The Mystery Of The Beautiful Girl

The Mystery Of The Beautiful Girl
BAB 13


__ADS_3

Sekilas bayangan berkelabat. Rafael tergesa menoleh. Namun, ia tak mendapatakan apapun. Bayangan itu raib.


 


"Haii..Bin, " Terdengar suara seseorang yang begitu berat.


Rafael menoleh. Suara itu terdengar dari Belakangnya. Ia merinding.


Bintang...


Rafael mengernyit. "Siapa Bintang?. " Lagi lagi tak ada siapa siapa. Rafael seolah terjebak di dimensi lain.


Dengan tergesa Rafael pergi menuju pintu keluar kelas. Ia melewati lorong koridor sekolah. Tidak ada satupun sinar lampu yang menerangi sudut sudut lorong itu.


Rafael mengambil ponselnya dari saku. Ia menyalakan lampu dari ponselnya. Dengan perlahan Rafael berjalan. Benar benar gelap, Tak terlihat apapun.


 


Entah sudah berapa lama Rafael berjalan menyusuri lorong koridor. Tapi, ia tak kunjung bertemu dengan jalan keluar. Justru sebaliknya, Rafael seolah berputar putar di jalan yang sama terus menerus. Ia kelelahan.


 


Rafael pun berhenti, ia merasa sangat frustasi. ia berjongkok dan menundukkan kepalanya. Rafael sudah tidak tau harus bagaimana. Ia mengacak ngacak rambutnya dengan sesekali berteriak mengeluarkan rasa kekesalannya.


Klotak.. klotak..


Terdengar suara sepatu hak tinggi dari arah belakang. Rafael sempat terdiam. Ia memantapkan pendengarannya. Perlahan langkah kaki itu semakin dekat dan semakin dekat.


Rafael menunduk ke bawah. Seorang perempuan melewatinya. Ia mulai berfikir sepertinya ada orang lain yang akan membantunya keluar. Rafael pun mendongakkan kepalanya.


"Bu Dian!. "


Perempuan itu menghentikan langkahnya. Rafael memiringkan kepalanya merasa agak sedikit ragu. "Itu.. benar Bu Dian kan?. " Jika dilihat dari Keperawakannya, Dia sangat mirip sekali dengan Bu Dian.

__ADS_1


"Bu.. Bu Dian?. " Rafael bangkit dan melangkahkan kaki mendekati perempuan itu. Perempuan itu tak bersuara. Ia hanya terus membalikkan badannya tanpa menengok ke arah Rafael.


Rafael mulai merasakan ada yang tak beres. Ia mulai merasakan hawa dingin. Dan mencekam. Namun, ia memberanikan diri untuk menyentuh pundak perempuan itu. Tubuh Rafael bergetar, ia menggigil.


"Aaa.. pa? Bu.. Bu Dian?!, "


Rafael tergagap. Ia mematung. Ia hampir saja menjerit ketika perempuan yang disangka Bu Dian itu menoleh. Wajahnya tidak utuh. Hancur separuh dan membusuk. Bola mata sebelah kanannya pun menjuntai hingga menyentuh pipi. Seakan, Hanya dengan sekali senggolan bola mata itu bisa terputus dan jatuh.


Dan Yang paling membuat Rafael merasa mual, Ialah kulit wajahnya yang dipenuhi dengan belatung. Belatung belatung itu menggeliat keluar dan masuk. Sangat bebas, hingga saking bebasnya ia menggerogoti tulang tulang wajah perempuan itu.


Rafael perlahan berjalan mundur. Suara tawa mengerikan terdengar. Sangat melengking, Dan menggema. Suara suara mengerikan yang dikeluarkan oleh perempuan itu hampir saja membuat gendang telinga Rafael ingin pecah.


Seluruh tubuhnya bergidik ngeri. Bulu kuduk Rafael menjulang tinggi. Ia begitu ketakutan. "Ini cuma mimpi, El ayo sadar! Ayo cepet bangun El.., " Rafael menampar kedua belah pipinya berkali kali. Namun ia tak kunjung bangun.


Sosok menyerupai Bu Dian itupun terus berjalan mendekati Rafael. Rafael semakin terciut mundur. Sampai ia tak sadar, bahwa ia sudah terpojokkan. Rafael terhenti, Tembok yang berada di belakang nya menghentikan langkah Rafael.


Rafael pun meraba raba tembok di belakangnya. Ia menemukan sebuah gagang pintu. Bergegas Rafael masuk ke dalam ruangan itu.


"Ahh.. apa ini ?. " Rafael menyentuh sesuatu yang lembab. Lengket, Dan berbau amis.


Rafael terjungkal, Itu adalah Gibran. Sosok yang menggantung tepat di depan pintu ialah Gibran. Rafael tak bisa mengatur nafasnya. Ia kembali Tersulut mundur.


"Ahh.. apa lagi ini?. " Tepat di belakang Rafael, Seorang perempuan juga ikut tergantung. Bersimbah darah, Dan menetes mengenai dahinya. "Na.. Natasha?! . "


"Akhh.. tidak apa ini?! Gibran, Natasha?!, "


Rafael memegang kepalanya dengan kedua tangan. ia menggigit bibir bagian bawahnya. Wajahnya benar benar pucat pasi. Seketika Teman teman sekelas Rafael ikut muncul dari belakang sudut ruangan.


Wajah mereka begitu banyak luka. Ada yang kepalanya bocor, Mulut yang sobek, Mata yang hilang, Wajah yang hancur total, Dan... Bagian tubuh mereka yang sebagian tak ada seakan dipenggal.


Mereka berjalan bak Zombie, Mendekat ke arah Rafael. Sudut dari sudut, Mereka ada si mana mana. Di setiap sudut. Bergerombol mengepung Rafael.


"AAAAKKHHH..., "

__ADS_1


"Rafael ayo bangun.. Kenapa kamu berteriak?. "


Rafael membuka kedua matanya. Ia perlu beberapa detik untuk menyadari, Bahwa dia sekarang sedang berada di ruang UKS. Rafael melihat sekeliling. Semua sangat dipenuhi warna, Tak ada lagi darah, Sinar terang memancar dari luar jendela. Di depan Rafael berdiri seorang Guru bahasa Indonesia. Itu.. adalah Bu Dewi.


"Rafael? Kamu tidak apa apa kan? Apa kamu mimpi buruk?. "


Rafael memantapkan penglihatannya. Ia masih dalam kondisi setengah sadar. "Sa..ya ,"


"Oh..Sepertinya ibu benar, Hari ini adalah jam piket ibu untuk mengawas uks. Berhubung kamu sedang sakit, Jadi minum obat ini. " Rafael mengangguk. Ia segera mengambil air mineral dan pil obat dari tangan Bu Dewi.


"Terimakasih banyak Bu.., "


"Iya sama sama. Jika kamu masih merasa kurang enak badan, Kamu boleh pulang. Biar ibu yang izin ke kelas mu. Sekarang ibu pergi dulu ya.., "


Tak berapa lama setelah Ibu Dewi pergi, Terdengar suara berisik dari luar pintu. Kicauan kicauan murid lain yang sedang mengobrol saling sapa.


Terlihat di depan pintu, ketiga pelajar berjalan masuk ke dalam ruangan. Mereka adalah Gibran, Natasha, dan Yurita.


"Rafaell.. Gimana badan lo udah enakkan?, " Tanya Natasha


"Gue bawain tas lo nih, " Gibran meletakkan tas Rafael di kursi.


"Ihh... Semoga kamu cepet sembuh ya El, aku bawain Roti nih buat ganjel perut, " Yurita menyodorkan beberapa roti bermacam rasa kepada Rafael.


"Thanks bngt kalian peduli gini sama gue, "


"Its.. okayy bro! Yang penting lu baik baik aja!, " Sahut Gibran.


"btw yang bawa gue kesini siapa? , "


"Lu pingsan pagi tadi pas Bel bunyi, Terus para anak cowo termasuk Gibran gotong elu deh, " Jawab Natasha.


"Tenang aja El kita udah minta Izin kok, "

__ADS_1


Rafael tercengang. "Pagi.. tadi? Gue pingsan?, " Ia melihat ke jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Yang benar saja, sekarang sudah siang.


__ADS_2