateng kesini. "
Rafael mencoba tersenyum lugu di depan yuri agar ia tidak berfikir macam macam. Yahh.. Itu sukses membuat yuri malu dan salah tingkah. Karena bagi yuri Rafael itu sangat sempurna apalagi saat melihat senyumnya yang indah itu.
*
*
*
*
__ADS_1
*
*
Waktu telah menunjukkan jam 9 malam tepat. Namun pengunjung di Bar justru semakin banyak. Natasha bekerja sangat keras malam itu untuk melayani para pengunjung. Tak sedikit juga ada yang berani menggoda nya dan yuri secara tidak senonoh.
Ya memang begini nasibnya kerja di Bar. Pasti ada juga Hal yang diluar dugaan. Tapi dengan sigap dan jantannya Natasha melawan para pengunjung yang kelewatan. Ia tak segan untuk mengusir para cecunguk cecunguk sialan yang berani bertindak tidak sopan di hadapan mereka.
Rafael menyenderkan tubuhnya di tembok sambil menatap Natasha semringah. Sekilas senyum terukir di wajahnya yang memperlihatkan lesung di pipinya. "Ini baru Natasha yang ia kenal, yang terlihat barbar dan tangguh. " Ucap rafael di dalam hati.
Yuri membalik tulisan buka menjadi tutup di pintu kaca besar tempat para pengunjung berdatangan. Padahal mereka datang sangat cepat di hari pertama ini. Tapi tetap saja ujung ujungnya mereka pulang larut juga.
Rafael mengantarkan tasha pulang ke rumahnya dengan selamat. Sepanjang jalan keheningan dan suara suara hewan dari arah hutan terus terdengar menambah suasana canggung di antara Rafael dan Natasha.
"El, gimana rasanya hari pertama ini?. " Natasha mulai membuka suara yang memecah keheningan. Inilah yang ditunggu tunggu oleh Rafael. Mengajaknya bicara lebih dulu.
"Ehmm ya gimana? Biasa aja sih. "
"Oh. " Natasha mengalihkan pandangannya dari Rafael dan fokus melihat ke jalan.
"Sa..?," Kini Rafael yang mulai membuka suara untuk Natasha.
"Hm?, " (Dingin)
" Gw khawatir! Elu tadi kenapa sih?. "
Natasha membulatkan matanya menatap Rafael. Ia bingung ingin menjawab apa. Karena jika ia bicara jujur, mungkin saja Rafael tidak akan percaya. Ia tidak ingin diejek karena termakan Cerita Gibran tentang Bar itu.
"udah hampir sampai tuh! besok aja ya gw ceritanya, soalnya capek. " Sahut natasha.
Rafael pun mengangguk lalu menepi di depan halaman rumah Natasha. Natasha membuka pintu mobil lalu segera berpamitan dengan rafael.
"Makasih banyak El udah nganterin gw, hati hati ya. "
"iya sama sama. langsung cepat tidur biar gak capek. "
__ADS_1
Natasha pun mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban Rafael yang terlihat sedikit perhatian. Ia pun segera pergi dan masuk melewati pagar rumahnya.